Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 41 ~ Ini Tentang Luna


__ADS_3

Dunia Luna serasa runtuh, pertanyaan Astri pun tidak sanggup dia jawab. Dengan isak tangis Luna berusaha menghubungi Teja, ternyata Om Amar sudah menghubungi pria itu. Teja akan menjemput Luna, tapi ditolak wanita itu agar bertemu di lokasi.


“Astri, Eyang ….”


Astri bisa menyimpulkan kalau Eyang Luna sudah tiada,  dari tangisan dan kesedihan yang wanita itu luapkan. Bergegas ia mencarikan taksi untuk Luna pulang.


“Aku turut berduka, nanti aku ke sana.” Luna hanya mengangguk pelan dan sudah berada di dalam taksi. “Abang, bawa mobilnya hati-hati,” teriak Astri sebelum menutup pintu mobil.


Sepanjang perjalanan tangis Luna tidak berhenti meski tanpa suara. Air matanya seakan deras dan ia sedang melamun. Melamun karena mengingat kedekatan dengan Surya selama ini. Pria yang selalu ada untuknya  menggantikan peran orangtua. Memasang badan ketika Luna diganggu oleh teman di sekolah juga hal lain.


Bersyukur Luna memenuhi permintaan pria itu untuk segera menikah, paling tidak Eyang Surya meninggal tanpa merasa terbebani karena ada yang bertanggung jawab terhadap Luna. Hanya saja berita mengenai kehamilannya belum sempat Luna sampaikan pada pria itu.


“Sudah sampai mbak.”


Luna mengusap wajahnya sebelum keluar dari taksi. Sudah ada bendera kuning terpasang di gerbang kediaman Surya. Juga sudah ada tetangga yang berdatangan dan ada yang memasang tenda di depan beranda rumah juga carport.


Luna berjalan gontai disambut oleh salah satu putra Amar.


“Ayo mbak, Mama dan Papa di dalam."


Amar yang melihat kedatangan Luna langsung menghampiri dan memeluk wanita itu yang menumpahkan kembali tangisan pada dada bidangnya. Sudah bisa diduga kalau Luna akan sangat terpukul, apalagi saat dibawa melihat jenazah Surya. Wanita itu histeris dan berteriak, Indah dan Amar pun membawa Luna ke kamar mereka.


“Luna, dengar sayang. Eyang sudah tenang, sudah tidak merasakan sakit. Kamu jangan begini, hanya akan membuat kepergian Eyang jadi berat.” Indah membujuk dan mengusap wajah Luna yang basah. Amar hanya bisa terpaku melihat kesedihan keponakannya.


“Sekarang kamu ganti baju dan duduk disamping jenazah Eyang. Kalau tidak kuat, sebaiknya kamu tetap di kamar.”


“Eyang  larang aku bertemu kalau sedang ada masalah, sekarang masalahku dengan Pak Teja sudah selesai. Aku mau bertemu Eyang, mau peluk dia bukan melihat jenazahnya.”


Pernyataan Luna membuat Amar bertanya-tanya masalah apa yang dihadapi Luna dengan Teja, dia akan cari tahu tentang hal itu nanti setelah situasi lebih kondusif.

__ADS_1


Salah seorang kerabat memanggil Amar karena banyak pelayat, membuat pria itu keluar meninggalkan Indah dan Luna karena harus segera mengurus pemakaman.


Luna sudah berganti dengan kaftan hitam dengan selendang, duduk menatap wajah Surya yang tidak akan bisa dia tatap lagi. Bunda Nuri datang dan memeluk Luna. Wanita yang sudah melahirkan Luna ke dunia itu memahami bagaimana kesedihan putrinya. Melihat wajah Luna yang pucat, Nuri memberikan minum dan hanya dihabiskan setengah dari isi gelas.


Teja pun tiba dan langsung merengkuh istrinya ke dalam pelukan. Kondisi Luna sangat memprihatinkan, terlihat kusut dengan wajah pucat dan tatapan kosong. Wajah sembab dan bengkak jelas menandakan kalau ia sangat sedih.


“Pak Teja, Eyang ….”


Teja menangkup wajah Luna dan menghapus jejak basah di kedua pipi istrinya. Ayah Teja tidak datang untuk melayat karena fisiknya juga sudah sepuh.


“Eyang akan dimakamkan, kamu kuat untuk ikut atau ….”


Luna menganggukkan kepalanya dengan cepat, tidak mungkin dia melewatkan waktu terakhir kalinya melihat Surya. Namun, kesedihan membuat wanita itu harus kolaps ketika pemakaman selesai dilaksanakan dan bunga ditabur di atas gundukan tanah.


***


Luna menger@ng ketika terjaga karena kepalanya terasa berdenyut. Kesedihan dan kondisi kehamilan membuatnya semaput. Menyadari ia sudah berada di kamar, bahkan telah berganti piyama. Terdengar gemericik air dari toilet, tidak lama keluarlah Teja yang hanya mengenakan bathrobe.


Luna menghela nafasnya. Masih enggan bicara mengingat Eyang yang sudah pergi.


“Jangan terlalu larut dalam kesedihan, Eyang akan lebih sedih kalau lihat kamu begini.”


“Aku ingin di sini.”


“Iya, sementara kita tinggal di sini.”


Teja pun menuju lemari dan memakai pakaian. Terdengar ketukan pintu, ternyata Nuri yang datang membawakan makan untuk putrinya.


“Sayang, makan dulu ya.”

__ADS_1


“Belum lapar Bun.”


“Biar saya yang suapi,” ujar Teja mengambil alih piring di tangan ibu mertuanya.


Setelah memastikan Nuri keluar dari kamar, Teja pun menyuapkan makanan ke depan mulut Luna. Wanita itu menggeleng pelan dan enggan membuka mulutnya.


“Sayang, buka mulutmu atau mau aku transfer langsung dari mulutku.”


Ucapan Teja sukses membuat Luna mencebik dan segera membuka mulutnya hanya sanggup menerima beberapa suapan dan dihabiskan oleh Teja.


Empat hari berlalu setelah kepergian Surya, Luna dan Teja masih berada di kediaman almarhum. Jika Teja sudah kembali sibuk dengan aktivitasnya, berbeda dengan Luna yang belum bisa beraktivitas seperti biasa. Surat permohonan resign sudah dikirim pada Arta via email, tapi belum mendapat persetujuan.


Teja semakin perhatian pada istrinya, telpon atau pesan sering dia kirimkan untuk menanyakan hal sepele pada Luna. Kadang Luna tersenyum membaca pesan konyol yang dikirimkan suaminya, berbeda dengan keseharian pria itu yang sering terlihat kaku dan cuek.


[Sayang sudah makan belum?]


[Sudah, Pak Teja jangan telat makan] balas Luna.


Tidak lama ada pesan balasan lagi dari Teja.


[Aku maunya makan kamu. Bolehkah?]


“Ya ampun Suteja, mesumnya kumat.”


Sedangkan di Seloka Design, kabar Luna mengajukan resign sudah didengar oleh Doddy. Pria itu tentu saja kelimpungan, karena Luna sudah menjadi targetnya. Entah hanya karena obsesi atau cinta sebenarnya, Doddy tidak ingin kehilangan Kaluna Zena.


“Tidak bisa, Luna tidak boleh resign. Akan sulit untuk bertemu dengannya. Berpikir Doddy, berpikirlah,” gumam Doddy yang mondar mandir tidak jelas di dalam ruangannya.


Terbesit ide dalam benaknya dan segera ia menghubungi seseorang.

__ADS_1


“Halo Pak Arta, ada yang perlu aku sampaikan. Ini tentang Luna,” ujar Doddy membuka percakapan.


 


__ADS_2