Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 46 ~ Rencana Amar


__ADS_3

Rasanya tidak percaya melihat manusia di depannya ini mengaku Ayah dari Doddy. Bagaimana bisa dengan alasan kasih sayang, dia akan menghalalkan berbagai cara untuk membuat putranya bebas sedangkan dosa dan kesalahannya sudah jelas. Luna memang tidak dibesarkan oleh kedua orangtua dan tidak pernah dimanja oleh mendiang Surya. Bahkan hidupnya cenderung sederhana, tapi tidak pernah tutup mata akan kesalahan.


“Atau kita bicara di tempat lain,” usul Beni dan diiyakan oleh Herman.


“Tidak ada bicara di sini atau di tempat lain, permisi!”


“Mbak Luna, sebentar Mbak.” Herman mengekor langkah Luna lalu mensejajarkan.


Dengan perutnya yang membola, langkah wanita itu tidak bebas dan tidak bisa berlari pula. Sambil menahan geram, Luna terus berjalan. Herman masih mengoceh tentang Doddy termasuk menawarkan kesepakatan.


“Cukup!” teriak Luna membuat dua orang itu terdiam. “Pak Beni, anda pengacara ‘kan? Seharusnya anda tahu etika mengejar dan memaksa korban seperti ini.”


“Karena itu Mbak …..”


“Nyonya Teja Dewangga.”


Atensi ketiga orang itu teralih ke arah suara. Ada dua pria menghampiri mereka, salah satunya mengarahkan Luna agar mundur dari Herman dan Beni. Luna mengernyitkan dahinya karena tidak mengenal dengan para pria itu. sempat berpikir kalau mereka masih antek-antek Herman, tapi bukan karena membeli dirinya.


“Maaf Bapak-bapak, kami sudah mendapatkan foto dan sedikit percakapan kalian yang mungkin bisa semakin memberatkan posisi saudara Doddy. Jadi silahkan pergi atau kami akan gunakan kekerasan.”


Beni dan Herman saling tatap, rencananya tidak berhasil.


“Mbal Luna bisa pikirkan dulu tawaran saya,” ujar Herman.


“Sudah dan tidak akan pernah saya membatalkan kesaksian saya untuk putra anda.”


“Mari nyonya,” ujar salah seorang mengarahkan Luna menuju sebuah mobil.


“Kalian siapa, aku mau ….”


“Pak Teja yang mengutus kami untuk memastikan keamanan Ibu.”


Luna pun masuk ke dalam mobil, meskipun jarak taman ke rumah Amar tidak jauh hanya satu blok tapi Herman dan Beni bisa mengancam kesehatan dan keselamatannya.


“Apa Nyonya baik-baik saja? Maaf kalau kami terlambat.”


“Tidak masalah kalian tepat waktu.”


Sampai di rumah, Indah heran karena Luna datang bersama dua orang pria. Bahkan orang-orang itu terlihat tinggi besar seperti bodyguard.

__ADS_1


“Mereka siapa?”


“Orangnya Pak Teja.”


“Ada masalah apa, sampai Teja menyiapkan bodyguard?” tentu saja Indah penasaran dengan apa yang terjadi dan kenapa Teja juga Luna tidak jujur dengan masalah yang mereka hadapi.


“Bukan masalah, ayo masuk dulu aku haus.”


Indah mengekor langkah Luna menuju dapur dan mengisi gelasnya dengan air lalu meninggal habis seluruh isinya, menunggu wanita itu bercerita.


“Ada ayahnya Doddy menemui aku, kalau Pak teja mengirimkan orangnya berarti Pak Teja sudah tahu kemungkinan orang itu menemui aku.”


Indah mendengarkan permintaan Herman pada Luna dan langsung merespon dengan ocehan dengan mendukung Luna tetap pada keputusannya.


“Mas Amar harus tahu ini, aku telpon dia dulu. Kamu ke kamar dan istirahat.”


Setelah ini Luna akan berhati-hati kalau keluar rumah seperti tadi. bahaya selalu mengancam, apalagi dengan kondisinya sedang mengandung akan sulit menghindar. Saat kembali ke kamar, ternyata banyak panggilan tak terjawab dari Teja karena ponselnya tertinggal. Pria itu sudah pasti dapat laporan kalau Herman menemui dirinya.


“Halo.”


“Luna, sayang. Kamu baik-baik saja? Di mana posisimu sekarang?” cecar Teja di ujung sana, saat panggilan terjawab.


“Aku di kamar, semua oke. Ada orangnya Pak Teja menolongku dari dua orang sakit jiwa yang menggangguku di taman.”


Terdengar helaan nafas lega Teja.


“Sayang, mulai sekarang jangan dulu keluar rumah tanpa pengawasan. Aku tidak ingin kecolongan seperti sebelumnya.”


“Iya aku paham.”


“Aku bisa gil4 kalau terjadi sesuatu dengan kalian.”


“Jangan bicara begitu, sudahlah Pak Teja fokus kerja lagi. Aku mau rebahan.”


Sedangkan di tempat berbeda, Teja sedang berdiskusi dengan Amar dan tim kuasa mereka. mendapatkan kabar Luna aman, tentu saja membuat Teja lega. Pria itu kembali duduk dan berdiskusi.


“Jangan beri ampun pada pelaku kejahatan, apalagi jelas ini korbannya bukan hanya Luna dan Andin.”


“Apa yang mereka tawarkan sampai korban lain membatalkan kesaksiannya?” tanya Amar dan hal itu belum diketahui oleh tim kuasa hukumnya.

__ADS_1


Tidak lama, sekretaris Amar mengantarkan berkas yang diminta. Informasi mengenai herman dan usahanya. Amar terkekeh mendapati kenyataan siapa sebenarnya pria itu membuat Teja heran.


“Teja, semesta ternyata mendukung kita. Perusahaan Herman ini pernyataan rekan bisnis perusahaan ini. Aku ada ide,” ungkap Amar sambil mengusap dagunya.


...***...


Teja langsung memeluk Luna ketika tiba di rumah, mengabaikan asisten rumah tangga juga Indah yang menyaksikan momen itu.


 “Pak Teja lepas dulu, malu pelukan dilihat orang.”


“Apa kabar mereka?” tanya Teja sambil mengusap perut Luna. “Aku rindu sekali dengan Mamanya.” Teja mendaratkan bibirnya di kening Luna lalu mengajaknya ke kamar.


“Mau mandi?” tanya Luna akan mempersiapkan air hangat, tapi dicegah oleh Teja dengan alasan ia bisa lakukan sendiri.


“Duduklah di sini, tunggu aku. tidak perlu mondar mandir tidak jelas hanya untuk menyiapkan air atau pakaian. Di sini,” tunjuk Teja pada perut istrinya. “Ada calon manusia yang lebih membutuhkan jiwa raga kamu. Kalau mereka sudah lahir, kamu bisa layani aku seperti biasa.” 


Jika Teja dan Luna sedang berbucin ria di rumah, karena Amar minta Teja pastikan keamanan dan kenyamanan Kaluna. Sedangkan dia sedang memanggil rekan bisnisnya, yaitu … Herman.


“Apa kabar Pak Herman?” sapa Amar ketika Herman datang bersama aspri dan keduanya langsung berjabat tangan.


Ketiga orang itu sudah duduk berhadapan. Amar tidak ingin banyak basa basi, ia pun mulai membuka suara kembali.


“Langsung saja Pak Herman, seharusnya anda pikir-pikir dulu kalau ingin melakukan sesuatu apalagi yang berhubungan dengan keluarga kami.”


“Maaf Pak Amar, maksudnya apa?”


“Luna, Kaluna Zena. Dia keponakanku dan salah satu pemegang saham juga memiliki hak di perusahaan ini. Bagaimana bisa anda dengan t0lolnya mengancam dan memaksa dia untuk membatalkan kesaksian.”


Herman tidak bisa berkata-kata, dia masih terkejut dengan situasi yang dihadapi.


 


 


 


  


 

__ADS_1


 


__ADS_2