
******
" Gilang janji Gilang bakal jagain bunda ayah kita pulang baleng ya itu bunda udah dekat. " bocah itu tersenyum gembira
degh
ayah?? apa mungkin gentara menampakkan wujudnya pada Gilang
" Gilang ngapain disitu nak ayo pulang. "anak itu berbalik menatap ku kemudian kembali melihat pohon asem dia celingukan seperti mencari sesuatu
" bunda tadi ada ayah disini kok sekalang ngak ada ayah udah pulang duluan ya bun?. "lagi dan lagi Gilang menyebut-nyebut ayahnya
" Gilang kan udah denger kata Pak Yai kita ngak mungkin bisa bersama - sama dengan Ayah mu kamu mungkin bisa melihatnya tapi bunda dan nenek ngak bisa. "tuturku perlahan agar tidak melukai perasaan nya.
" oh iya ayah kan bukan manusia ya bun? "Gilang berucap kemudian menundukkan kepalanya berjalan mendahului ku perih sekali hatiku melihatnya
__ADS_1
suatu saat kamu akan mengerti nak apa yang terjadi pada hidupmu. batinku
sudah sore aku dan ibu memasak untuk makan malam Gilang sedang asik bermain dihalaman depan, aku menghampiri untuk melihat kedepan takut ada sesuatu yang terjadi pada Gilang
" kamu kok ngak mati aja ikut sama bapak mu yang setan itu sana. "
" iya kamu kan ngak normal kepala kamu aja bisa mengeluarkan tanduknya."
" coba tunjukin lagi tanduk mu kita ngak takut nanti kita bacain ayah kursi biar kamu kepanasan. ".
cacian lagi, ku percepat jalanku sampai diambang pintu aku melihat beberapa anak-anak berkumpul didepan rumah ku entah siapa saja yang tadi menghina Gilang.
Gilang hanya diam air matanya sudah membasahi pipinya yang sedikit chubby.
" kalian itu mau apa? apa kalian ngak pernah diajarin sopan santun sama orang tua kalian, kalian seenaknya menghina orang lain apa kalian pikir kalian lebih baik dari Gilang. sifat kalian yang suka mencela lebih buruk dari sekedar anak setan. "kesabaran ku sudah habis jika terus dibiarkan mereka pasti akan selalu menghina Gilang
__ADS_1
" sekali lagi saya dengar hinaan dari mulut kalian akan saya pukul kalian, akan saya suruh genderuwo buat makan kalian. "aku menggertak anak-anak itu lari henyak dari hadapan ku yang mulai murka
" bun....bunda."aku menatap panggilan itu kulihat mata nya yang telah basah aku terduduk lemah disamping nya.
" maafin bunda Gilang karena keputusan bunda merawat mu kamu harus menerima segala hinaan itu, bunda sudah terlanjur sayang sama Gilang. " aku menangis bersimpuh kurasakan pelukan nya Gilang ku memeluk ku dengan hangat
" Gilang sayang bunda maaf karena Gilang sudah menjadi beban bunda jangan marah-marah Gilang ngak peduli sama omongan mereka, Gilang anak bunda. Gilang manusia sama kayak bunda kan. "ku anggukkan kepala mu Gilang tersenyum dan kembali memeluk ku
" Gilang bunda mau bicara Gilang mau ngak bunda masukin ke pondok Pak Yai biar Gilang belajar agama disana biar ngak ada yang menghina Gilang lagi. " ku usap pipi nya berusaha agar Gilang memahami apa yang aku ucapkan dengan baik.
" pondok itu apa bun.? "
" pondok itu tempat belajar agama dan kedisiplinan nanti kalau Gilang agama nya baik Gilang bisa jadi manusia seutuhnya kayak bunda, kita bisa Sama-sama trus karena kalau agama Gilang ngak baik Gilang akan dibawa ayah, nanti Gilang pisah sama bunda. "menuturkan penuh hati-hati kembali bulir bening menetes dari pelupuk mataku.
#segini dulu y kak, InsyaAllah bsok saya akn up lgi 😁
__ADS_1
dan yang udah dukung cerita ini makasih