Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 36 ~ Masa Lalu


__ADS_3

Teja dan Luna tiba di rumah cukup larut. Karena sudah sangat lelah, Luna langsung merebahkan diri di ranjang dan terlelap. Teja memastikan rumah sudah terkunci lalu menyusul ke kamar. Melihat kondisi istrinya, ia hanya menggelengkan kepala.


“Sayang, ganti dulu pakaianmu.”


Luna hanya menjawab dengan gumaman. Teja dengan telaten melepaskan pakaian istrinya dan menggantinya dengan gaun tidur. Ada rasa bersalah juga karena kelamaan berada di apartemen untuk kegiatan menyenangkan yang mulai menjadi candu baginya.


Setelah membersihkan diri dan berganti piyama, Teja ikut berbaring dan memeluk istrinya. Akhir-akhir ini ia merasa hidupnya sudah sempurna, bahagia melewati hari-harinya. Meskipun Luna masih dengan karakter dan keunikannya, tapi itulah yang membuat Teja semakin sayang karena wanita itu berbeda.


“Terima kasih sudah hadir dalam hidupku,” bisik Teja. Pria itu kemudian beranjak duduk dan mengusap perut istrinya. “Juniorku cepatlah hadir disini, Papa menunggu kehadiranmu.”


Luna menggeliat pelan merasakan sentuhan di tubuhnya, Teja tersenyum lalu berbaring dan menyelimuti tubuh mereka dan terlelap bersama.


...***...


Waktu berlalu. Doddy sudah tidak ada celah untuk menggoda atau menjalankan niat buruknya. Luna tidak tergoda dan terjebak dengan ide konyol yang sudah direncanakan. Bahkan masalah lelang project di Bali sudah menguap dan Arta sendiri yang menghadiri acara tersebut. Permintaan agar Luna ikut serta hanya akal bulus dari pria itu.


Namun, ketidaknyamanan Luna untuk tetap bekerja semakin menguatkan niat untuk segera resign. Tidak ingin terus-terusan menghadapi Doddy dengan segala kegilaannya juga lelah karena harus bekerja dan menjadi seorang istri. Setiap malam Luna harus lembur memenuhi tugasnya pada Teja.


Seperti saat ini, Luna sejak tadi terus menguap. Kelopak matanya terasa berat seakan digelayuti oleh benda berat membuat matanya ingin terpejam.


“Kamu kenapa sih, masih pagi udah nguap terus?" Ternyata Astri melihat apa yang Luna kelihkan.


“Nggak tahu.” 


Luna pun beranjak ke pantry, bermaksud membuat kopi. Saat membuka kemasan sachet aroma bubuk kopi terasa tidak nyaman di hidungnya.


“Kok baunya gini, apa sudah expired ya.” Gagal dengan kopi, Luna kembali ke kubikel membawa cangkir berisi teh panas tanpa gula dan cukup pekat. “Pahit gini pasti bikin melek.”


Mencoba fokus dengan layar komputer mengerjakan desain interior pekerjaan rutinnya. Isi cangkir sudah habis separuh, tapi rasa kantuk masih ada. Rasanya Luna ingin menerima tawaran Teja untuk resign dan fokus menjadi ibu rumah tangga atau mengawasi usaha café juga penjualan dan sewa unit apartemen.


“Pak Teja sih ngajak begadang terus, jadi nggak fit tubuh aku," gumam Luna menyalahkan sang suami dengan keluhannya saat ini.


Suasana kantor sore itu mendadak heboh karena informasi Pak Arta kecelakaan. Beberapa perwakilan senior termasuk Luna bertolak ke rumah sakit untuk mengetahui kondisi pria itu.


“Luna, kamu ikut mobil saya.” Titah Doddy memanfaatkan situasi. Beruntung Luna sudah membawa kendaraan sendiri,  ia pun menolak ajakan Doddy.

__ADS_1


Ternyata kondisi Arta tidak separah yang diperkirakan, tidak ada cedera parah. Perawatan beberapa hari akan mengembalikan kondisi  pria itu menjadi lebih baik. Aroma khas rumah sakit membuat Luna mual, setelah pamit ia bergegas meninggalkan kamar rawat Arta.


Saat berjalan di koridor, Luna merasakan pusing. Segera mendudukan diri pada kursi tunggu di sepanjang koridor rumah sakit.


“Aku kenapa sih, kayaknya sakit deh.”


Dengan kondisinya, Luna memutuskan menghubungi Teja. Ia tidak sanggup mengemudikan mobil sampai rumah dengan keluhannya saat ini. Berkali-kali menghubungi, tersambung tapi tidak ada jawaban.


“Pak Teja kemana ya, kok nggak dijawab.”


Luna kembali menghubungi, dua kali panggilan akhirnya terjawab.


“Sayang, nanti aku hubungi balik. Saat ini aku sedang sibuk.”


Panggilan berakhir, padahal Luna belum sempat bicara. Memahami kondisi suaminya dan berusaha tidak mengeluh. Ia berpikir bagaimana harus pulang.


“Apa naik taksi saja ya,” gumam Luna.


Berjalan pelan mengikuti petunjuk menuju lobby utama. Pandangan Luna terfokus pada sosok yang begitu ia kenal. Senyum langsung terbit di wajahnya, ketika iya yakin sosok tersebut adalah Teja. Wanita itu menduga kalau Teja menyusulnya ke rumah sakit, padahal tadi bilang sedang sibuk.


Luna berusaha mengejar suaminya yang berjalan cepat dan menjauh kembali ke area dalam rumah sakit. kalau memang Teja akan menjemputnya, pasti pria itu akan menghubungi untuk menanyakan dimana keberadaan Luna. Namun, ponsel Luna tidak ada panggilan dari siapapun.


Dengan nafas terengah mengejar langkah suaminya, Luna berdiri bersandar pada pilar setelah memastikan Teja memasuki salah satu kamar perawatan.


“Pak Teja jenguk siapa sih? Apa kerabatnya ya.”


Dengan kondisi yang tidak fit dan berlari mengejar suaminya, Luna merasa tubuhnya semakin lemas. Namun, penasaran dengan pasien yang dikunjungi oleh Teja. Luna sudah berada di depan pintu kamar yang tidak sepenuhnya tertutup. Terdengar suara obrolan, termasuk suara Teja.


“Aku sudah bilang, laporkan Arya. Paling tidak bisa membuatnya jera dan tidak berani kasar lagi.”


“Aku takut Mas. Tolong bantu aku, temui Arya dan akui kalau kita ada hubungan. Hanya itu satu-satunya cara.”


Luna penasaran dengan wanita yang bicara dengan suaminya, apalagi obrolan mereka tidak begitu jelas.


“Tidak mungkin Juli.”

__ADS_1


Luna menutup mulutnya agar tidak berteriak, ternyata Teja berlarian untuk menemui mantannya. Wanita dari masa lalunya. Padahal mengaku sedang sibuk.


“Mas Teja, akui saja kalau aku adalah istri muda kamu Mas. Selama ini hubungan kita memang dirahasiakan karena tidak ingin istrimu tahu.”


Deg.


Luna memastikan apa yang dia dengar tidak salah, istri muda hubungan rahasia. Apa sebenarnya yang terjadi antara wanita itu dengan suaminya. Perlahan ia mundur menjauh dari kamar tersebut, tidak sanggup mendengar hal lain karena yang barusan cukup menohok.


Sebenarnya Luna percaya pada Teja, tapi tidak pada wanita bernama Juli. Memutuskan untuk segera pergi dari sana, Luna berbalik dan ….


Bugh.


“Hey, hati-hati.”


Tubuh Luna menabrak seseorang dan orang itu adalah Doddy. Dari sekian banyak orang di rumah sakit, kenapa harus pria itu yang kebetulan bersinggungan dengannya.


“Mau ke mana buru-buru amat?”


“Bukan urusan kamu.”


Luna mempercepat langkahnya, Doddy berjalan mensejajari langkah wanita itu dan terkekeh membuat Luna ingin sekali menggaruk wajah kebanggaan si dodol.


“Kecewa karena suami yang kamu banggakan sedang berduaan dengan wanita lain?”


Kalimat itu sukses membuat Luna terdiam lalu menoleh dan menatap seniornya yang sudah dicap brengs*k olehnya.


“Tidak usah ikut campur urusan orang lain. Urus saja masalahmu sendiri.”


Doddy kembali terkekeh padahal Luna mengatakan hal itu dengan nada ketus karena hatinya masih emosi mendapati kenyataan yang dilakukan Teja. Meskipun bisa saja itu adalah kesalahpahaman, tapi mengabaikan dirinya demi wanita lain termasuk hal yang tidak bisa ditolerir.


“Mau aku temani untuk kembali ke kamar tadi dan kamu bisa saksikan sendiri bagaimana sikap suamimu pada perempuan itu. Jangan takut, kalau butuh sandaran aku selalu ada,” ujar Doddy sambil menepuk dadanya dengan bangga.


“Dasar gil4.”


 

__ADS_1


__ADS_2