Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 30 ~ Rencana Busuk


__ADS_3

“Aku cinta kamu.”


Suara itu masih bisa Luna dengar, tapi raga rasanya sudah lelah dan sensasi nikmat nan melenakan yang baru saja dia rasakan bersama Teja meski menguras tenaga juga staminanya membuat dirinya harus kembali memejamkan mata.


Namun, kata cinta yang Luna dengar masih terngiang dan terbawa ke alam mimpinya. Kalimat sederhana penuh makna seakan membawa Luna terbang ke awan dengan simbol hati di mana-mana.


“Pak Teja serius cinta aku?”


Pria itu menganggukan kepalanya dan tersenyum.


“Aku juga cinta dengan kang mas Suteja.”


Teja terkekeh lalu menangkup wajah Luna, perlahan wajah mereka semakin dekat. Luna pun memejamkan matanya dan mempersiapkan bibir akan saling bertemu.


“Luna, bangun!”


Luna pun mengerjapkan matanya, menyadari kalau tadi hanya mimpi.


“Ck, ganggu aja sih.”


Teja terkekeh lalu menyingkap selimut membuat Luna berteriak lalu merebut kembali selimut dan menutupi tubuhnya.


“Tidak usah ditutupi, aku sudah lihat semua bahkan merasakannya.”


“Ck, justru itu harus aku tutupi kalau nggak pasti diterkam lagi.”


“Boleh?”


“Nggak. Pak Teja sih enak, ini aku jebol.”


“Ya memang begitu, namanya juga udah nggak peraw4n.” Teja membaringkan tubuhnya di sisi Luna dengan kedua kaki masih terjuntai ke lantai dan memandang langit-langit kamar. Tidak pernah menyangka kalau pernikahannya dengan Luna akan sampai pada titik bahagia.


“Ini jam berapa sih, kok aku lapar banget.”


“Sudah tengah hari. Wajar kamu lapar, kita melewatkan sarapan.”


“Aku mau mandi,” ujar Luna sambil matanya mencari pakaian, handuk atau bathrobe yang bisa digunakan untuk menutupi tubuh polosnya.


Tidak mungkin dia menggunakan selimut atau malah tidak mengenakan apapun dan lenggang kangkung di hadapan suaminya. Itu sama saja menyodorkan ikan untuk kucing garong.


“Bajuku mana sih?”


“Untuk apa pakai baju, nanti juga dilepas lagi.”


“Pak Teja!!!!”


...***...


Saat ini Luna dan Teja sudah berada di meja makan. Menikmati sarapan sekaligus makan siang. Berbeda dengan Teja yang begitu lahap, Luna makan suap demi suap yang dipaksakan. Saat beranjak dari ranjang tadi, ia merasakan tidak nyaman apalagi ketika berjalan masih meninggalkan rasa perih dan pegal di sana sini.


“Makan yang banyak, katanya tenagamu habis. Ayolah di charge.”

__ADS_1


“Aku begini karena Pak Teja. Di charge juga paling mau dipake lagi.”


“Mulut kamu ya, tapi betul sih. Kita ulangi lagi yang tadi, semakin sering semakin lihai dan semakin nikmat.”


“Dasar mesum.”


“Kamu juga suka dimesum!n.”


“Malam ini aku mau tidur di kamarku dan tidak ingin diganggu.”


Teja meneguk air minumnya lalu menyeka bibir dengan tisu dan menatap istrinya yang masih dengan wajah tidak bersahabat.


“Tidak masalah, malam ini di kamar kamu besok di kamar aku dan ….”


“Pak Teja bisa nggak ….”


“Nggak dan berhenti panggil aku Bapak. Kamu bukan anakku, tapi ibu dari anak-anakku nanti.”


“Halah, gombal. Nggak pantes tau ngegombal, biasa kayak robot eh tiba-tiba pinter gombal.” Luna terbahak sedangkan Teja menghela nafasnya pelan.


“Terserah. Setelah itu aku tidak ingin dengar kamu panggil Bapak atau aku akan hukum.”


“Paling hukumnya yang enak di situ, tapi eneg di sini.”


“Pastinya, namanya juga hukuman.”


Luna mencondongkan tubuhnya merapat ke meja makan. Memastikan pria di hadapannya adalah Teja Dewangga sang suami.


“Hahh.”


“Aku bilang jangan panggil Bapak, kecuali kami memang senang aku cium.” Teja sudah beranjak dari kursi dan mengulurkan tangan ke arah Luna.


“Mau ke mana?”


“Kamar.”


Dari pada ikut dengan Teja, Luna memilih berpindah ke sofa. Bersandar sambil menonton drama favoritnya. Siapa sangka kalau Teja malah ikut serta, malah menjadikan pangkuan Luna sebagai bantal. Wajah pria itu menghadap ke perut istrinya, bahkan sesekali membenamkan wajah membuat Luna kegelian.


“Sayang.”


“Hm.” Luna mengu_lum senyum mendengar kata sayang beberapa kali diucapkan oleh sang suami dan bisa dipastikan hal itu murni dari hatinya.


“Kalau kita honeymoon, gimana?”


“Serius Pak?”


“Ck, aku bilang jangan panggil Bapak.”


“Itu panggilan sayang aku, jadi jangan minta dirubah. Jadi kita honeymoon ke mana?”


“Terserah kamu. Cari tanggal di mana kita bisa pergi, kalau aku bisa menyesuaikan tapi kamu ‘kan harus ikut aturan.”

__ADS_1


“Kayaknya aku belum ambil cuti, besok deh aku cek lagi. Nggak sabar pengen liburan.”


“Honeymoon sayang, honeymoon.”


...***...


“Kamu kenapa sih, senyam senyum terus?”


Luna kembali tersenyum mendengar pertanyaan Astri. Mengingat adegan kemarin bersama Teja, membuat Luna berada di dunianya sendiri. Pernah merasakan jatuh cinta, tapi tidak seperti yang dia rasakan sekarang. Mungkin dulu hanya cinta monyet, sedangkan saat ini cinta yang halal pada suaminya.


“Idih bukannya jawab, malah tambah parah cengar cengirnya.”


“Astri, kamu pernah jatuh cinta?”


“Pernahlah. Jangan bilang kamu lagi jatuh cinta? sama Pak Doddy ya?”


Raut wajah Luna langsung berubah mendengar nama Doddy. Jangankan jatuh cinta, rasanya Luna ingin sekali mengunyeng-nguyeng wajah sok tampan milik pria itu kala mengingat ia pernah mabuk karena ulahnya.


“Kenapa Doddy sih? Memang laki-laki Cuma dia doang.”


“Terus sama siapa?”


“Sama ….”


“Luna, bisa ikut saya?”


Obrolan Luna dan Astri pun terhenti karena kedatangan Doddy yang meminta Luna untuk ikut dengannya. Tentu saja Luna patuh, apalagi pria itu adalah senior di timnya. Kalau boleh memilih, Luna ingin dimentori langsung dengan Pak Arta dibandingkan dengan Doddy.


“Ada lelang project di Bali. Pak Arta ingin tim kita yang berangkat. Jadi segera selesaikan project yang ada dan kita siapkan portofolio untuk ….”


“Tim kita maksudnya saya dan Kak Doddy?” tanya Luna menyela penuturan seniornya.


Doddy menghela nafasnya lalu bersedekap menatap perempuan di hadapannya. Luna memang menarik, bahkan dengan ketidaksopanannya menyela apa yang sedang diucapkan tidak membuat Doddy marah.


Pria itu pun merasa aneh, setelah mengetahui kalau Luna adalah istri dari Teja. Rasa penasaran dan ingin mendapatkan wanita itu malah semakin kuat.


“Apa ada orang lain di tim kita?”


Luna menggaruk kepalanya, dia ragu akan mendapatkan izin dari sang suami. Apalagi perginya bersama Doddy dengan tujuan ke Bali. Masih di daerah Jakarta saja, pria itu nekat membuat Luna mabuk. Sangat wajar kalau Luna menduga ada rencana lain di balik kegiatan ini.


“Kayaknya saya tidak bisa ikut. Lelang project biasanya diikuti  oleh senior atau Pak Arta. Saya bukan siapa-siapa kenapa diikutsertakan?”


“Karena perusahaan tahu kompetensi kamu. Apa kamu takut Teja tidak berikan izin?”


“Kaluna, kamu di sini bekerja. Bersikap profesional dong, perusahaan ini bukan milik suamimu.”


“Juga bukan punya Kak Doddy. Saya akan tanya Pak Arta langsung dan menyampaikan ke beliau kalau saya tidak bisa terlibat di lelang project kali ini,” tutur Luna lalu berdiri.


“Pak Arta sudah berikan kewenangan untuk hal ini, percuma saja kamu protes,” ujar Doddy dengan senyum karena merasa menang. Tidak disangka Luna malah terkekeh, kemudian menatap sengit lawan bicaranya.


“Lebih baik saya resign dari pada terjebak pada rencana busuk di kepalamu.”

__ADS_1


 


__ADS_2