
“Selamat siang Pak Teja.”
Teja pun berbasa basi menyapa pihak rekanannya lalu mwbgarahkan ke meeting room. Rupanya pertemuan itu bukan hanya kerjasama dengan perusahaan software milik Teja, di sana sudah ada jasa advertising yang diwakili oleh Juli.
Dari sekian banyak perusahaan advertising, Teja heran kenapa bisa dengan perusahaan itu dan harus bertemu lagi dengan wanita yang enggan dia temui.
“Siang Mas Teja,” sapa Juli dengan wajah tersenyum dan mengulurkan tangan.
Teja bersikap profesional dengan menjabat tangan Juli yang hadir bersama asistennya. Ternyata perusahaan X, membutuhkan software untuk perusahaan cabang. Tentu saja ini adalah peranan Teja dan Juli mengurus periklanan produk baru yang akan mereka luncurkan.
Tim Juli sedang melakukan presentasi, Teja tidak terlalu menyimak karena bukan urusannya. Dia fokus pada ponsel dan mengirim pesan pada Luna. Sempat heran dengan sikapnya yang mulai peduli pada gadis itu, bahkan pesan yang dia kirim dibaca lagi untuk memastikan kalau kalimatnya tidak bermakna posesif atau berakhir dengan ejekan Luna.
Mulut Teja sempat merutuk membaca balasan pesan yang dikirim oleh Luna.
[Sudah pak, barusan saja saya habis makan. Bapak sendiri udah makan siang belum? Apa mau saya makan?]
Pria itu menghela pelan, lalu segera mengamankan ponselnya ke dalam saku dan memfokuskan diri pada pertemuan. Isi kepalanya mendadak traveling membaca kalimat pesan dari istrinya. Akhirnya tiba Teja melakukan presentasi.
...***...
Luna tidak nyaman makan siang bersama Doddy. Bukan hanya karena pria itu, tapi fisik yang belum sepenuhnya fit. Ada penyesalan kemarin dia menolak tawaran Teja menemui dokter. Apalagi Astri juga bilang kalau Luna terlihat belum sehat.
“Makanannya nggak enak ya, mau aku pesankan yang lain?” tawaran Doddy ditolak oleh Luna dengan halus. Gadis itu hanya ingin segera pergi dari café.
“Kamu tinggal di mana Lun, boleh aku antar pulang?”
__ADS_1
“Di menteng Kak. Kapan-kapan deh,” sahut Luna.
“Kalau lain waktu aku ajak kamu keluar, misal makan malam atau nonton. Mau ya?”
Luna tersenyum mendengar tawaran dari Doddy. Ia bukan gadis polos, jadi tahu kalau pria ini sedang berusaha mendekati. Ada waktunya Luna akan mengakui kalau dia sudah menikah pada pria itu.
“Hm, tergantung ya kak.”
“Kok tergantung sih?”
“Iya, tergantung dapat izin atau nggak.”
“Makanya kenalkan aku dengan orangtuamu, aku yakin mereka akan kasih izin. Termasuk izin menikah,” tutur Doddy dengan percaya diri, Luna sempat terkikik padahal dalam hati rasanya ingin berekspresi muntah.
“Kak udah yuk, langsung aja ke lokasi,” ajak Luna.
Luna tersenyum sambil menggelengkan kepala, dalam hati ia mengumpat mendengar guyon receh Doddy dan sangat tidak lucu sebenarnya.
Dalam perjalanan pun Luna tidak banyak bicara, sempat membuka ponsel dan membalas pesan dari Teja. Doddy menyadari kalau Luna masih kurang sehat. Sambil memijat dahinya, Luna memejamkan mata.
Tidak sampai satu jam, Luna dan Doddy sudah tiba di PT X. Saat di parkiran basement, Luna menatap mobil yang begitu dia kenal. Mobil milik Suteja -- suaminya.
“Pak Teja ada di sini,” gumam gadis itu.
Luna dan Doddy menunggu di lobby, tidak lama kemudian ada seorang staf menemui mereka dan mengarahkan ke lantai di mana terdapat beberapa ruang meeting.
__ADS_1
“Sesuai permintaan dari kami, ruang meeting yang ini perlu didesain dengan konsep tertutup dan nyaman. Urusan keamanan kegiatan di sini baik CCTV dan rahasia dari percakapa , ada perusahaan lain yang mengurus.”
Luna manggut-manggut, dia mengeluarkan berkas berisi konsep yang diinginkan PT X dan memfoto beberapa area. Gadis itu pamit ke toilet karena panggilan alam, Doddy sempat berbisik apa perlu diantar olehnya. Tentu saja Luna hanya tersenyum, padahal ingin sekali dia menoyor kepala pria yang isinya mungkin adegan nina ninu semua.
Saat melewati ruang meeting lainnya fengan jendela kaca, tidak menyadari kalau ada Teja di salah satu ruangan yang dia lewati. Sengaja agak berlama di toilet, bahkan sempat mematut dirinya di cermin dan mencuci tangan.
Ponsel di saku blazernya bergetar, lagi-lagi pesan dari Teja.
“Tumben mengirim pesan mulu, lagi gabut apa gimana ya?”
[Pulang bareng aku, tunggu di lobby]
“Hah, jadi bener dong mobil di parkiran tadi punya Pak Teja.” Tiba-tiba terbesit ide untuk menjahili suaminya.
[Saya diantar Kak Doddy, setelah ini mau ke café. Ngopi-ngopi cantik]
“Doyan kopi juga nggak,” gumam Luna sambil memperbaiki ikatan rambutnya.
Saat membuka pintu toilet, Luna dikejutkan dengan pria yang sudah berdiri di sana. Dengan posisi bersedekap juga wajah datar, membuat gadis itu bergidik macam melihat makhluk halus.
“Pak Teja, di sini?”
“Iya, atau kamu mau kita di sana,” tunjuk Teja pada toilet perempuan di belakang Luna.
“Ih pak Teja mulai mesum,” ujar Luna sambil terkekeh.
__ADS_1