
Doddy membawa Luna dan bayinya entah ke mana, Luna bahkan tidak ingat jalanan yang ia lewati. Sebuah rumah terpencil, jauh dari pemukiman penduduk.
“Pak Doddy, tolong lepaskan aku dan menyerahlah. Aku akan minta keluarga besarku memaafkan Bapak. Kalau perlu kami akan minta keringanan hukuman Pak Doddy, tapi biarkan saya pergi,” tutur Luna sambil terisak. Wajahnya sudah basah dengan air mata, tubuhnya gemetar karena takut Doddy melakukan sesuatu pada putranya yang masih sangat ringkih.
Nyeri di perut bekas jahitan masih terasa, tapi Luna mengabaikan hal itu. Apalagi putranya mulai terusik, ikatan batin antara ibu dan anak itu sudah terjalin. Kondisi Luna yang ketakutan berpengaruh pada kenyaman bayinya.
“Tidak ada hukuman, aku sedang mempersiapkan kepergian kita dan bayimu itu akan menjadi bayi kita,” ujar Doddy mendekat lalu mengusap wajah Luna menghapus air matanya. “Jangan takut sayang, kita akan bahagia. di tempat baru dan identitas baru. Lupakan masa lalu dan lupakan Teja dari sini,” tunjuk Doddy di kening Luna.
“Tolong ….”
“Diam!”
Baby Kama pun menangis, Luna semakin panik. Khawatir kalau pria psikopat di hadapannya akan menyakiti Kama.
“Sayang, ini Mama Nak.” Luna menggoyang pelan tubuh Kama berusaha memberikan kenyamanan. “Aku baru saja melahirkan, perlengkapan kami tertinggal di mobil. tolong lepaskan kami.”
“Ikut aku!” Doddy menarik tangan Luna dan menunjuk sebuah ruangan. “Masuk!”
“Tidak, tolong jangan begini. Aku minta maaf, tolong lepaskan kami,” tutur wanita itu merengek agar Doddy berbesar hati memaafkan lalu menyiarkan Luna pergi.
“Masuk! Aku akan membeli perlengkapan untuk kalian. Jangan berteriak atau mencoba kabur, karena percuma. Kamar ini mengarah ke hutan dan jendelanya sudah aku buat teralis juga tidak bisa dibuka dari dalam.”
“Pak Doddy.”
Doddy mendorong pelan tubuh Luna lalu menutup pintu dan mengunci dari luar. Luna berusaha menenangkan putranya, bersenandung pelan lalu menuju ranjang dan mencoba memberikan sumber kehidupan pada bayi Kama.
“Pak Teja, tolong aku,” ujar Luna pelan, air mata sukses kembali mengalir membasahi pipinya.
Sedangkan di kediaman Teja, tentu saja sudah bergejolak. Meski perawat dan bayi Kalila aman dalam penjemputan bodyguard Teja.
“Bagaimana bisa Teja seceroboh ini,” seru Amar lalu menghubungi Herman dan menyampaikan kemungkinan penculik Luna adalah putranya.
Nuri dan Indah menyambut kedatangan Kalila, membawa bayi itu ke kamar. Semua khawatir dengan keselamatan Luna juga baby Kama. Berharap Doddy tidak gelap mata dan menyakiti sanderanya.
__ADS_1
Bugh.
Amar melayangkan pukulan ke wajah Teja yang baru datang. Indah bahkan sampai berteriak dan menghentikan dua pria itu baku hantam.
“Sekarang bukan waktunya saling menyalahkan, tapi menemukan di mana Luna dan Kama. Hal ini terjadi karena pria itu jahat, bukan karena kita kurang antisipasi,” tutur Indah menahan suaminya yang sudah siap akan kembali menghajar Teja.
“Jangan bilang kamu tidak menyembunyikan pelacak dari tubuh Luna,” ujar Amar masih dengan nada emosi.
“Ada pelacak di mobil dan ponsel.”
“Ponsel Luna ada dalam tas dan tidak dia bawa,” sahut Indah membuat Amar menghela nafasnya.
“Aku pernah minta orang memasang pelacak di cincin pernikahan kami, tapi entahlah.” Teja menghubungi seseorang untuk memastikan atau menghidupkan pelacak di cincin Luna. Teja merasa ada titik terang ketika pelacak tersebut masih aktif dan Luna kembali memakai cincinnya setelah operasi selesai.
Amar, Teja dan beberapa orang kepercayaan mereka juga tim dari kepolisian sedang membaca titik lokasi terakhir Luna berada. Bisa jadi Luna memang berada di lokasi itu atau semakin jauh dan tidak terdeteksi.
“Kita bergerak malam ini,” ujar Amar.
“Bapak-bapak, biarkan kami yang bekerja. Silahkan tunggu kabar dari kami,” seru salah satu tim kepolisian.
Menjelang pagi, Teja dan timnya sudah tiba di lokasi. Perbatasan kota Bogor dan kabupaten Bandung, masuk ke dalam perkampungan dan agak pelosok. Bahkan termasuk daerah terpencil di bawah kaki gunung dan hutan.
“Kita kehilangan jejak,” ujar Amar menatap sekelilingnya.
Teja mengusap kasar wajahnya, semakin lama menemukan Luna semakin beresiko keselamatan istri dan anaknya.
“Tuan Teja, sepertinya lokasi ini yang terakhir terdeteksi. Kami lihat di depan ada dua arah, bagaimana kalau kita lanjut pencarian dibagi menjadi dua tim.”
“Ide bagus, ayo,” ajak Amar.
***
“Sayang, kamu kedinginan ya.” Luna merapatkan selimut dan memastikan penutup kepala bayinya benar-benar rapat. Entah dia berada di mana yang jelas cuaca sangat dingin.
__ADS_1
Di atas meja ada dua kantung besar berisi perlengkapan bayi juga perlengkapan untuk dirinya, Luna mengambil daster untuk ganti termasuk pembalut mengingat dia baru saja melahirkan. Sambil mendesis nyeri menahan sakit, obat yang harus dikonsumsi tidak ada padanya.
“Ya Tuhan tolong aku, kirimkan suamiku segera.”
Terdengar kunci pintu di putar, muncullah Doddy. Pria itu meletakan sepiring nasi dengan telur rebus juga secangkir coklat panas.
“Makanlah, kita bisa temukan makanan yang lebih baik di lokasi berikutnya.”
“Pak Doddy ….”
“Jangan minta aku lepaskan kalian. Jangan takut, kamu akan bisa melupakan Teja dan kita akan bahagia aku janji.” Doddy mengusap wajah Luna.
“Bayiku perlu sinar matahari, di sini terlalu dingin. Akan berbahaya untuk kesehatannya.”
Pria itu menatap bayi di atas ranjang, mendekat dan menyentuhnya.
“Kalau sudah terang aku akan bawa kamu dan dia keluar.”
Setelah Doddy keluar dari kamar, Luna menatap sekeliling kamar. Mencari sesuatu yang bisa digunakan untuk membela diri atau melumpuhkan pria itu. Tidak ada apapun yang berbahaya dan bisa dijadikan senjata. Pandangan Luna tertuju pada kantong plastik berisi perlengkapan bayi. Mengeluarkan isi botol sabun dan diisi ulang dengan pembersih toilet.
“Sabun bayi tidak perih di mata, tapi ini akan sangat menyakitkan.”
Luna kembali menatap kamar di mana dia berada, ide jahat muncul di kepalanya. Bukan jahat, tapi cara untuk menyelamatkan diri. Ternyata Doddy menepati janjinya, dia mengajak Luna dan baby Kama keluar dari rumah itu untuk berjemur. Sambil fokus dengan sunbath, Luna sempat menatap keadaan sekitar. benar-benar rumah yang terpencil di kelilingi dengan pohon-pohon besar.
“Sudah cukup, bawa masuk bayimu.”
Luna kembali memakaikan bedongan pada bayi Kama lalu masuk ke dalam diikuti oleh Doddy.
“Sayang, kamu jangan takut. Kita berjuang bersama keluar dari sini.”
Baby Kama digantikan pakaian yang lebih safety termasuk mengganti diapers, kaos kaki dan topik tidak luput dari perhatian Luna.
“Bersiap sayang.” Luna mengambil botol sabun yang sudah dia siapkan lalu memukuli pintu dan berteriak.
__ADS_1
“Pak Doddy buka pintunya, tolong anakku. Pak Doddy!”