Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 26 ~ Sepuluh Menit


__ADS_3

Luna mengerjap pelan, mendesis karena rasa pening di kepalanya. Kesadarannya langsung penuh menyadari saat ini dia bukan berada di kamarnya dan hanya mengenakan pakaian dalam berbalut selimut.


“Hahh, Pak Teja!”


“Shhh, berisik.” Teja menggeliat pelan lalu berbaring miring memunggungi Luna yang heran kenapa mereka ada di ranjang yang sama dan bukan berada di kamarnya atau kamar suaminya.


“Pak Teja, bangun dan jelaskan kita ada di mana dan kenapa saya nggak pakai baju. Bapak nggak ngapa-ngapain saya ‘kan?”


Tidak ada sahutan dari pria itu, Luna pun mendorong tubuh suaminya. Teja terkejut lalu duduk, hampir saja dia terjungkal.


“Astaga Luna.” Teja mengacak rambutnya kesal. Sejak kemarin dia sudah melakukan hal tidak biasa dan merasa bukan dirinya, bahkan sampai dimuntahin oleh gadis itu dan sekarang tidurnya pun terganggu.


“Nggak usah astaga segala, justru aku yang harus bilang begitu. Ini kenapa kita bisa tisur seranjang, mana aku nggak pakai baju,” keluh Luna sambil memegang selimut menutupi bagian depan tubuhnya.


Teja menanggapi dengan decakan lalu kembali berbaring, membuat Luna kembali berteriak. Gadis itu menduga kalau diantara mereka sudah terjadi sesuatu. Seingatnya kemarin menghadiri pesta mewakili kantornya, tapi kenapa berakhir bersama Teja di kamar … hotel.


“Memang kenapa kalau kita satu ranjang? Aku ingatkan kalau kita suami istri, jadi wajar saja kalau tidur bersama atau ….”


“Pak Teja!!!”


“Ck, semalam kamu mabuk. Aku sudah bilang jangan minum alkohol, berapa banyak kamu minum sampai tidak sadar aku bawa ke sini? Bagaimana kalau kakak dodol mu itu yang bawa kamu dan dia macam-macam? Apa pernah terpikir itu di kepalamu?” Teja mencecar dengan banyak pertanyaan kemungkinan yang terjadi dan Luna hanya diam, dia masih bingung dan tidak mengingat apa yang terjadi.


“Jadi aku mabuk?”


“Menurutmu? Bahkan semalam kamu munt*h, bukan hanya kena pakaian kita tapi wajahku juga.”


Melihat raut wajah Teja yang kesal, Luna malah terbahak.


“Kamu!”


“Serius aku muntahin baju bapak?”


“Hm. Mulai sekarang jauhi Doddy, jika perlu kamu pindah kerja.”


“Nggak bisa gitu dong, kenapa juga harus menjauhi Doddy sampai harus pindah kerja. Pak Teja jangan aneh-aneh deh.”

__ADS_1


“Karena dia hampir memanfaatkan kamu. Kalian sudah berada di depan lift, kalau semalam aku tidak berhasil menemukan kamu. Aku yakin sekarang kamu sedang meratapi nasib karena sudah ….” Teja menghela nafasnya. “Ikuti saja kataku.”


Pak Teja nggak mungkin bohong. Kak Doddy jahat banget sih, apa ini yang buat mereka seperti tidak akur ya, batin Luna.


“Terus aku ke kantor gimana? Nggak mungkin kita pulang dulu, habis waktu.” Luna mengulurkan tangannya meraih bathrobe yang ada di atas nakas sisi ranjang di mana Teja berada, selimut yang dia pegang hanya menutupi bagian depan sedangkan punggungnya terekspos membuat Teja hanya bisa menelan saliva memandang pahatan tubuh Luna meski tidak utuh, tapi sukses membuatnya gerah di situasi rawan.


Teja menunjuk paper bag di atas meja, rupanya semalam Teja sudah memesan pakaian ganti untuk Luna dan dirinya.


"Tapi semalam kita nggak ngapa-ngapain "kan? Aku masih peraw4n 'kan?"


"Kalau semalam kita macam-macam, sekarang kamu nggak akan bisa jalan. Mandilah, setelah itu kita sarapan dan aku antar kamu ke kantor.”


Luna mematut dirinya di cermin, entah dari mana suaminya tahu ukuran pakaiannya karena pas dipakai. Teja keluar dari toilet hanya mengenakan boxer membuat istrinya kembali bersuara.


“Memang kenapa? Semalam aku lepaskan pakaianmu dan lihat tubuh kamu yang hanya pakai underwear, kalau ingin balas dendam silahkan saja. Aku tidak keberatan, pandanglah sepuasmu.”


“Ya ampun Pak Teja, kerasukan setan apa sih sampai mesum begini.”


“Kenapa? Ingin pegang juga? Boleh kok.”


“Pak Teja kok pakaiannya ….”


“Setelah antar kamu aku langsung pulang, kepalaku pusing tidak akan fokus.”


“Sama kepalaku agak berat nih, kayaknya aku ada obat sakit kepala.” Luna mencari tasnya dan baru ingat kalau perlengkapan yang lain tertinggal di kantor.


“Ck, sakit kepalaku tidak akan sembuh dengan makan obat.”


“Lalu harus makan apa?”


“Makan kamu,”


“Suteja!!!!”


***

__ADS_1


“Jangan hanya iya iya, tapi diingat di kepalamu dan jangan dibantah. Apa yang aku larang untuk kebaikan kamu.”


“Iya, salim,” ujar Luna mengulurkan tangannya.


Hati Teja menghangat melihat Luna dengan ikhlas mencium tangannya, membuat pria itu tidak bisa menolak keinginan untuk mencium kening istrinya. Luna hanya diam mendapatkan perlakukan dari sang suami, meskipun sempat terkejut.


“Ingat pesanku!”


“Iya.”


“Kabari kalau mau pulang, nanti aku jemput.”


“Hm.”


Saat di lobby, Luna bertemu Astri.


“Semalam kemana sama Pak Doddy, kok langsung hilang?” tanya Astri


Eh, ngilang? Apa ini yang dimaksud Pak Teja. Bener-bener buaya darat, batin Luna.


“Aku mabuk, nggak sengaja minum alkohol.”


“Serius? Tapi nggak ngapain-ngapain ‘kan?”


“Please deh! Isi kepala kamu pasti udah mikir adegan kayak di drama korea. Nggak ada ya, aku masih … Udah ah, pagi-pagi udah ghibah.”


Luna sudah larut dalam kesibukannya, kopi pahit yang disarankan Teja untuk menghilangkan sisa pengar ternyata efektif. Dia bisa konsentrasi seperti biasa, padahal semalam mabuk berat. Lain kali dia tidak akan sentuh lagi minuman beralkohol. Semalam pun tidak akan terjadi kalau si Doddy kamprett yang memaksanya minum.


“Luna, bisa kita bicara?” Luna menoleh, sudah ada Doddy berdiri di samping kubikelnya.


“Tapi saya ….”


“Sepuluh menit.”


 

__ADS_1


 


__ADS_2