
..."Tidak semua jawaban harus ada jawabannya, dan tidak semua jawaban harus dipertanyakan."...
..._Aida....
“Aida, apakah kamu melihat jam tangan saya?” Suara bariton itu membuat Aida menghentikan aktivitasnya sejenak. Setumpuk piring dan seperangkat temannya yang kotor membuat gadis itu harus menyelesaikan terlebih dahulu tugasnya. Mengingat goresan jingga mulai bersemburat di langit atas. Ia sedikit kualahan harus mengerjakan yang mana. Bingung, Aida juga belum masak untuk makan malam.
“Bukannya Mas Bima meletakkannya di atas lemari plastik?” Ia mematikan sejenak keran air, menyipratkan sebagian air yang masih menempel di tangannya.
Gadis itu berlari kecil menghampiri sang suami. Pria itu masih terlihat kebingungan mencari jam tangan kesayangannya ke sana-kemari.
“Sudah ketemu?” Gus Bima membalikkan badan tatkala suara itu memecah keheningan. Pada menit kedua, pria itu menggelengkan kepala. Aida menghela napas berat. Bagaimana tidak, dari beberapa senti tempat ia berdiri, Aida dapat melihat dengan jelas arloji hitam yang tergeletak begitu saja di atas lemari plastik. Ia sedikit kesal pada suaminya.
Aida berjalan dengan melalui Gus Bima begitu saja, tanpa permisi atau membungkukkan badan. Langkahnya membawa pada lemari plastik, tangannya meraih sesuatu, menggenggam dan akhirnya membawa benda tersebut pada Gus Bima.
Aida meraih pergelangan tangan suaminya, membuat tangan itu mengambang di udara. Gus Bima tak mengerti maksud istrinya. Ah, benarkah ia tak mengerti? Hai, sadarlah istrimu telah menemukan benda yang kau cari.
“Ini, saya temukan jam tangan milik Mas Bima. Bagaimana? Sudah tenang?” Gus Bima tersenyum. Kemudian ia merapal hamdalah. Ah, dia malu. Bagaimana bisa ia tak melihat jam tangan miliknya tergeletak di atas lemari plastik, padahal beberapa kali tempat itu telah ia lewati. Gus Bima merutuki dirinya sendiri dalam hati, pria itu menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
Aida maju perlahan dengan menatap lekat manik indah Gus Bima. Oh Allah, tatapan itu membuat dada Gus Bima berdebar kencang. Percayalah. Apakah kalian semua bisa mendengarnya? Gus Bima berusaha untuk terlihat baik-baik saja, walau sedikit demi sedikit gemetar mulai menjalar melalui setiap inci urat nadinya. Gus Bima menundukkan pandangan, lututnya terasa lemas. Ilahi, hanya dengan hitungan detik sepertinya ia akan tersungkur ke lantai.
Gus Bima mendongak. Ya, pria itu membelalak, membulatkan bola mata sempurna. Ia menelan ludah dengan kasar. Bagaimana tidak, ia melihat tangan Aida perlahan naik dan di detik yang sama gadis itu membenarkan kerah bajunya. Napasnya tak beraturan, jantungnya seperti akan mengikuti pertandingan lari maraton. Umi Salamah, tolong selamatkan Gus Bima, siapapun yang tahu di mana keberadaan Umi Salamah segera beritahu beliau!
“Nah, kalau begini ‘kan Mas Bima terlihat lebih tampan.” Pria itu tersenyum manis. Tidak, lebih tepatnya ia memaksakan untuk tersenyum.
“Mas Bima mau kemana? Kok sudah rapi jam segini?” Setelah beberapa menit bertanya, gadis itu membatu. Ia teringat suatu hal. Mengapa ia sampai bertanya hal seperti itu, mengingat kembali bahwa suaminya adalah putra pemilik pondok pesantren. Wajar saja jika ia sering menghabiskan waktu di pondok pesantren. Ilahi, kembali ia merutuki dirinya sendiri. Aida menepuk jidat pelan. Gus Bima tersenyum, terkekeh pelan melihat rona wajah istrinya.
“Tidak apa Ya Humaira.” Gus Bima mengelus pipi bulat Aida. Gadis itu membisu. Ya Humaira? Apakah itu sebutan sayang untuknya? Ah, siapapun yang mengerti maksud Gus Bima, tolong jelaskan pada Aida.
"Ya ... Humaira?" tanyanya dengan menggantungkan ujung kalimat.
"Karena pipimu selalu merona ketika tengah tersipu malu." Aida sedikit tersenyum tipis. Ya, gadis itu sebisa mungkin untuk menyembunyikan senyum itu. Ia menahan agar tidak sampai tersenyum lebar. Lagi dan lagi, rona itu hinggap. Semakin lama rona itu terlihat semakin kentara. Aida menenggelamkan wajahnya dengan memilih tertunduk dalam. Gus Bima terkekeh, dan mencubit pipi istrinya.
“Nanti ba’da magrib akan ada tamu di pondok pesantren. Abi meminta saya untuk menemani beliau menyambut tamu tersebut.” Aida mengangguk-angguk pelan.
“Kalau boleh Aida tahu ... siapa tamu tersebut, Mas?” Mambatu. Gus Bima tak kunjung menjawab pertanyaan Aida. Sesabit senyum manis terbit dari bibir Gus Bima. Bukan, ia terlihat tersenyum kaku dan seperti terpaksa.
“Ah tidak apa-apa, tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya dan tidak semua jawaban harus dipertanyakan bukan?”
“Kalau begitu Mas Bima berangkat sekarang saja, takut terlambat dan takut Abi menunggu lama.” Gus Bima memgangguk pelan. Pria itu menyodorkan punggung telapak tangannya kepada istrinya, setelah itu Aida menyalami punggung telapak tangan suaminya. Pria itu membelalak ketika Aida memutar balikkan tubuhnya dan sedikit mendorong pelan.
Dengan gugup dan masih sedikit canggung, Gus Bima berlalu pergi meninggalkan Aida yang masih terpaku di tempat. Tidak seperti biasanya, pria itu tak mencium kening Aida. Gadis bermata bulat itu hanya bisa berhusnudzon, mungkin suaminya terburu-buru sehingga melupakan ritual wajib sebelum pergi. Walau sesak, Aida tetap berusaha tersenyum.
__ADS_1
Di detik kelima, Gus Bima menghentikan langkahnya. Berdiri lama di tempat dan kemudian ia menoleh ke belakang tanpa menggerakkan tubuhnya sedikitpun. Kemudian ....
"Saya tidak akan pernah melupakan momen yang selalu saya tunggu-tunggu ini, Aida." Membeku. Seperti tersambar petir di siang bolong. Hatinya berbunga-bunga, kupu-kupu di perutnya tengah menari-nari menggelitiki Aida. Tidak ada yang bisa ia katakan. Walau sebenarnya ada segudang kalimat yang telah terangkai. Entah kenapa, bibirnya mendadak kelu dan lidahnya kaku. Adakah dari kalian yang bisa menebak apa yang dilakukan Gus Bima?
Sejenak, gadis itu menahan napas tatkala berada di dekat Gus Bima. Tangannya mengepal hebat. Ilahi, dugaannya salah, ternyata suaminya tidak pernah melupakan ritual sakral itu.
"Saya berangkat dulu ya, assalamualaikum," ucapnya. Pria itu kemudian benar-benar menghilang dari hadapan Aida sebelum ia mendapatkan jawaban salam dari istri tercintanya.
"Waalaikumus salam," ucapnya lirih dengan manik yang tak kunjung mengerjap. Ia dibuat terpaku, sungguh terpaku akan perlakuan manis hari ini.
Sontak, Aida menjadi salah tingkah. Namun, ia tetap ingat pada tanggung jawab yang menunggunya di dapur, meminta untuk segera diselesaikan sebelum maghrib menyapa.
"Mas Bima, hari ini kamu membuat jiwaku melayang. Sungguh."
***
"Terima kasih karena sudah berkenan mampir ke pondok pesantren kami, Kyai." Abi Nur memeluk Kyai Musthofa--Buya Mbak Hamida. Mereka terlihat begitu dekat. Begitu pula Umi Salamah dan Bu Nyai Zamzamah.
"Apakah tidak mau mampir ke ndalem dulu, Pak Kyai?" tanyanya yang ditanggapi Kyai Dahlan dengan kekehan pelan.
"Terima kasih banyak, Umi Salamah. Kami sangat terhormat, tetapi kami sudah ditunggu oleh pengurus pondok pesantren kami." Semua tertawa bahagia, kecuali Gus Bima. Kali ini ia jadi sering melamun, netranya sesekali melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Seperti ada yang menunggunya.
"Sudah lama saya tidak bertemu dengan Nak Bima. Sekarang tambah tampan dan gagah saja. Ma syaa Allah. Penerus Abi ya, Nak." Gus Bima menyunggingkan senyum simpul kepada Kyai Musthofa dan Bu Nyai Zamzamah. Ia terlihat malu-malu akan pujian tersebut. Pria itu memilih diam, tidak mengindakan pujian yang dilayangkan pria paruh baya itu dan memilih menunduk dalam.
"Andai saja Hamida dulu bisa menikah dengan Nak Bima, betapa bahagianya saya sebagai buyanya." Telak. Sontak gelak tawa hirap. Suasana mendadak hening. Abi Nur dan Umi Salamah saling menatap satu sama lain. Mbak Hamida menelisik ke sekitar, melihat raut wajah semua orang yang berubah datar, gadis itu pun akhirnya mencairkannya.
"Buya ini ada-ada saja. Sudahlah Buya, semua ini takdir. Mungkin kami tidak berjodoh, dan Allah kini alhamdulillah memberikan Bima jodoh yang lebih baik daripada Hamida." Kyai Musthofa tersenyum miring. Mengingat itu semua membuat luka yang telah kering tergores kembali. Ah, mengapa ia harus membuka cerita lama yang telah usai?
"Ah, Umi Salamah dan Abi Nur, kami izin pamit. Maaf, kami tidak bisa lama-lama karena Buya masih dalam masa pemulihan. Terima kasih atas jamuan yang begitu lezat hari ini. Ma syaa Allah, saya sampai nambah dua kali." Bu Nyai Zamzamah mencairkan suasana.
"Bu Nyai, ini tidak ada apa-apanya. Kami sangat senang sekali karena Pak Kyai dan Bu Nyai mau hadir ke pondok pesantren kami yang kecil ini." Umi Salamah memeluk dan mengelus-elus Nyai Zamzamah.
"Lain kali, kalian harus datang ke ndalem kami untuk makan malam bersama. Ajak Aida sekalian," titah Nyai Zamzamah.
Aida? Mendengar nama gadis itu membuat Mbak Hamida mendongak, senyum di wajahnya seketika luntur. Kenapa Ummanya sampai menyebut nama gadis murahan itu? Ia sangat membenci nama tersebut.
"Oh iya, sejak tadi saya tidak melihat Aida. Kemana dia? Apakah kalian tidak mengajaknya?" Pak Kyai Musthofa menimpali perkataan istrinya. Pria paruh baya dengan jenggot putih itu menelisik setiap sudut penjuru.
"Di--dia sakit, Pak Kyai." Umi Salamah menjawab dengan sedikit gelagapan. Berbohong. Tanpa mereka sadari, seorang pria tengah menggeleng lemah. Abi Nur yang mengetahui bahwa putra semata wayangnya menggelengkan kepala lantas menunduk dalam pun ikut menundukkan kepala sejenak. Ada apa ini, mengapa Aida tidak diajak? Dan kenapa sejak awal gadis itu tidak protes?
"Ya Allah, kasihan sekali. Semoga Nak Aida lekas sembuh." Semua berdoa untuk kesembuhan Aida yang katanya sakit itu. Namun, saat semua orang mengusap telapak tangan ke wajah, Mbak Hamida membisu. Tak ada respon, baik ucapan maupun respon tubuh darinya.
__ADS_1
Setelah beberapa menit, Pak Kyai Musthofa dan istrinya di antar oleh Abi Nur, Umi Salamah, Gus Bima, dan Mbak Hamida untuk masuk ke dalam mobil. Tunggu dulu, apakah gadis itu tidak ikut orang tuanya pulang?
"Abi Nur, terima kasih karena telah berkenan menerima putri kami dengan tangan terbuka." Abi Nur mengangguk seraya tersenyum tipis.
"Dengan senang hati. Pak Kyai jangan lupa jaga kesehatan," tuturnya seraya mengelus-elus lengan tangan Kyai Musthofa. Pria paruh baya itu mengindakannya dengan anggukan kepala.
"Buya dan Umma hati-hati ya," ujarnya sembari menyalami punggung telapak tangan orang tuanya.
"Buya jangan lupa minum obat, jangan terlalu memaksakan diri. Jika lelah, istirahat. Tidur yang cukup, Hamida sudah bilang ke Mas Nabil kalau kontrol Buya sekarang setiap satu bulan sekali. Buya tidak boleh terlalu stres dan Buya--"
"Baiklah, tuan putri. Buya akan mengingat nasihat yang dikau sampaikan. Apakah buya boleh pulang sekarang? Buya merasa sangat mengantuk sekali." Pria paruh baya itu memotong kalimat Mbak Hamida yang belum rampung secepat kilat.
Mbak Hamida tersenyum, kemudian mengangguk. Berat harus terpisah jauh dari kedua orang tua dan kakak laki-lakinya. Mau bagaimana lagi, ini sudah menjadi pekerjaan yang harus ia lakukan. Setiap hari ia selalu dibayangi rasa cemas mengenai bagaimana kondisi buyanya sekarang disaat dokter telah memfonis bahwa Buya Musthofa menderita jantung, diabetes, dan asma. Sedih. Dunianya hancur. Seperti gurun pasir tengah menerpa tubuhnya.
Lamunan singkat itu buyar tatkala mobil Toyota Alphard hitam membunyikan klakson dan mulai melaju. Mbak Hamida melambaikan tangan, setelah itu ia berlalu pergi disaat mobil tersebut benar-benar hirap dari pandangannya.
Gus Bima memilih untuk pulang terlebih dahulu setelah meminta izin kepada kedua orang tuanya. Ia bernapas lega ketika Abi Nur dan Umi Salamah memberikan izin. Mereka juga menyadari bahwa Aida ada di rumah seorang diri. Dengan sisa tenaga yang ada dengan rasa kantuk yang tak dapat ditahan, Gus Bima berlari. Sesekali ia melirik arlojinya, ternyata jam menunjukkan tepat pukul sepuluh. Bagaimana ini, apakah Aida sudah tidur? Ia merasa tak enak hati jika harus membangunkannya.
***
Malam mulai terlihat kelabu. Sang dewi malam semakin menampakkan gelapnya. Rembulan dan bintang yang menjadi teman berkedip pada sesosok gadis yang kini tengah mondar-mandir tanpa alasan. Ia meremas jemarinya, menggigit bibir bagian bawah. Ah, ia selalu melakukan itu jika dilanda rasa panik ataupun cemas.
Aida berulang kali mengintip ke luar jendela, memeriksa apakah suaminya telah sampai. Namun, nihil. Ia tak mendapatkan apa-apa. Gadis itu menguap, matanya terasa begitu berat. Ia tak sanggup lagi untuk terjaga semalaman menanti kepulangan sang suami.
Ya Allah, Humairamu sudah tidak kuat menahan kantuk, Mas. Cepatlah pulang!
Aida menghela napas panjang yang kian menyesakkan. Gadis itu terduduk tepat di belakang daun pintu rumah. Berharap jika nanti suaminya pulang dan membuka pintu, ia bisa terjaga karena terdorong oleh pintu yang teebuka. Setelah sedetik menyandarkan kepala ke daun pintu, gadis itu terlelap. Ilahi, sepenat itukah?
Sedangkan dari kejauhan, terlihat seorang pria yang berlari dengan napas tak beraturan. Jarak pondok pesantren dan rumah yang sedikit jauh membuat Gus Bima sama saja seperti olahraga. Namun, tak mengapa, kini dirinya telah berdiri di ambang pintu. Sejenak, ia ingin menetralkan napasnya yang belum beraturan itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan. Berulang kali Gus Bima lakukan itu hingga ia merasa napasnya kini jauh lebih membaik. Sebelum tangannya yang mengepal seperti akan mengetuk pintu, ia kembali menghela napas. Kemudian tangan yang mengepal itu seketika terjeda, tertahan di udara. Entah apa alasannya, tetapi sedetik kemudian tangan itu terjatuh.
Hari sudah larut malam. Aida pasti sudah tertidur. Saya tidak enak hati harus membangunkan dia.
Gus Bima sedikit mundur beberapa langkah. Kemudian, netranya teralihkan pada tikar yang tergeletak di sudut teras rumah. Pria itu mengambil dan segera membentangkan setengah dari tikar tersebut. Gus Bima mendudukkan dirinya, melepas arloji dan peci yang masih melekat di bagian tertentu tubuhnya. Adakah dari kalian yang bisa menebak?
Sebaiknya saya tidur di depan pintu saja. Tidak enak jika harus membangunkan Aida.
Keduanya saling menaruh rasa khawatir. Mereka tak ingin saling menjadi beban satu sama lain. Begitu pula dengan Gus Bima. Pria itu memilih untuk tidur di luar, di depan pintu. Sedangkan gadis yang sedari tadi menunggu dengan rasa khawatir karena suaminya tak kunjung pulang akhirnya terlelap dengan memilih tidur di dalam, di depan pintu pula.
Bersambung ....
Pasuruan, 29 April 2023
__ADS_1