Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 33 ~ Emosi (2)


__ADS_3

Ada penyesalan dalam hati Teja melihat istrinya tergolek lemah karena kelelahan. Dengan rambut berantakan dan banyak jejak cinta di leher dan area lain. Wanita itu berbaring memeluk guling hanya berbalut selimut. Namun, ada kebanggaan tersendiri bisa menguasai dan menaklukan seorang Kaluna.


Teja yang sudah berganti setelan rumahan menatap sang istri dengan wajah bangga dan percaya diri. Setelah memastikan pekerjaannya aman dia handle dari rumah, juga mengabari salah satu kontak teman Luna yang bernama Astri bahwa Luna hari ini kurang sehat jadi tidak bisa berangkat.


Katakanlah Teja bucin atau posesif, dia tidak peduli. Yang dia lakukan hanyalah mempertahankan miliknya, cintanya dan hidupnya. Terlihat Luna menggeliat pelan membuat selimut yang dipakai tersibak dan memperlihatkan kedua dadanya yang membusung sempurna.


“Kamu memang menggoda Luna.”


Pria itu mendekat dan membetulkan posisi selimut istrinya. Kelamaan memandang tubuh polos itu, bisa-bisa membuatnya kembali menerjang menembus semak-semak sarang kehidupannya.


“Istirahatlah,” ujar Teja lalu mencium kening istrinya dan meninggalkan kamar.


Teja menuju sofa dan membuka tablet serta melakukan panggilan telepon. Mulai sibuk dengan pekerjaan yang dia kerjakan dari rumah.


Sedangkan di tempat berbeda, Doddy terbahak mendengar Luna tidak masuk kerja hari ini. Dia menduga Luna dan Teja bertengkar. Menghubungi wanita itu dan membicarakan masalah lelang project di Bali adalah ide yang dianggap brilliant. Rencana itu sudah dia pikirkan matang-matang. Luna tidak akan menjawab teleponnya dan pasti Teja yang akan menjawab.


Oleh sebab itu, Doddy langsung membicarakan masalah perjalanan ke Bali termasuk kalimat yang cukup provokatif dan menjadi alasan pertengkaran pasangan itu. dia menganggap rencananya berhasil karena Luna tidak muncul di kantor.


“Teja, ternyata mudah mengelabui  orang bodoh macam lo. Tunggu aja, Luna akan gue dapatkan terus gue hempas. Penasaran lihat tampang beg0 si Teja ketika gue berhasil menggarap Kaluna Zena,” ungkap Doddy lalu kembali terbahak.


Rencana Doddy memang berhasil, karena Teja yang menjawab panggilan itu. Namun, bukan pertengkaran yang terjadi  antara Luna dan Teja melainkan pertarungan sengit di ranjang. Bahkan kemenangan berada di pihak Teja dan Luna kalah telak.


...***...


“Hahh.”


Luna menggeram menahan sakit dan pegal di seluruh tubuhnya. Terasa remuk redam, membuat dia lemas untuk beranjak dari bantalnya.


“Ini jam berapa?” Luna bergumam lalu meraba nakas mencari ponselnya dan dia ingat meninggalkan benda itu di kamar Teja. “Pak Teja kerasukan atau gimana sih, aku dibikin begini.”


Luna menggigit bibirnya menahan tidak nyaman di bagian inti tubuhnya saat berjalan menuju toilet. Mulut wanita itu berhasil mengumpat ketika melihat penampilan di cermin wastafel, kerlap kerlip jejak cinta yang ditinggalkan Teja.

__ADS_1


“Dasar bujang lapuk. Sekalinya buka puasa nggak kira-kira. Aku pikir bakalan cepat lelah karena udah tua, taunya jiwa muda.”


Mengenakan kaos longgar dan legging selutut, wanita itu akhirnya keluar dari kamar. Teja tersenyum dan menyapa istrinya yang menampilkan wajah cemberut.


“Sayang, sini!” Teja menepuk sofa di sebelahnya.


“Ogah. Nanti aku dimakan lagi, saat ini aku butuh makanan bukan jadi makanan.”


“Astaga Luna, mulutmu.”


“Astaga Luna, mulutmu,” ujar Luna mengikuti ucapan Teja sambil mencebikan bibirnya. “Ponselku di mana?”


“Sementara aku sita.”


“Pak Teja!” Luna menghentakan kakinya karena kesal, tapi Teja acuh dan kembali fokus pada tablet di tangannya.


Setelah menikmati makan entah sarapan atau makan siang, Luna duduk di samping suaminya memegang gelas berisi juice. Melirik sekilas apa yang dilakukan Teja, lalu merebahkan kepalanya di bahu Teja.


“Hm.”


“Tadi kenapa ….”


“Tidak usah dibahas, atau mau aku ulangi lagi.”


“Yang ada aku masuk UGD. Badanku rasanya remuk, kayaknya perlu ke spa untuk pijat.”


Teja meletakan tablet dan ponselnya lalu meraih gelas yang dipegang Luna dan menghabiskan juice yang masih tersisa. Bahkan merangkul tubuh Luna agar semakin mendekat erat ke arahnya.


“Tidak perlu ke spa, aku bisa kok pijat kamu. Gratis malah.”


“Bukannya sembuh yang ada makin parah.”

__ADS_1


“Kamu mau resign kapan?”


Luna langsung beranjak dari posisi nyamannya menatap Teja karena pertanyaan resign. Apa pria itu benar-benar menginginkan dia berhenti dari pekerjaannya? Tidak bisa dipercaya, katanya mengizinkan Luna beraktivitas.


“Kata siapa aku mau resign?”


“Kamu, tadi pagi.”


“Tapi nggak secepat ini kali.”


“Aku tidak masalah kamu kerja, tapi kalau ternyata kamu hamil aku pastikan surat resign itu akan langsung diterima Arta dan pastikan juga tidak ada pria yang macam-macam denganmu.”


“Ih Pak Teja lebay deh. Sebelum kita menikah, aku tuh jomblo. Jadi masalah pria lain tidak usah khawatir,  karena aku wanita setia.”


“Aku percaya kamu, tapi tidak percaya pria diluaran sana. Kamu terlalu menarik untuk dilewatkan.” Teja mendekatkan wajah, tapi ditahan oleh tangan Luna.


“Jangan cium atau sentuh dulu. Tadi pagi aku sudah dibuat tidak berdaya, apa masih kurang?”


“Aku masih kuat kok kalau kita mau lanjut lagi.”


“Eh, tadi Pak Teja bilang apa? Aku harus resign kalau hamil?”


“Hm.”


Luna mengusap perutnya, membayangkan kemudian dia hamil. tentu saja hal itu mungkin, setelah apa yang dilalui bersama Teja yang kuat dan perkasa.


“Perhatikan asupan makanan kamu, bisa saja benih-benihku ada yang berhasil berkembang dan siap menjadi Dewangga Junior.”


 


 

__ADS_1


__ADS_2