
********
" ngapunten mbak din, mbok nuwun pamit. malam sudah semakin larut. semoga kamu bisa segera mengakhiri dan kembali hidup normal ya nduk. "
" nyuwun ya mbok, tolong masalah ini dirahasiakan dulu kasihan dini mbok. "pinta ibu
" njeh saya mengerti, segera bawa dini untuk dirukiyah mbak! ngak baik kalau berkelanjutan. takut nanti dini ngak bisa bersuami. "ucap mbok ijah sedikit berbisik, entah apa yang mereka bicarakan,aku tidak peduli aku sedang sibuk menimang bayi ku.
ibu mengantar mbok ijah sampai pintu depan,kedua wanita paruh baya itu masih berbicara didepan pintu. hingga akhirnya ibu kembali masuk
" jaga anak kita sayang jangan sakiti dia atau kamu yang akan celaka. "gentara kembali mengancam,suara nya halus namun penuh penekanan.hingga suara nya hilang bersama angin yang berlalu
" apa yang harus dini lakukan pada anak ini bu? "
__ADS_1
" kita rawat dulu sekarang besok kita cari pengobatan lagi. agar kamu benar-benar terlepas dari genderuwo itu. "
karena sudah semakin larut, akhirnya kami tidur bertiga bersama bayi mungil ini. biarlah besok dipikirkan kembali untuk malam ini semoga tidak terjadi hal-hal yang menakutkan.
******
pagi menyapa matahari masih malu-malu menampakkan cahaya nya. ibu masih mulas tertidur, bayi mungilku menggeliat. masih terlalu pagi aku berjalan perlahan hendak membersihkan badan kekamar mandi. sambil berpegangan pada tembok aku tidak merasakan sakit hanya badanku yang terasa sangat lemas.
usai membersihkan badan lama-lama terdengar suara tangis bayi. segera aku bergegas menyelesaikan keperluan ku dikamar mandi. benar saja kulihat ibu sedang menggendongnya berusaha menenangkan bayiku yang semakin kencang menangis.
" bagaimana caranya buk. "aku yang sama sekali tidak mengerti bagaimana cara mengasuh anak. perlahan dibantu oleh ibu, aku mencoba memberikan asi ku pada bayi mungil ku.
" aauuwww kok sakit bu? "setelah mulut bayi itu menyentuh put*ngku aku merasa nyeri rasanya seperti tertarik sesuatu.
__ADS_1
" wajar nduk lanjutkan saja, setiap pertama memberi asi pasti sakit. tapi nanti akan terbiasa. "begitu kata ibu aku coba bertahan menahan sakitnya cukup lama bayi ini menghisap asi ku.
" apa asi ku sudah keluar, kenapa semakin lama semakin sakit. "batinku menerka, perlahan kucoba melepaskan hisapan nya.
aku berteriak ketika bayi itu melepaskan hisapan nya. bukannya asi nya yang mengucur. melainkan darah segala yang mengucur dari payudaraku, mulut bayi itu penuh dengan darah.
wajah yang semula menggemaskan nanti lucu seketika berubah, mulut nya tersenyum menyeringai menggangga lebar hampir menyentuh telinga nya. matanya merah padam dan kembali kepala itu mengeluarkan tanduk.
aku yang terkaget hampir saja menjatuhkan bayi itu. untung ibu yang mendengar teriakan ku segera datang dan mengambil bayi itu. setelah bayi itu dalam dekapan ibu wajahnya kembali seperti semula.
" kenapa nduk.? "ibu terus menenangkan bayi ku yang hampir menangis.
" ba..bayi itu menghisap darah bu. "aku semakin mundur menjauhi bayi itu, badanku gemetar hebat melihat wujud bayi yang mungil itu. berubah seperti wujud asli gentara
__ADS_1
" kamu ada-ada aja, kasihan anak mu yang masih lapar. "Ibu mulai mendekatkan bayi itu lagi,aku beringsut semakin mundur.
" ngak mau bu, anak itu menghisap darah dini. mu..mulut bayi itu penuh sama darah. "