
..."Jika patah dan hati disatukan, maka rasanya akan terasa lebih menyakitkan."...
Tapak kaki terdengar ganjil saling beradu menyerang jalan aspalan. Di bawah sinar rembulan, gadis bermata bulat yang mengenakan hoodie hitam tengah menyusuri setiap jalan. Kanan kiri terlihat semak belukar yang menambah suasana menjadi mencekam. Napasnya tak beraturan, Aida tidak menghiraukan batu kecil yang membuatnya tersandung hingga beberapa kali akan terjatuh.
Langkahnya terhenti saat atensinya menangkap sesosok pemuda yang tengah berdiri menatap indahnya danau. Hening. Hanya terdengar suara jangkrik dan serangga kecil lainnya. Tatkala helaan napas Aida begitu kentara mengalun di telinganya.
Perlahan, gadis itu memberanikan diri untuk melangkah menghampiri Kenzo, sedih bercampur dengan cemas. Sedih bahwa Aida tak bisa memberitahu jikalau ia sebentar lagi akan menikah dengan santri pilihan kedua orang tuanya. Cemas mendera, takut jika Kenzo sudah mengetahui semuanya dan ia menanyakan hal itu. Aida harus menjawab apa?
"Sudah sampai?" Suara bariton itu mengagetkan Aida. Tidak ada pergerakan sedikitpun dari Kenzo, menoleh pun tidak. Namun, pemuda itu bisa mengetahui kedatangannya.
"Ken--"
"Lihatlah danau ini, indah ya?" Kenzo memangkas perkataan Aida dengan sangat cepat. Gadis itu tak tahu mengapa selarut ini Kenzo menyuruhnya datang ke danau. Hatinya saat ini benar-benar tidak tenang.
"Aida, apakah kamu tahu kisah cinta Laila Majnun?" Dalam tatapannya yang nanar, pria itu menyeringai. Air matanya mengalir menganak sungai, begitu pula dengannya.
"Kisah cinta mereka berakhir dalam keabadian." Aida menunduk dalam seraya meremas erat jahitan pinggir roknya.
Pria itu menoleh cepat menatap wajah Aida. "Apakah kisah cinta kita juga akan berakhir seperti itu juga, Aida?"
Telak. Aida mengalihkan pandangan ke sumber suara. Air matanya sudah menggenang di pelupuk, hanya tinggal satu kedipan tangis itu terjatuh. Suara Kenzo begitu parau sehingga Aida tidak bisa untuk menahan tangis. Ilahi, bagaimana caranya untuk menjelaskan hal yang sebenarnya kepada Kenzo?
"Maksudnya Kenzo?" Tidak ada jawaban dari pria itu. Kenzo hanya membatu seraya menelan ludah berulang kali.
"Kenzo--"
"Selamat, ya. Pasti bahagia banget bisa dijodohkan dengan seorang gus ... anak dari pemilik pondok pesantren ternama." Kalimat itu diucapkan dengan penuh penekanan.
"Aida bisa jelasin semuanya Kenzo." Semakin Aida mendekat, pria itu semakin menjauh. Di detik yang sama, entah mengapa langkahnya terasa berat saat melihat sikap Kenzo begitu dingin kepadanya. Aida semakin tergugu, bibirnya bergetar begitu pula dengan jemari yang menutupi mulutnya.
"Kenapa kamu lebih memilih santri itu Aida, kenapa? Apakah kamu sudah tidak mencintai saya lagi?" Aida mendongak dan menggeleng cepat. Tidak. Ia masih mencintaimu, bahkan lebih dari kata cinta.
"Ini hanya perjodohan saja Kenzo, Aida juga tidak mencintai pria itu."
"Jika kamu tidak mencintainya, mengapa kamu menerima perjodohan ini?" Membatu. Bibirnya mendadak kelu. Air matanya terus bercucuran bersama dengan desir perih di dadanya. Isak tangis itu begitu dalam setelah Kenzo membentak Aida. Ia tak pernah melihat Kenzo semarah itu. Jangankan marah, membentak pun Kenzo tak pernah.
__ADS_1
"Aida. Sedang apa kamu di sini?" Suara bariton itu memecah keheningan. Dengan sisa tenaga yang masih terkumpul, Aida menoleh ke sumber suara. Betapa terkejutnya ia saat atensi itu menangkap sesosok pria yang tak asing baginya. Ya, Gus Bima.
"Mas Bima." Netra itu membulat sempurna, mulutnya sedikit ternganga. Tak percaya pria yang berdiri tidak jauh darinya adalah calon suaminya.
Mendengar lirih suara Aida, kini Kenzo mengetahui bahwa pria yang tanpa permisi menyebut nama kekasihnya itu adalah lelaki pilihan orang tuanya. Di menit yang sama, dengan langkah yang begitu berat, Kenzo berjalan melewati Aida dan berdiri beberapa centi dari Gus Bima. Begitu dekat hingga Kenzo dapat melihat warna bola mata Gus Bima.
"Oh, jadi ini calon suami kamu ... yang katanya Gus itu." Kata gus sedikit Kenzo tekan dengan mata yang melotot ke arah Gus Bima. Pria lugu yang tak tahu apa-apa itu hanya mengernyitkan dahi seraya menatap Aida. Berharap ia akan mendapatkan jawaban.
Kenzo memegang kerah baju Gus Bima dengan kasar sehingga ia dapat merasakan napas Kenzo yang tak beraturan.
"Kamu siapa? Sedang apa kamu berduaan dengan Aida?" Kenzo tersenyum miring, ia menatap Gus Bima dengan rasa benci dan dendam. Sesekali ia mendengus kesal kepada Gus Bima.
"Kamu tanya saya siapa?" Kenzo semakin meremas kerah baju Gus Bima dengan sangat erat, seakan-akan ingin menghabisi pria itu malam ini juga.
"Kenzo sudah, jangan sakiti Mas Bima." Aida mencoba untuk melerai Kenzo, meredakan amarah yang kini menguasai tubuhnya. Namun, nasi sudah menjadi bubur. Aida didorong kasar oleh Kenzo sehingga ia terpental jauh. Gadis itu tersungkur ke tanah hingga menatap pinggiran kursi taman.
Gus Bima yang melihat Aida terluka tidak bisa tinggal diam. Sudah cukup. Tangannya mengepal dan mendarat tepat di tulang pipi Kenzo. Impas. Pria itu pun tersungkur ke tanah. Kenzo meringis kesakitan seraya memegangi pipinya. Ya, sedikit lebam tentunya.
"Kamu boleh menyakiti saya, tapi tidak dengan Aida." Kenzo tersenyum kecut. Pria itu bangkit dengan segala rasa benci yang tertanam di dalam hatinya. Kedua tangannya mengepal sehingga Gus Bima bisa melihat seluruh ototnya. Beberapa menit kemudian, Kenzo membalas pukulan tersebut.
Gus Bima terpelanting, pria malang itu juga ikut tersungkur. Aida yang kesakitan akan luka yang berada di dahinya hanya bisa menangis seraya memeluk erat lututnya yang lemas.
"Kenzo sudah!" Aida merentangkan tangan dan berdiri membelakangi Gus Bima, mencoba untuk melindungi calon suaminya. Matanya berkaca-kaca, Aida menatap dalam manik Kenzo. Mencoba mencari belas kasih yang mungkin tak berlaku lagi untuknya.
"Bunuh saja aku, jangan dia. Dengan kamu membunuh aku, rasa benci kamu akan terlampiaskan." Suaranya terbata-bata. Dadanya terasa sesak. Ya Rabb, mengapa Engkau tempatkan Aida di posisi ini? Berat, rasanya gadis itu tak sanggup menjalaninya.
"Kalau kamu mau benci ke aku, oke silakan ... tapi kita cuma korban. Kita juga tidak mau dijodohkan. Semua ini takdir Kenzo." Rasanya berat sekali untuk mengatakan semua ini. Perlahan, tangan Kenzo yang mengepal kini ia longgarkan.
Tidak ada kata-kata yang ia ucapkan. Cukup air matanya yang mewakili dari perasaan Kenzo. Pria itu tidak bisa menahan tangis lagi, ia menjambak rambutnya dan berteriak tepat menatap danau.
Di detik yang sama, pria itu mengelas air matanya dan menatap dalam Aida untuk yang terakhir kalinya. "Oke ... jika ini semua adalah takdir. Saya akan melepas kamu untuk hidup bersama laki-laki itu."
"Saya sudahi hubungan kita. Kamu bukan pacar saya lagi ... sekarang kamu bebas untuk melakukan segala hal yang kamu suka ... termasuk menikah dengan dia." Aida mendongak cepat. Gadis itu menggeleng seraya memegang kedua lengan Kenzo. Semakin diperjelas rasanya semakin sakit. Kenzo tak kuasa untuk mengucapkan setiap kata kepada Aida. Sebenarnya pria itu tidak ingin mengakhiri hubungannya dengan gadis yang sangat ia cintai.
"Saya tidak mau hubungan ini berakhir. Tolong pertimbangkan lagi Kenzo, saya mohon." Gadis itu tergugu. Isak tangis begitu dalam terdengar kentara. Tak henti-hentinya Aida memohon kepada Kenzo agar menarik kembali perkataannya. Tangannya bergelantung di lengan Kenzo dengan air mata yang beranak pinak di pipinya. Namun, Kenzo menepis serta menghiraukan permintaan Aida dan meninggalkannya begitu saja.
__ADS_1
Dengan sisa tenaga, Aida mencoba mengejar laju mobil Kenzo. Namun, sepertinya mustahil. Gus Bima bangkit, dengan segenap keberanian pria itu mencoba untuk menenangkan Aida. Melihat Aida yang tergugu dan seperti tak tahu arah membuat hati Gus Bima tersayat.
"Aida." Tidak ada jawaban. Gadis itu terduduk lemas seraya memeluk erat lututnya. Ia tak menghiraukan jika ada orang yang melihatnya menangis seperti orang kesurupan.
"Kenapa Kenzo tega kepada saya Mas, kenapa?"
"Iya, saya paham. Kita cari tempat yang nyaman ya. Jangan di sini." Aida tetap menangis. Gadis itu terlihat frustasi, ia menjambak-jambak kerudungnya hingga tak beraturan.
"Saya mencintai Kenzo, tapi kenapa dengan seenaknya Kenzo memutuskan hubungan ini? Saya mencintai Kenzo Mas Bima. Saya mencintai Kenzo." Kalimat itu terus yang diucapkan Aida tanpa memikirkan perasaan Gus Bima, calon suaminya.
"Saya paham, Aida. Kita cari tempat yang nyaman untuk cerita mau? Lihatlah, hidungmu memerah. Jika seperti ini terus kamu bisa terkena flu. Cuaca hari ini juga cukup dingin."
Tidak tega melihat kondisi Aida, Gus Bima memakaikan jaket yang ia kenakan ke tubuh Aida. Ya, walau ia tahu bahwa gadis itu sudah mengenakan hoodie. Namun, tidak ada salahnya bukan? Ia tidak mau sampai Aida jatuh sakit.
Saya tidak tahu mulai kapan saya mencintai kamu, tapi sungguh ... melihatmu seperti ini cukup membuat hati saya teriris.
***
Udara malam begitu dingin menusuk tembus tulang rusuknya. Terlihat Aida yang menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya, berharap dengan hal itu dapat mengurangi rasa dingin yang tak sungkan membelai kulitnya.
"Minum dulu cokelat panas ini." Terlihat tangan seorang pria menyodorkan segelas cokelat panas kepadanya. Aida hanya melirik, ia tidak semangat tatkala mengingat kejadian beberapa menit lalu.
Gus Bima menaruhnya tepat di atas telapak tangan Aida. "Minumlah selagi hangat!"
Hening. Tidak ada percakapan antara mereka berdua. Ah, mungkin mereka berdua bingung harus membahas apa untuk topik pembicaraan. Tidak mungkin jika mereka membahas kejadian di danau tadi bukan?
"Mengapa Mas Bima melakukan ini semua?" Setelah sekian lama bungkam, akhirnya Aida yang pertama kali membuka pembicaraan tersebut.
"Maksudnya?" Aida menatap wajah Gus Bima yang dipenuhi dengan lebam.
"Kenapa Mas Bima masih baik kepada saya? Padahal saya tidak sedikitpun mencintai Mas Bima." Gus Bima tersenyum dan kembali menunduk.
"Rasanya Aida tidak bisa untuk pura-pura bahagia menikah dengan Mas Bima."
Sebelum menjawab, Gus Bima tersenyum seraya mengelus pelan cup cokelat hangatnya. "Aida ... saya tahu ini berat, tapi saya janji kepada kamu bahwa saya akan menalak kamu ketika Kenzo sudah siap untuk menikahi Aida."
__ADS_1
Bersambung....
Pasuruan, 30 Januari 2023