
..."Siapa yang memandang dirinya buruk, maka dia adalah orang yang baik. Dan siapa yang memandang dirinya baik, maka dia adalah orang buruk."...
..._Ali bin Abi Thalib_...
Cuaca hari ini sangatlah terik. Gadis dengan seperangkat alat salat kini tengah berdiri terpaku di ambang pintu. Membatu. Berulang kali telapak tangannya yang mengepal, mengambang di udara seperti ingin mengetuk daun pintu. Namun, niatnya seketika ia urungkan tatkala dirinya mendapati Mbak Hamida dan Gus Bima tengah duduk bersebelahan di sofa empuk ruangan sepetak dengan hiasan lampu gantung menjuntai ke bawah. Gelak tawa terdengar begitu renyah satu sama lain. Aida melihatnya, mengintip dengan mata kepalanya sendiri dari sudut kaca. Gadis itu kemudian menjatuhkan tangannya, berbalik badan, dan tak terasa air mata itu kembali menetes.
Sekarang gadis itu tambah yakin jika Mbak Hamida mempunyai rasa kepada suaminya, tak hanya sebatas teman halaqoh saja. Namun, lebih dari kata teman halaqoh. Anehnya, desir halus dan panas yang menjalar dalam dadanya tak seperti biasanya. Ah, tidak mungkin jika ia terbakar rasa cemburu. Aida selalu berhusnudzon jika mereka berdua tengah mengerjakan hal penting yang menyangkut pondok pesantren. Mengingat bahwa mereka adalah rekan kerja yang patut diacungi dua jempol.
“Apakah sopan menguping pembicaraan orang dari luar?” Aida terperanjat bukan main. Suara itu? Sejak kapan? Sepertinya beberapa detik yang lalu tidak ada yang membuka pintu. Aida membalikkan badan, ia melihat seorang gadis tengah menyilangkan kedua tangannya di dada dengan raut wajah datar penuh amarah menatap seperti akan menelanjanginya. Aida berusaha tetap tenang, badannya mulai gemetar. Bagaimana ini, kenapa suaminya tak kunjung keluar?
“Mbak--Mbak Hamidah ... sejak kapan ada di sini?” tanyanya gelagapan.
“Aida.” Suara bariton yang tak asing bagi Aida kini akhirnya terdengar. Dari belakang Mbak Hamida, terlihat sesosok pria mengenakan baju koko sage dengan sarung hitam. Aida tersenyum kecut. Tidak, senyuman itu ia tujukan kepada Gus Bima, bukan gadis ketus. Ya, ia sebenarnya ingin minta tolong agar segera membawanya pergi jauh dari hadapan Mbak Hamida.
“Kenapa kamu tidak masuk ke dalam?” Hening. Aida tidak kunjung menanggapi pertanyaan suaminya.
“Dari mana saja jam segini baru pulang? Keluyuran saja. Rumah berantakan, suami pulang tidak dilayani, jemuran belum dijemur. Mau kamu apa sih? Jangan salahkan jika suami kamu akan memilih untuk poligami." Telak. Perkataan itu berhasil menohok relung hati Aida. Desir perih luruh bersama dengan cairan bening di pelupuknya. Ia mengakui jika dirinya salah. Namun, sebelum ia hendak menjemur baju, Umi Salamah terlanjur mengajaknya untuk menghadiri halaqoh di musholla dekat pondok pesantren. Tidak enak jika menolaknya bukan? Ia juga ingin mencari aktivitas lain demi melupakan kejadian kemarin malam. Ia berniat akan menjemurnya sepulang acara halaqoh.
“Sudahlah Hamida, dia baru saja pulang dari halaqoh.” Pria yang berdiri di belakang Mbak Hamida menimpalinya secepat kilat. Ia tak ingin melihat istrinya bersedih, apalagi dipermalukan seperti ini. Ia tak terima.
“Dengan kamu memanjakan istrimu terus-menerus seperti ini akan membuatnya malas-malasan. Sampai kapan kamu mau dijadikan pembantu, disuruh-suruh, diinjak-injak seperti ini, ha? Kamu itu lulusan Kairo, Bima. Sedangkan--”
__ADS_1
“Aida tidak pernah meminta Mas Bima melakukan pekerjaan rumah tangga. Selama ini yang mengerjakan semua ini saya. Saya akui jika saya salah, tapi tadi saya terlanjur diajak Umi--”
“Sudah deh jangan bawa-bawa nama Umi, emang kamunya aja yang gak becus jadi istri. Gini nih kalau sama orang tuanya nggak disekolahin sampai perguruan tinggi.” Aida mendongak cepat. Ia meremas erat mukena yang didekap olehnya. Dadanya terasa sesak, ia tergugu. Sebisa mungkin suara isak pilu ia tahan agar tidak sampai terdengar oleh Mbak Hamida dan suaminya. Sedangkan pria itu hanya diam, tak kunjung bergeming sedikitpun. Berulang kali ia memohon agar Mbak Hamida berhenti menghina Aida. Namun, sepertinya gadis itu keras kepala, ia tidak mau mendengarkan perkataan Gus Bima.
Gus Bima menghampiri Aida tanpa menghiraukan Mbak Hamida yang berdiri di ambang pintu. Walau terlihat tak sopan, ia harus melakukannya. Melihat Aida yang terus-menerus meneteskan air mata membuatnya tak kuasa. Gus Bima meraih pergelangan tangan Aida menyeret pelan membawanya masuk ke dalam. Mbak Hamida menatap Aida dengan penuh kebencian. Pria itu membawa istrinya masuk ke dalam kamar.
Aida tak memikirkan apa yang akan dilakukan Mbak Hamida kepadanya nanti. Yang terpenting baginya bisa keluar dari tatapan intimidasi dan perkataan pedas Mbak Hamida itu lebih dari kata cukup.
***
Gus Bima mendudukkan istrinya pada sofa empuk di kamarnya. Gadis itu tidak kunjung bergeming, hanya ada isak tangis dengan kepala yang menunduk serta jemari meremas satu sama lain. Sedangkan pria itu, entah apa yang sedang ia lakukan di dapur. Hatinya menerka, mungkin Gus Bima tengah membuatkan dirinya teh hangat lagi. Ia sudah bisa menebaknya.
"Aida, lihatlah apa yang sedang saya bawa," ucap pria itu seraya duduk tak jauh dari Aida. Atensi Aida tertuju pada semangkuk bubur. Oh tidak, sepertinya lezat, indera penciumannya tidak pernah salah. Netranya tak kunjung mengerjap, fokus pada objek yang tengah dibawa Gus Bima.
Sesuap sendok makan melayang di udara, mengambang tepat di depan mulutnya. Gus Bima menganggukkan kepala tatkala gadis itu tak kunjung membuka mulut. Di detik ketiga, mulut Aida sedikit terbuka, tetapi atensinya terfokus pada raut wajah Gus Bima.
"Apakah buburnya enak?" Aida mengangguk. Gadis itu membersihkan sisa bubur yang tertinggal di sela-sela pinggir bibir merah mudanya. Gadis itu terlihat menikmati, mengucah dengan sangat pelan.
"Mas Bima beli di mana?" Pria itu kembali menyuapi istri tercinta dan tak lupa mengelas jejak bubur yang tertinggal. Subhanallah, sungguh manis bukan perlakuan Gus Bima pada Aida? Sedetik kemudian, ia mengindahkan pertanyaan Aida dengan senyum manis.
"Saya membuatnya sendiri, Sayang." Telak. Bubur kacang hijau itu tertahan di tenggorokan saat Gus Bima mengatakan hal tersebut. Rasanya seperti akan kembali keluar. Ia segera merutuki dirinya sendiri. Oh Allah, bagaimana bisa ia bertanya hal sepele seperti itu kepada suaminya? Gadis itu mendapat keberanian dari mana? Aida malu, sungguh malu.
__ADS_1
Sesaat kemudian, pipinya merona membuat Gus Bima terkekeh pelan. Siapapun, selamatkan dia, seperti ada pelangi yang menghiasi wajahnya. Aida menunduk sangat dalam. Akan tetapi pria itu berulang kali menggodanya dengan menangkap wajah Aida yang ia sembunyikan. Ia memiringkan wajah, menatap Aida yang tengah tertunduk malu. Semakin ditatap, rona itu semakin memerah seperti tomat rebus. Ilahi, selamatkan ia dari pria ini. Berada di dekatnya membuat bibirnya tidak baik-baik saja.
Gus Bima tertawa begitu puas. Wajah Aida memanas, jemarinya meremas gamisnya yang tersingkap ke depan. Ia merasa kesal, terlihat gadis itu mengerucutkan bibirnya dua kali lebih maju ke depan. Sesekali ia mendengus kesal secara pelan. Ah, sepertinya sekarang keadaan rumah tangganya baik-baik saja, lebih membaik dari kemarin. Syukurlah.
"Maafkan saya, Aida." Pria itu membawanya berhambur dalam dekapan. Ia menempel tepat pada dada Gus Bima, sehingga membuatnya dapat merasakan secara kentara detak jantung suaminya. Ia menenggelamkan wajah yang memerah seperti tomat rebus itu dalam dada bidang Gus Bima. Ah, dirinya kini sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Namun, kenapa pria itu yang harus meminta maaf terlebih dahulu?
"Bukan. Ah tidak, maksud saya ... seharusnya Aida yang meminta maaf, bukan Mas ... Bima." Ujung kalimat sedikit terseret dengan nada begitu lemah. Sekarang ia tengah bermanja dalam dekapan suaminya, tak mau meleraikannya. Semakin lama semakin erat. Ketika ia berumah tangga dengan Gus Bima, dirinya memiliki kebiasaan baru, yakni mengendus-endus bau khas dari tubuh suaminya. Begitu rileks dan menenangkan. Dengan begitu, ia dapat melupakan sejenak kata-kata pedas dari Mbak Hamida beberapa jam yang lalu.
"Maaf, saya bertanya seperti itu. Saya lupa kalau suami saya itu jago sekali perihal memasak." Aida melerai pelukan itu. Sederet gigi putih nampak berjajar rapi. Gadis itu menyunggingkan senyum yang begitu lebar membuat giginya semua nampak. Di detik keempat, ia spontan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
Gus Bima ikut tersenyum, pun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal pula. Ah, kenapa ia jadi mengikuti Aida? Seperti burung beo saja.
"Rasanya tidak kalah seperti abang-abang punya bukan?" Aida mengangguk cepat. Gus Bima semakin tersenyum lebar. Ia begitu senang tatkala mendapat pujian dari suaminya.
Sepertinya hanya dengan semangkuk bubur dapat membuat rumah tangga yang semula retak kembali rekat.
Mas, maafkan segala perlakuan saya semalam. Saya janji akan berusaha mencintai kamu lebih dalam lagi. Percayalah.
Bersambung ....
Pasuruan, 28 April 2023
__ADS_1