
*****
semakin deras aku merasakan darah yang terus mengalir membasahi kaki ku.
"astaghfirullah, kamu kenapa nduk ya Allah dara. kenapa banyak sekali darah. " ibu yang tersenggol badanku pun terbangun, ibu membantu menyenderkan tubuh ku agar setengah duduk.
" sa..sakit bu, pe..rut dini sakit. "suara ku masih sedikit tertahan tercekat menuturkan kesakitan pada ibu
" dini yang kuat ya, sebentar ibu cari pertolongan dulu kita ke puskesmas ya nduk. "aku yang mulai melemah hanya bisa mengangguki perkataan ibu. ibu bangun dan beranjak keluar, masih dengan menahan merasa sakit air mata mengalir tanpa henti. tak berselang lama ibu kembali bersama kedua tetanggaku
" tolong dibantu pak tolong anak saya. "pinta ibu pada kedua tetanggaku
" ayo pak toto kita bawa neng dini kerumah sakit, ibu isyah tolong bukakan pintu mobilnya bu. "bergegas ibu keluar membukakan pintu mobil milik pak dewo. badan ku digotong memasuki mobil bagian belakang.
__ADS_1
mobil terus melaju jalanan yang Lenggang seharusnya dapat memudahkan laju mobil dengan cepat, pak dewo sudah memacu kecepatan yang tinggi. tapi laju mobil bergerak sangat lambat seolah-olah mengangkut beban yang sangat berat. padahal hanya kami berempat yang berada dalam mobil.
setelah memakan waktu satu jam yang seharusnya tiga puluh menit, akhirnya mobil yang kutumpangi memasuki pelantaran puskesmas. masih seperti tadi aku masih belum bisa berjalan karena rasa nyeri yang masih terasa. akupun di gendong untuk masuk ke puskesmas.
" tolong periksa keadaan anak saya bu dokter. "ucap Ibu khawatir
" rebahkan disini pak, baik saya periksa dulu ya. sebaiknya bapak dan ibu tunggu diluar. " aku di rebahkan di ruang pasien dengan telaten dokter memeriksa keadaan ku. entah mengapa sesampainya di puskesmas rasa nyeri yang tadi kurasakan berangsur membaik.
" pasien sebelum nya makan apa buk? kok sampai pendarahan seperti ini? untung janin nya kuat sehingga tidak sampai terjadi keguguran. "kata dokter yang memeriksa ku tadi
penuturan dokter itu membuat badanku seakan tersambar petir. bagaimana tidak aku gadis yang belum mempunyai menikah, bagaimana mungkin ada janin dalam perut ku, aku bahkan tidak memiliki teman pria. lalu anak siapa aku kandung ini?.
" maaf bukan dokter apa ibu ngak salah memeriksa anak saya, coba diperiksa sekali lagi bu anak saya bahkan belum menikah. " mendengar penuturan dokter tadi tangis ibu yang mereda kini deras kembali. wajah yang teduh penuh dengan air suci yang keluar dari pelupuk matanya.
__ADS_1
" maaf Bu tapi saya sudah mengecek detak jantung cucu ibu, dan detak jantung nya normal disini tidak ada alat USG. mungkin ibu bisa melakukan USG nanti pagi untuk lebih memastikan jika menurut ibu saya salah.
" tapi bagaimana mungkin bu dokter anak saya belum menikah, dan belum melakukan hubungan itu. "
" sebaiknya ibu bicarakan baik-baik tanyakan pada anak ibu, apakah anak ibu pernah melakukan hubungan terlarang. saya permisi dulu, nanti saya ambilkan obat untuk mengurangi rasa nyeri pada perut anak ibu, permisi. "
" baik terimakasih dokter. "
*******
" dini jujur sama ibu apa kamu pernah melakukan hubungan terlarang bersama pacar mu?. "tangis ibu semakin menjadi begitu pun dengan tangisku mendengar pertanyaan ibu tentang janin ini.
" Demi Allah bu dini tidak pernah melakukan itu dini juga tidak memiliki pacar atau teman pria. ibu taukan dini seharian bekerja, pulang bekerja juga hanya dirumah tidak pernah kelayapan kemana-mana. " aku menggengam tangan ibu meyakinkan kalau aku memang tidak melakukan.
__ADS_1