
Teja dan Luna sudah tiba di UGD rumah sakit, pria itu berteriak memanggil perawat yang langsung sigap mendorong brankar menghampirinya. Tangan Luna dalam genggaman suaminya selama pemeriksaan, seakan takut ditinggal oleh Teja.
“Bapak bisa tunggu di luar!” seru salah satu perawat.
“Tidak, Pak Teja tetap di sini.” Luna sepertinya mengalami trauma dan hanya ingin ditemani oleh orang yang dikenal dan tentu saja Teja. Teja sempat menjelaskan sekilas pada dokter bahwa Luna baru saja disekap oleh pria tidak waras.
Ada beberapa memar di wajah Luna, bekas tamparan dari Doddy. Wanita itu juga mendapatkan pemeriksaan kandungannya untuk memastikan semuanya baik-baik saja. Teja merasakan sesal karena belum memeriksa kehamilan istrinya, malah proses itu dilakukan setelah Luna mendapatkan musibah.
Luna sempat tertidur ketika menunggu hasil pemeriksaan, Teja langsung menghubungi Amar dan Indah juga memastikan kalau Doddy sudah diserahkan pada kepolisian. Bukan hanya Amar dan Indah yang terkejut mendengar apa yang terjadi pada Luna, Nuri pun sama. Wanita ini menangis ketika tiba di rumah sakit dan melihat putrinya tertidur dengan kondisi memprihatinkan.
“Setelah ini kalian tinggal dulu dengan kami, sampai aku yakin kamu benar-benar bisa menjaga Luna,” titah Amar dan Teja tidak bisa menolak demi kebaikan bersama.
Luna harus rawat inap karena sempat mengeluhkan di bawah perutnya sakit dan diduga itu adalah kram, mengingat wanita itu sedang hamil muda dan sempat sekuat tenaga menendang serta berusaha melepaskan diri dari Doddy. Bukan hanya Teja yang menemani Luna di rumah sakit, Amar dan Indah bergantian mendampingi Luna.
“Aku mau pulang,” pinta Luna ketika sudah bangun dan mendapati berada dalam kamar rawat inap.
“Sabar sayang, kita tunggu hasil observasi kondisi kamu.” Teja dengan sabar mengusap kepala istrinya.
Saat Luna ditemani oleh Indah, Teja dan Amar mendiskusikan masalah Doddy dan menyiapkan pengacara untuk mendampingi Luna. Dari pengakuan Luna, kalau Doddy mengatakan bukan hanya Andin korbannya mungkin akan menguak kejahatan pria itu di masa lalu.
Setelah beberapa hari dalam perawatan akhirnya Luna sudah diperbolehkan pulang. Kondisi psikisnya juga sudah lebih baik, bahkan Luna sendiri yang mengatakan kalau Doddy harus dihukum agar tidak lagi ada korban.
***
“Kamu mau ke mana sih, di luar mendung loh?” tanya Indah melihat Luna sudah rapi.
“Café Tante, ada rencana perluasan. Aku mau lihat dulu sebelum dibuat desainnya.”
Setelah resign dari Seloka Design, Luna hanya fokus pada kehamilannya. Sesekali dia bantu Teja mengurus café dan bisnis apartemennya. Masalah Doddy masih berlanjut, beberapa kali hadir dalam persidangan sebagai saksi dan juga terbongkar kejahatannya yang lain maka persidangan masih berlanjut. Luna sudah tidak peduli dengan jalannya persidangan yang jelas Doddy tidak mungkin bebas, bersalah sudah pasti dan tinggal menunggu keputusan masa hukuman.
“Pakai supir ‘kan?”
“Iya tante, mana mungkin Suteja kasih aku izin keluar rumah sendirian.”
“Suteja? Memanggil suami itu yang mesra yang sopan, nanti didengar anak-anakmu loh,” tunjuk Indah pada perut Luna yang membola.
__ADS_1
“Suteja itu panggilan sayang aku untuk pak Teja,” sahut Luna mengusap perutnya. Sedang hamil anak kembar, membuat bentuk perut Luna lebih besar dari ukuran kehamilan pada umumnya.
Amar sebenarnya sudah mengizinkan Teja dan Luna kembali ke rumah mereka. Demi keamanan Teja sedang renovasi dan membangun beberapa infrastruktur keamanan tempat tinggalnya. Bisa dipastikan mereka akan segera pindah dalam waktu dekat.
[My queen sedang apa?]
Luna tersenyum membawa pesan yang dikirimkan oleh Teja. Pria itu berubah lebih hangat dan harus terbiasa dengan gombal recehnya, tentu saja hal itu hanya ditujukan untuk istrinya karena di luar sikap Teja sama seperti biasa … cuek dan dingin.
Setelah urusan dengan café selesai, Luna lanjut menemui Teja. Mereka akan menghadiri undangan dari salah satu rekan Teja.
“Pak Teja,” panggil Luna ketika membuka pintu ruangan di mana suaminya berada.
Teja yang sedang mengarahkan sekretarisnya menoleh dan tersenyum.
“Sayang, kemarilah!”
Sekretaris Teja mengangguk dan tersenyum ketika bertatapan dengan istri dari atasannya. Teja pun mengakhiri diskusi dengan wanita itu lalu menuju sofa menyusul sang istri yang sudah duduk nyaman di sana.
“Bagaimana kabar bayi-bayiku?” tanya Teja sambil mengusap perut istrinya dan agak membungkuk lalu menciumi perut yang sudah membola itu.
“Jadi dong, apa ada masalah?” tanya Teja sudah menegakkan tubuhnya menatap sang istri yang tubuhnya terlihat semakin berisi dan pipi yang semakin chubby dan sangat menggemaskan.
“Tidak ada, tapi jangan lama-lama ya. Aku nggak kuat berdiri kelamaan.” Luna tidak mungkin membiarkan Teja menghadiri undangan rekanan bisnisnya sendiri.
Teja dan Luna sudah rapi dan siap menghadiri undangan rekan bisnisnya. Keduanya sudah menyiapkan busana yang dikenakan malam ini. Sampai di lokasi, tangan Luna terus memeluk lengan suaminya. Pasangan itu menjadi perhatian pada rekan Teja, bagaimana tidak mereka terlihat mencolok dengan perbedaan umur mereka.
Luna tentu saja bahagia karena diperlakukan bagai ratu, bahkan Teja melakukan itu di depan teman-temannya.
“Pantas saja Teja awet muda, lihat dulu pasangannya.”
“Aku pikir kamu bawa sugar baby, ternyata nyonya besar.”
Luna hanya tersenyum menanggapi candaan rekan-rekan suaminya, merasa perlu ke toilet wanita itu berbisik pada Teja.
“Perlu aku antar?”
__ADS_1
“Tidak usah,” sahut Luna.
“Hm, jangan lama-lama. Ponselmu aktif ‘kan?”
Luna mengangguk pelan dan menuju toilet masih dalam pandangan suaminya.
“Hanya ke toilet, takut amat ditinggal,” ejek salah satu teman Teja yang dibalas dengan senyum. Tidak mungkin dia menceritakan apa yang pernah Luna alami dengan pria bernama Doddy.
Sebenarnya di acara itu hadir pula Juli, tapi tidak berani mendekat dengan sengaja. Juli hanya menatap dari jauh keberadaan Teja dan Luna. Apalagi melihat kemesraan pasangan itu menandakan sudah tidak ada celah untuknya.
Teja merasa sudah cukup lama Luna meninggalkannya hanya untuk ke toilet, ia pun segera menyusul istrinya.
“Are you okay? Kamu lama sekali di dalam.”
“Antri. Namanya juga ada pesta.”
“Kita pulang sekarang,” ajak Teja memeluk pinggang istrinya.
Saat berada di lobby, langkah pasangan itu terhenti karena ada dua orang pria paruh baya yang terlihat begitu parlente dengan sengaja berada di hadapan mereka.
“Pak Teja, bisa kita bicara?” tanya salah satu orang itu.
“Maaf, kalian siapa?”
“Saya Beni, pengacara dan ini Pak Herman klien saya.”
Teja mengernyitkan dahinya, mencoba berpikir siapa dan apa keperluan orang ini ingin bicara dengannya. Khawatir ada hubungannya dengan masalah Doddy, Teja menolak dan meminta orang itu menemuinya lain kali.
“Mereka siapa?” tanya Luna saat akan masuk ke dalam mobil.
“Entahlah, mungkin urusan bisnis. Masuklah” titah Teja.
Sambil fokus mengemudi, Teja mencoba mengingat lagi siapa Herman yang tadi menemuinya. Dalam hati ia mengumpat ketika ingat Herman disebut oleh security sebagai pemilik rumah di mana Luna disekap oleh Doddy.
Untuk apa pria itu menemuinya, ia harus segera mencari tahu. Teja menoleh dan mengusap perut istrinya dan dibalas dengan senyum oleh wanita itu.
__ADS_1