
Luna hampir berteriak ketika terjaga merasakan ada tangan memeluk pinggangnya. Meski sempat terbersit kalau itu ulah Teja, perlahan ia berbalik. Teja Dewangga dengan wajah terlelap memeluknya dari belakang.
“Pak Teja kapan masuk ke sini? Perasaan sudah aku kunci.”
Perlahan Luna bergerak untuk beranjak dari posisinya, dengan pelan ia menyingkirkan tangan Teja. Namun, bukan terbebas dari pelukan Teja yang ada malah semakin mengeratkan dekapannya.
“Pak Teja.”
“Sttt, diam.”
“Pak Teja ngapain ada di sin?”
“Tidur.”
Rasanya Luna ingin menyikut perut pria itu, dengan asal dia bilang tidur. Semua orang juga tahu kalau di ranjang ya sudah pasti urusan tidur dan meniduri, tapi sejak kapan mereka bisa sedekat ini.
Mungkinkah Teja mulai bucin? Tapi Luna ragu, jangankan untuk bucin sedangkan pernyataan cinta saja dia belum dengar dari bibir si bujang lapuk.
Bukan tidak menyukai apa yang Teja lakukan, tapi dalam posisi dekat begini sekujur tubuh Luna terasa merinding disko. Ada gelenyar aneh yang dia rasakan, seperti menggelitik di perutnya.
“Geser, aku mau bangun.” Lena menggerakan tubuhnya agar Teja terusik dan segera terjaga.
“Aku sudah bangun dari tadi.”
“Bangun apa, matanya masih merem gitu.”
“Milikku yang bangun, kamu gesekk terus ya berontak dia.”
Luna bergegas melepaskan diri dari dekapan yang mulai mengendur. Berlama dekat dengan Teja, tidak baik untuk kesehatan jiwa dan raga, dia bisa ikutan mesum macam pria itu.
“Pagi-pagi bikin rusuh,” teriak Luna sudah berdiri menatap suaminya yang kembali bergelung di bawah selimut.
“Masih bagus dari pada aku buat gempa lokal. Jangan berisik, semalam aku nggak bisa tidur makanya pindah ke sini.”
“Tumben amat, nyasar ke sini. Kenapa juga nggak bisa tidur? Mikirin tante Juli ya,” cecar Luna sambil menyingkap hordeng dan membuka pintu balkon yang mengarah ke kolam renang. Sengaja dia buka lebar agar ada pertukaran udara.
“Kamu yang bikin nggak bisa tidur, mataku ternoda dengan penampilan kamu di hotel kemarin. Jadi kebayang terus.”
“Itu sih otaknya Pak Teja aja yang rada ngeres.”
“Normal, aku pria normal. Kamu pikir aku robot, nggak ada rasa disuguhin yang kayak gitu. Ke rumah Eyang agak siangan saja, aku tidur dulu.”
__ADS_1
Luna meninggalkan kamarnya, membiarkan Teja tidur kembali dari pada dirinya yang jadi sasaran resah gelisah sang suami.
Matahari sudah tinggi, tapi Teja belum juga bergerak dari ranjang kebesaran milik Luna. Wajahnya terlihat damai ketika terlelap, tidak mengesalkan seperti saat sadarkan diri. Luna yang sudah tidak sabar ingin mengunjungi Eyang Surya membangunkan Teja.
“Ayo, bangun.” Luna menggoyangkan tubuh Teja dan akhirnya pria itu mengerjapkan matanya.
“Lima menit lagi.”
“Bangun atau aku pergi naik taksi.”
“Ck, iya.”
Teja menguap dan mengucek matanya, memastikan kalau ratu di rumahnya sudah rapi.
“Mandi cepetan, nggak pakai lama.”
“Kamu udah rapi aja, bukan tunggu aku. Kita bisa mandi ber… iya iya.” Teja berlari karena Luna sudah mengambil sandalnya yang siap melayang ke segala penjuru kamar.
... ***...
“Eyang, Luna pulang!” Luna berteriak ketika memasuki kediaman Surya, Teja yang menyeret koper kecil berisi perlengkapan mereka menegur agar Luna tidak berteriak.
“Luna, apa kabarmu sayang?” sapa Indah yang langsung dipeluk oleh Luna.
Teja menyaksikan interaksi manja Luna dengan kakeknya. Ia tahu kalau gadis itu memang dibesarkan oleh Surya, terlihat kedekatan keduanya. bahkan Teja tidak pernah mendengar Luna minta izin mengunjungi Bundanya atau menelpon wanita itu.
“Sudah jadi istri, tidak boleh manja begini. Tidak malu dengan suamimu.”
“Ck, dia senang kalau aku manja dari pada aku berisik,” ujar Luna lirih tapi bisa didengar oleh Teja dan Surya.
“Pantas ramai, ternyata ada nyonya Dewangga.” Luna mencebik menanggapi ejekan Amar. “Sepertinya Luna sudah bisa kamu taklukan ya,” ujar Amar sambil berjabat tangan dengan Teja. “Gimana rasanya menikah, enak bukan?” tanya pria itu yang disambut Teja dengan senyum.
Apanya yang enak, mau di unboxing aja pake password, batin Teja kembali frustasi membayangkan senjatanya bertahun-tahun hanya digunakan untuk membuang air seni. Belum bisa mengacak-acak lembah atau sarang manapun termasuk milik istrinya.
“Om Amar, jangan pengaruhi suamiku dengan yang aneh-aneh ya. Tante Indah, Om Amar nih.”
“Ayah, seharusnya kita menikahkah mereka sejak lama. Rumah tuh adem nggak ada kamu yang sering berteriak.”
“Halah, bilang aja Om Amar kesepian semenjak aku tinggal.”
Perbincangan mereka masih berlanjut, bahkan setelah makan malam Amar mengajak Teja bermain catur. Sedangkan Luna ke kamar setelah memastikan Eyang Surya sudah beristirahat. Gadis itu sudah berganti piyama dan berbaring di ranjang yang sangat ia rindukan.
__ADS_1
Hampir tengah malam, Teja baru menyusul ke kamar. Tidak enak menolak permintaan Amar untuk kembali mengulang permainannya, sampai Indah yang minta Amar dan Teja agar mengakhiri permainan.
“Luna, yah tidur,” gumam Teja saat mendapati istrinya sudah terlelap. “Hah, gagal lagi.”
***
“Luna, bangun dong.”
“Ish, Pak Teja kenapa senang banget ganggu tidur aku sih. Nggak di rumah nggak di sini.”
“Aku nggak bisa tidur.”
Luna pun beranjak bangun dan menatap wajah suaminya yang terlihat lelah dengan mata panda dan rambut berantakan. Tangan Luna refleks menyentuh dahi pria itu memastikan tidak demam.
“Nggak panas. Pak Teja sakit apa?”
“Sakit kepala. Cuma kamu yang bisa mengobati, kita pulang ya.”
“Sakit kepala mah gampang, tinggal minum paracetamol juga reda. Aku ambilkan sarapan dulu ya.”
Namun, Teja menahan Luna yang akan turun dari ranjang.
“Bukan kepala ini, tapi kepala yang lain,” tunjuk Teja pada kepalanya. “Rasanya nggak enak, tersiksa sekali. Aku minta hakku sayang.”
Luna mengernyitkan dahinya memikirkan maksud Teja, lalu terbelalak ketika menyadari hak yang dimaksud pria itu.
“Tapi ….”
“Ayolah Luna, masa kamu tidak percaya denganku. Akhir-akhir ini aku merasa aneh dengan diriku, bahkan aku menguntitmu, curiga dengan hubungan kamu juga si dodol. Rasanya aku begitu posesif, mungkin aku memang sudah jatuh cinta. Jadi, jangan ragukan aku.” Teja mengacak rambutnya setelah mengungkapkan perasaan pada istrinya.
“Coba aku mau dengar lagi.”
“Ck, tidak ada siaran ulang. Ayo kita pulang, mana mungkin aku bercocok tanam di sini.”
“Ih Pak Teja apaan sih.”
“Ayo. Bilang saja, aku harus ke café ada acara dadakan.”
“Tapi … aku takut.”
Teja menghela nafasnya. “Aku nggak gigit dan kita mau bikin adegan romantis bukan adegan horor, jadi nggak usah takut.”
__ADS_1
“Bukan itu, punya pak Teja yakin masih bisa digunakan. Gimana kalau udah karatan?”
“Astaga, Kaluna!!!.”