Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 42 ~ Tugas Terakhir


__ADS_3

Teja memeluk istrinya bahkan sengaja merusuh di ceruk leher wanita itu. Luna sempat terkikik lalu mendorong pelan tubuh suaminya. Ia tahu sang suami sudah beberapa hari tidak bertandang di tempat yang seharusnya, bahkan sebelum Eyang Surya tiada keduanya sedang berselisih paham.


“Mandi sana.”


“Aku kangen,” bisik Teja kembali memeluk  erat.


“Mandilah, ada yang ingin aku bicarakan.”


Teja pun mengurai pelukannya, menatap wajah Luna yang lebih berseri dibandingkan kemarin-kemarin meski kedua mata itu masih terlihat bengkak dan ada kantung mata.


“Tentang apa?”


“Mandi dulu.”


“Kamu buat aku penasaran, sekarang saja kita bicara.”


Luna menggelengkan kepalanya, tetap pada keputusan akan bicara  secara Teja membersihkan diri.


“Oke, sepuluh menit. Tunggu aku dan jangan bicarakan hal yang akan buat aku ngereog.”


Luna terkekeh melihat Teja menunjuk dirinya lalu bergegas menuju toilet. Wanita itu sudah memutuskan akan mengatakan kalau dia hamil dan resign dari Seloka Design. Entah bagaimana respon Teja, sambil menunggu Luna mengambilkan pakaian ganti untuk sang suami.


“Mau bicara apa?” Teja sudah duduk di samping Luna.


“Hm, aku mau resign?”


“Serius? Bukan karena paksaan dari aku ‘kan? Sudah dipikirkan baik-baik, karena ada kentara sekali biasanya kamu sibuk lalu vacum.” Teja mencecar Luna terkait keputusan resignnya. Khawatir jika keputusan yang diambil Luna karena kesedihan yang dirasakan saat ini.


“Aku sudah yakin dengan keputusanku, setelah ini aku akan sibuk dengan hal lain.”


Teja mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa maksud perkataan Luna. Apalagi wanita itu malah mengeluarkan sesuatu dari kantong piyama dan menyerahkan padanya.


“Apa ini?”


Teja menerima amplop kecil dan memandang wajah istrinya. Berharap Luna tidak memutuskan sepihak terkait hubungan pernikahan mereka, mengingat ada orang ketiga yang mengganggu mereka baik dari pihak Luna ataupun Teja.


“Buka aja.”


“Sayang, kamu jangan gegabah deh. Semua bisa kita bicarakan, aku sayang kamu.”


“Gegabah apaan, Pak Teja nggak jelas dih. Udah buka dulu baru komen.”


Teja berdecak lalu membuka pelan amplop yang ada di telapak tangannya, wajahnya berubah masam sedangkan Luna malah senyam senyum melihat tingkah Teja .


“Ini apa?” Teja mengeluarkan tiga stik alat tes kehamilan.


“Ck, dasar bujang lapuk. Masa nggak tahu itu apa?”

__ADS_1


Teja menggelengkan kepalanya masih menatap tiga stik di tangannya.


“Itu tespekk lihat tuh semuanya dua garis,” tutur Luna menunjuk garis yang dimaksud. Suasana romantis yang dia bayangkan berubah menjadi emosi karena suaminya dewasa tapi tidak tahu menahu masalah tespekk. Sungguh tidak bisa diduga.


“Hah, maksudnya alat ini dan kamu ….”


“Iya Pak Teja aku hamil, hamil anak Suteja Dewangga.”


Teja mengusap kasar wajahnya lalu menatap bergantian stik di tangannya dan wajah Luna.


“ini serius sayang?”


“Ya nggak lah, ini ‘kan lagi nge prank. Serius Kang Mas Suteja, aku lagi hamil dan itu buktinya.”


Teja langsung memeluk Luna dengan sayang, mengusap kepala dan punggung wanitanya. Bahkan kedua matanya berkaca-kaca. Tidak menduga kalau dia akan segera memiliki keturunan dari wanita yang ia sayangi.


“Terima kasih sayang.”


“Ih sesak, peluknya erat banget.”


“Eh maaf.” Teja mengurai pelukannya lalu membungkuk dan mengusap perut yang masih terlihat rata. “Sehat-sehat junior, Papa tunggu kamu launching.”


“Masih lama kali.”


“Besok kita ke dokter, aku harus pastikan kesehatan kalian berdua.”


Luna mencebik dan menggelengkan kepalanya. “Besok aku mau ke kantor, pengajuan resign sudah aku kirim dan Pak Arta ingin bertemu sepertinya aku harus selesaikan dulu sisa pekerjaan yang ada.”


Luna menganggukan kepalanya dan Teja kembali memeluknya.


“Kamu memang istri idaman, beruntungnya aku meminangmu sayang.”


“Nggak usah lebay, lepas ih engap nih. Aku ngantuk,” keluh Luna membuat Teja segera mengurai kembali pelukannya. Pria itu menggaruk kepalanya, ragu untuk menyampaikan sesuatu.


“Kenapa?”


“Tadinya aku mau ajak olahraga, lumayan beberapa hari ini belum ganti oli. Boleh nggak yang?”


Luna tidak tega melihat raut wajah Teja yang lelah dan menahan sesuatu, ia pun mengangguk pelan.


“Serius boleh?”


“Tapi pelan-pelan dan nggak usah pake gaya macem-macem. Lagian ini bukan di rumah kita, malulah kalau berisik.”


“Ayo, gaskeun.” Teja meraih tubuh Luna dalam gendongannya lalu merebahkan di ranjang yang akan menjadi saksi perseteruan dua insan yang saling menghamburkan kasih sayang.


***

__ADS_1


“Serius mau naik taksi?” tanya Teja sambil menatap khawatir.


“Iya Lun, biar diantar Om Amar ajalah,” seru Indah mendengar Luna akan naik taksi.


“Udah deh, aku tuh mau pulang dulu baru ke kantor. Om Amar harus ke kantor dan Pak Teja juga, nggak usah bikin ribet dengan antar aku pulang terus jadi muter-muter nggak jelas.”


Akhirnya Teja dan Indah mengikuti kemauan Luna. Wanita itu pulang untuk berganti pakaian dan mengambil tas kerjanya. Ia pun berangkat dari rumah Teja menggunakan mobilnya, sempat mengirimkan pesan pada Teja kalau dia sudah menuju Seloka Design.


Tentu saja kehadiran Luna menjadi perhatian, selain rekan-rekannya mengucapkan bela sungkawa mereka juga menanyakan kebenaran kalau Luna benar akan resign.


“Nggak bener ‘kan, pasti kamu bercyanda,” ujar Astri dengan logat yang sedang viral.


“Serius, aku mau resign. Hari ini aku kemari karena mau bertemu Pak Arta”


“Pak Arta ‘kan belum masuk. Lo mau ketemu siapa?” tanya rekan Luna yang lain.


“Luna, ikut saya!” Doddy memerintah lalu meninggalkan para juniornya.


“Parah, Lun. Kayaknya Pak Doddy marah tuh,” seru Astri lirih. Luna hanya mengedikkan bahunya  tidak peduli Doddy mau marah, nangis bombay atau koprol yang jelas dia tetap akan resign.


Kalaupun Kaluna tidak hamil dan masih berhubungan sebagai rekan kerja, hubungan mereka tidak akan baik. akan terjadi hubungan toxic antara Doddy dan Luna.


“Duduk!” titah Doddy ketika Luna memasuki ruangan pria itu.


“Aku sudah dengar kamu mau resign, Pak Arta sudah menyetujui permintaan kamu. Tapi bantu aku selesaikan ini.” Doddy melemparkan map ke hadapan Luna. “Itu sudah selesai, segera buat berita acara dan antarkan ke lokasi. Aku sibuk menghandle sisa tugas kamu yang lain.”


Luna hanya menghela pelan lalu mengiyakan permintaan Doddy. Setelah keluar dari ruangan pria itu, Luna mengerjakan apa yang Doddy minta lalu membereskan perlengkapan miliknya dan dimasukan ke dalam kardus untuk dibawa pulang.


Sempat ada adegan mellow saat Luna pamit pada rekan-rekannya, terutama Astri.


“Aku bakal kangen banget sama kamu.”


“Kita masih bisa bertemu kali,  aku masih tinggal di Jakarta kok.”


Akhirnya Luna Benar-benar meninggalkan Seloka Design dan mengerjakan tugas terakhirnya menuju lokasi yang dimaksud Doddy.


“Ini project siapa ya, aku nggak pernah mendesain yang ini,” gumam Luna ketika tiba di lokasi. Rumah yang lokasinya agak terpencil, dengan bergaya etnik. Ada seorang penjaga rumah yang mempersilahkan masuk, melihat keadaan rumah dengan desain interior yang tidak asing. Salah satu konsep milik Doddy.


“Ditunggu dulu ya Mbak, majikan saya sebentar lagi datang. Ini silahkan diminum.”


Luna mengangguk dan tersenyum pada penjaga rumah yang menghidangkan minum. Awalnya Luna enggan menyentuh, tapi sepuluh menit berlalu belum ada tanda pemilik rumah datang dan merasa dahaga. Gelas di hadapannya membuat Luna tergerak untuk meraih dan meneguk isinya.


Tanpa Luna ketahui, penjaga rumah itu mengawasi dari balik pintu.


“Halo Pak, Mbaknya sudah minum.”


__ADS_1


“Baik, saya akan pergi!”


 


__ADS_2