Suamiku Bujang Lapuk

Suamiku Bujang Lapuk
Bab 24 ~ Enak ....


__ADS_3

Luna masih mengenakan bathrobe ketika membaca pesan di grup chat kantor. Beberapa orang perwakilan untuk menghadiri pesta salah satu rekanan kantor dan ada nama Luna di sana.


“Ck, aku tuh malas ikut yang kayak gini. Pasti sampai malam, belum lagi bakal banyak orang. Kenapa juga Pak Arta harus pilih aku.”


Meskipun mulut bergumam tidak suka, bukan berarti Luna membelot dan mangkir dari perintah atasannya. Dia tetap mempersiapkan dress dan segala atributnya. Berencana menghadiri undangan tersebut langsung dari kantor.


Teja yang sudah di meja makan lebih dulu, heran melihat bawaan istrinya lebih banyak dari biasa.


“Kamu mau ke mana?”


“Nanti malam aku mewakili kantor, ada undangan pesta gitu. Ada beberapa orang kok, aku salah satunya. Pak Teja izinkan aku ‘kan?”


Teja menghela nafasnya, walaupun berat tapi pria itu akhirnya memberikan izin pada Luna. Sebagai syarat pernikahan Luna menyampaikan kalau dia ingin tetap bekerja dan Teja menyanggupi, jadi tidak elok kalau sekarang dia mulai melarang aktivitas istrinya.


“Jangan minum alkohol.”


“Nggaklah, tubuhku tidak toleran. Minum dikit aja langsung oleng.”


“Biar aku antar ke kantor.”


“Aku bisa naik ….”


“Aku antar atau tidak usah hadir ke pesta!”


Teja sudah beranjak bangun, Luna segera meneguk air minum agar makanan yang dikunyah cepat turun ke perut.


“Pak Teja, jangan galak-galak gitu. Nanti cepat tua, tapi emang udah tua sih.” Meski mengejek, Luna mengekor langkah suaminya. Meletakan tas ke bagasi lalu membuka pintu mobil di samping pengemudi.


“Mulutmu, sekali-kali memang harus dikasih pelajaran,” seru Teja yan juga sudah duduk di depan kemudi. Memastikan istrinya sudah siap, pria itu mulai menjalan kendaraan tentu saja kantor Luna tujuannya.


 “Pak Teja, weekend ini aku pulang ya. Kangen Eyang, telponan doang kayaknya masih kurang.”


“Hm.”


“Tapi nginep, nggak apa ya?”


“Hm.”


“Ham hem ham hem mulu, emang nggak ada kosakata lain. ‘kan bisa Pak Teja jawab , iya Luna silahkah take your time with Eyang. Bukan malah hem, hem, kayak orang mules.”


Teja yang sedang fokus dengan jalanan hanya melirik sekilas, mulut istrinya memang senang berceletuk mengejeknya. Entah memang kebiasaan atau hanya untuk dirinya, tapi lebih baik dari pada gadis itu merajuk dan diam seribu bahasa. Seperti yang lalu waktu tersinggung dengan ucapan dirinya.

__ADS_1


Kantor tempat Luna bekerja hanya terdiri dari empat lantai, tidak terlalu luas seperti perusahaan besar lainnya. Mobil sudah berhenti di depan lobby, ada beberapa rekan kerja Luna yang ada di area parkir, termasuk Doddy yang baru saja datang.


“Apa aku perlu turun, sepertinya kakak mu itu butuh disapa.”


Luna menatap arah yang ditunjuk Teja, kedua pria itu seperti anj!ng dan kucing. Meskipun tidak tahu alasan dibalik itu, Luna pun melarang Teja turun.


“Nggak masalah juga sih Pak Teja turun, aku tinggal bilang kita sudah menikah.”


Teja pun urung keluar dari mobil dengan alasan harus segera pergi. Luna mencium tangan suaminya lalu mengambil barang di bagasi dan perlahan mobil Teja meninggalkan tempat itu.


“Kamu diantar siapa?” tanya Doddy.


“Oh, itu ….”


“Kakakmu?”


“Bukan, aku nggak ada kakak. Dia … gimana ya bilangnya. Pokoknya pria yang oleh Eyang diberi kepercayaan bertanggung jawab terhadap aku.”


Doddy hanya mengangguk meski tidak mengerti kalau yang dimaksud Luna adalah suami dan suaminya adalah Teja.


...***...


Luna hanya menggelengkan kepala karena Teja hari ini berulah. Berkali-kali mengirimkan pesan bertanya hal receh, bahkan menghubungi ketika pesan belum dibalas apalagi tidak dibaca. Padahal Luna seharian ini sibuk dengan pekerjaan.


Luna sudah membaca pesan dari Teja lalu meletakan kembali ponselnya dan lagi-lagi dari Teja.


[Jangan berdandan berlebihan, kalau perlu tidak usah terlihat cantik]


“Astaga, Pak Teka kenapa sih? Ribet banget.” Gadis itu bergumam lalu kembali meletakan ponselnya, enggan menanggapi ocehan Suteja.


“Siapa yang ribet Lun?” Astri, sudah berdiri di samping kubikelnya.


“Ah ini, keluarga aku. Dari tadi pagi ribet banget.”


“Hm. Makan dulu yuk, udah sore ini. Habis ini kita siap-siap, touch up lah masa ke pesta dengan muka berminyak gini.”


“Nggak ah, makan di tempat acara aja.”


Akhirnya kedua gadis itu bersiap. Astri yang sesama perempuan memuji penampilan Luna. Meski hanya dengan dress sederhana dan heels, juga tatanan rambut yang dicatok lurus dan polesan make up flawless.


“Gini nih, biasa tampil cuek. Sekalinya bersolek jadinya cetar membahen0l.”

__ADS_1


“Apaan sih? Kamu juga cantik kok,” seru Luna sambil memakai maskara.


“Ladies, sudah siapkah?”


Luna menoleh dan terkejut melihat Doddy dengan setelan pesta. Seingatnya, tidak ada nama Doddy mewakili perusahaan sesuai arahan Arta. Hanya Astri, dirinya juga dua senior lain tapi jelas bukan Doddy.


“Pak Doddy ikut juga?” tanya Astri yang terpesona dengan kerampanan Doddy.


“Hm. Bu Indah nggak bisa, jadi aku yang gantikan.” Tatapan Doddy tidak lepas dari penampilan dan wajah Luna, meski bibir tetap bungkam karena ada Astri.


Luna tidak nyaman dengan tatapan mata Doddy seperti menel4njangi dirinya.


“Ayo, keburu macet dan antri di ballroom,” ajak Luna. Gadis itu meninggalkan semua perlengkapannya di kantor, hanya membawa tas pesta berisi dompet dan ponsel.


Sempat mengumpat dalam hati karena Astri langsung dudung di kabin penumpang dengan seorang rekan lainnya, mau tidak mau Luna duduk di samping Doddy yang mengemudi.


“Kamu cantik,” bisik Doddy sebelum menggerakan mobilnya.


“Terima kasih,” jawab Luna sambil tersenyum.


Entah kenapa perasaannya tidak enak, jantungnya berdebar tidak karuan. Entah karena Doddy atau memang tidak menyukai acara yang akan dihadiri. Hampir satu jam perjalanan dari kantor menuju lokasi, Luna sempat mengirimkan share lokasi pada suaminya kemudian mensilent ponselnya.


Benar saja, para tamu undangan begitu ramai. Kepala Luna rasanya sudah berdenyut melihat hal itu. Setelah menyapa tuan rumah, dia mengajak Astri menuju buffet.


“Seriusan langsung makan?”


“Mau ngapain lagi, ke pesta yang makan dan bincang-bincang. Lagian kamu kamu bincang sama siapa?” Luna bicara sambil mengantri makanan.


“Luna kesana dulu yuk.”


“Aku belum kenyang, mau cari yang lain.”


Astri menarik tangan Luna mengajak gadis itu bergabung dengan rekan mereka. Entah karena semakin ramai , atau Astri memang berencana hanya berdua dengan senior yang kebetulan disukai. Gadis itu entah kemana, meninggalkan Luna bersama Doddy.


“Kamu kenapa?” tanya Doddy melihat Luna resah dan hanya menggelengkan kepala.


“Minum dulu.”


Luna memperhatikan gelas yang disodorkan oleh Doddy.


“ini sampanye, nggak akan mabuk kalau hanya segini.” Akhirnya Luna menerima gelas yang diberikan Doddy, pria itu pun meneguk habis isi gelasnya. Luna ragu-ragu, perlahan dia menempelkan pinggiran gelas pada bibirnya.

__ADS_1


Rasanya gini ya … enak, ucap Luna dalam hati lalu menghabiskan isi gelas.


__ADS_2