Suamiku Genderuwo

Suamiku Genderuwo
episode 18


__ADS_3

*********


ibu yang semula berwajah teduh berubah menyeramkan bajunya compang camping. mulut nya menyeringai lebar hampir menyentuh telinga lidah ibu terjulur darah menetes dari ujung lidah nya. tidak selesai disitu tiba-tiba kedua bola mata ibu lepas dari tempat nya.


" Allahuakbar ya allah ibu.. " aku menangkup wajah ku dengan kedua telapak tangan ku. tak sanggup melihat ibu menampakkan wajah seperti itu, kembali aku menangis pikiran ku sangat kalut semoga ibu baik-baik saja.


" kenapa kalian mengusik urusan ku. "suara dengan geraman terdengar menggema didalam rumah.


" kau yang lebih dulu mengusik kami, kembalikan ibu isyah dan berhenti menganggu hidup dini. "pak Yai berucap tanpa mencari sumber suara tangan nya tak henti memetik tasbih yang ia genggam sedari tadi.


" aku tidak menggangu, dini permaisuri ku kau yang mengusik urusan ku. dini melakukannya dengan cinta tanpa paksaan, aku akan mengembalikan wanita tua ini dengan syarat dini harus ikut bersama ku. "tawa menggelegar yang disertai geraman,berhasil membuat bulu tengkuk ku meremang.

__ADS_1


" tak akan ada yang ikut dengan mu, entah wanita yang engkau sebut tua ataupun dini. kau hanya jin yang terkutuk tak pantas bersanding dengan manusia,yang sederajat jauh lebih tinggi dari mu. "kembali pak Yai berucap tanpa menoleh sedikit pun.


bruuaaakkkkkk


bruuaaakkkkkk


seisi rumah seperti di porak porandakan kursi dilempar kesana kemari. pintu dan jendela terbuka dan tertutup dengan kencang berulang kali. tidak hanya itu dari arah dapur terdengar bantingan yang menandakan gelas dan piring pecah bergantian


pak Yai bangun dari duduk nya aku dan kedua santri hendak ikut berdiri. namun ditahan dengan tanda pada tangan pak Yai yang menyuruh kami tetap duduk.


pak Yai melantunkan do'a- do'a semakin kencang, kemudian semua kebisingan dan bantingan didalam rumah berhenti begitu saja.

__ADS_1


" Dini..... " aku berbalik mencari sumber suara dan bersyukur ibu keluar dari dalam kamarnya. berjalan menghampiri kami bayi itu pun terlihat anteng di gendongan ibu.


" tetaplah fokus jangan melamun lanjutkan kegiatan do'a bersama kita mahluk itu masih disini. menunggu kita lengah untuk membawa dini, bu tolong jaga dini jangan sampai terlepas dari genggaman. " pak Yai menyuruh salah satu santri nya untuk mengambil air. aku dan ibu hanya menunjukkan tempat nya karena dilarang bangun oleh pak Yai.


santri pak Yai sudah kembali dengan satu gelas penuh air putih, ditaruh nya air itu di tengah-tengah kami pak Yai mengajak kami melanjutkan berdo'a.


" jangan menengok kalau ada yang memanggil, jangan bangun tanpa seizin saya, dan jangan melamun. "ucap pak Yai sebelum kembali melanjutkan do'a-doa.


kami telah larut dalam do'a masing-masing ibu tetap was-was memegangi pergelangan tangan ku. dari luar terdengar dengan kencang petir menyambar saling bersahutan


semakin kencang genggaman ibu, hujan deras berhasil membuat hawa dingin menyeruak kedalam rumah.

__ADS_1


" sayang bukankah kau mencintai ku, bukankah kita akan hidup bahagia berdua. tidak kita hidup bahagia bertiga, sudah ada buah hati kita ikutlah dengan ku sayang. akan kupastikan hidupmu bahagia. "desiran halus terdengar berbisik ditelinga ku.


__ADS_2