Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 40 ~ Kamu Kenapa?


__ADS_3

Juli menurun kakinya dari ranjang, menghampiri Luna. Tatapan wanita itu menelisik seakan mencari  sesuatu tapi tidak ditemukan. Sedangkan Luna sengaja menunjukan wajah ceria dan tatapan pongah pada wanita di hadapannya.


“Kamu istrinya Teja?”


“Hm.”


“Apa selera Teja berubah?”


Luna berdecak dan sempat mengalihkan pandangan dari Juli karena jengah. Namun, kembali menatap wanita itu. Tatapan mengintimidasi karena dia ingin mengakhiri urusan Juli dan Teja. Kalau suaminya tidak bisa tegas, maka ia yang harus membuat Juli jera.


“Cinta tidak memandang selera. Kamu dan Pak Teja mungkin pernah punya cerita, tapi  sudah berakhir. Aku yakin anda wanita terhormat dan cukup tahu diri untuk tidak menjadi orang ketiga antara aku dan Pak Teja.”


Juli seakan mengabaikan Luna, ia masih memandang wanita di hadapannya dari kaki sampai kepala.


“Apa yang membuat Mas Teja memilih kamu, lagi pula kamu seperti bocah mana tahu melayani laki-laki.”


“Oh jadi karena kamu pintar melayani laki-laki makanya mengkhianati Pak Teja.”


“Hey tutup mulutmu!”


“Kamu yang harus tutup mulut. Keluarga besarku dan keluarga besar Pak Teja tidak akan suka kalau tahu ada pengganggu di rumah tangga kami. Sebaiknya mundur, apalagi aku sedang hamil. Hamil keturunan Dewangga.” Luna mengusap perutnya sambil tersenyum sinis pada Juli.


“Ha-mil?”


“Iya. Yang jelas Pak Teja sudah bucin denganku. Sampai aku tahu kamu dengan sengaja bertemu dengannya apalagi menggunakan trik murahan macam begini, kamu akan berhadapan dengan keluarga besar Surya dan juga keluarga Adam.”


Luna mengangkat tangannya lalu melambaikan tangannya sebagai tanda untuk pamit.


“Ah satu lagi, semoga jiwa kamu cepat sehat dan segera keluar dari sini. “


Juli mengumpat kesal saat Luna sudah melewati pintu. Tidak menduga kalau istri dari pria yang dia sukai bisa seberani itu. Namun, ancaman yang diberikan hampir sama dengan ancaman dari Teja.


“Masa aku harus kalah, tapi bagaimana hidupku ke depan. Aku tidak mau hidup susah, hanya Teja harapanku. Argh.”

__ADS_1


Sedangkan di luar kamar, Teja menghampiri istrinya. Ia benar-benar menjauh dari kamar itu agar tidak bisa mendengar apa yang kedua wanita itu bicarakan, padahal sangat penasaran karena khawatir Juli akan mengatakan sesuatu yang membuat hubungannya dengan Luna semakin jauh karena lagi-lagi salah paham.


“Sudah selesai?”


“Hm. Ayo, nggak usah tengak-tengok ke sana.” Luna menarik tangan suaminya agar bergegas. “Aku nggak mau dengar lagi kalian bertemu dengan sengaja. Mau itu ada bencana alam di rumahnya Juli, nggak usah Pak Teja ke sana. Itu hanya alasan, masih mending dia nggak pakai cara gil4 kasih obat perangs4ng dan kalian enak-enak lalu bulan depan dia ngaku hamil anak kamu.”


Teja tidak berani menyanggah apa yang dikatakan Luna. Ada benarnya juga dan dia tidak ingin Luna kembali merepet jika dia membuka suara.


“Mau langsung ke kantor?” tanya Teja saat mobil yang dia kendarai sudah meninggalkan rumah sakit.


“Iya. Nanti sore aku mau ke tempat Eyang, malamnya Pak Teja jemput.”


“Iya sayang,”


“Nggak usah bilang sayang, kalau nyebelin.”


“Tapi aku beneran sayang.”


Luna berniat mengunjungi Eyang Surya. Merasa hubungannya dengan Teja sudah membaik, ia berani untuk datang. karena sebelumnya Eyang Surya melarang Luna datang jika untuk menghindar dari Teja atau meninggalkan masalah.


***


Luna baru saja menghabiskan makan siang yang dia pesan lewat layanan online. Memaksakan agar ada makanan yang masuk meski mual masih terasa. Rencana resign sudah disampaikan pada bagian HRD, hanya saja belum diajukan pada Arta karena pimpinan Seloka Design itu masih dalam perawatan pasca kecelakaan.


“Luna.”


“Jangan ganggu saya Pak.”


“Gimana hubungan kamu dengan Teja? Kayaknya semakin renggang ya,” ujar Doddy dengan wajah tersenyum. Pria itu semakin menunjukkan jiwa brengs3knya, bahagia di atas penderitaan orang lain.


“Bukan urusan Bapak dan lebih baik Pak Doddy nggak usah bicara dengan saya kecuali urusan pekerjaan. Saya muak lihat Bapak, karena hampir saja saya bernasib seperti Andin.”


“Jangan sembarangan kamu, itu fitnah dan ....”

__ADS_1


“Astri, tolong panggilin security untuk usir orang ini.”


“Hah, Luna kamu nggak salah?” tanya Astri menatap bergantian Luna dan Doddy. Doddy pun tidak ingin menjadi alasan keributan akhirnya meninggalkan kubikel Luna.


“Kalian kenapa sih?” tanya Astri.


“Nggak apa-apa. Aku kasih tahu ya, kalau laki\=laki tadi merayu kamu … hati-hati. Apalagi kalau sampai kamu dibuat mabuk.”


“Maksudnya gimana, aku nggak ngerti.”


Luna urung menjelaskan pada Astri betapa berbahayanya Doddy si penjahat kel4min, karena ponselnya berdering. Ternyata panggilan dari Amar. Tentu saja ia gembira karena akan mengabarkan kalau sore ini akan datang mengunjungi Eyang Surya.


“Halo Om.”


“Luna ….” Amar tidak bisa melanjutkan ucapannya di ujung sana.


“Om, sore ini aku mampir ya. Udah kangen sama Eyang.”


Terdengar isakan di ujung telepon dan Amar yang tidak kunjung bicara.


“Om Amar kenapa sih, kayak yang nangis.”


“Luna.”


Perasaan Luna mendadak tidak enak, bayangan Eyang Surya yang tertawa saat mendengar ocehannya terlintas di benak wanita itu.


“Eyang baik-baik aja ‘kan?”


“Luna, maafkan Om. Eyangmu … sudah tidak ada.”


Rasanya dada Luna bagai terhantam benda besar dan membuat sesak. Dunia bagaikan berhenti berputar sampai membuat Luna tidak sanggup menarik nafas mendengar kondisi Eyang dari Amar.


Ponsel Luna pun terlepas dan terjatuh ke lantai. Astri yang memang masih berhadapan tentu saja panik melihat Luna yang mematung dengan wajah sudah basah oleh air mata.

__ADS_1


“Luna, kamu kenapa?” 


__ADS_2