Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 38 ~ Bertemu di Cafe


__ADS_3

Luna lebih banyak bungkam selama perjalanan ke Seloka Design, Teja memaksa ingin mengantar. Jika Teja mengatakan kalsu dia peduli pada Juli karena kemanusiaan, maka manusiawi jika Luna merajuk atau tidak menyukai hal itu. Bagaimana pun Luna ada istri sah dari Teja dan lebih berhak mendapatkan perhatian pria itu.


Jika memang Teja sudah menganggap Juli masa lalu, baiknya jangan terus tunjukan kepedulian yang akan membuat orang lain salah paham termasuk Juli.


“Kalau belum kuat bawa mobil, kabari aku. Nanti aku jemput.”


“Hm.” Luna meraih tangan Teja, mencium tangan dengan takzim seperti biasa.


Padahal baru semalam Teja tidak bermesraan bersama istrinya, tapi sangat rindu. Hanya bisa mengusap kepala wanita itu saat tangannya dicium. Pandangan Teja masih menatap punggung kekasih hati yang berjalan menuju lobby kantor.


“Halo,” sapa Teja menerima panggilan telepon.  


“Mas Teja, kenapa ….”


“Juli, jangan hubungi aku lagi. Kemarin itu terakhir aku membantumu, aku tidak ingin istriku salah paham.”


“Tapi mas ….”


“Aku serius, ancamanku sebelumnya masih berlaku.”


Teja mengakhiri panggilan dari Juli, lalu meninggalkan area perkantoran di mana Luna berada.


...***...


“Lun, nggak keluar? Aku sudah lapar nih.”


“Kayaknya nggak, aku udah titip juice ke OB.”


“Aku mau cari makanan yang pedas. Lagi PMS, makan nggak terlalu nafsu.”


Luna hanya tersenyum menanggapi ucapan Astri. Ia memang enggan keluar untuk makan siang atau pesan antar, mulutnya terasa pahit dan masih menyisakan mual. Mendengar Astri yang sedang PMS, Luna pun ingat dengan periode bulanannya. Seingatnya dia belum mendapatkan jadwalnya sejak … entah kapan terakhir periodenya.


“Apa jangan-jangan aku ....”


Luna bergegas membuka ponsel dan mengecek aplikasi kalender dan benar-benar tidak ingat kapan terakhir periodenya. Mengingat sering sekali Luna memenuhi kewajibannya pada Teja dan tentu saja dilakukan tanpa pengaman.


“Sepertinya aku … hamil.”


“Hai Lun.”


Luna mendengus pelan karena kehadiran Doddy. Hanya berdehem menjawab sapaan dari pria itu. Harus bersikap profesional kalau saat ini ia sedang berada di kantor dan Doddy adalah seniornya. Tidak mungkin langsung menghardik mengusir pria itu.


“Gimana kabarmu? Kayaknya masih pucat, kamu sakit ya?”

__ADS_1


“Oh, nggak apa-apa. Kayaknya kecapean aja.”


“Ck, suami kamu yang bijaksana itu ke mana? Masa istri sakit dibiarkan kerja?”


“Pak Doddy, aku bukan sakit tapi kecapekan.”


“Capek makan hati jadi istri Teja.”


Ada benarnya juga, tapi tidak mungkin Luna mengiyakan nanti malah besar kepala. Tiba-tiba mual kembali melanda, Luna bergegas menuju toilet.


“Luna, kamu kenapa?” 


Wanita itu mengeluarkan isi perutnya, fix setelah ini ia harus periksa membeli tespek untuk mengecek apakah ia hamil atau tidak.


“Apa sebaiknya kamu pulang, ini kamu benar sakit loh. Habis muntah ‘kan?”


“Nggak apa-apa. Kayaknya salah makan.”


Doddy mengekor langkah Luna kembali ke kubikelnya. Semakin ke sini sikap Doddy membuat rekan kerjanya menduga mereka ada hubungan. Tentu saja hal ini membuat Luna juga tidak nyaman.


“Pak Doddy ngapain di sini sih? Bukanya keluar sana. makan siang kek, apa kek.”


“Kamu nggak makan siang? Gimana kalau bareng, kayaknya lebih seru. Ayolah, daripada di sini merenungi nasib hubungan kamu sama Teja.”


“Untuk apa merenung segala.”


“Sok tahu.”


Sore hari, menjelang berakhir jam kerja. Luna sudah meninggalkan kantor menuju rumah sakit untuk mengambil mobilnya yang masih ia tinggal di sana. Sempat mendatangi kamar rawat di mana Juli berada, untuk memastikan ada Teja atau tidak. Wanita itu menghela lega karena tidak menemukan suaminya di sana.


Tidak lupa Luna mampir ke apotek untuk membeli tespek. Ia ingin segera memastikan kondisinya. Tiga macam merek sudah didapatkan dan langsung diuji ketika tiba di rumah. Entah harus senang atau sedih mendapati dua garis di tiap stik alat tes kehamilan yang diletakan di wastafel.


“A-aku hamil.”


Luna berencana tidak langsung menyampaikan pada Teja terkait kehamilannya. Ancaman pria itu akan segera membuat surat resign kalau Luna dinyatakan hamil, sedangkan masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan dan kondisi yang benar-benar ia pastikan tentang Teja dan Juli.


Di tengah kegalauannya, Luna teringat Eyang Surya. Pria yang selalu ada untuknya menggantikan peran ayah dan ibu. Mendadak ia  pun menjadi mellow bahkan saat menghubungi pria itu, Luna tidak bisa berkata-kata malah menangis.


“Kamu ada masalah? Bicarakan dengan suamimu. Mulai sekarang belajar mandiri dan tidak bergantung pada Eyang.”


“Luna kangen Eyang.”


Terdengar kekehan di ujung sana.

__ADS_1


“Aku mau pulang, aku mau tinggal dengan Eyang lagi.”


“Jangan temui Eyang kalau kamu sedang ada masalah dengan Teja, selesaikanlah! Mengunjungi Eyang harus dengan rasa suka cita.”


Banyak nasihat yang Luna dapatkan dari Surya. Sudah lama juga ia tidak mendengar nasihat dan petuah dari pria tua yang begitu ia sayangi. Tanpa Luna ketahui kalau Surya sekarang sedang dalam perawatan, komplikasi dari keluhannya membuat pria itu terkulai lemah di ranjang rumah sakit. Pria itu berpesan agar tidak menyampaikan kondisinya pada Luna. Amar dan Indah pun sementara tidak mengabari Luna sesuai permintaan Surya.


Setelah menghubungi Surya, Luna menghubungi Teja. Ia ingin menyelesaikan masalahnya dengan sang suami. Memastikan kalau rumah tangganya tidak akan lagi terganggu dengan ulah Juli ataupun Juli-juli yang lain.


Keduanya sepakat bertemu di café milik Teja, sekalian makan malam. Luna sengaja menggunakan taksi karena akan pulang bersama Teja. Sampai di lokasi, wanita itu memilih meja di lantai dua yang tidak terlalu ramai.


Baru saja duduk, Luna dikejutkan dengan kehadiran pria yang menghampirinya.


“Pak Doddy, ngapain di sini?”


“Aku tadi ikuti kamu. Sebenarnya aku ingin mampir untuk pastikan kamu baik-baik saja, tapi ternyata kamu keluar dari rumah ya aku ikuti.”


Sepertinya Doddy dan Juli adalah cobaan bagi rumah tangga Luna dan Teja. Wanita itu bahkan mengusap wajahnya, tidak percaya dengan apa yang disampaikan oleh Doddy.


“Pak , saya sudah bersuami jadi jangan terlalu berlebihan mengkhawatirkan kondisi saya.”


“Mana suami kamu? Buktinya kamu sendiri di sini.”


Doddy langsung duduk berhadapan dengan Luna dan memanggil pelayan menunjuk menu yang ia pesan.


“Pak Doddy pilih meja lain deh, saya sedang tunggu ….”


“Jangan beralasan, aku tahu kamu sedang menyendiri di sini. Tenang saja, aku temani. Bahkan setelah ini kamu mau ke tempat lain pun aku banyak waktu untuk menemani.”


Belum sempat Luna menjawab, dia kembali terkejut dengan kehadiran Teja. Khawatir ada salah paham.


“Ada apa ini? Kenapa ada dia di sini?” Teja menunjuk Doddy dan menunggu jawaban dari istrinya.


“Gue di sini nemenin Luna. Kasihan dia dianggurin sama lakinya.”


“Kamu janjian dengan dia lalu minta aku ke sini, maksudnya gimana? Mau balas masalah kemarin atau nggak sengaja ke gap?”


Luna hanya berdecak, rasanya ingin ia toyor kepala Doddy dan menghardik suaminya yang menyimpulkan sesuatu bahkan ia belum menjelaskan apapun.


“Jawab!” hardik Teja.


 


 

__ADS_1


 


 


__ADS_2