
*******
" lalu harus bagaimana pak Yai? tolong bantu kami pak. " bola mata ibu sudah berkaca-kaca, pelupuk matanya hampir saja tak kuat membendung tangisnya.
" saya akan bantu sebisa saya bu, nanti setelah Isya saya akan datang ke rumah ibu. dan nak dini jangan tinggalkan sholat, ibadah adalah benteng terkuat untuk menghalau mahluk gaib. "kyai Shodiq mendekati ibu kemudian memegang kening bayiku, seketika bayiku menangis, kencang sekali entah apa yang terjadi kembali wajah menyeramkan bayi itu muncul.
bola mata ibu hampir keluar, menyaksikan pemandangan yang mengerikan tepat didepan wajah nya. namun ketika tangan pak kyai lepas wajah bayi ku kembali seperti semula.
" jangan takut bayi mu tidak akan berubah wujud sampai saya datang, dia kelaparan berikan asi mu padanya. dia tidak akan menghisap darah mu lagi gendonglah anakmu. "
Ibu menyodorkan bayi ku, dengan perasaan takut aku mengambil bayiku. hanya hitungan detik bayi mungil itu telah berada dalam gendongan ku.
__ADS_1
lalu kami berpamitan untuk pulang, waktu baru pukul empat sore tapi suana diluar sudah mulai gelap. karena mendung angin sedikit kencang aku dan ibu mempercepat perjalanan kami.
jalanan yang sepi berhasil membuat suana semakin menyeramkan. di ujung jalan ada sebuah pohon asem tinggi dan besar. sejak aku kecil pohon itu tempat aku bermain entah sudah berapa puluh tahun umur pohon itu.
semakin mendekati pohon asem angin semakin berhembus kencang. bau bangkai menyeruak mengganggu pernapasan, perut seakan terkocok hendak mengeluarkan isinya.
sekelebat bayangan hitam bersembunyi dibalik pohon besar itu. tidak terlalu jauh jarak ku dengan pohon itu aku melihat dengan jelas. gentara dengan wujud genderuwo nya duduk diatas pohon dengan tatapan tajam kearah ku. bau busuk yang kucium ternyata berasal dari lidahnya yang menjuntai. tetesan darah yang mulai menghitam, keluar dari ujung lidahnya.
" apasih nduk, kamu lihat apa? " Ibu tidak melihat apa yang ku lihat, gentara hanya menampakkan keberadaannya padaku. bau busuk itu Ibu pun tidak bisa mencium nya. aneh!!!
kembali ku menoleh ternyata genderuwo itu sudah tidak berada disana, angin kembali tenang aku menggandeng tangan ibu dan bergegas pergi menjauhi pohon besar itu.
__ADS_1
sesampainya dihalaman rumah, aku melepaskan genggaman ku baru tiga langkah setelah genggaman terlepas aku berbalik dan tidak kutemukan keberadaan ibu. lama-lama terdengar suara langkah kaki, ku lihat ibu sedang berlari menghampiri ku.
" kamu kenapa nduk? kok jalannya sambil lari, ninggalin ibu lagi."dengan nafas yang tersenggal-senggal aku bisa memastikan bahwa ibu mengejar ku sedari tadi
deghh!
jika tadi bukan ibu yang ku gandeng lantas tangan siapa yang kugenggam sedari tadi?
" di..dini kan tadi gandeng tangan ibu, kenapa ibu baru sampai? lalu yang dini pegang tadi tangan siapa? " tidak bisa disembunyikan kepanikan ku benar-benar membuat ibu terheran.
" ngomong apasih kamu nduk, kamu nunjuk-nunjuk pohon asem trus lari gitu aja. sampai capek ibu ngejar kamu, takut bayimu jatuh bagaimana. "
__ADS_1
" tadi dini gandeng tangan ibu dan dini ngak lari kok dini jalan." aku memberi pembelaan karena memang sedari tadi aku hanya berjalan tidak berlari seperti yang ibu katakan.