
Selamat membaca...
Di luar gedung kosong itu mereka melihat sosok pria dewasa dibawa oleh pihak kepolisian.
"Kenapa lo gak bilang kalau abang lo seorang polisi?", tanya Rima sedikit kecewa.
"Hehehe maaf tapi masalah cepat selesai kan?", kata Fatiha mengalihkan topik.
"Dasar iya juga sih", kata Rima sambil tersenyum tipis.
Ava keluar sambil di gendong oleh Richard.
"Kenapa lo Va? Eh? Baju lo kenapa jadi gitu dah?", tanya Rima kaget melihat Ava di gendong oleh Richard ditambah pakaian Ava berbeda dari sebelumnya.
Ava malu dan menggelamkan wajahnya dalam pelukan Richard(maksudnya Ava di gendong bagian depan lalu Ava memeluk Richard supaya gak jatuh).
"Ulah Richard mah itu tadi mereka udah ngelakuin ITU", kata Billy tiba-tiba muncul ntah darimana.
"Hah?!", semuanya kaget bukan main mereka kira pria tadi yang melakukannya.
"Gue gak bakal ngelakuin kalau pria tadi tidak menyentuh Ava gak lucu gue sebagai suami sah ngebiarin orang lain yang melakukan itu dengan Ava gue yang nahan nafsu eh dia yang enak-enakan enak aja", jawab Richard dan pergi berlalu begitu aja tanpa menghiraukan teriakan Billy.
"Apa bakal JADI gak ya?", kata Arsyid seperti berharap sesuatu.
"Jadi apa?", tanya Fatiha sambil memiringkan kepala menatap Arsyid yang lain pun begitu.
"Keponakan gue bakal lahir gak ya? Richard termasuk subur loh", jawab Arsyid dengan tampang polosnya.
Teman-temannya kehabisan kata-kata tidak tahu mau jawab apalagi namun disisi lain mereka juga berharap hal yang sama.
"Gue lebih berharap keluarga kecil mereka bahagia Richard sudah banyak menderita dan Ava kali ini semoga menerima Richard", kata Billy dan disetujui Arsyid.
"Juga dua pengkhianat itu dapat karmanya gue belum puas kalau mereka masih hura-hura setelah apa yang telah mereka perbuat", ucap Rima berapi-api.
__ADS_1
"Gue setuju, tapi apa kakak bakal bertahan hidup kedepannya? Gue takut disaat mereka di tengah kebahagiaan kak Richard harus pergi meninggalkan Ava", kata Arsyid sambil memandang langit yang mulai gelap.
"Kita pastikan itu gak bakal terjadi bagaimana pun mereka berhak bahagia gue gak bisa membayangkan akhir yang buruk bagi mereka", kata Fatiha tetap optimis.
"Makasih ya kalian semua berteman dengan kalian semua gak buruk juga", kata Arsyid sambil tersenyum cerah dan mereka semua berpelukan dan sepakat membuat kenangan bersama-sama.
"Harusnya mereka gak pulang dasar", kata Billy kecewa.
"Besok ayo culik mereka mumpung libur", seru Rima dan yang lainnya pun setuju.
Sementara itu pasutri
"Ava", panggil Richard dan Ava berbalik dan bergidik ngeri karena saat ini Richard menatap Ava dengan tatapan hewan liar yang siap menerkam Ava kapan saja.
"Ayo lanjutkan yang tadi kali ini gue akan melakukannya lebih lembut lagi tapi maaf lo gak bisa tidur nyenyak", kata Richard dengan senyum khasnya.
"T-tapi kita perlu bicara jadi p-pppelan-pelan aia ya sayang", kata Ava terlihat pasrah.
"Gak usah takut mari lupakan semuanya ya gue capek berdebat denganmu selama ini jadi menurutlah kali ini", bisik Richard dan Ava pun mengangguk mengerti.
"Kenapa?", tanya Richard sambil menatap Ava yang tiba-tiba terdiam.
"M-maaf untuk semuanya gue minta maaf atas perilaku gue ke lo selama ini", kata Ava sedikit takut menatap Richard saat ini.
Karena tidak di respon Ava memberanikan diri menatap Richard namun ia terkejut saat ini cowok yang berstatus suaminya menatap intens dirinya.
"Boleh?", tanya Richard yang membuat Ava bingung maksudnya.
"Seperti kataku tadi malam ini lo gak bakal tidur nyenyak mari lupakan semuanya malam ini turuti gue kalau lo gak mau berakhir di gudang lagi atau lebih dari itu gue gak bakal jamin", kata Richard mendekat ke arah Ava.
"I-iya boleh sesuai perkataanmu gue bakal nurut untuk seterusnya dan gue punya permintaan", kata Ava.
"Apa itu?", tanya Richard.
__ADS_1
"Batalkan kontrak pernikahan kita gue mau jadi istri lo seumur hidup dan berjanjilah padaku lo gak bakal pergi apapun terjadi lo harus sembuh", kata Ava sambil meneteskan airmata.
Perasaan yang sedaritadi ia tahan tak kuasa menahannya lagi Ava pun menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Richard yang terdiam.
"G-gue gak janji Ava maaf gue capek, gue lelah orangtua gue gak menginginkan gue hidup dam hanya Aydan yang mereka pengen", kata Richard dengan suara pelan dan serak sambil memeluk Ava erat ia pun menangis juga.
Tembok yang selama ini ia bangun runtuh di hadapan istrinya. Ava tak berkata apa-apa dan hanya menepuk-nepuk punggung Richard.
"Kalau begitu jika lo pergi maka gue juga akan ikut kemanapun lo pergi, sayang", gumam Ava dan matanya melirik luka-luka di tubuh Richard.
"Jika kita punya anak memangnya lo mau ninggalin dia sendiri?", tanya Richard.
"Tentu tidak-", kata Ava dan di potong oleh Richard. "Makanya jangan susul gue tapi jika ada alasan lain lo menyusul gue gak bakal marah karena anak itu gak bakal sendiri karena ada Arsyid yang bakal menyayanginya namun sayangku kau jangan menyusulku gue mau lo bahagia tanpa gue", kata Richard.
"Tapi lo harus sembuh jangan menyerah anak itu tidak boleh tumbuh tanpa kasih sayang ayahnya", kata Ava dan Richard langsung mencium bibir Ava.
"Diamlah bukannya kita harus melanjutkan hal tadi yang tertunda anak gak bakal lahir kalau kita tidak melakukan apa-apa", kata Richard sambil tersenyum nakal.
Ava hanya tertawa kecil dan menerima semua serangan dari Richard dengan lembut.
"Obati dulu lukamu sayang", bisik Ava dan Richard pun menurut saja.
Setelah di obati tentu mereka melanjutkannya dan malam itu malam yang tak pernah di lupakan oleh Ava.
Di sisi lain
"SIALAN SEMUANYA KACAU AWAS AJA LO AVA GUE GAK BAKAL BIARIN LO HIDUP BAHAGIA", seru Fera sambil melempar barang-barangnya dengan sembarangan.
"Gue punya ide lain sayang mendekatlah", kata Delvan.
"Ide bagus sayang saat tiba waktunya dia akan kehilangan orang yang dicintainya hahaha...", kata Fera sambil tertawa.
Bersambung.....
__ADS_1
Gimana? Seru? Karena sudah mendekati ending saya berusaha mempersiapkan ending yang memuaskan dan mendalam supaya gak ada yang lupakan jika cerita ini dan kisah asmara Richard dan Ava. Cinta seumur hidup, cinta sampai mati.
See you...