
Luna bergegas meninggalkan rumah sakit. Doddy masih mengekor, dengan mulut terus meracau menawarkan diri untuk mengantar. Sampai parkiran Luna sempat mendorong tubuh Doddy agar menjauh, ia kesal dan emosi apalagi kepalanya semakin sakit.
“Jangan begitu, aku hanya menawarkan bantuan. Aku bisa antar kamu. Lihat, ini sudah malam!”
Luna menarik nafas lelah dan memijat pelan dahinya, kepalanya semakin berdenyut dan sakit. Masih mengabaikan Teja, ia menuju mobilnya. Namun, tiba-tiba dia pandangannya kabur. Luna bergegas menggir dan berpegangan.
“Kamu nggak apa-apa?”
“Lepas!” Luna menghempaskan tangan Doddy yang sempat memegangnya.
“Oke.” Doddy pun menjauh dan mengangkat kedua tangan. “Aku nggak ngerti kenapa kamu bisa bersikap begini, seakan aku ini sesuatu yang haram untuk kamu sentuh. Sepertinya kamu tidak sehat, aku bisa antar kamu pulang.”
“Aku lebih baik naik taksi.”
Luna masih berpegangan pada mobil yang ada dekat dengan dirinya.
“Kondisimu tidak baik, bagaimana kalau kamu pingsan dalam taksi. Lalu ….” Doddy tidak melanjutkan kalimatnya, Luna pun berpikiran hal yang sama.
Grap.
“Ehh.”
Doddy mencengkram lengan Luna lalu memaksanya berjalan, menuju mobil pria itu.
“Singkirkan pikiran buruk dan aneh yang ada dalam kepalamu, aku tidak sejahat itu. Kondisimu tidak baik, daripada berdebat lebih baik pulang dan istirahat.”
Doddy membuka pintu mobilnya. Bukan samping kemudi, tapi kabin belakang dan menunjuk agar Luna cepat masuk.
“Kamu pasti takut, duduk di depan. Ayo cepat!”
Luna pasrah, dia benar-benar butuh berbaring dengan segera dan berdebat dengan pria itu tiada guna. Mobil pun sudah bergerak perlahan meninggalkan rumah sakit, Luna masih memijat pelan kepalanya dan berusaha untuk tetap sadar. Bukan bermaksud mencurigai Doddy, tapi dia harus berhati-hati terhadap segala kemungkinan.
Tidak lama mobil pun sudah berhenti tepat di depan gerbang kediaman Teja. Luna bersiap membuka pintu dan menoleh ke arah Doddy. Ada perasaan tidak enak karena menghardik pria itu dan ada pikiran negatif padanya.
“Masuk dan istirahatlah!”
“Terima kasih sudah mengantarkan aku pulang.”
“Hm.”
Doddy masih memandang Luna yang berjalan menuju gerbang dan tidak terlihat lagi karena gerbang rumah itu kembali tertutup rapat. Pria itu kemudian terbahak dan memukul setir yang sedang dia peluk.
“Nggak usah putar otak, semesta sedang mendukung langkahku. Kita manfaatkan situasi yang ada. Luna sedang kacau, aku akan masuk dengan pelan dan bersikap seolah selalu ada untuknya. Setelah itu … eksekusi dan bye. Dasar Teja bod0h, semoga dia semakin sibuk dengan wanita tadi."
...***...
__ADS_1
Luna terjaga karena rasa tidak nyaman dengan tubuhnya. Kepalanya masih terasa agak berat dan sangat mual. Menyadari kalau hari sudah berganti dan subuh pun sudah lewat. Namun, yang membuat hatinya ikut berdenyut nyeri karena tidak menemukan Teja di sampingnya.
Kalau dilihat tidak ada pula jejak pria itu tidur bersamanya. Luna menghela nafasnya pelan, mengusir segala prasangka buruk yang melintas. Bergegas ke toilet untuk bersiap dengan aktivitas pagi, meski dengan langkah gontai karena tubuhnya masih belum fit.
“Kayaknya aku harus ke dokter, rasanya sungguh tidak nyaman.”
Wangi sabun dan parfum mendadak membuat kepalanya semakin pusing, Luna akhirnya membalurkan minyak kayu putih di tubuhnya. Terasa hangat dan melegakan. Setelah rapi , ia pun keluar kamar dan menuju dapur.
“Bik, aku mau teh hangat.”
“Mobilmu di mana?”
Luna berbalik, sudah ada Teja di sana dan pria itu juga sudah rapi.
“Ada.”
Teja bersedekap menatap istrinya, ada yang lain dari penampilan Luna. Namun, fokusnya mencari tahu siapa yang mengantarnya pulang. Melihat tidak ada mobil Luna saat dirinya tiba, bertanya pada petugas keamanan kalau Luna datang diantar seseorang atau taksi online.
“Siapa yang antar kamu pulang? Doddy ‘kan?”
Luna sudah duduk si salah satu kursi memandang suaminya. Entah kenapa kali ini rasanya begitu kesal dengan pria itu, wajah Teja terlihat begitu menyebalkan. Apalagi pertanyaannya. Jika boleh bersikap kurang ajar, rasanya Luna ingin melemparkan serbet yang ada di atas piring ke wajah suaminya.
“Situasinya tidak mungkin aku pulang sendiri.”
“Kamu bisa naik taksi dari pada diantar dengan pria itu.”
“Aku kurang sehat, tidak mungkin naik taksi. Bagaimana kalau aku pingsan? Apa Pak Teja lebih percaya membiarkan aku dengan taksi yang jelas-jelas tidak aku kenal dan melarang aku diantar Doddy.”
“Kenapa tidak minta jemput aku, kamu bisa ….”
“Sudah, aku berkali-kali hubungi Pak Teja dan aku maklum kalau Pak Teja sibuk.”
Luna sudah berdiri dan mengusap wajahnya. dia enggan harus bertengkar sepagi ini yang akan merusak moodnya seharian. Namun, Suteja benar-benar mengesalkan. Kedewasaan pria itu tidak bisa menjadi tolak ukur agar bijak dalam menghadapi masalah. Saat ini keduanya sama-sama emosi.
“Aku tidak mengerti kenapa malah Pak Teja yang marah, seharusnya aku,” ujar Luna lirih.”Aku tidak sehat, berharap suamiku datang menjemput. Ternyata ia sibuk, aku mengerti. Yang buat aku jengkel ternyata suamiku sibuk berlarian mendatangi mantannya yang sedang di rawat.”
Raut wajah Teja menandakan kalau ia terkejut, mungkin tidak menduga kalau Luna mengetahui kejadian tersebut.
“Dari mana kamu tahu, pasti Doddy yang ….”
“Cukup! Jangan bawa-bawa orang lain, ini masalah aku dan Pak Teja. Aku tahu karena aku ada di sana, aku di rumah sakit itu. Aku ikuti Pak Teja sampai harus berlari agar tidak kehilangan jejak dan betapa terkejut dan bod0hnya aku ternyata alasan sibukmu adalah Juli.”
“Itu darurat, dia dipukuli mantan suaminya aku hanya bantu menemani sampai keluarganya datang.”
Luna mengedikkan bahunya.
__ADS_1
“Terserah!”
“Luna!” teriak Teja karena Luna sudah beranjak meninggalkannya. “Kamu harus dengar dulu penjelasanku, jangan begini.” Teja menarik tangan Luna agar berhenti.
“Penjelasan yang mana? Permintaan Juli agar Pak Teja kembali terlibat dengan masalah wanita itu. Mengakui kalau kalian ada hubungan atau memang nyatanya ada hubungan."
“Jangan ngaco kamu. Aku sudah bilang, Juli hanya masa lalu dan ….”
“Dan Pak Teja lebih memilih masa lalu dari pada aku. Sedarurat apa sampai kamu mengabaikan teleponku tanpa membiarkan aku bicara.”
“Luna, dengar! Aku tidak pandai membujuk dan menjelaskan situasi. Yang jelas aku tidak seperti yang kamu duga, semalam aku memang bergegas menemui Juli karena informasi yang aku dapat kondisinya parah. Tidak ada dalam benakku mengabaikan kamu dan lebih peduli dengan dia dan jangan tuduh aku memiliki hubungan dengannya. Aku lebih memilih melajang dari pada harus kembali pada Juli.”
Luna menghela nafasnya, mau tidak mau dia harus terima penjelasan Teja.
“Aku harap ini terakhir kali, wanita itu menjadi alasan kita bertengkar.”
Teja mengeluarkan ponsel yang berdering dari sakunya, lalu mengernyitkan dahi membaca nama yang muncul di layar. Luna melirik sekilas lalu berdecak mengetahui Juli yang menghubungi suaminya. Teja mereject panggilan dan kembali mengantongi ponselnya.
“Aku antar kamu, nanti ….”
Lagi-lagi ponsel Teja berdering dan masih dengan nama yang sama. Luna menatap suaminya yang ragu untuk menjawab.
“Jawab dan loudspeaker.”
“Tidak perlu, ayo kita berangkat.”
Luna menahan Teja, menatap tajam suaminya.
“Jawab sekarang, mana tahu setelah mengantarkan aku kalian masih bisa berkomunikasi.”
“LUna ….”
“Jawab!”
Teja mengalah dia menggeser icon hijau dan meloudspeaker panggilan itu.
“Mas Teja, kapan ke sini lagi. Katanya pulang nggak lama, tapi ....”
Teja mengakhiri panggilan itu.
“Tidak usah berpikir yang aneh-aneh, kamu tahu Juli memang begitu.”
Luna hanya mengedikkan bahunya.
“Aku nggak berpikir yang aneh-aneh, hanya menyambungkan apa yang Juli katakan dengan kenyataan.”
__ADS_1
“Luna aku tidak suka berada di posisi seakan ketahuan selingkuh. Yang jelas aku sayang kamu dan tidak peduli dengan perempuan itu. Apa yang terjadi kemarin aku minta maaf, aku hanya peduli karena rasa kemanusian. Itu saja. Sekarang kita duduk, sarapan dan kembali menjalani urusan kita seperti biasa dan jangan jadikan hal ini alasan untuk terus salah paham.”