Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 31 ~ Kangen Aku


__ADS_3

“Luna, bicara yang sopan. Aku atasanmu!”


Sama situ mulut pengennya ngegas terus, batin Luna.


Doddy masih mengoceh membahas pekerjaan termasuk tuduhan Kaluna yang bisa dia adukan pada Arta. Luna hanya diam, bukan karena takut tapi ingin tahu apa yang akan Doddy rencanakan lagi setelah ini.


“Ingat itu, kamu bisa saja dipecat. Jadi perbaiki sikapmu.”


“Dipecat juga nggak masalah kok. Ada suami yang bisa menafkahi saya juga keluarga besar saya yang masih sanggup membiayai hidup saya. Please deh Kak, jangan ngadi-ngadi. Justru Kak Doddy yang harus hati-hati. Kalau saya adukan ulah Kak Doddy malam itu, termasuk bukti CCTV dan kesaksian suami saya maka siap-siap hengkang dari sini.”


“Kamu ancam saya?”


Luna mengedikkan bahunya. Pria di hadapannya harus diberikan pelajaran agar tidak ada korban lain. Bisa saja dia melakukan hal yang sama dengan gadis lain karena tidak berhasil melakukannya dengan Luna.


“Tergantung situasi.”


Setelah debat kusir akhirnya Luna meninggalkan ruang kerja Doddy. Pria itu terpojok dengan ancaman Luna. Semoga saja kepalanya bisa digunakan untuk berpikir yang baik bukan ide jahat untuk mendapatkan wanita.


“Pak Doddy mau ngapain manggil kamu?”


“Project Astri, masalah project.”


“Kalau dilihat Pak Doddy makin ganteng ya?”


“Masa?”


“Aku mau deh dijadiin pacar.”


Luna hanya tertawa mendengarkan harapan Astri. Di kantor belum ada kebusukan Doddy, pria itu masih terlihat tampan dan tidak bercela.


...***...

__ADS_1


Selain disibukkan dengan pekerjaan, Teja memikirkan cara agar Luna segera resign dari Seloka Design. Untuk urusan nafkah, ia masih mampu. Yang paling penting adalah menghindarkan istrinya dari godaan para pria nakal. Kalau urusan usia, Teja jelas kalah dan merasa tidak percaya diri.


“Maaf Pak Teja, Bu Juli memaksa ingin bertemu. Saya sudah sampaikan kalau Bapak sibuk, tapi dia masih menunggu di resepsionis.”


Teja menghela nafasnya. Setengah jam lalu sekretarisnya sudah mengatakan kalau ada Juli ingin bertemu dan tentu saja ditolak oleh Teja. Namun, wanita itu tidak tahu malu masih memaksa menunggu.


“Untuk kali ini biarkan dia masuk, tapi sampaikan aku sebentar lagi harus pergi ada pertemuan dengan klien.”


“Baik Pak.”


Tidak lama Juli pun datang diantar sekretaris Teja dan pria itu masih fokus di depan laptop. 


“Mas Teja.”


“Hm. Aku sibuk, waktumu hanya sepuluh menit. Setelah ini aku harus pergi,” ujar Teja lalu memandang Juli yang sudah duduk di depan mejanya. Pria itu mengernyitkan dahi melihat ada memar di wajah cantik Juli.


“Ada apa dengan wajahmu?”


Teja menghela nafasnya mendengar penuturan Juli. Mereka mungkin punya masa lalu dan kisah bersama, tapi bukan berarti Teja masih dengan tangan terbuka menerima dan mendengarkan keluh kesahnya. Entah memang Juli yang berada dalam situasi sulit atau memang wanita itu tidak tahu diri.


“Juli, aku prihatin atas apa yang kamu alami tapi maaf aku tidak bisa ikut campur. Kalau kamu ada bukti, lebih baik laporkan ulah Arya. Kalau perlu lakukan visum.”


“Dia tidak akan berhenti mengganggu aku dan anakku, kecuali aku sudah menikah lagi.”


“Nah, itu bagus. Carilah pendamping yang bertanggung jawab dan bisa melindungi kalian.”


Juli hanya diam, pandangannya tidak beralih dari wajah Teja. Entah apa yang wanita itu pikirkan, tapi Teja tidak akan tergoda. Dia sudah membentengi diri dengan rasanya pada Luna.


“Maaf Juli, saya tidak ada banyak waktu.” Teja melirik arloji di tangannya.


“Tidak mudah mencari pendamping hidup. Hatiku sudah terpatri satu nama, berharap kisah kami kembali terajut. Menyesal pun tidak berguna, tapi sekian tahun berlalu aku baru menyadari kalau cintaku memang hanya untukmu Mas.”

__ADS_1


Teja mengusap wajahnya. kata manis penuh cinta yang diucapkan Juli tidak menggugah sedikitpun perasaan dan hatinya. Entah Juli tahu atau tidak, setelah pengkhianatannya Teja sudah menemukan tambatan hati lainnya. bahkan sempat tidak bisa move on, sampai akhirnya Kaluna Zena dengan gaya dan sikapnya berhasil membuka kembali hati seorang Teja.


“Juli, sekali lagi aku prihatin dengan apa yang terjadi. Aku tidak bisa membantumu lebih jauh.”


Teja sudah berdiri dan mempersilahkan Juli untuk pergi. Namun, wanita itu malah berjalan mendekat dan memeluk Teja dan membenamkan wajahnya di dada pria itu.


“Juli, jangan begini”


“Mas, please. Aku masih mencintaimu. Tolong kembali denganku.”


Teja mengangkat kedua tangannya, dia tidak ingin menyentuh tubuh Juli dan dianggap merespon pelukan wanita itu. Namun, Juli seakan enggan melepaskan malah semakin mengeratkan dekapannya.


“Juli lepas, jangan buat aku menyakitimu.”


Juli bergeming, akhirnya Teja terpaksa mendorong dengan paksa pelukan wanita itu.


“Aku tidak ingin orang berpikiran aku dan kamu ada hubungan. Jadi keluarlah dan harus kamu ingat aku sudah menikah. Ada perasaan yang harus aku jaga dan kamu paham akan hal itu. Sebagai sesama wanita, kamu pasti tidak suka melihat suami dipeluk wanita lain.”


“Aku tidak yakin Mas Teja mencintai dia. Siapa wanita itu? Kita lihat kamu akan memilih siapa, dia atau aku?”


Teja terbahak mendengar Juli dengan percaya diri membandingkan dirinya dengan Luna. Dilihat dari sisi manapun jelas Luna yang lebih unggul. Sikap manja dan bar-bar istrinya membuat Teja terhibur dan gemas sendiri.


“Tidak perlu kamu tahu, yang jelas aku sangat beruntung mendapatkannya.”


“Mas Teja, aku yakin kita pasti akan berjodoh dan alam akan mengantarkan kita pada masa itu.”


Teja tidak merespon, tangannya terulur menunjuk pintu agar Juli segera pergi. Meski berat Juli akhirnya meninggalkan tempat itu. Teja segera menghubungi sekretarisnya mengingatkan agar tidak membiarkan Juli menemuinya ketika wanita itu datang lagi.


“Hah, jadi kangen Kaluna. Sedang apa dia.” Teja senyam senyum membuka ponselnya akan menghubungi Luna dan baru menyadari dia belum memiliki satupun foto Luna atau foto bersama.


“Halo, Luna di sini. Pak Teja kangen aku ya,” ujar Luna di ujung telepon sambil terkekeh.

__ADS_1


 


__ADS_2