Suamiku Genderuwo

Suamiku Genderuwo
episode 11


__ADS_3

******


" sampai kapan ini berakhir bu, perutku juga semakin membesar para ustadz yang akan membantu malah mengalami kecelakaan. ya allah aku malu meminta pertolongan mu, tapi aku mohon tolonglah aku. "batinku menengadah memohon pertolongan sang Pencipta.


sudah pukul sepuluh malam tapi paman belum kunjung datang. aku dan ibu menunggu dengan cemas, sedari tadi indra pendengaran ku dan ibu menangkap sejumlah suara bantingan atau lemparan sebuah benda. tapi tidak satu pun benda terjatuh dirumah.


ketukan pintu sedikit melegakan perasaan kami, ibu bergegas membukakan pintu, aku menyusul dibelakang nya. aku keluar rumah dengan tergopoh-gopoh, sedikit kesusahan berjalan akibat semakin membuncit nya perutku. ternyata paman yang datang bersama kedua orang yang sama-sama berpakaian serba hitam


" silahkan masuk, ini anak saya dini mbah. "ibu menyapa dan menarik pergelangan tangan ku mendekati kedua orang yang di panggil mbah itu.


" jehh bu saya sudah tau, tolong siapkan kopi hitam tanpa gula dan kameyan, jangan lupa ayam cemani tadi segera disembelih dan di tadahi darahnya. siapkan semuanya sesegera mungkin kita harus segera melakukan ritualnya. bu tolong panggil bidan atau dukun beranak, bayi dalam perut anak Ibu harus segera di keluarkan. "paman bergegas keluar bersama satu orang yang mungkin asisten mbah yang tadi berbicara.

__ADS_1


aku dan ibu saling bertatapan kemudian ibu mengangguk pada ku, seperti nya ibu menyetujui permintaan mbah. lalu ibu pergi kedapur untuk menyiapkan kopi dan kameyan setelah itu ibu pergi ke rumah mbok ijah dukun beranak dikampung ku.


sedangkan aku hanya duduk di hadapan mbah, mulut nya mulai berkomat-kamit matanya menyusuri setiap sudut rumah entah apa yang sedang ia cari.


" konsentrasi nduk mahluk itu sedang mengawasi mu jangan melamun! "


deghh!


ibu datang bersama mbok ijah, tatapan mbok ijah penuh iba padaku. mungkin sudah ibu ceritakan semua keadaan ku padanya.


" sing kuat ya cah ayu, seng sabar, ikhlas nglakoni cobaan mu. " mbok ijah berucap dan tersenyum mengelus rambut ku

__ADS_1


semua persyaratan sudah siap kopi hitam pahit, darah ayah cemani, kameyan dan bunga setaman yang sudah disediakan. ritual dilakukan didalam rumah, aku di rebahkan diatas tikar badanku ditutup oleh jarik.


posisi nya persis seperti wanita yang hendak melahirkan, mbok ijah sudah diposisi nya didepan kedua kakiku. yang sudah dikangkangkan, ibu menggenggam erat jemariku dari arah samping.


kameyan sudah dinyalakan mulut mbah mulai berkomat-kamit membacakan mantra, satu tangan memegang perutku tangan yang lain digunakan untuk memegang keris. hawa dirumah mulai berubah pengap, seperti tidak ada sedikit pun udara yang masuk.


semakin panas aku merasakan tubuhku seperti terbakar. perutku menonjok-nonjok aku merasakan mulas yang luar biasa,hawanya semakin panas. terdengar sebuah erangan sangat keras dan penuh penekanan.


aku melihat gentara dengan wujud pria tampan itu, dia tersenyum melambai-lambai kearah ku. melihat senyumnya rasa nyeri pada perutku mulai mereda, aku yang mencintai wujud pria tampan nya semakin terpesona melihat senyumannya. tangan nya terulur seperti hendak mengajak ku kesuatu tempat.


aku yang menjabat uluran tangan nya, seketika tangan ku ditepis oleh tangan mbah yang sebelumnya memegang perutku.

__ADS_1


__ADS_2