Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Jangan Goda Aida Umi


__ADS_3

..."Seseorang itu ibarat buku. Kita tidak bisa menilai dari sampul luarnya saja, kita bisa tertipu oleh sampul luarnya yang jelek dan lusuh. Namun, kita tidak tahu isi dalamnya bagaimana."...


"Fabiayyi alaa irobbikuma tukadziban." Lantunan ayat suci Al-Quran dari sebuah bangunan besar tua dengan kubah yang menjadi maskot terdengar begitu merdu membuat siapa saja yang mendengarnya akan terhanyut oleh irama jiharkah itu. Aida termenung, memikirkan kembali mengenai sikapnya terhadap Gus Bima. Benar, ia tak bisa membohongi hatinya. Gadis itu menghela napas yang kian menyesakkan, apakah kini dirinya berubah menjadi istri durhaka? Aida merapikan mukena yang sedari tadi berada dalam pangkuannya.


"Maafkan Aida karena beluk bisa menjadi istri yang baik untuk Mas Bima." Ia menggerutu seraya mengelas jejak transparan yang mulai mengering di pipinya.


"Aida." Gadis itu terperanjat saat telapak tangan menyentuh bahunya. Aida mengerjap untuk beberapa kali, di detik yang sama ia menoleh ke belakang. Sesosok wanita paruh baya dengan khimar panjang maroon terlihat duduk seraya mengulum senyum manis padanya.


Aida mengelas jejak air matanya dengan kasar dan kemudian meraih punggung telapak tangan ibu mertuanya untuk menyalaminya.


"Kenapa kamu menangis, Nak?" tanyanya sembari mengusap bekas bening Aida yang tertinggal, tak sempat ia bersihkan.


Aida menggeleng cepat. Ah tidak, ia berbohong. Allah, ia tahu jika berbohong tidaklah baik. Namun, bagaimana lagi, tak ada cara lain. Ah Aida, beberapa menit kemudian ia merutuki dirinya yang bodoh ini. Mengapa ia harus berbohong jika ibu mertuanya saja sudah melihat dirinya terisak?


"Aida ...." Jari telunjuk itu membawa Aida untuk mendongak. Akan tetapi korneanya tak berani menatap langsung manik indah Umi Salamah.


"Apakah kamu dan Bima sedang bertengkar?" Gadis itu berulang kali menggeleng. Entah untuk ke berapa kalinya ia menggeleng. Gadis itu memilih untuk menunduk dalam. Bukan tanpa alasan, melainkan hanya sebagai pelarian.


"Berbohong itu dosa, kamu tahu 'kan, Sayang?" Membisu. Apa yang dikatakan Umi Salamah benar, ia mengangguk pelan. Malu, bagaimana ini. Apa penilaian Umi Salamah ketika mendapati menantu semata wayangnya ini telah berbohong? Pasti setelah ini wanita itu akan membencinya dan tidak akan mempercayainya lagi. Ah, astagfirullah tidak Aida. Istighfar, tak sepatutnya kamu mempunyai pikiran buruk seperti itu. Ilahi, ampuni ia, Aida tahu jika semua ini sulit, tetapi gadis itu telah berusaha sebisa mungkin untuk menghindarinya.


"Anggap saja ini adalah nasihat yang sering diberikan oleh Bunda kamu, Nak."


"Pertengkaran, perselisihan pendapat dan apapun itu sudah biasa dalam sebuah pernikahan. Ibarat sayur tanpa garam, anggap saja semua itu adalah bumbu cinta dalam rumah tangga. Sekecil apapun masalah yang kalian hadapi, hendaklah disikapi dengan kepala dingin. Jangan egois satu sama lain, harus ada yang mengalah di antara kalian berdua. Jika kalian tetap mempertahankan ego sama lain, masalah itu tidak akan pernah selesai, Nak." Benar. Apa yang dikatakan Umi Salamah dicerna Aida sedikit demi sedikit. Selama ini ia lebih mementingkan egonya tanpa memikirkan perasaan Gus Bima. Diusia yang masih dini, bahkan tak ada bekal mengenai berumah tangga membuat Aida sering menangis di sudut kamar tidur. Ternyata menikah tidak seindah yang selama ini ia bayangkan.


Rindu terhadap sumber kebahagiaan yang semakin hari tumbuh membuat dadanya terasa sesak. Acap kali terbesit dalam pikirannya untuk segera mengakhiri ikatan benang merah yang sakral itu. Namun, jauh dalam hati kecilnya seperti telah meyakinkan Aida untuk tetap bertahan. Walau berat, seiring berjalannya waktu ia akan terbiasa.

__ADS_1


"Maafkan Aida Umi ...." Belum rampung menyelesaikan kalimatnya, Aida kembali tergugu. Matanya berkaca-kaca, cairan bening itu menggenang memenuhi netra Aida hingga membuat penglihatannya buram. Beberapa menit hening, gadis itu berhambur pada pelukan Umi Salamah. Ya Rabb, ia merasa menjadi wanita paling hina. Melihat wajah Umi Salamah membuatnya semakin merasa bersalah karena telah menyakiti perasaan putra semata wayangnya.


"Kenapa, Nak? Coba cerita, jika dengan bercerita bisa membuatmu membaik, maka tumpahkan semuanya masalah yang selama ini mungkin kamu pendam sendiri kepada umi. In syaa Allah sebisa mungkin akan umi beri solusi." Umi Salamah mengelus-elus bahu Aida. Gadis itu tetap tergugu. Memilih menenggelamkan wajahnya dalam pelukan hangat Umi Salamah. Sungguh, pelukan itu mengingatkannya pada sang bunda. Ya Rabb, sudah lama ia tak menemui rahim kehidupannya. Bagaimana keadaannya saat ini, apakah baik-baik saja?


"Jika ini menyangkut Mbak Hamida ... maafkan perkataan Mbak Hamida yang sering membuat hatimu terluka, Aida." Hening. Setelah sekian lama tak bersuara, wanita paruh baya itu membuka kembali pembicaraan.


"Kita tidak bisa menilai seseorang dari luarnya saja bukan?" Aida mengangguk lemah.


"Seseorang itu ibarat buku. Kita tidak bisa menilai dari sampul luarnya saja, kita bisa tertipu oleh sampul luarnya yang jelek dan lusuh. Namun, kita tidak tahu isi dalamnya bagaimana bukan?" Aida masih tidak bergeming. Sesekali Umi Salamah masih mendengar gadis malang itu tergugu.


"Apakah kamu tahu Aida ... sebenarnya Mbak Hamida itu orangnya baik banget. Entah kenapa, setelah Bima umi jodohkan sama kamu, sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. Dia sering menangis sendiri di sudut kamar. Sering termenung, bahkan hafalan Alqurannya juga tidak seperti dahulu lagi." Aida mendongak. Benarkah? Apakah benar yang dikatakan oleh ibu mertuanya? Karena Gus Bima dijodohkan dengannya sikap Mbak Hamida jadi berubah. Aida kembali melamun.


"Aida." Lamunan singkat itu buyar tatkala telapak tangan selembut kapas memegang bahunya.


Hening. Suara lantunan kalam indah Allah pun tak kembali terdengar, menandakan bahwa telah usai dibacakan. Hanya angin semilir yang berhembus membelai wajahnya. Manik itu saling beradu pandang satu sama lain, tak mengedip sedikitpun.


Sampai akhirnya, benda. pipih berwarna hitam dengan smart lock wallpaper wajah Gus Bima terlihat tengah berdering. Ia melirik dan mendapati panggilan masuk. Aida meraih cepat gawai miliknya. Ia sedikit beranjak dan menjauh dari posisi semula.


"Assalamualaikum, ada apa, Mas?" tanyanya dengan sedikit berbisik. Bukan ia tak mau menjawab telepon itu di hadapan Umi Salamah, tetapi ia masih sedikit sungkan dan belum terbiasa.


"Waalaikumus salam, Aida ada di mana? Kenapa jam segini belum pulang?" tanya seseorang dari seberang sana. Sang empu sepertinya tengah mengkhawatirkan istrinya. Suara itu? Suara bariton milik Gus Bima membuat hatinya sedikit tentram. Sebenarnya sedari tadi ia tengah menunggu telepon dari suami tercintanya. Ah, ia jadi malu. Aida merasa sangat malu untuk pulang ke rumah. Setiap ia menatap wajah Gus Bima, saat itulah memori mengenai kejadian semalam terulang.


"Aida sebentar lagi akan pulang, Mas. Kalau mau makan, saya sudah siapkan beberapa lauk dan saya simpan di meja makan." Gus Bima mengangguk pelan, walau ia tahu istrinya di seberang sana tidak bisa melihat tanggapan dari penuturan Aida.


"Apakah mau saya jemput?" Aida menggeleng. Beberapa detik kemudian ia merutuki dirinya sendiri. Dasar Aida, kenapa ia bisa sama seperti Gus Bima. Pria itu tak akan bisa melihat gelengan kepalanya. Sungguh, melihat tingkah laku pasangan suami istri itu membuat Umi Salamah yang memantau dari kejauhan menepuk jidat pelan.

__ADS_1


"Aida ada di musholla, Mas. Umi juga ada di sini. Lima menit lagi Aida sudah sampai di rumah," Suara menggemaskan milik Aida selalu berhasil membuat Gus Bima ingin meremas pipi bulatnya. Gemas.


Namun, kejadian semalam membuat Gus Bima sedikit canggung untuk sekedar basa-basi kepada Aida. Akan tetapi ia percaya bahwa kesabaran akan membuahkan hasil. Apapun pilihan Aida nanti akan diterima pria itu dengan lapang dada.


"Ya sudah, assalamualaikum." Mereka mengucapkannya secara bersamaan. Aida tersenyum tipis. Ia sadar jika dari kejauhan ada sepasang manik yang tengah mengintainya. Gadis itu berusaha menebalkan wajah, mencoba sebisa mungkin agar wajahnya tidak merona, senyum itu Aida tahan agar tidak melekuk terlalu lebar.


Debar aneh serta desiran halus di dadanya membuatnya tak nyaman. Entah mengapa, debar itu kembali hadir setelah sekian lama. Rasanya seperti pandangan pertama saat mereka pertama kali berjumpa. Entah kebetulan atau tidak, memori di kepalanya perlahan mulai memutar kenangan manis saat pertama kali Gus Bima membawanya masuk ke rumah mertuanya. Di mana, ia tak berani sama sekali untuk memulai pembicaraan dengan suaminya.


Ah, mengingat semuanya itu membuat Aida merona. Ilahi, tolong tutupi rona itu, Aida malu jika sampai Umi Salamah melihatnya. Aih, mungkin kemerahan itu sudah seperti kepiting rebus.


Gawai yang masih menempel di dekat telinganya tanpa ia sadari panggilan itu sudah dimatikan oleh orang yang berada di seberang sana. Aida bergegas merapikan jilbabnya, melangkah menuju Umi Salamah yang tengah merapikan mukena miliknya. Setelah itu Aida meraih dan mencium punggung telapak tangan ibu mertuanya.


"Umi, Aida izin pulang dulu." Umi Salamah tersenyum seraya membelai puncak kepala Aida.


"Baiklah, Nak." Disaat Aida setengah berdiri, gadis itu dikejutkan dengan perkataan Umi Salamah yang membuat aktivitasnya terhenti.


"Malam Jumat ditahan dulu ya, Nak." Telak. Aida membelalak, gadis itu membulatkan mata sempurna. Ilahi, kata-kata itu sungguh ambigu, tetapi setelah seperkian detik mencoba memahami, gadis lugu itu akhirnya paham.


Aida semakin malu. Rasanya ingin sekali menenggelamkan wajah bulat itu di antara tumpukan karpet musholla. Sekujur badannya memanas hingga menjalar naik ke wajahnya. Benar. Wajahnya merona. Mengapa rona itu hinggap di waktu yang tak tepat?


Aida menutupi sebagian wajahnya dengan kedua telapak tangan dan berlari kecil keluar musholla. Umi Salamah terkekeh melihat tingkah laku Aida yang lari terbirit-birit seperti dikejar hantu saja.


Bersambung....


Pasuruan, 26 April 2023

__ADS_1


__ADS_2