
Rasanya Teja ingin mendaratkan kepalan tangan pada wajah Doddy yang sok kegantengan. Padahal ia akan mengajak Luna ke apartemen yang paling ujung, membahas urusan kerjasama sekalian urusan lain. Sepertinya urung karena kemunculan si kamprett.
“Mohon maaf saya terlambat.”
Teja melepas tangan Luna dan kembali ke dalam. Duduk pada sofa yang ada begitu pun dengan Luna dan Doddy.
“Di mana aku harus tanda tangan?”
Luna menunjukan lembaran dan area di mana Teja harus meninggalkan jejaknya.
“Bagaimana Pak Teja, apa sudah sesuai dengan permintaan Anda?”
“Aku tidak meragukan Seloka Design, terlepas dari siapa yang mengerjakan,” sahut Teja.
Doddy manggut-manggut macam orang pintar, sedangkan Luna mencebik melihat gaya rekan kerjanya. Apa pula maksud Doddy dengan tiba-tiba muncul di sini.
“Saya dengar semua unit di lantai ini milik Pak Teja, luar biasa Bapak yang satu ini.”
“Apa ada masalah?” tanya Teja dengan posisi bersedekap menatap Doddy yang konyol.
“Tidak ada, saya hanya kagum saja dengan kesuksesan Pak teja. Hati-hati Pak, sekarang ini wanita lengket dengan anda bukan berarti dia cinta. bisa saja karena melihat anda sukses.”
“Maksudnya matre?” tanya Luna dengan wajah sinis.
“Ah, macam itulah.”
“Tidak ada perempuan matre, istilah itu hanya keluar dari mulut pria yang tidak bisa menyanggupi keinginan dari wanitanya,” ujar Teja dan langsung membuat Doddy bungkam. “Saya masih ada urusan lan,” cetus Teja sambil melirik arlojinya.
Luna pun paham dengan maksud Teja, dia sudah berdiri.
“Baik Pak, kami paham. Berikutnya akan kami kirim invoice untuk penyelesaian tagihan.”
“Saya tunggu,” sahut Teja sudah ikut berdiri begitupun Doddy yang beranjak dengan malas.
“Kami permisi dulu, terima kasih dan sangat kami harapkan kerjasama berikutnya,” tutur Doddy.”
__ADS_1
“Hm.”
Saat Luna dan Doddy sudah sampai pintu, Teja memanggil Luna membuat kedua orang itu menoleh. Teja menunjuk arlojinya, tapi Doddy tidak paham maksud dari pria itu.
“Jam kerja sudah berakhir, kamu ikut pulang denganku,” titah Teja pada istrinya.
“Maaf Pak Teja, Luna akan kembali ke kantor kami akan lembur mendiskusikan masalah project Bali.”
“Eh, tidak ada info di grup deh,” seru Luna bergegas membuka ponselnya.
“Pak Arta yang menginstruksikan langsung,” ujar Doddy dengan senyum smirk, sedangkan Luna masih fokus menatap layar ponselnya dan tidak menemukan apa yang Doddy maksud.
“Mau project Bali atau neraka. Luna tetap tnggal, kamu pergilah!” usir Teja pada Doddy.
“Pak Teja anda tidak profesional.”
“Ini bukan masalah profesional atau tidak. Jam kerja istriku sudah berakhir dan ….”
“Ish, kenapa malah berdebat gini sih. Saya tidak ikut ke kantor Pak, tidak ada info diskusi masalah lelang project. Pak Doddy balik aja sendiri.”
Halah, minta ditoyor nih orang. Mulutnya suka berlebihan gini dah, batin Luna.
“Ayo sayang,” ajak Teja sambil merangkul pinggang istrinya.
Meskipun enggan Doddy pun bergeser karena Teja langsung mengunci unit apartemennya dan berjalan di koridor menuju unit lain. Luna sempat mengangguk pada seniornya sebagai tanda sopan santun.
“Kita ngapain di sini?” tanya Luna yang sudah berada di unit lain masih di lantai yang sama. “Ini ditempati ya?” Mendapati unit itu begitu bersih dan perlengkapan yang lumayan lengkap.
Saat akan membuka pintu balkon, Teja memeluknya dari belakang bahkan merusuh di tengkuk wanita itu menimbulkan gelenyar aneh dan tubuh yang meremang.
“Sebelumnya aku tinggal di sini, rumah yang kita tempati aku siapkan untuk kita tinggali.”
Luna hanya beroh ria, detak jantungnya sudah mulai berdetak tidak biasa karena sudah tahu apa yang akan suaminya inginkan. Benar saja, tangan Teja sudah mulai tidak kondusif.
“Pak Teja.”
__ADS_1
“Hm.”
Teja melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Luna hingga mereka berhadapan. Wajah pria itu terlihat datar, sepertinya pengaruh dari kehadiran dan ucapan Doddy yang cukup memprovokasi.
“Ada yang ingin kamu sampaikan?” tanya Teja sambil menyelipkan helaian rambut istrinya ke belakang telinga.
“Maksudnya?”
“Masalah Bali? Panggilan Kakak agar lebih akrab? Apa kalian sedekat itu?”
Luna refleks mendorong tubuh Teja agar menjauh. Jelas suaminya cemburu, tapi Luna tidak memiliki perasaan atau melakukan hal seperti yang Doddy katakan. Jika Luna dan Teja tidak berpikir dengan jernih bisa-bisa masalah ini akan membuat mereka bertengkar dan ini yang diharapkan oleh Doddy.
“Akrab gimana, dia sendiri yang mau dipanggil Kakak. Masalah Bali juga belum jelas, aku harus tanya dulu ke Pak Arta. Pak Teja tahu dari mana sih?”
Teja mendekat dan mengikis jarak, wajahnya sudah begitu dekat bahkan hidung mereka hampir bertemu. Luna membuka pelan bibirnya akan bicara, membuat Teja menelan saliva ingin *****4* bibir itu.
Pria itu akhirnya menceritakan panggilan telepon dari Doddy yang membahas masalah keberangkatan ke Bali termasuk niat untuk bersenang-senang. Karena cemburu Teja langsung menggempur habis istrinya.
“Jadi gara-gara telpon si Dodol, Pak Teja tega buat aku lemas tak berdaya?”
“Hm.”
“Cemburunya nyeremin banget sih.”
“Itu karena aku terlalu cinta. Justru aneh kalau aku hanya diam mendengar ada pria ingin mengajakmu bersenang-senang.”
Teja mengajak Luna duduk di sofa, dia menceritakan masalah Juli termasuk pertemuan hari ini yang tidak disengaja bahkan keinginan wanita itu untuk bertemu dengan Luna dan bersedia menjadi yang kedua.
“Ceritanya Tante Juli ngajak balikan? Pak Teja mau? Masih ada rasa?” cecar Luna dengan posisi bersedekap, wajah wanita itu sudah berubah sinis.
“Rasaku sudah hilang sejak dia mengkhianatiku, rasaku kini hanya untuk seorang Zena dan aku hanya mau kamu bukan yang lain.”
“Masa?”
Teja berdecak dan mengatakan kalau dia menceritakan masalah Juli agar Luna tahu masa lalunya meskipun wanita itu sudah mengetahui sekilas. Namun, Teja tidak menceritakan masalah Andin pada Luna.
__ADS_1
“Cukup membicarakan masa lalu karena aku sudah move on, yang ada dihadapanku adalah masa depan dan itu adalah kamu."