
Maaf telat update satu bulan ini lagi dikejar deadline tugas kampus btw selamat menuaikan ibadah puasa(bagi yang muslim)🙏
So, selamat membaca...
Di kampus saat jam istirahat terlihat Fatiha dan Rima tengah berjalan kearah kantin kampus namun tiba-tiba seseorang tidak sengaja menabrak Rima hingga terjatuh.
"Maafkan gue, lo gak papa?", katanya sambil mengulurkan tangan sebagai bantuan. Rima meraihnya dan berdiri sambil berkata tidak apa-apa.
"Lo mau kemana buru-buru banget?", tanya Rima sambil mengambil buku-buku yang berserakan dilantai.
"Gue mau ke perpus mengembalikan buku-buku", jawabnya gugup dan Fatiha menawarkan bantuan untuk membawa buku-buku itu ke perpustakaan.
"Terima kasih banyak", katanya sambil membungkuk sedikit dan Fatiha dan Rima hanya tersenyum.
"Nama gue Rima dan ini Fatiha, siapa nama lo?", tanya Rima. Saat ini mereka dalam perjalanan ke perpustakaan.
"Dinda salam kenal", jawab Dinda gugup.
"Santai aja kali ama kita yuk ke kantin bareng-bareng", ajak Rima sambil menarik tangan Dinda.
Disisi lain terlihat Fera tersenyum saat melihat Dinda berhasil mendekati Fatiha dan Rima.
"Sesuai rencana gue", gumam Fera sambil tersenyum.
Di kantin
"Siapa ni yang lo bawa?", tanya Billy saat melihat Dinda disamping Rima.
"Oh dia Dinda dia bakal jadi circle kita mulai sekarang gak ada penolakan", jawab Rima tegas lalu Billy mengangguk paham dan memperkenalkan diri dan seterusnya.
Para cewek asyik bercekrama dan para cowok asyik dengan obrolan mereka namun lain halnya Aydan.
"Kenapa kak? Kok kakak kek kurang suka sama Dinda?", tanya Arsyid sadar jika kembarannya daritadi diam seribu bahasa.
"Gue punya firasat gak enak sama Dinda", jawab Aydan sambil ngelirik Dinda.
"Lah elah cuma firasat doang tapi gue juga ngerasa hal yang sama sih...", kata Billy yang juga ragu pada Dinda.
__ADS_1
"Untuk saat ini kita awasi saja", gumam Aydan dan Arsyid serta Billy setuju usulan tersebut.
"Eh, nanti kami mampir ke rumah liat si bumil ya", kata Rima girang sambil melihat kearah Aydan seolah meminta persetujuan.
Aydan menghela nafas dan mengangguk melihat hal itu Rima makin bersemangat.
"Bumil? Siapa yang hamil?", tanya Dinda.
"Ava yang hamil udah 6 bulan padahal Ava boleh lanjut kuliah tetapi si calon bapak satu ini melarang dasar posesif", gerutu Rima.
"Pulang kampus ayok jengukin si bumil", kata Fatiha dan mereka setuju.
Pulang kampus
Mereka berkunjung ke rumah pasutri satu ini(Ava&Richard).
Saat mereka masuk Ava terlihat bingung ada orang lain datang.
"Kenalin Dinda dia bakal ikut circle kita mulai sekarang", kata Rima sadar jika Ava sedaritadi memerhatikan Dinda.
"Udah berapa bulan? Udah ketahuan gak jenis kelaminnya?", tanya Fatiha penasaran sambil mengelus perut Ava yang buncit.
"Udah 6 bulan jalan 7 bulan kalau gak salah perhitungan minggu depan lalu soal cowok atau cewek sih masih rahasia hehehe..", jawab Ava sambil tersenyum.
"Auk ah main rahasia-rahasia ntar pas lahir bakalan tahu juga", kata Rima sambil menggembungkan pipi.
Setelah itu mereka asyik bermain dan menebak-nebak jenis kelamin bayi Ava dan Richard.
Disisi lain para cowok di dapur tengah asyik menyeruput kopi dan makan biskuit.
"Tenang aja bro gue yakin kalau Dinda baik kok", kata Billy sambil meminum kopinya.
"Tapi lo sendiri gak yakin kan?", tanya Richard menatap Billy tajam sadar akan hal itu Billy mau tak mau mengakuinya.
"Gue gak bisa percaya sepenuhnya sama Dinda gue yakin dia mata-mata Fera", kata Richard.
"Kak ada yang mau ku tanyakan" kata Arsyid serius dan Richard menatap Arsyid seolah bertanya "apa".
__ADS_1
"Kakak pasi gak mau merubah keputusan buat mendonorkan jantung kakak ke Aydan kan?", tanya Arsyid penuh tekanan.
"Iya"
Jawaban singkat itu menggertakan hati Arsyid hingga tak bisa berkata apa-apa sekarang begitu juga dengan Billy saking syoknya ia sama sekali tak bergeming sedikit pun.
Lalu tiba-tiba para cewek mengajak main mereka sampai puas.
Yah, setelah obrolan itu mereka bertiga tidak mengungkitnya lagi karena gak ada gunanya Richard sangat keras kepala ia takkan pernah mengubah keputusannya.
Mereka bermain sampai hari menjelang malam satu per satu mereka pamit pulang.
"Tadi itu mengasyikan andai lo gak melarang buat kuliah tapi aku tetap nurut", kata Ava terlihat bahagia.
"Maaf tapi beginilah sikapku Ava gue gak sabar kelahiran bayi kita", bisik Richard sambil memeluk Ava dari belakang dan mengecup bagian leher Ava dengan lembut. Hal itu membuat wajah Ava saat ini memanas seperti kepiting rebus.
"Dasar bucin", pikir Ava dan berbalik mencium Richard.
Richard terkejut Ava tiba-tiba menciumnya namum perlahan Richard membalas ciuman itu dengan lembut diikuti tangan Richard memeluk pinggang Ava dan mengangkat tubuh Ava ke dalam kamar.
Di rumah Dinda
"Halo Fera aku udah dapat kabar Ava"
"Bagaimana?"
"Ava saat ini hamil minggu depan kandungannya memasuki 7 bulan"
"Bagus kerja bagus sudah aku tranfer setelah ini terserah lo mau bagaimana hidup bukan urusan gue"
"Baik tapi lo bakal ngelakuin apa?"
"Bukan urusan lo udah lo bakal tahu seminggu lagi"
Setelah itu sambungan telepon putus.
Bersambung...
__ADS_1