Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 29 ~ Aku Cinta Kamu


__ADS_3

Saat ini baru lepas subuh. Kalau tunggu siang, Luna kasihan juga dengan suaminya. Akhirnya mereka pun meninggalkan rumah Eyang. Teja sudah menunggu di mobil masih dengan piyamanya, sedangkan Luna pamit pada Tante Indah yang kebetulan sudah berada di dapur. Dengan alasan ada urusan mendadak di salah satu usaha milik Teja.


“Nanti aku telpon Eyang.”


“Iya, hati-hati. Ingat pesan Eyang, temui Bundamu.”


“Hm.”


Luna hanya melapisi piyama yang dia kenakan dengan jaket dan membawa handbag. Melihat tampang Teja yang sudah semrawut dan frustasi, Luna pun mengambil alih kunci mobil.


“Kalau Pak Teja yang nyetir bisa-bisa kita bukan pulang, tapi mampir ke rumah sakit.”


“Cepat Lun, tidak usah banyak bicara.”


Karena masih pagi, jalanan masih lenggang dan lancar. Tidak butuh waktu lama, mereka sudah tiba di kediaman milik Teja. Bibi pun belum datang dan Teja langsung menarik tangan istrinya ketika mereka sudah berada di dalam rumah.


“Pak Teja.”


“Ayo.”


Teja menuju kamarnya tanpa melepaskan tangan Luna, bahkan langsung mengunci kamar itu. Karena dorongan rasa dari Teja yang sudah membuncah keduanya sudah berada di ranjang saling berpagut bibir. Meskipun amatir dan istilah bujang lapuk yang disematkan Luna pada Teja, tapi untuk masalah di ranjang ternyata tangan Teja terampil.


Dengan bibir yang sedang sibuk, tangannya sudah bergerilya setelah berhasil melepaskan kancing kemeja milik istrinya.


“Pak Teja ….


“Ssttt.”


Lepas sudah penutup tubuh yang dikenakan Luna dan pria yang saat ini mengungkung tubuhnya menatap nyalang pada pahatan sempurna kemolekan tubuh istrinya. Teja mampu membuat Luna melayang seperti mabuk kepayang hingga tidak menyadari sesuatu sedang berusaha menembus sesuatu di bawah sana.


Dari pengakutan Teja yang hasr*tnya sudah di ubun-ubun, tapi sentuhan pria itu cukup halus dan sopan. Tidak membutuhkan keahlian super karena dengan insting keduanya bisa membawa mereka merasakan melayang, sampai akhirnya Luna menjerit pelan dan memejamkan mata serta kuku-kuku tangan mencengkram di lengan pria itu karena sesuatu berhasil terbenam sempurna.

__ADS_1


Teja sebenarnya tidak tega melihat sang istri kesakitan, tapi situasi sudah tidak mungkin untuk berhenti.


“Sakit?”


Luna hanya mengangguk pelan tanpa membuka matanya. Tidak lama ia kembali terlena karena Teja kembali memberikan sentuhan dan gerakan pelan yang merubah rasa nyeri perlahan menjadi kenikmatan tidak terduga.


Apa yang mereka lewati sama-sama perdana. Lenguuhan dari bibir Luna mampu membangkitkan semangat Teja berkali lipat. Teja berhasil membawa mereka terhanyut dalam pusaran cinta dan meledak bersama merasakan nikmat tiada tara dan Luna pun berhasil menjadi seorang wanita dan Teja bukan lagi si bujang lapuk.


Dengan nafas terengah dan tubuh penuh dengan peluh, Teja mendaratkan bibir di kening Luna.


“Terima kasih, Kaluna Zena istriku.”


Teja pun melepaskan tubuhnya dan merebah di samping Luna dan menghela nafasnya dengan mata terpejam merasakan sisa-sisa kenikmatan yang baru saja mereka raih.


“Pak Teja ….”


Teja mengerjap dan menoleh. Meraih selimut dengan kakinya lalu dia tutupi tubuh mereka berdua.


“Kenapa sayang?” Teja mengusap titik keringat yang ada di dahi istrinya.


“Tumben sayang-sayangan.”


“Karena aku sayang kamu,”


“Pak Teja nggak pantes ngegombal,” sahut Luna lalu terkekeh geli. Bagaimana dia tidak menertawakan Teja yang mulutnya mengeluarkan rayuan tapi raut wajahnya datar.


“Ck, aku serius!”


“Aku juga serius.” Saat ini keduanya berbaring berhadapan. “Aku sudah menyerahkan milikku yang selama ini aku jaga. Pak Teja jangan aneh-aneh di luar sana, apalagi sama tante Juli yang gatel.”


“Kamu bisa pegang janjiku. Belum ada wanita yang berhasil membuatku gil4 selain kamu.”

__ADS_1


Luna terkekeh kemudian memukul pelan dada suaminya. Teja menarik turun selimut yang menutupi tubuh istrinya hingga terpampang kembali tubuh polos yang membuat senjata miliknya kembali siap menghujam.


“Jangan ditutupi lagi.” Teja menahan tangan Luna yang ingin menarik selimut lalu kembali mengungkung tubuh wanita itu.


“Pak Teja mau ngapain lagi?”


“Perulangan, biar makin mahir.”


“Ish, punyaku masih nggak nyaman.”


“Nikmati saja.”


“Pak Teja!!!”


Teja berhasil membawa Luna kembali terbang melayang. Entah jam berapa mereka mengakhiri kegiatan dewasa yang mereka perankan dan sekarang sudah sama-sama terlelap. Jika Luna terlelap dengan wajah lelah, berbeda dengan wajah Teja yang terpancar aura kebahagiaan.


***


Getaran ponsel membuat Teja terjaga dan mengernyitkan dahi. Mulutnya berdecak karena tidurnya terganggu, akhirnya pria itu mengerjap pelan dan menyadari ada Luna di sampingnya. Senyum pun mengembang di wajah Teja mengingat apa yang baru saja mereka lakukan pagi ini.


“Cantik, kamu memang cantik sayang.”


Teja mengusap wajah istrinya. Ia akui saat pertama kali bertemu di rumah sakit, penampilan Luna sempat membuatnya terpana. Bukan pertama kali Adam mengenalkan wanita untuk Teja, dengan harapan akan berlanjut dengan hubungan pernikahan. Namun, hanya Luna yang terlihat tidak menarik simpatinya dan berpenampilan seperti wanita penggoda.


Dengan alasan itulah, Teja menyetujui perjodohan itu. Ia yakin Luna adalah gadis yang baik dan terbukti saat ini Teja sudah bisa membuka hatinya. Padahal kalau dipikir, mulut Luna sering sekali mengejek Teja dan menertawakannya tapi itu keunikan lain dari Luna yang membuat Teja terluna-luna.


Getaran ponsel kembali terdengar, Teja pun beranjak duduk dan menatap layar ponsel. ada beberapa pesan dari semalam diabaikan. Grup alumni,  rekan bisnisnya yang mengajak bertemu dan paling baru adalah dari Juli. Teja mengabaikan pesan itu dan menatap istrinya yang mengigau.


“Dia masa depanku, Juli hanya masa lalu,” gumam Teja lalu meletakan kembali ponselnya. “Sayang,” bisik Teja sambil memeluk istrinya.


“Hmm.”

__ADS_1


“Aku cinta kamu,” bisik Teja sambil mengeratkan pelukannya.


 


__ADS_2