
Teja semakin memperlihatkan keposesifannya. Luna bahkan tidak percaya kalau Teja bisa seperti itu. Pria itu memberikan Luna hadiah mobil, akan datang hari ini. Walaupun Teja tahu, bukan Luna tidak mampu membeli kendaraan roda empat sebagai cucu dari Surya dan keponakan Amar.
Namun, yang membuat Luna harus menggelengkan kepala karena tidak boleh menggunakan supir khawatir si supir akan menyukai istrinya.
“Kalau memang kamu butuh supir, aku minta supir keluarga di rumah Ayah Adam. Orangnya bisa dipercaya.”
“Kenapa nggak cari supir perempuan aja, biar Pak Teja tenang nyaman dan nggak punya pikiran aneh-aneh.”
“Boleh juga, tapi kamu nggak takut kalau supir itu suka sama suami kamu yang ganteng ini.”
“Bukan cuma posesif, tapi narsis juga. Akut malah,” ejek Luna sambi berdecak.
Teja bergeming dengan ejekan dari istrinya. Pagi ini kembali ia mengantarkan Luna ke kantor, dengan segala macam nasehat agar menjauh dari Doddy. Siangnya Teja sudah berada di PT. X, kerjasama dengan perusahaan itu sedang berjalan. Bahkan sistem yang diminta dalam pengerjaan.
Kedatangan Teja karena permintaan untuk kerjasama lain khusus untuk perusahaan cabang PT. X. Pria itu menyimak penjelasan kondisi cabang agar ada penyesuaian sistem.
“Bagaimana Pak Teja?”
“Tidak masalah, bisa disesuaikan dan integrasi dengan sistem pusat sesuai permintaan,” jelas Teja. Dalam hati Teja bersyukur karena usaha pribadi dan software house yang dia pimpin semakin berkembang. Namun, ia tidak boleh salah langkah karena software house tersebut bukan miliknya pribadi ada para pemegang saham.
“Oke, kita akan lanjut kontrak kerja sama saat sistem untuk pusat selesai.” Teja setuju, akhirnya pertemuan pun berakhir.
“Halah, kenapa juga malah dapat si4l,” gumam Teja ketika keluar dari lift dan melihat sosok wanita yang dikenal. Tersenyum dan berjalan ke arahnya.
“Mas Teja di sini juga?” Juli berusaha mensejajarkan langkah Teja.
“Hm.”
“Kebetulan sudah waktu makan siang, aku mau traktir Mas Teja. Gimana?”
Teja melihat arlojinya, lalu menggelengkan kepala.
“Aku masih ada pertemuan lain. Sorry.” Langkah Teja semakin cepat dan dalam hati dia mengumpat karena Juli masih mengekor langkahnya.
“Mas Teja menghindari aku ya?”
“Menurutmu?”
“Astaga, Juli!” pekik Teja sudah berhenti melangkah bahkan mengangkat tangannya agar tidak menyentuh wanita itu yang sengaja menghalangi dan menghenti Teja dengan berdiri di hadapannya.
“Mas, kasih aku waktu untuk bicara.”
__ADS_1
“Bicara apalagi, kita tidak ada urusan.” Teja menatap sekitar, saat ini sudah berada di basement. Khawatir ada yang melihat interaksi mereka dan menyebabkan salah paham.
“Mas, aku masih cinta dengan kamu Mas dan aku yakin Mas Teja pun sama. Mari kita bicara dan temui istri kamu. Aku rela jadi yang kedua selama bisa bersama Mas Teja.”
Teja lagi-lagi mengumpat bahkan sampai mengusap wajahnya. Ia tidak percaya dengan ucapan yang keluar dari mulut Juli. Luna tidak akan rela berbagi suami dengan wanita itu, begitu pun dengan Teja yang tidak tertarik dengan wanita yang sekarang berdiri di hadapannya.
“Are you insane?”
“Aku begini karena kamu kamu Mas.”
“Bukan, kamu begini karena hati kamu. Kalau saja kamu bisa setia dan tidak … ah sudahlah Juli. Semua sudah berlalu. Apa yang terjadi adalah pilihan hidup kita dan sekarang aku sudah bahagia. Jadi singkirkan ide gila di kepala kamu untuk menjadi duri dalam rumah tanggaku,” tutur Teja. Bahkan pria itu berjalan mendekat pada Juli.
“Kamu tahu siapa Ayahku dan aku bisa minta bantuan beliau juga pengaruh keluarga besar istriku untuk mendepak kamu dari perusahaan atau memutasi kamu ke kota lain. Sebaiknya perhatikan tingkah lakumu agar aku tidak melakukan hal jahat itu.” Ucapan Teja tadi mengandung ancaman yang cukup berat untuk Juli.
Sebagai seorang single parent dengan mantan suami yang tidak bertanggung jawab, terancam dipecat dari pekerjaan tentu saja membuat Juli harus hati-hati.
“Apa kamu Mas Teja yang aku kenal?”
“Tentu saja dan jangan main-main denganku.”
Teja sudah berada dalam mobil, Juli masih mematung di tempatnya. Notifikasi pesan yang masuk mengalihkan perhatian Teja, bahkan pria itu tersenyum dan mengetik pesan balasan.
Sementara itu di Seloka Design. Doddy merasa di atas awan, menduga Luna dalam hubungan tidak baik dengan Teja. Dengan percaya diri dia menghampiri Luna dan menanyakan bagaimana kabarnya.
“Kamu yakin kemarin sungguh sakit?” tanya Doddy dengan senyum sinis.
Luna menggaruk kepalanya, tidak mungkin dia jujur kalau kemarin sakit karena habis enak-enak dengan suaminya. Lagipula pria di hadapannya ini sungguh aneh, untuk apa pula ingin tahu detail masalahnya.
“Ya gitu deh.”
“Bukan karena kamu dan Teja bertengkar?”
“Bertengkar apanya, aku dan Pak Teja tuh lagi mesra-mesranya. Ibarat lem dan perangko, pengennya nempel terus. Pokoknya lagi bahagia banget deh, seperti pepatah dunia milik kami berdua yang lain ngontrak.” Luna terkekeh setelah menjelaskan perumpamaan hubungannya dengan sang suami.
Doddy mengernyitkan dahinya. Dari penuturan Luna, wanita itu terlihat jujur artinya rencana yang sudah dia lakukan tidak berhasil.
“Sudah kamu siapkan untuk lelang project di Bali?”
“Hm, belum. Saya mau temui Pak Arta dulu. Untuk persiapan bahan saya siap, tapi untuk berangkat kesana kayaknya nggak deh. Seperti yang saya bilang sebelumnya, lebih baik saya resign daripada durhaka sama suami.”
Doddy mendengus kesal mendengar penuturan Luna, Arta pun tidak menginstruksikan agar Luna ikut justru itu usulan darinya. Kalau sampai wanita ini menghadap Arta, bisa terbongkar rencana busuknya.
__ADS_1
“Sudahlah, kerjakan saja urusanmu. Masalah lelang project aku pikirkan lagi.”
“Memang begitu seharusnya,” gumam Luna ketika Doddy sudah menjauh meninggalkannya lalu bersiap menuju apartemen milik Teja. Desain interior pesanan Teja sudah rampung dan hari ini Luna akan memperlihatkan pada Teja selaku pemilik apartemen.
[Pak Teja Dewangga, saya Kaluna Zena. Hari ini bisa kita bertemu di apartemen untuk mengecek apakah sudah sesuai dengan permintaan dari Bapak]
Luna tersenyum ketika mengirimkan pesan untuk Teja sebagai rekanan perusahaan.
Setelah makan siang, Luna sudah tiba di apartemen milik Teja. Hasil pekerjaan sudah sesuai dengan desain yang diinginkan Teja.
“Bagus juga ya, seru kali tinggal di apartemen begini. privacy banget,” gumam Luna mengecek tiap sudut apartemen.
Terdengar suara bel, ternyata Teja sudah tiba.
“Pak Teja, ihh.”
Teja langsung merangsek memeluk istrinya bahkan tidak segan menyambar bibir yang sering menggoda dan melontarkan ejekan untuknya.
“Kangen.”
“Gombal.” Luna memukul pelan dada suaminya ketika pria itu sudah mengurai pelukannya.
Teja menatap keliling apartemen, memastikan sudah sesuai dengan keinginannya. Lalu menganggukan kepalanya.
“Lima unit sudah selesai semua?” tanya Teja dengan padangan masih mentapa sekitar.
“Sudah dong.”
“Oke, ada berkas yang harus aku paraf?”
Luna mengambil berkas dari map yang dia bawa dan disodorkan pada Teja. Pria itu menerima dengan tatapan tidak lepas dari wajah istrinya.
“Kita selesaikan di unit lain,” ajak Teja sambil menarik tangan istrinya.
“Selamat sore Pak Teja.”
Teja dan Luna terkejut karena Doddy sudah berdiri di depan pintu.
__ADS_1