
“Pak Amar, mohon maaf. Kaluna yang anda maksud itu ….”
“Kaluna Zena, istri dari Teja Dewangga dan hampir menjadi korban putramu yang sok hebat itu. Kamu pikir saya sedang membicarakan Luna siapa? Seharusnya sebelum anda bertindak, cari tahu berurusan dengan siapa.”
Herman sempat menunduk sekilas lalu kembali menatap Amar.
“Hampir ‘kan, artinya belum terjadi apa-apa.”
“Kalau Teja tidak cerdas, keponakan saya akan lambat ditemukan dan sudah bunuh diri seperti Andin keponakanmu. Jadi jangan mengada-ada untuk menolong putramu yang tidak punya otak. Pilihanmu hanya dua, kerjasama bisnis dan putramu.”
Herman masih menyimak penjelasan Amar.
“Kamu boleh teruskan aksimu menolong Doddy dengan kesana kemari mengancam dan memberikan uang tutup mulut, tapi kerja sama kita berakhir. Perusahaan kami besar Pak Herman, saya bisa minta lakukan hal yang sama pada keluarga Teja untuk anda juga perusahaan rekanan lain.”
Herman menelan salivanya belum bisa berkata apapun.
“Atau pilih pertahankan kerjasama kita dan biarkan putramu mendekam di penjara.”
“Begini Pak Amar, saya hanya minta pengertian anda. Doddy ini putra saya satu-satunya dan ….”
“Lalu Luna harus mengalah dengan putra anda yang sakit jiwa karena satu-satunya penerus keluarganya. Anda pikir Luna punya berapa saudara? Luna pun putri satu-satunya Kakak saya. Sudahlah Anda jangan mengada-ada.”
“Karena saya sangat sayang dengan Luna, jadi dua pilihan tadi batal. Mana mungkin saya jadikan Luna bahan pilihan begini. Jadi, saya putuskan kerjasama kita selesai dan saya akan pastikan Luna tidak akan mencabut laporan atau merubah kesaksian dan apapun itu istilahnya.”
“Tunggu Pak Amar, kita bisa bicara baik-baik.”
“Tidak bisa, karena putramu itu bukan orang baik dan Anda sebagai orang tua malah menutupi dan tutup mata akan hal itu. Silahkan keluar, saya masih banyak urusan yang harus dilakukan dari pada melayani Anda.”
Amar sudah berdiri dan berjalan meninggalkan mejanya. Herman pun mengekor dan berusaha mengejar.
“Selamat siang Pak Herman, semoga hari anda menyenangkan,” ujar Amar sambil membuka pintu dan mengarahkan agar Herman keluar.
Menjelang malam, Amar sudah tiba di rumah.
“Mana Luna?” tanya Amar saat sampai rumah.
“Di sana,” tunjuk Indah pada sofa di mana Luna asyik menonton TV dengan toples cemilan di pangkuannya. “Kemana Teja?”
“Saya di sini.” Teja keluar dari dapur membawa segelas juice.
__ADS_1
“Herman sudah mendapatkan ultimatum, kerjasama dengan perusahaan sudah berakhir. Tinggal dia meratapi hidupnya.”
“Saya pun sudah hubungi orang kepercayaan Ayah dan menceritakan masalah Luna, mereka siap lakukan hal yang sama dengan Om Amar. Bagaimana kalau perusahaan Herman gulung tikar Om, akan banyak karyawan yang jadi korban.”
Amar menepuk bahu Teja.
“Tidak usah khawatir, ada kawanku yang akan mengurus itu. Dia bisa beli perusahaan Herman diambil alih. Perusahaan tidak akan kolaps, tapi keluarga Doddy akan mendapatkan pelajaran hidup.”
“Pak Teja, cepat bawa sini. Aku sudah haus,” ujar Luna sambil merengek. “Om Amar apa sih, suamiku malah diajak ngobrol.”
Teja menghampiri istrinya dan menyerahkan gelas yang dia pegang.
“Halah, sebelum kamu menikah dengan Teja manjanya juga denganku.”
Amar sudah ikut bergabung di sofa, juga dengan Indah. Mereka membicarakan kapan persalinan Luna. Juga sejauh mana renovasi rumah Teja yang akan ditempati.
“Pastikan keluarga kalian aman kalau pindah ke sana, Om tidak akan biarkan Luna keluar rumah kalau rumah kamu belum pasti aman.”
“Siap, itu juga sedang diurus,” sahut Teja.
***
“Nggak ngerti, sering kencang dan kadang sakit.”
“Apa mau lahir?” Teja sudah beranjak dan ikut mengusap perut istrinya. “Jadwal operasi masih dua minggu lagi ya?”
Karena bayi mereka kembar, Teja tidak ingin mengambil resiko dan memutuskan persalinan Luna dengan cara operasi. Ia tidak akan sanggup melihat Luna kesakitan mengeluarkan dua bayi.
“Aku cek kebutuhan dan perlengkapan yang akan dibawa, setelah itu kita ke rumah sakit.”
Teja bergegas turun dari ranjang menuju walk in closet dan keluar membawa dua tas. Di luar kamar, ia memanggil asisten rumah tangga dan menyerahkan tas tersebut.
“Minta Pak Udin panasi mobil, istrinya mau ke rumah sakit.”
“Mbak Luna mau melahirkan Pak?” tanya bibi.
“Sepertinya begitu.”
Teja membantu Luna bersiap, bahkan istrinya sempat membersihkan diri. Begitu pun dengan Teja yang melakukan mandi kilat.
__ADS_1
“Ayo sayang, masih bisa jalan? Apa perlu aku gendong?”
“Ih, pak Teja apaan sih.”
“Aku serius.”
Luna memeluk lengan Teja dan berjalan pelan keluar dari kamar. Teja sudah berteriak mengarahkan Bibi dan Pak Udin, sepertinya dia panik karena Lun akan melahirkan.
“Pak Teja, hei dengarkan aku,” ujar Luna menangkup wajah suaminya. “Tarik nafas, hembuskan. Lagi!”
Teja melakukan hal yang diminta oleh Luna.
“Saat ini aku butuh Pak Teja, ingat umur kalau panik dan te_gang begini kamu bisa hipertensi.”
Teja mengangguk lalu mengusap wajahnya.
“Maaf sayang. Aku panik.”
“Segala pengen punya anak banyak, mau launching anak pertama aja udah teriak-teriak nggak jelas.”
“Ayo sayang, kebanyakan bicara nanti anakmu keburu lahir.”
Sampai di rumah sakit, ternyata sudah mulai pembukaan. Dokter tetap menganjurkan tindakan operasi seperti sebelumnya. Teja sudah menghubungi Amar saat Luna sedang persiapan.
“Sayang, kamu rileks ya,” ujar Teja lalu mencium kening istrinya dan mengusap kembali perut yang membawa dua keturunannya. “Aku ada di sini. kita hanya terhalang tembok.”
Luna terkekeh mendengar ucapan suaminya yang berusaha menghibur, justru Luna memikirkan dia khawatir panik seperti tadi.
“Om Amar sudah dihubungi?”
Teja mengangguk.
“Biar kamu ada yang temani, aku malah khawatir kamu stress sendiri.”
Akhirnya Luna masuk ruang tindakan operasi. Teja menunggu dengan cemas. Amar dan Indah pun tiba, ikut menunggu bersama Teja. Amar sempat menjauh karena ada panggilan dari pengacaranya.
“Halo.”
“Halo Pak Amar, saya sarankan agar Mbak Luna sementara diamankan. Saya baru dapat informasi kalau Doddy melarikan diri. Dia mengajukan izin keluar dari rutan menjenguk Ibunya yang sakit, tapi malah kabur.”
__ADS_1
Amar menoleh ke arah Teja dan Indah. Bagaimana dia menyampaikan informasi itu kalau mereka sedang menunggu Luna yang sedang berjuang melahirkan anak-anaknya.