
Hai maaf ya jarang sekali update saya berusaha memutar otak untuk mempersingkat konfliknya dan tidak tarik ulur lagi ini sudah saya usahakan yang terbaik untuk jalannya cerita ini.
Selamat membaca.....
Sejak hari itu Ava merasa selalu diawasi dari kejauhan bahkan ia sempat bertanya apakah Aydan mengikutinya selama ini? Namum jawaban Aydan membuat Ava syok.
"Tidak. Aku bahkan gak ada waktu keluar rumah waktuku ku habiskan di dalam rumah", jawab Aydan dingin. Tentu Ava awalnya gak percaya mengingat sifat Aydan yang sensitif dan overprotektif terhadapnya tapi nyatanya ada hari dimana ia hanya berjalan berdua dengan Aydan ke warung sosok itu mengawasi dan mengikutinya.
"Jika bukan Aydan terus siapa yang mengikuti gue?", gumam Ava ketakutan bersembunyi di dalam selimutnya.
Aydan yang melihat itu berjalan mendekati Ava.
"Jika lo setakut itu gue akan menyingkirkannya dengan satu syarat", kata Aydan sambil menyodorkan selembar kertas kontrak.
"Apa ini? Bukankah kontrak kita menikah hingga lulus? Kenapa? Apa ada syarat yang lo tambahkan?", tanya Ava sambil mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti.
"Satu tahun. Masa kita menikah hanya satu tahun lo hanya tanda tangan cuma itu sisa syaratnya masih berlaku jika kedepannya ada kejadian tak terduga gue tanggung jawab lo hanya perlu bersandar pada gue hingga kita berpisah", kata Aydan seakan ia tahu maksud ada kejadian tak terduga.
"Gue gak masalah malah bagus oke gue tanda tangan cuma ini kan syarat tambahannya? Gak ada yang mau di tambahkan lagi?", kata Ava sambil mendatangani kontrak pernikahan yang baru.
__ADS_1
"Hanya satu", gumam Aydan. "Hah? Apa?", tanya Ava sambil mengerutkan kening.
"Hanya satu. Setelah satu tahun jangan datang lagi padaku karena saat hari itu tiba gue udah gak ada lagi dan lagi ini hanya dugaan gue lo jangan percaya Fera dan ingat taruhan kita lo harus putus dengannya kalau gue menang kalau gue kalah gue gak ada hak lagi larang lo hanya saja gue mau lo hidup bahagia dari sekarang apapun terjadi lo jangan pernah menangis atau sedih, lo paham? Kebenaran akan segera terungkap", jelas Aydan lalu mengambil kertas itu kembali dan pergi meninggalkan Ava yang mematung di tempat.
"Dia kenapa? Berbicara seolah-olah akan pergi jauh untuk selamanya", pikir Ava dan seketika ia menepuk kedua pipinya dan bertekad itu semua hanya pesan saja dari Aydan sebelum bercerai tahun depan.
Di rumah sakit
"Putraku bisa sembuh kan dok?", tanya wanita paruh baya dengan tatapan penuh harapan.
"Saya sudah katakan pasien harus operasi untuk selamat tetapi sampai sekarang belum ada pendonor jantung", ucap dokter yang menangani Aydan(Aydan yang di maksud Aydan adiknya Richard yang saat ini menyamar menjadi Aydan).
Dari kejauhan Arsyid mengepalkan tangannya menahan amarah tiba-tiba ada seseorang menepuk pundaknya dengan pelan.
"Jika kau maju kau juga akan dibenci jadi sebaiknya jangan kau lakukan aku tidak apa-apa dan terima kasih atas semuannya", katanya dengan lembut menatap Arsyid.
"Kak Richard tapi aku-", Richard melempar senyum penuh arti Arsyid yang paham maksudnya hanya mengangguk paham dan memeluk kakaknya itu.
"Entah kenapa perasaan dan naluriku berkata kalau tidak akan lama lagi Richard akan pergi jauh dan aku gak bisa menghentikannya", pikir Arsyid sambil menggelamkan wajahnya erat dalam pelukan yang hangat itu.
__ADS_1
Di lain tempat
"Kapan saya bergerak?"
"Tunggu saja waktunya saat waktunya datang kamu bisa mempermainkan dan melakukan apapun sesukamu pada Ava"
"Tentu saja gadis muda itu walau sudah menikah namun ia belum tersentuh oleh suaminya"
"Aku menantikan hasilnya"
"Kalian hanya perlu duduk manis saja saya yang akan melakukannya"
Mereka tersenyum dan tanpa di sadari ada dua orang yang sedang mengintai.
"Kita harus laporkan Ava dalam bahaya"
Sebagai info aja cerita ini hampir mendekati ending karena saya sudah mempersingkat alur dan konfliknya supaya gak terlalu panjang dan mohon maaf jika ada kesalahan kata dan terima kasih.
See you...
__ADS_1