Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Diam Lebih Berharga


__ADS_3

..."Cinta tak pernah mati. Jika tak terbalas, ia akan mengalir kembali untuk melembutkan dan menyucikan hatimu."...


..._Gus Bima ...


Mobil alphard hitam memasuki gerbang pondok pesantren yang kini masih sepi akan aktivitas santri. Sepanjang perjalanan, Aida tak henti merapalkan zikir dalam hati. Melalui kaca kecil depan, Gus Bima memantau aktivitas yang dilakukan istrinya, disaat aksinya tertangkap basah oleh Aida, pria itu memalingkan wajah, pura-pura melihat ke luar jendela.


"Kita sudah sampai, mari segera turun." Abi Nur membuka pintu mobil untuk yang pertama. Disusul Umi Salamah, Mbak Hamida dan yang terakhir adalah Aida. Gadis itu terlihat sedikit pucat. Ah, mungkin AC mobil membuatnya jadi sedikit kurang enak badan.


"Bawa ini!" Titahnya dengan ketus disaat Aida belum siap, tengah membenarkan tasnya. Sekerdus yang entah apa isinya ia berikan begitu saja kepada gadis malang itu.


"Biar saya saja." Ingin hati menggantikan, Aida menolak dan menggelengkan kepala pelan. Atensi Gus Bima masih belum teralihkan, ia fokus memandangi wajah Aida yang pucat. Namun, untuk saat ini ia masih berpikir positif.


"Apakah kamu baik-baik saja Aida? Jika kerdus itu berat, biar Bima yang membawanya." Wanita paruh baya dengan gamis syar'i itu mengkhawatirkan Aida. Mungkin, wanita itu sadar akan raut wajah Aida yang pucat.


"Tidak Umi, biar Aida yang membawanya. Aida kuat." Ia tersenyum. Bukan, lebih tepatnya senyuman paksa.


"Baguslah." Netra Gus Bima mendarat tepat pada gadis yang kini berjalan di belakang uminya. Tatapan tajam seolah-olah siap menghunus musuhnya itu dihalang oleh Aida.


"Aida tidak apa-apa, Mas. Jangan mudah untuk terbawa emosi." Ia tersadar. Tangannya mendarat pada bahu Aida, sepanjang perjalanan menuju ndalem Kyai Musthofa, pria itu setia menemani istrinya. Perlahan memang, tetapi ia tak ingin meninggalkan istrinya begitu saja. Ia takut terjadi sesuatu kepadanya, mengingat wajah Aida yang pucat.


Mereka semua berhenti di depan bangunan megah berwarna hijau yang dihiasi dengan tanaman hias di sisi kanan dan kiri, membuat siapa saja mata memandang akan terasa damai.


Mbak Hamida melangkah, mengetuk daun pintu yang sudah terbuka lebar. Tak lupa gadis itu mengucapkan salam. Dari ambang pintu, ia melihat sesosok pria paruh baya yang duduk di kursi roda tengah melantunkan kalam indah Ilahi. Namun, ketika terdengar ucapan salam, lantunan indah itu berhenti. Ditutupnya mushaf Al-Quran dengan bacaan tashdid. Pria paruh baya itu membalikkan badan dengan menggerakkan kursi rodanya. Pria itu?


"Buya."


"Hamida." Suara keduanya bergetar. Mbak Hamida berlari dan berhambur dalam dekapan sang buya. Tangisnya pecah. Tak henti ia mencium punggung telapak tangan Kyai Musthofa.


"Buya baik-baik saja? Kenapa tidak bilang jika Buya sakit?" tanyanya disela isak tangis.


Kyai Musthofa meraup wajah putrinya, membuat Mbak Hamida mendongak menatap manik indah sang buya. Pria paruh baya itu mengelas jejak bening yang bersarang di pipi putrinya dengan lembut.


"Buya baik-baik saja. Buya hanya lelah, Nak. Buya butuh istirahat sejenak."


"Hamida sudah bilang sama Buya, urusan pondok pesantren jangan semua Buya yang menangani. Biarlah sebagian urusan pondok ustaz-ustaz lain yang handle." Mbak Hamida menjawab secepat kilat.


Sebelum menjawab, Kyai Musthofa menggeleng kepala pelan. "Tidak, Nak ... tidak. Buya tidak percaya dengan orang lain."

__ADS_1


"Tapi Buya--"


"Buya hanya akan percaya dengan menantu buya kelak." Telak. Seperti tersambar petir di siang bolong. Kalimat itu berhasil menohok relung hatinya. Membeku.


"Kamu dan suamimu 'lah yang kelak akan mengasuh pondok pesantren ini." Suaranya bergetar. Tercekat di tenggorokan, serak.


"Jika saja adik--"


"Astagfirullahalazim, Buya. Persilakan dulu tamunya masuk. Tidak sopan membiarkan tamu berdiri di ambang pintu." Nyai Zamzama memangkasnya secepat sambaran kilat. Seperti tak ingin membiarkan sang suami meneruskan penjelasannya.


"Ya Allah, maafkan saya Abi Nur dan Umi Salamah. Karena terlalu rindu dengan Hamida, saya jadi membiarkan kalian berdiri di ambang pintu tanpa mempersilakan duduk terlebih dahulu." Pria itu mengelas jejak air matanya. Kemudian, dengan sisa tenaga yang masih pria itu punya, ia berusaha bangkit dari kursi rodanya. Sama seperti Aida, pria paruh baya itu terlihat sangat pucat dan lebih kurus dari sebelumnya.


"Sudah Kyai duduk saja, tidak perlu berdiri." Abi Nur menahan Kyai Musthofa yang kondisinya lemah. Ah, apakah ini karena jantungnya? Aida yang melihat pria paruh baya itu jadi teringat kepada sang ayah. Benar, ia jadi merindukannya. Sudah beberapa bulan ini, ia tak menghubungi orang tuanya. Bukan ia lupa, tetapi ada tanggung jawab baru yang harus ia jalani. Menjadi seorang istri tak semudah yang selama ini ia bayangkan.


"Aida." Gadis itu tersentak. Lamunannya pecah ketika telapak tangan mendarat pelan di bahunya.


"Mari duduk," dengan kesadaran yang tidak sepenuhnya, Aida mengindahkan ajakan suaminya dengan anggukan kepala.


Gadis itu dan yang lain mendudukkan diri pada sofa yang tersedia. Mbak Hamida masuk bersama sang umi untuk menyiapkan hidangan yang telah disediakan.


"Abi Nur, terima kasih karena sudah mau datang walau saya tahu jarak pondok pesantren ke sini sangatlah jauh." Abi Nur menggenggam telapak tangan Kyai Musthofa, lalu menggeleng pelan.


"Kyai tidak mau dibawa ke dokter dan tidak mau minum obatnya lagi," timpa Nyai Zamzama dengan senampan makanan ringan.


"Kenapa, Kyai?" Kyai Musthofa menggeleng dengan cairan yang terus menetes.


"Mari Umi Salamah, Abi Nur, Nak Bima, dan Aida. Silakan dimakan." Di atas meja, terlihat sepiring pisamg goreng, bakwan, puding, dan kolak pisang. Namun, entah kenapa Aida tak selera untuk menyantapnya.


"Aida, kamu mau yang mana, Nak? Ambil 'lah!" Umi Salamah bertanya sembari mengambil semangkuk kolak pisang.


"Mau kolak pisang? Biar saya ambilkan." Aida menggelengkan kepala lemah.


"Nanti akan Aida ambil sendiri. Aida masih belum mau makan apa-apa." Ia menjawab dengan suara lirih. Lebih tepatnya berbisik tepat di samping daun telinga suaminya.


Gus Bima menggenggam telapak tangan Aida. Dingin. Telapak tangan gadis itu terasa begitu dingin, tapi saat ia menyentuh dahi Aida, rasanya begitu panas. Pucat pasi semakin kentara, lekungan hitam di bawah matanya membuat Gus Bima semakin khawatir. Ia ingin sekali menanyakan keadaannya. Namun, ia yakin bahwa Aida akan mengelak dan tidak akan berkata jujur.


"Kamu sakit?" Hanya gelengan kepala yang bisa Aida berikan kepada suaminya. Benar bukan? Gadis itu berbohong. Apakah Gus Bima bodoh? Apakah Gus Bima bisa tertipu daya dengan begitu saja akan gelengan kepala itu? Jelas raut wajah yang pucat pasi menandakan jika dirinya tak baik-baik saja.

__ADS_1


"Aida!"


"Saya baik-baik saja. Hanya sedikit lelah," jawabnya ia pertegas dan sedikit ia beri tekanan dalam mengatakannya.


"Aida, mari ikut umi." Wanita paruh baya itu itu menepuk pelan paha menantunya. Entah akam diajak ke mana Aida, sepertinya Umi Salamah tidak mengetahui jika gadis itu sedang tidak enak badan.


"Baiklah, Umi."


"Umi, Aida sedang tidak enak--"


"Mari Umi, tidak enak membuat Nyai Zamzama menunggu." Gadis itu menyela ketika kalimat Gus Bima belum terselesaikan. Gus Bima merasa sangat kesal, baiklah jika itu yang dia mau. Jika ia tak mau diperhatikan olehnya, Gus Bima tak memaksa. Pria itu memalingkan wajah disaat Aida menatap wajahnya.


Umi Salamah menggamit pergelangan tangannya, membawa Aida masuk ke dalam meninggalkan para pria yang tengah duduk dan mengobrol santai.


"Silakan duduk Umi," ujar gadis berjilbab instan putih. Umi Salamah mengangguk, setelah itu ia mendudukkan diri di atas karpet merah yang di tengah-tengah tersedia beberapa jamuan. Melihat Aida yang tak kunjung duduk, Umi Salamah menarik pelan lengannya sehingga membuat Aida terduduk di dekatnya.


"Bagaimana Aida, apakah sudah isi?" Aida mendongak, menatap sumber suara dengan malu-malu. Sudah isi? Kata-kata itu terdengar sangat ambigu. Siapapun, apakah dari kalian ada yang mengerti, tolong beritahu gadis malang itu.


Aida menatap Umi Salamah. Tak lama, telapak tangan selembut sutera itu membelai halus puncak kepalanya. "Belum, Nyai."


"Sudah lebih dari tiga bulan kalian menikah, kenapa belum isi juga?" Telak. Setelah ia mencerna kata demi kata yang diucapkan Nyai Zamzama, akhirnya Aida paham.


"Mungkin belum rezeki, Nyai. Anak adalah titipan. Allah akan menitipkan momongan ketika dirasa kami sudah benar-benar siap."


"Rencananya juga Aida akan kami kuliahkan, saya ingin melihat menantu semata wayang saya ini bisa meraih cita-citanya." Aida tersentak. Seperti mimpi. Apakah yang baru saja Umi Salamah katakan itu benar? Ia begitu senang sampai tak bisa mengekspresikannya lagi. Siapapun, cubit dia!


"Enak sekali bukan menjadi menantunya Umi Salamah? Baik hati, sabar, penyayang. Sayang, Hamida tidak bisa menjadi menantu Umi, posisi itu digantikan oleh orang asing yang latar belakangnya tidak jelas." Membeku. Aida membatu. Senyumnya memudar. Seperti disayat ribuan silet. Sebisa mungkin gadis itu menyeka air mata yang telah menggenang di pelupuknya. Ibarat gelas yang pecah, serpihan itu tak sengaja terpijak olehnya, perih. Sakit, sungguh sakit. Umi Salamah mengelus-elus punggung Aida, mencoba menenangkan menantunya. Gadis itu menatap sejenak Umi Salamah dan menganggukkan kepala, pertanda isyarat bahwa ia baik-baik saja.


"Permisi, Aida izin ke toilet dulu," ujarnya.


Namun, ketika gadis itu bangkit dan berdiri. Tiba-tiba kepalanya pusing, pandangannya buram. Tak lama, pandangan sekitar menjadi gelap, hanya ada satu cahaya yang menjadi titik fokusnya. Tubuhnya tersungkur ke lantai.


"AIDA!"


Mas Bima ....


Air matanya menetes sebelum netranya benar-benar terpejam. Terakhir yang sempat ia dengar adalah teriakan Umi Salamah. Entah apa yang selanjutnya terjadi kepada Aida, kini gadis itu benar-benar memejamkan mata.

__ADS_1


Bersambung ....


Pasuruan, 21 Mei 2023


__ADS_2