
********
" dekatkan diri pada Allah memohonlah ampunan atas lisan yang mudah mencela sesungguhnya tidak ada yang lebih sempurna jika masih sesama manusia, kita semua sederajat bu, mari masuk nakal dini, bu isyah. "aku dan ibu masuk kedalam mereka hanya diam tanpa menjawab perkataan Pak Yai, kemudian kami sudah duduk dan sudah tersedia minuman diatas mejanya.
" Pak Yai saya sudah sangat berdosa memilih untuk merawat Gilang kemudian berusaha memusnahkan nya saya ngak sanggup lihat Gilang dihina terus menerus. "luruh aku tak kuat menahan gejolak amarah dan kesedihan dalam hatiku.
" saya mengerti perasaan nak dini, kamu minumkan abu gentara pada Gilangkan? dan kemudian kamu menyesalinya. disitu sudah terletak cinta pada anakmu teguhkan kembali pendirian mu, biasakan telinga mu mendengar caci dan maki sampai akhirnya kamu tidak lagi mengambil hati atas ucapan mereka. "
" iya...tapi Gilang ku tidak musnah aku bersyukur masih diberi kesempatan untuk menyanyinya tapi aku heran Pak Yai kenapa.? "
" gentara masih melihat kalian namun alam nya sudah tidak bisa menembus alam mu, dia lihat cinta mu kepada keturunan nya dia tidak akan bisa mengganggu kalian. kau juga takkan bisa kembali melihatnya namun akan ada saatnya Gilang melihat gentara karena darah gentara mengalir pada tubuh Gilang. "
__ADS_1
" gentara yang menghendaki abunya tidak berfungsi pada Gilang karena dia melihat kau sangat menyesal melakukannya, boleh aku lihat keris yang kau temukan, jiwa gentara keluar bersama keris itu. "aku bahkan belum berkata apapun tentang keris itu, Pak Yai sudah mengetahui nya kuberikan keris itu pada Pak Yai.
" Gilang gentara adalah nama ayahmu beliau memang bukan manusia utuh seperti ibu mu, jangan berkecil hati jika banyak yang menghinamu. karena sesungguhnya semua manusia itu sama kamu harus belajar agama yang rajin dan pintar jika ingin hidup normal bersama ibumu jika tidak..... "Pak Yai menjeda ucapan nya
" jika tidak kenapa Pak Yai.? "aku bertanya penasaran karena Pak Yai tak kunjung melanjutkan ucapan nya.
" gentara akan membawa Gilang bukan sebagai anak tapi sebagai budak."
" ayahku setan ya pak? apa aku juga setan? kata meleka aku bisa mencelakakan orang,aku tidak mengerti. "kini bocah polos itu bertanya perihal ayahnya
" ayah mu memang bukan manusia tapi kamu manusia kamu keturunan ibu mu, itu sebabnya kamu harus belajar agama biar ngak sama kayak ayah mu. Andini apa ngak lebih baik Gilang saya masukkan ke pondok saya? saya tau kamu bisa mengajarkan agama padanya, tapi saya melihat kekuatan yang kuat masih menyelimuti sekeliling Gilang auranya masih menghitam.
__ADS_1
" saya pasrah Pak Yai saya hanya ingin Gilang hidup normal mungkin memang lebih baik di pondokkan agar Gilang tidak mendengar hinaan disekitarnya, saya percaya pada Pak Yai. "
" nanti kalian beri Gilang pemahaman dulu berikan pengertian pada Gilang agar dia tidak merasa dibuang. " usai pertemuan itu kami berpamitan untuk pulang
syukurlah perjalanan pulang tidak terlalu banyak menemui warga hatiku sedikit lega karena tidak lagi mendengar hinaan seperti perjalanan tadi.
" bunda itu ayah ya... ayah. "Gilang berlari melepaskan gandengan ku pergi menuju pohon asem itu
" Gilang jangan lari nak. "aku berteriak berusaha menghentikan nya
" bu siapa katanya? ayah? ya Allah bu. "aku berlari mengejar Gilang ibu berusaha mengejar ku semakin dekat dengan Gilang aku mendengar Gilang berbicara entah dengan siapa.
__ADS_1