
“Nunggu siapa?” tanya Astri melihat Luna masih ada di lobby.
“Tadinya tunggu dijemput, tapi kayaknya aku naik taksi deh.”
“Tumben, nggak bawa motor?”
Luna menggelengkan kepalanya. Teja baru mengabari tidak bisa menjemput, masih berada di tengah pertemuan. Tidak mungkin Luna marah, dia paham dengan tugas dan tanggung jawab pekerjaan Teja. Ia harus kembali mandiri seperti sebelumnya, agar tidak menyusahkan Teja atau dirinya sendiri seperti sekarang ini.
Astri sudah pulang, Luna masih menunggu taksi online yang hampir sampai. Wanita itu tidak menyadari ada Doddy yang memperhatikan gerak-geriknya termasuk melihat ia memasuki sebuah mobil.
“Kayaknya gue harus ikutin Luna. Sebenarnya dia sama Teja bener suami istri atau nggak dan di mana dia tinggal.” Doddy pun akhirnya mengikuti taksi yang membawa Luna pulang. Senyum smirk terulas di wajah pria itu manakala mengetahui di mana Luna tinggal.
“Jadi, kamu tinggal di sini.”
Saat turun dari mobil, Luna memperhatikan mobil yang ikut berhenti tidak jauh darinya. Pagar rumah sudah dibuka oleh security yang memang bertugas mengamankan kediaman rumah Teja.
“Pak kunci lagi gerbangnya. Jangan buka kalau tidak kenal!”
“Siap mbak.”
Setelah membersihkan diri dan menikmati makan malam sendiri, apalagi Bibi sudah pulang. Luna masih berada di sofa menatap layar televisi. Baru pukul sembilan malam, tapi kantuk sudah tidak tertahan. Luna tidak sanggup menunggu sampai Teja pulang.
Hampir tengah malam, Teja baru tiba di rumah dan langsung menuju kamar Luna. Pria itu mengernyitkan dahinya melihat ranjang yang kosong lalu memastikan toilet pun tidak ada orang.
“Pergi ke mana dia malam-malam begini.” Teja bergumam lalu menuju kamarnya. Ponselnya lowbat, perlu dicharge untuk menghubungi sang istri. Pria itu akhirnya menghela lega melihat sosok yang begitu dia rindukan sedang terlelap di atas ranjangnya.
“Ternyata tidur di sini.”
Teja duduk di tepi ranjang memandang wajah damai istrinya dalam peraduan mimpi. Bahkan ia mengusap lembut kepala wanita itu. Teringat kedatangan Juli siang tadi juga pelukan paksa dari wanita itu. Teja khawatir jika ada laki-laki seperti Juli, memaksakan perasaannya untuk Luna.
Tanpa membersihkan diri, Teja melepaskan jas, alas kaki dan dasi yang terasa mencekik lehernya. Ikut berbaring di samping istrinya, mendekap erat seakan tidak rela melepaskan.
“Kamu milikku sayang, milikku,” bisik Teja yang hanya dibalas oleh Luna dengan gumaman tidak jelas.
Menjelang subuh, Teja mengerjap pelan merasakan gerakan di sampingnya. Bibirnya mengulas senyum menyadari Luna membalas pelukannya, entah sadar atau tidak karena masih terlelap. Tangan pria itu sangat terampil membuka satu persatu kancing piyama yang dikenakan Kaluna dan membelai daerah sensitif tubuh wanita itu. Tentu saja sentuhan yang dilakukan Teja membuat Luna terjaga.
“Ish Pak Teja.”
“Ssttt.”
“Ini jam berapa sih?” Luna menoleh ke arah jam dinding karena melihat suaminya masih mengenakan kemeja kerja.
“Masih cukup pagi. Bisa lah kita main dua atau tiga ronde.”
__ADS_1
“Hahhh.”
Luna hanya bisa pasrah mengikuti keinginan Kang mas Suteja meminta haknya dan bersiap merasakan tubuhnya remuk redam karena Teja dengan penuh semangat menjajal berbagai macam gaya. Berbeda dengan keseharian pria itu yang irit bicara, ketika dengan Luna terutama sedang melakukan olahraga menyenangkan seperti ini pria itu terlalu berisik.
Akhirnya Luna menger@ng dan Teja melenguuh panjang tanda keduanya sudah berhasil menikmati ledakan cinta. Teja pun merebah ke samping masih dengan deru nafas yang memburu, menoleh ke samping melihat Luna yang kelelahan.
Tidak pernah ia duga kalau menikah ternyata akan senikmat ini, seharusnya dia bertemu dengan Kaluna lebih cepat.
“Pak Teja, aku ‘kan harus kerja.”
“Lalu?”
“Pagi begini sudah dibikin capek.”
“Tinggal resign dan fokus jadi istri dan ibu untuk anak-anakku. Aku tidak akan tuntut macam-macam, hanya layani aku dan pu*askan aku … aduh.” Teja mengusap perutnya yang dicubit oleh sang istri.
“Waktu kita menikah, Pak Teja setuju aku tetap kerja.”
“Aku nggak melarang kamu untuk kerja, tapi kalau mengeluh capek atau bosan ya resign saja.”
“Kalau resign aku dapat penghasilan dari Pak Teja?”
“Hm.”
“Aku boleh minta apapun?”
“Hm.”
“Bibi tetap yang urus rumah?”
“Hm.”
“Serius?”
“Apa aku kelihatan sedang bercanda?” tanya Teja yang merasakan miliknya sudah kembali tegang karena ulah Luna.
“Kalau aku resign lebih cepat, boleh?”
“Boleh sayang, boleh.” Teja beranjak dan kembali mengungkung tubuh istrinya yang masih polos setelah adegan tadi.
“Eh ini mau ngapain lagi?”
“Reka ulang, suruh siapa kamu bikin senjataku berdiri lagi. Jadi nikmati saja.”
__ADS_1
“Pak Teja, bisa-bisa aku nggak bisa jalan!”
Suasana kamar itu kembali menghangat diiringi dengan suara-suara yang membuat tubuh berdesir. Luna telah membangunkan macan tidur yang kini sedang mengoyak tubuhnya dengan sentuhan dan penyatuan diri.
...***...
Getaran ponsel Luna di atas nakas membuat Teja yang sedang mematut penampilannya di cermin menoleh. Sedangkan Luna di kamarnya, karena pakaian dan semua perlengkapan masih berada di kamar mereka yang terpisah.
Lagi-lagi ponsel itu bergetar, membuat Teja penasaran siapa yang menghubungi sepagi ini. Mulut pria itu berdecak manakala membaca nama yang muncul di layar.
“SENIOR DODDY”
“Laki-kaki pecundang, sepagi ini menghubungi istri orang. Kalaupun urusan kerja bisa dibahas nanti di kantor.”
Karena penasaran dan tahu sepak terjang pria bernama Doddy, Teja pun menjawab panggilan tersebut.
“Pagi Luna, bagaimana rencana kita ke Bali. Sudah kamu sampaikan pada suamimu?”
Teja diam setelah mendengarkan ucapan Doddy.
“Bali? Luna akan ke Bali bersama Doddy. Kenapa dia tidak sampaikan masalah sepenting ini,” ujar Teja dalam hati.
“Luna, halo. Apa perlu aku yang minta izin pada Teja suamimu? Anggap saja di sana kita liburan dan bersenang-senang.”
Teja geram mendengar ucapan Doddy dan langsung mengakhiri panggilan tersebut.
“Luna,” panggil Teja menyusul ke kamar istrinya.
Luna sudah rapi dengan blouse satin dan rok selutut dan rambut diikat ekor kuda, Teja menelan salivanya melihat penampilan sang istri yang terlihat fresh seperti gadis belia.
“Pak Teja, aku sarapan di kantor aja ya. Udah siang nih,” ujar Luna menuju nakas mengambil tasnya.
Teja bergegas menutup pintu dan menguncinya. Penampilan Luna dan ucapan Doddy di telpon membuatnya terbakar emosi dan kembali bergairah. Ada hal yang harus dia selesaikan (lagi) untuk membuktikan kalau Luna adalah istrinya, miliknya dan hanya dia yang bisa bersenang-senang dengan wanita itu.
“Pak Teja, kenapa ….”
Ucapan Luna terhenti karena Teja berjalan cepat ke arahnya dengan tatapan nyalang lalu menyambar bibir dan memagut dengan liar. Entah bagaimana prosesnya yang jelas keduanya sudah berada di ranjang dengan penampilan Luna berantakan.
“Pak Teja, kita bisa….”
Ucapan Luna kembali dihentikan oleh bibir Teja.
“Hari ini kita berdua tidak akan keluar dari kamar, nikmati saja apa yang akan aku berikan. Kita akan bersenang-senang.”
__ADS_1