
“Ada hubungan apa kamu dengan Pak Teja?”
Luna tidak percaya kalau Doddy sekepo itu, dia pikir setelah Pak Teja mengakui status hubungan dengan dirinya Doddy pun akan bersikap lebih bijak dengan tidak akan begini -- banyak tanya. Nyatanya pria itu malah mengkonfirmasi langsung pada dirinya.
“Hm, aku dan Pak Teja pasangan halal.”
“Apa perusahaan tahu?”
“Belum dan tidak ada aturan karyawan tidak boleh menikah apalagi bukan sesama karyawan di sini.”
Doddy tampak frustasi, dia mengusap wajahnya dan kembali menatap Luna. Memiliki ketertarikan pada perempuan itu, meskipun bukan untuk serius seperti biasanya. Ternyata dia berhadapan dengan orang yang salah, bukan karena Luna istri orang tapi suaminya adalah Teja.
“Kenapa ya Kak, apa ada masalah?”
“Bagaimana kalau Pak Arta tahu bahwa rekanan bisnis kita adalah suami kamu?”
“Tidak masalah, lagipula aku menikah dengan Pak Teja sebelum tahu kalau project yang aku kerjakan ternyata milik beliau.”
“Luna ….”
“Maaf Kak saya sibuk, sebaiknya kita profesional saja. Apalagi karena kejadian semalam, saya hilang respect dengan Kak Doddy.”
“Apa maksudmu dengan kejadian semalam?”
“Aku pikir tidak usah dibahas dan jangan pura-pura tidak bersalah,” Luna pun meninggalkan Doddy, semoga saja tidak berimbas dengan pekerjaannya.
Luna pun kembali ke meja kerjanya, saat akan fokus ada Astri menghampiri dan ingin tahu urusan dengan Doddy. Luna enggan menceritakan apa yang terjadi antara dirinya dan Doddy juga Teja semalam, karena tidak ingin ada gosip apapun tentang dirinya.
Saat jam kerja berakhir bahkan hampir maghrib, Luna masih berada di lobby menunggu kedatangan Teja sambil fokus pada layar ponsel. Doddy ingin menghampiri, tapi urung khawatir perempuan itu masih marah.
Entah mengapa mengetahui Luna adalah istri Teja bukannya menyurutkan keinginan untuk mendekati perempuan itu, malah semakin menggebu untuk mendekat dan membuat Teja cemburu.
Sepertinya Teja sudah datang dan Luna pun keluar dari lobby membawa tas berisi perlengkapan yang kemarin ia tinggal di kantor.
“Pak Teja lama deh.”
__ADS_1
“Macet.”
Tidak ada obrolan apapun sepanjang perjalanan karena Luna yang lelah dan Teja fokus pada kemudi. Saat mobil sudah memasuki kawasan perumahan tempat tinggal mereka, pria itu akhirnya membuka suara.
“Apa si Dodol itu ganggu kamu?”
“Kak Doddy maksudnya?”
Teja diam, tidak ingin merevisi panggilan pada pria yang hampir saja menghancurkan pernikahannya dengan Luna.
“Kasih tau nggak ya,” ujar Luna lalu bergegas keluar dari mobil sambil terbahak, meninggalkan Teja yang kesal.
Setelah makan malam, Luna duduk bersila di sofa menatap layar televisi. Serial drama yang biasa dia saksikan, membuatnya tidak mengalihkan padangan karena ketampanan para aktornya. Entah dia sadar atau tidak Teja sudah ikut duduk di sampingnya sambil bersedekap dan bersandar di sofa.
Bukan drama yang menarik perhatian Teja, tentu saja gadis yang mulutnya selalu memuji wajah-wajah tampan yang muncul di setiap scene. Tangan kiri Teja merangkul bahu Luna dan gadis itu hanya diam. bahkan ia menggeser duduknya semakin dekat, lagi-lagi Luna hanya diam.
“Ck, emang gantengnya gak ketulungan. Yang di sini juga kalah gantengnya,” gumam Luna.
Teja menatap wajah Luna dari samping, Dari hidung turun ke leher dan tengkuk yang terekspos karena rambut dikuncir ekor kuda membuat pria itu menelan salivanya. Mengingat kembali tubuh istrinya yang hampir polos malam itu, membuat sesuatu dalam diri kembali bergelora.
“Luna,” bisik Teja.
Perlahan sang gadis yang mulai memikat dan membuat perasaan Teja tidak karuan dan mendadak seperti gila pun akhirnya menoleh. Alih-alih akan ada adegan romantis di mana wajah pasangan yang perlahan mendekat dan beradu bibir tidak terjadi pada Luna dan Teja, karena si gadis yang berinisiatif mencium pipi suaminya dengan cepat lalu kembali menatap layar televisi.
“Ka-mu!”
“Pak Teja kebanyakan nge-lag. Ibarat teknologi, kita bisa telepati online ini masih aja teriak-teriak pake toa mushola. Wajar sih, Pak Teja ‘kan udah tua.”
Teja berdecak, tapi Luna tidak memberikan kesempatan untuknya bicara. Karena masih ada yang diucapkan gadis itu.
“Tapi jangan ngarep adegan berikutnya ya, karena belum waktunya.”
“Lalu kapan waktunya?”
“Sampai Pak Teja yakin denganku dan pernikahan ini.”
__ADS_1
“Apa yang aku lakukan belum bisa meyakinkanmu?”
Luna dan Teja saling tatap. Sebenarnya perhatian Teja sudah bisa membuktikan kalau pria itu berubah, termasuk aksi menyelamatkan Luna dari tangan playboy jangkrik. Namun, sebagai perempuan Luna butuh kepastian dan pernyataan langsung dari pria di hadapannya mengenai komitmen perasaan mereka.
“Hm, hampir tapi … mmppphhh.”
Luna membelalakan matanya karena Teja langsung menyatukan bibir mereka. Berusaha mendorong tubuh Teja agar menjauh karena saat ini keduanya berada dalam posisi begitu dekat dan menempel. Sampai akhirnya Teja mengurai pagutan mereka dan Luna terengah meraup oksigen sebanyak-banyaknya.
“Pak Teja apaan sih, main sambar aja.”
Detak jantung si bujang lapuk macam hentakan drum musik metal, tidak beraturan. Pandangannya beralih ke arah lain, karena situasi sangat canggung karena ulahnya tidak bisa menahan keinginan untuk merasakan bibir yang sering mengoceh dan menggodanya.
“Lain kali aku akan kasih clue.”
“Tadi tuh first kiss aku.”
“Baguslah, memang sudah seharusnya aku yang mendapatkan. Termasuk bagian tubuh lainnya.” Kini Teja menoleh dan menatap Luna dengan tatapan bak singa lapar.
“Jangan macam-macam ya, aku belum mau di unboxing. Pak Teja belum punya password.”
“Password?”
“Iya.” Luna beranjak dari sofa. “Besok weekend, aku mau ke rumah Eyang.”
“Iya, aku ikut. By the way, passwordnya …apa?”
“Meneketehe. Pikirin sendiri dong.”
Teja mengacak kasar rambutnya karena Luna masih saya bermain-main padahal dia sudah merasakan gejolak delapan belas ke atas.
“Kaluna.” Teja berteriak melihat Luna sudah lenggang kangkung menuju kamarnya.
“Selamat malam Kang Mas Suteja. Jangan lupa passwordnya ya.”
__ADS_1