
*********
pagi kembali menyapa kulihat sudah jam tujuh pagi ibu sudah dulu bangun dari ku aku memilih berdiam dikamar. seperti orang linglung yang kehilangan separuh jiwanya, aku bahkan tidak memiliki semangat hidup lagi.
hanya hitungan jam sejak tadi malam perutku yang semula bagai mengandung empat bulan kini semakin membesar layaknya ibu-ibu yang hendak mendekati persalinan.
dengan keputus asaanku terbesit dalam benak ku ingin mengakhiri hidup ku sendiri. tak sanggup aku menahan beban in dan harus mendengar cemoohan orang terdekat ku.
tatapanku kosong aku bahkan tak menyadari jika ibu sedang menangis menatap ku dengan iba. lamunanku buyar ketika tangan ibu dengan halus mengelus pujuk kepalaku.
" yang sabar ya nduk semua pasti ada jalan keluarnya ibu akan selalu disamping mu, jangan sampai kamu berfikir ibu malu karena hal ini. ibu tau kamu ngak salah, kita pasti melewati semua ini kamu harus sabar dan kuat menjalani ini semua nduk. " air mata ibu sudah menggenang di pelupuk matanya, aku memeluk ibu menumpahkan semua kegundahan hatiku
__ADS_1
" kenapa semua ini terjadi pada dini bu? aku malu bu, bagaimana kata orang dan siapa yang akan menerima dini nanti. " kembali aku menangis dalam dekapan ibu menyedihkan sekali hidup ku ini.
" sudah takdir nduk bagaimana pun semuanya sudah terjadi, jangan putus asa. semua cobaan akan ada jalan keluar nya. "ibu membalas pelukan ku semakin erat pelukan nya semakin terasa nyeri dihati menerima takdir ku.
********
sudah pukul sepuluh siang tapi belum ada kabar dari ustadz yang kemarin berjanji kembali datang sampai akhirnya terdengar dering telpon ibu.
" waalaikumsalam, ya allah semoga tidak ada korban jiwa ya pak ustadz. maaf karena kami semuanya jadi terkena imbas. "sahut ibu aku yang tidak tau diam menunggu penjelasan ibu kenapa sampai meminta maaf seperti itu.
panggilan selesai kini ibu menatap ku dengan iba kembali ibu mendekap tubuhku tangis ibu mulai terdengar. aku kebingungan kenapa setelah menerima telpon ibu jadi sedih.
__ADS_1
" ibu kenapa kok malah nangis, ustadz nya ngomong apa bu?"aku melepas pelukan ibu lalu mulai memberondong pertanyaan prihal telpon yang ibu terima tadi.
" para ustadz dan anak pondok ngak jadi kesini katanya salah satu mobil yang mengangkut anak pondok masuk kejurang nduk."
"sudah aku duga pasti terjadi hal buruk pada mereka pantas saja ibu meminta maaf, itu pasti ulahnya gentara. " batinku menerka dalang dari kejadian tragis pada santri itu.
" lalu apa yang harus kita lakukan bu, siapa yang bakal ngobatin dini? "tanyaku pada ibu
" sabar ya nduk kita tunggu paman mu nanti malam, semoga dia membawa orang pintar nya. "
aku hanya memangut-mangut tak tau lagi apa yang harus dilakukan, kehadiran gentara sering ku rasakan. entah erangan atau tawa menggelegar nya tapi hanya aku yang mendengar jika ku tanyakan pada ibu, beliau selalu menjawab tidak mendengar apa pun.
__ADS_1
jangan lupa follow akun aku ya kak, like, coment, and vote. 👌😊😊😊