
“Bro, sabar dong. Jangan kasar sama perempuan.” Doddy bermaksud menengahi dan menjadi pahlawan bagi Luna, tapi malah memperkeruh suasana. Dia sudah berdiri dan berhadapan dengan Teja.
“Kamu jangan ikut campur, ini urusanku dengan Kaluna,” sahut Teja lalu mendorong kasar Doddy dari hadapannya dan dibalas lagi.
Akhirnya kedua pria itu saling dorong dan sudah siap adu jotos. Luna bahkan harus melerai dan menjauhkan kedua pria itu. Tangannya berada di dada Teja sambil menatap tajam pria itu.
“Kita selesaikan di rumah.” Teja pun beralih menatap istrinya.
“Luna, kamu nggak usah takut. Kalau dia macam-macam, ada ….”
“Diam kamu!” Teja kembali menghardik sambil menunjuk Doddy. “Jangan ikut campur dengan hidup istriku. Cukup Andin yang kau rusak bahkan sampai dia mengakhiri hidupnya.”
“Kamu tahu kalau kejadian Andin bukan salahku, kami mabuk lalu terbawa suasana dan terjadilah.” Doddy menjelaskan seakan hal yang biasa dan tidak merasa bersalah membuat Teja semakin kesal dan geram.
“Ini kalian sedang bicarakan apa sih?” tanya Luna.
Doddy dan Teja diam meski masih dengan perasaan dongkol dan wajah emosi.
“Maksudnya Andin mantan Pak Teja?” tanya Luna lagi dan kedua pria itu masih bungkam. Luna pun menatap Doddy dan bertanya, “Apa hubungan Pak Doddy dengan Andin mantannya Pak Teja?”
“Kami masih ada hubungan saudara, terjadi sesuatu antara aku dan Andin tapi pria ini malah menuduhku yang tidak-tidak. Saat itu kami mabuk, jadi bukan salahku sepenuhnya.”
“Kamu yang buat dia mabuk lalu menodai Andin. Bahkan ia depresi dan bunuh diri, bukan salahmu lalu salah siapa? Tuhan?”
“Kamu pikir mudah aku melupakan Andin dan sekarang kamu dekati Luna, jelas-jelas dia istriku. Apa tujuanmu hah?”
Teja mencecar Doddy tanpa menyadari Luna yang berusaha menata perasaannya. Luna berada diantara dua pria yang menyimpan dendam. Dari perkataan Teja, ia ragu kalau dirinya memang memiliki tempat istimewa di hati Teja. Bahkan wanita itu sampai memijat pelan dahinya.
“Jadi semua karena Andin.”
“Dia pasti sengaja, hanya ingin menggangguku,” ujar Teja sambil menunjuk Doddy.
“Pak Teja emosi pada Doddy karena masalah Andin atau karena dia teran-terangan mendekatiku?” tanya Luna dan sukses mendapatkan perhatian Teja.
“Tentu saja karena Andin, dia tidak bisa move on bahkan sudah sekian tahun. Kamu lihat sendiri alasan dia membenciku bukan karena cemburu tapi karena masa lalu,” tutu Doddy seperti menyiramkan bensin hingga hati Luna dan Teja semakin terbakar emosi.
__ADS_1
“Ini terakhir aku melihatmu berurusan dengan istriku,”ancam Teja. “Kita bicara di rumah,” ajak pria itu pada Luna.
Pasangan itu pun akhirnya meninggalkan café untuk pulang, tidak ada yang bersuara membuat Luna ragu akan suaminya. Benarkah apa yang selama ini Teja katakan, bahwa ia adalah masa depan pria itu. Cinta, Luna ragu kalau Teja benar mencintainya.
Brak.
Teja menggelengkan kepalanya ketika Luna membanting pintu mobil dan bergegas masuk. Sempat menghela nafasnya berusaha menahan emosi, mendapati Luna masuk ke kamar dan mengunci dari dalam. Tidak ingin masalah berlarut dan menjadi duri dalam hubungan pernikahan mereka, Teja mengetuk pintu kamar dan meminta Luna untuk keluar.
“Luna, buka pintunya! Kita harus bicara, keluarlah!”
Tidak ada sahutan, Teja kembali mengetuk pintu bahkan lebih keras dari sebelumnya.
“Luna, kamu yang keluar atau aku yang masuk.”
Masih tidak ada sahutan, Teja pun mencari kunci cadangan untuk membuka pintu. Masalah mereka harus selesai malam ini juga. Mengabaikan privacy istrinya, Teja merangsek masuk ke kamar dan melihat istrinya duduk di lantai bersandar pada ranjang memeluk kedua kakinya. Tubuh itu bergetar, menandakan bahkan orang tersebut menangis.
Teja merasakan hatinya seperti teriris melihat sang istri menangis. ia pun ikut duduk tepat di samping wanita itu.
“Luna.”
“Pergi, jangan ganggu aku.”
“Aku benci Pak Teja.”
“Tapi aku mencintaimu.”
Luna mengalihkan pandangannya lalu menoleh dan menatap Teja yang menyandarkan kepala ke ranjang dan kedua matanya terpejam.
“Aku serius, saat ini aku benci dengan Pak teja, urusan kemarin juga masalah …. “ Luna berdecak dan tidak melanjutkan kalimatnya.
“Karena itulah kita harus bicara. Kadang apa yang kita lihat bukan hal yang sebenarnya terjadi. Kemarin aku memang sibuk, mempersiapkan RUPS. Kedatanganku ke rumah sakit hanya untuk memastikan kondisi Juli karena dia bilang keluarganya belum merespon. Sampai rumah kamu sudah terlelap dan aku tidak tega bagungkan kamu.”
Teja menatap istrinya yang masih bungkam.
“Aku memang sulit bangkit dari masalah Andin, tapi kamu yang menyadarkan aku kalau hidup masih terus berjalan dan kamu ….”
__ADS_1
“Bohong. Pak Teja tidak sungguh-sungguh cinta aku. Hanya emosi karena Doddy datang dan mencoba mendekatiku. Jangan-jangan aku hanya dijadikan untuk balas dendam.”
“Kaluna, aku menggila karena mulai menyukaimu dan itu terjadi sebelum Doddy datang diantara kita. Wajar kalau aku membenci Doddy, dia menggunakan pola yang sama untuk merusakmu. Membuat kamu mabuk sama seperti yang dia lakukan pada Andin.”
“Aku perlu waktu.” Luna berdiri lalu menaiki ranjang dan berbaring.
“Hanya untuk malam ini karena besok aku ingin kita kembali berbahagia dengan hubungan ini.”
Teja mendekat dan mencium kening Luna lalu meninggalkan kamar itu memberikan waktu pada istrinya.
***
“Aku ingin bertemu Juli.”
Teja mendessah pelan mendengar permintaan istrinya. Saat ini keduanya sudah berada di meja makan dan bersiap sarapan, tapi permintaan Luna membuat n4fsu makan Teja menguap. Untuk apa pula bertemu dengan Juli, yang ada nanti kembali salah paham. Juli termasuk wanita berambisi, yang mungkin saja menghalalkan berbagai macam cara untuk mewujudkan keinginannya.
“Sebaiknya jangan, Juli bisa saja mengatakan hal yang membuat kita kembali salah paham.”
“Aku tidak ingin ada lagi Juli jadi penyebab kita bertengkar, jadi temukan aku dengan dia.”
Teja mengalah, dia menemani Luna ke rumah sakit untuk menemui Juli. Terlalu keras menolak hanya akan membuat LUna berprasangka kalau antara dia dengan Juli memang ada sesuatu.
“Tunggu di sini dan nggak usah curi dengar apa pembicaraan kami.”
“Sayang, aku ….”
“Tunggu atau aku pulang ke rumah Eyang,” ancam Luna dan sukses membuat Teja diam.
Luna membuka pintu kamar rawat Juli, wanita itu tidak terlihat sakit. memang ada memar di wajah dan luka perban di kakinya tapi masih sibuk memakai kutek.
“Pagi, tante Juli.”
Juli menoleh dan mengernyitkan dahinya menatap Luna.
“Kamu siapa?”
__ADS_1
“Kenalkan aku, Luna. Kaluna Zena, istri dari Teja Dewangga.”
“Hahh.”