Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 43 ~ Menyelamatkan Luna


__ADS_3

Teja heran karena sejak tadi menghubungi Luna tidak dijawab, bahkan pesan pun dibaca. Menjelang sore malah kontak istrinya tidak aktif. Pria itu menghubungi asisten rumah tangganya menanyakan apakah Luna ada di rumah atau tidak.


“Mbak Luna pulang tadi pagi Pak, belum ada datang lagi.”


Jawaban Bibi membuat Teja khawatir. Segera menghubungi kediaman Surya dan mendapatkan jawaban yang sama kalau istrinya tidak ada di sana. Mengingat istrinya masih dalam keadaan berduka dan sedang hamil, tentu saja semakin membuat Teja khawatir. Menyesal ia memberikan izin untuk Luna keluar rumah.


“Kamu kemana sayang?”


Teja menghubungi orang kepercayaannya, yang ditugaskan menyiapkan mobil untuk Luna.


“Saya sudah pasang GPS, pak. Selama tidak dilepas masih bisa dilacak. Sebentar saya cek.”


Teja mengernyitkan dahinya mendapatkan kiriman lokasi di mana mobil Luna berada. Bukan area yang dia kenal, segera Teja menuju lokasi tersebut. Orang kepercayaannya sudah diarahkan pula menuju ke lokasi, perasaan Teja tidak enak karena situasinya sungguh aneh.


Sedangkan di tempat berbeda. Luna mengerjapkan matanya, meski rasa kantuk masih bergelayut manja di kedua matanya. Yang dia ingat sedang menunggu klien, tiba-tiba kantuk luar biasa.


“Aku dimana,” gumam Luna yang terbangun di ranjang dan kamar yang asing.


“Hai sayang.”


Ingin sekali Luna mengumpat kalau tidak ingat dia sedang mengandung. Doddy berada dalam ruangan yang sama dan hanya berdua. Jelas ini semua rencana busuk pria itu, mungkin Teja benar kalau Doddy memang brengs3k dan penjahat.


Saat ingin beranjak, Luna baru sadar kalau tangannya terikat pada besi-besi ranjang. tatapannya memastikan pakaian yang dia kenakan masih lengkap, artinya pria itu belum melakukan hal buruk padanya.


“Lepaskan aku, kamu akan selamat. Aku akan tutup mata akan apa yang sudah kamu rencanakan,” ujar Luna sambil berusaha menarik tangannya tapi ikatan itu sungguh kencang.


“Bagaimana kalau kita bermain-main dulu, Teja tidak akan tahu atau kita sampaikan padanya. Walaupun kamu dicerai aku siap menerimamu.” Doddy sudah merangkak ke atas ranjang mengungkung tubuh Luna.


Cuih.


Luna menlud4hi wajah Doddy membuat pria itu terdiam lalu berdiri dengan bertumpu dengan kedua lututnya dengan tubuh Luna masih berada di antara kedua kaki pria itu.


“Kamu … berani juga ya.” Doddy mengusap wajahnya yang diludahi Luna.


“Jangan macam-macam, bukan hanya Teja yang akan menyeretmu tapi keluarga besarku juga.”


Doddy tertawa mendengar ancaman Luna.


“Apa kamu lupa, tidak ada yang tahu kalau kamu berada di sini termasuk kantor. Kamu tertidur karena obat yang aku campur dengan air minum dan bisa bermain denganmu tadi, tapi tidak seru. Gaya lama membuatmu mabuk seperti yang aku lakukan pada Andin yang perempuan-perempuan penghangat ranjangku juga tidak menarik. Aku ingin lakukan dengan keadaan sama-sama sadar. Bagaimana?”


“Dasar gil4. Jadi Andin benar kamu jebak?”

__ADS_1


“Menurutmu? Andin terlalu sayang untuk aku lewatkan, sama seperti dirimu. Kenapa harus Teja, si pria tua dan bod0h itu yang mendapatkanmu.”


Doddy mulai melepaskan kancing kemeja yang dikenakan Luna membuat sebagian tubuhnya terlihat.


“Hentikan!”


“Hei tenang saja. Kamu akan dapatkan kenikmatan, tidak perlu terburu-buru.”


“Dasar b4jingan, lepaskan aku!”  


Luna menarik narik tangannya agar lepas dari ikatan yang malah melukai pergelangan tangannya. Kedua kaki wanita itu pun berontak membuat Doddy mendudukinya dan mengunci pergerakan tubuh Luna. Kemeja yang dikenakan disobek oleh Doddy karena tidak sabar untuk melepaskannya, membuat bagian depan tubuh wanita itu terlihat.


“Woww, sungguh Teja beruntung memperistri dirimu.”


Doddy membuka kemeja yang dia kenakan dengan tatapan tetap mengarah pada tubuh wanita di bawahnya. Sedangkan Luna sudah terisak karena tidak bisa melepaskan diri.


“Jangan takut sayang, aku akan membuat kita berdua melayang. Akan aku berikan kenikmatan yang belum pernah Teja berikan.”


Saat Doddy berdiri karena akan membuka ikat pinggang dan celananya, Luna menggerakan lutut kanan dengan sekuat tenaga dan berhasil mengenai senjata milik pria itu. Doddy sontak mengaduh dan merebah ke samping sambil memegang miliknya.


“Hahh, dasar jal4ng,” teriak Doddy lalu beranjak dan menampar Kaluna. “Aku bisa kasar kalau kamu berani lakukan hal seperti itu lagi,” bisik Doddy.


Luna berteriak bagai kesetanan dan menggerakan tubuhnya membuat Doddy semakin kesal.


***


“Pak Teja.”


Teja yang baru tiba mendapati orang kepercayaannya sudah berada di lokasi.


“Bagaimana?”


“Daya sudah laporkan pada security komplek sini, tapi kita tidak diperkenankan masuk. Kalau dari GPS, mobil Mbak Luna memang ada di dalam rumah itu.”


Teja langsung menuju kediaman yang dimaksud. Dengan pagar tinggi sulit untuk membuktikan kalau mobil Luna memang berada di dalam dan aksi Teja yang ingin akan memencet bel juga memaksa masuk dihentikan oleh penjaga keamanan.


“Maaf pemilik rumah ini tidak memberikan informasi kalau akan ada tamu yang berkunjung, jadi Bapak-bapak silahkan keluar dari kompleks ini.”


“Istri saya di dalam, bisa dilihat dari GPS ini,” tunjuk Teja pada layar ponselnya.


“Bisa saja rusak Pak, atau Bapak minta izin sama yang punya rumah.”

__ADS_1


“Siapa yang tinggal di  sini?”


“Pak Herman.”


Teja berdecak, karena tidak mungkin dia harus melacak siapa pemilik rumah dan menunggu izin bertemu. Perasaannya mengatakan kalau Luna sedang tidak baik. Sayup-sayup ia mendengar suara teriakan dan itu suara istrinya.


“Kalian dengar itu, itu Luna. Hei buka pintunya,” teriak Teja mengarahkan dua orang kepercayaannya untuk membuka gerbang.


“Pak, jangan merusak fasilitas. “


“Diam kalian, kalau benar istriku ada di dalam aku pastikan kalian akan aku tuntut,” ancam Teja membuat petugas keamanan tidak berani menahan ulah Teja.


“Lepaskan aku!”


Lagi-lagi teriakan Luna. Membuat Teja semakin geram dan menghardik para petugas keamanan. Salah seorang sudah memanjat gerbang dan membuka dari dalam, orang-orang itu berlarian merangsek masuk ke dalam rumah. Sempat dihalangi oleh penjaga rumah yang langsung mendapatkan bogem mentah dari Teja.


“Luna.”


Teja memasuki rumah dan mencari ruangan di mana berasal suara tangisan istrinya.


Brak.


Teja menendang pintu yang terkunci dan suara Luna berasal.


“Bangs4t!” teriak Teja menyaksikan Doddy sudah mengungkung istrinya.


“Pak Teja, tolong aku.”


“Sshittt,” Doddy mengumpat dan tidak bisa menghindar ketika Teja menariknya dan menghempas ke lantai lalu memberikan beberapa kali pukulan.


“Pak Teja, cukup. Biar ini kami yang urus, Mbak Luna butuh Bapak.” Teja tersadar dan segera menghampiri Luna. Pintu kamar itu sudah ditutup dan dijaga oleh orang kepercayaan Teja lainnya mengingat kondisi istri majikannya yang sudah tidak mengenakan atasan.


“Sayang, aku di sini.” Teja menangkup wajah istrinya dan mengusap air mata istrinya.


“Pak Teja, aku takut … dia jahat. Dia sudah menjebak Andin dan entah siapa lagi korbannya.”


“Sssttt.”


Teja melepaskan jas yang dia kenakan lalu menyelimuti tubuh istrinya dan membuka ikatan di kedua tangan Luna, bahkan meninggalkan luka dan berda_rah. Luna sudah berada dalam gendongan suaminya menuju mobil.


“Pastikan dia mendekam di penjara. Kumpulkan bukti dan CCTV, termasuk orang yang terlibat!” titah Teja sebelum pergi.  

__ADS_1


“Teja kamu salah. Luna tidak terpaksa, dia datang ke sini atas inisiatif sendiri,” teriak Doddy dan diabaikan oleh Teja.


Melihat kondisi istrinya yang mengkhawatirkan, Teja menuju rumah sakit terdekat untuk memastikan semua baik-baik saja. apalagi Luna mengaku kalau Doddy memberi obat tidur.


__ADS_2