
..."Yakinlah bahwa ada sesuatu yang menantimu. Setelah sekian banyak kesabaran yang kau jalani, yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa betapa pedihnya rasa sakit." ...
Tetes embun berjatuhan menyentuh tanah. Perlahan-lahan langit mulai menghapus gelapnya. Gemerlap jingga dari ufuk timur mulai memancarkan sinarnya. Setelah menjalankan salat subuh, Aida beranjak ke dapur untuk membantu Umi Salamah menyiapkan sarapan. Ah, Aida tidak terbiasa bangun sepagi ini. Ketika ia masih belum menikah yang melakukan semua pekerjaan rumah adalah bundanya. Namun, sekarang berbeda lagi. Ia merasa sungkan jika tidak membantu pekerjaan rumah walau hanya sedikit.
"Umi." Gadis dengan gamis semata kaki itu berjalan menghampiri Umi Salamah yang tengah mengupas bawang.
Beliau menoleh ke sumber suara yang kini telah mensejajarkan tubuh dengan Umi Salamah. "Bagaimana tidurmu Aida, apakah nyenyak?" Aida mengalihkan pandangan menatap Umi Salamah.
"Alhamdulillah, semalam tidur Aida cukup nyenyak, Umi." Hanya itu saja yang bisa Aida katakan. Gadis itu meringis. Walaupun kenyataannya tidaklah sesuai dengan apa yang Aida katakan. Ah, mungkin ini karena awal ia tinggal di rumah suaminya. Wajar saja bukan?
"Ini ayamnya mau dimasak apa, Umi?" Aida kembali mengambil alih tugasnya. Sebenarnya ada sedikit rasa canggung, mengingat bahwa ini adalah pertama kali Aida memasak bersama dengan mertuanya.
"Rencana mau dibuat kare ayam dan kacang panjang itu akan ditumis dengan tempe."
"Tapi cuci terlebih dahulu, setelah itu marinasi dengan bumbu kuning dan biarkan selama tiga puluh menit. Jika sudah termarinasi dengan baik, goreng dulu ayamnya. Biar umi yang buatkan bumbunya." Gadis itu hanya diam, ya Allah malu sekali rasanya. Ini adalah pertama dalam hidupnya Aida memegang sudip. Jika ayamnya sudah dicuci, Aida harus apa? Tolonglah dia.
Melihat Aida yang hanya membatu setelah mencuci ayam tersebut, Umi Salamah terkekeh pelan seraya menggelengkan kepala. Aida hanya bisa menunduk dan menggaruk tengkuk yang tidak gatal. "Maaf, Umi. Ini adalah kali pertama Aida masak."
Umi Aida menghampiri Aida dan mengambil alih pekerjaannya. "Tidak apa-apa. Lama kelamaan juga kamu akan jago masak."
Melihat tangan keriput yang sangat cekatan dalam melakukan pekerjaan dapur membuat Aida pusing. Banyak sekali bumbu yang digunakan untuk memasak satu jenis makanan. Aida menyesal ketika bundanya dulu mengajaknya masak bersama, ia selalu menolak.
"Kare ayam ini adalah makanan kesukaan Bima, Nak." Aida menatap wajah Umi Salamah. Titik fokusnya buyar ketika wanita itu mengucapkan sesuatu yang berakhiran nama Bima.
"Iya, Umi?" Umi Salamah mengangguk. Sedangkan, hanya itu yang bisa Aida ucapkan, gadis itu bingung sekaligus canggung. Apa yang harus ia katakan lagi?
"Tempenya biar Aida potong ya, Umi." Wanita paruh baya itu menganggukkan kepala. Rasanya bosan hanya berdiam diri, melihat ibu mertuanya memasak dan ia tidak melakukan apa-apa. Namun, Umi Salamah menegur menantunya ketika beliau melihat Aida yang salah dalam memotong tempe.
"Memotongnya tidak seperti itu, Nak." Netra Aida teralihkan kepada wanita paruh baya dengan keriput yang sudah hampir memenuhi setiap inci wajahnya. Ah, Aida merasa sangat malu sekali. Mungkin, setiap yang dikerjakannya selalu salah hingga Umi Salamah yang akhirnya harus melakukan semuanya sendiri. Lantas, gunanya ia di sini untuk apa?
Aida termenung, sesekali ia merutuki dirinya sendiri yang bodoh akan perihal pekerjaan dapur. Namun, lamunan itu sirna tatkala terdengar suara ketukan pintu dari luar pintu.
"Mungkin Bima sama abinya sudah pulang dari masjid. Umi bukakan pintu sebentar kamu teruskan motong tempenya ya, Nak." Seperti tahu apa yang dipikirkan olehnya, Umi Salamah sontak mengatakannya. Setelah mendapatkan titah dari ibu mertuanya, Aida mengangguk dan menjalankan amanah tersebut. Di detik yang sama, Umi Salamah berlalu pergi untuk membuka pintu.
__ADS_1
Setelah dirasa selesai, baik memotong tempe dan menggorengnya, Aida memilih untuk diam sejenak. Mengingat bahwa ia tak tahu apa saja bumbu yang digunakan untuk menumis kacang panjang ini. Alhasil, gadis itu hanya memotongnya saja, tak panjang ataupun tak pendek.
"Aida, ke sini sebentar, Nak." Dari ruang tamu terdengar suara Umi Salamah memanggil namanya. Aida meletakkan kembali pisau tersebut di atas tatakan, mencuci tangannya dan memilih untuk menghampiri Umi Salamah.
"Iya, sebentar Umi."
Namun, baru sampai di ujung ruang tamu, langkahnya terhenti. Tepatnya beberapa meter dari tempat ia berdiri, gadis itu melihat sesosok gadis cantik dengan celak di matanya tengah mengobrol asik bersama Umi Salamah. Terlihat akrab sekali antara mereka berdua. Ah, Aida hanya berhusnudzon mungkin dia adalah anak santri sini yang berkunjung ke rumah bu nyai.
Melihat Aida yang berdiri mematung, Umi Salamah menyapanya dengan gurauan senyum simpul dan menganggukkan kepala. "Aida, ke marilah!"
Aida tersentak. Entahlah, gadis itu sekarang jadi sering sekali melamun. Bahkan tidak mengenal tempat. Dengan cepat gadis itu mengindahkan panggilan Umi Salamah dengan anggukan kepala dan bergegas menghampiri ibu mertuanya.
Beberapa langkah dari Umi Salamah duduk, terlihat sofa merah bata tengah memanggil Aida agar ia mau untuk menduduki sofa tersebut.
"Perkenalkan ini adalah Hamida, santri putri kebanggan pondok pesantren kita. Sekaligus putri dari Kyai Hasan." Gadis itu terlihat ramah. Buktinya ia tersenyum kepada Aida, begitu pula dengan Aida. Namun, ia tidak boleh menilai seseorang dari sampul depannya saja bukan? Bisa saja dia tidak seramah ini. Astagfirullah, hentikan Aida. Berprasangka buruk terhadap seseorang itu tidak baik.
"Oh, jadi ini ya yang namanya Aida ... istrinya Mas Bima?" Hamida menaikkan satu alisnya sehingga raut wajah tersebut terlihat jahat dan judes.
Aida hanya bisa menunduk, mengangguk dan sesekali menelan ludah. Benar, jika ia disamakan dengan Hamida mungkin ia hanya butiran debu yang tidak ada apa-apanya. Namun, kenapa orang tua Gus Bima lebih memilih Aida sebagai menantunya?
"Selamat ya atas pernikahannya, maaf saya tidak bisa hadir karena waktu itu tidak bisa pulang dari Kairo." Setelah beberapa menit tidak kunjung bergeming. Akhirnya, gadis itu yang terlebih dahulu membuka pembicaraan. Aida mengangguk sebagai tanggapan atas jawaban.
"Bagaimana?" Aida sedikit menajamkan pendengaran, mengernyitkan dahi. Bingung akan pertanyaan Hamida, terdengar ambigu. Bagaimana? Apanya yang bagaimana?
"Maksud saya, bagaimana pernikahan kamu dengan Bima, apakah kamu bahagia menerima perjodohan ini?" Seolah paham akan raut wajah Aida, gadis itu pun menjelaskannya. Namun, pertanyaan apa ini? Kenapa Hamida menanyakan pertanyaan seperti ini?
"Alhamdulillah, Aida bahagia, Mbak." Entah apa yang dipikirkan oleh Hamida, wajah gadis itu terlihat berseri-seri.
"Apakah kamu tahu, dulu ketika saya masih duduk di kelas enam sekolah dasar, saya sering sekali dijodoh-jodohkan dengan Bima oleh Abah saya."
Hamida menghela napas panjang, netranya menatap ke depan. Gadis itu menyunggingkan senyum manis sehingga Aida dapat melihat lesung pipi di bagian kanannya.
"Bima itu orangnya baik sekali, sabar, agamanya patut diacungi jempol. Namun, sayang kita tidak berjodoh." Kalimat itu terdengar diucapkannya dengan penuh kekecewaan. Lantas, apakah ia menjadi perusak atas perjodohannya dikala kecil? Tidak bukan.
__ADS_1
"Kamu beruntung ya bisa menikah dengan Bima, andaikan saya ada di posisi kamu pasti saya akan merasakan hal yang sama." Aida hanya meringis dengan beberapa kali menundukkan kepala. Ketahuilah bahwa apa yang dilihat Hamida tidak seindah kenyataan aslinya. Perjodohan ini bukanlah kemauan Aida, tetapi orang tuanya. Sampai sekarang, laki-laki yang Aida sematkan adalah Kenzo. Namun, kenapa Hamida berkata seperti itu. Apakah dia sangat berharap bisa menikah dengan Gus Bima? Ketukan pintu terdengar bersama salam yang terucap dari ambang pintu.
Aida mendongak seraya menjawab salam tersebut. Benar, wajah tampan suaminya terpampang jelas tengah berdiri di ambang pintu seraya mengulum senyum kepada istrinya.
"Bima." Hamida beranjak dari duduk dan menghampiri Gus Bima. Pria dengan kemeja putih dipadukan dengan sarung hitam. Jangan lupakan lengan bajunya yang digulung hingga siku-siku. Ditambah alis tebal dan kornea mata kecokelatan membuat Gus Bima terlihat lebih tampan.
"Hamida, sudah selesai studinya di Kairo?" Hamida mengangguk. Di pojok ruang tamu, Aida hanya meremas jemarinya yang saling menaut satu sama lain.
"Aida, kamu mau kemana?"
"Mau bantu Umi untuk menyiapkan sarapan dulu," jawabnya singkat dan acuh.
***
Dentingan suara sendok saling beradu menyerbu makanan yang berada di atas piring putih. Tidak banyak pembicaraan kali ini, mereka tengah menikmati kelezatan makanan yang dihidangkan oleh Umi Salamah.
"Rasa kare ayam buatan Umi tetap enak ya, tidak berubah dari beberapa tahun yang lalu." Hingga suara gadis dengan kerudung khimar itu mencairkan suasana. Umi Salamah hanya tersenyum mendengar pujian dari Hamida, membuat garis halus yang berada di matanya terlihat kentara.
"Apakah kamu menikmatinya Hamida?" Kini giliran pria paruh baya itu yang bersuara.
"Sangat Abi. Hamida merindukan masakan Umi Salamah, apalagi rawonnya. Ma syaa Allah, makanan itu yang selalu Hamida rindukan selama menetap di Kairo." Aida hanya mendengarkan pembicaraan antara mertuanya dan Hamida. Tidak tahu, Aida sedikit terusik dengan kehadiran gadis itu.
"Mau tambah lagi karenya Aida?" Membatu. Aida tersentak, suara bariton itu selalu membuat debar aneh di dadanya kembali terasa.
"Sudah cukup, Mas. Aida kenyang."
"Sesekali kamu harus belajar memasak dari Umi, masa iya pengantin baru, tapi tidak memasakkan sarapan untuk suaminya. Masa iya Umi terus yang harus masak?" Telak. Kalimat itu berhasil menusuk relung hati Aida. Perih seperti teriris, rasanya sakit sekali. Aida tahu jika dirinya tidak unggul dalam segala hal. Namun, apakah ia harus dipermalukan seperti ini? Apalagi di depan suami dan mertuanya.
Aida berusaha agar cairan bening itu tidak menetes. Sedalam mungkin Aida menunduk seraya memainkan sendok yang dipegangnya. Gadis itu menggigit bagian bawah bibirnya, mencoba untuk menahan isak pilu ini. Tidak Aida, ini bukan waktunya menangis. Tahanlah, pasti bisa!
Gus Bima terdiam, tidak ada satu orang pun yang membela Aida. Ya Rabb, rasanya cairan itu telah penuh. Penglihatannya buram, hanya terkena tiupan angin mungkin air mata itu akan terjatuh.
Bersambung....
__ADS_1
Pasuruan, 03 Februari 2023