Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Akad yang tidak Diinginkan


__ADS_3

..."Cukupkanlah kebahagiaanmu itu di dunia agar di akhirat kelak kamu tidak banyak mengeluarkan air mata."...


Gadis bergaun putih berbordir yang dipadukan dengan kebaya cokelat terlihat mondar-mandir sesekali melihat gawai miliknya. Entah apa yang sedang gadis itu tunggu. Namun, raut wajahnya terlihat cukup gelisah. Sesekali gadis itu menggigit jemarinya.


Di atas kasur yang empuk, gadis itu terduduk lemas. Hari yang ditunggu kini telah tiba. Di mana Aida harus memakai gaun yang hanya dikenakan sekali seumur hidup dengan sedikit polesan tipis di wajahnya. Namun, berbeda dengan pengantin pada umumnya. Aida tergugu, isak pilu tidak berhasil ia bendung.


"Mbak Aida." Gadis kecil dengan gamis biru muda menggenggam erat telapak tangan Aida yang mulai dingin.


"Araya." Suara parau itu membuat hati Araya tersentuh. Bagaimana bisa ia tidak merasakan sedih yang menerpa Aida sedangkan wanita yang sedang berada di hadapannya ini sudah seperti saudara kandungnya sendiri.


"Mbak tidak mau menikah dengan Mas Bima." Kalimat itu diucapkan dengan kepala Aida yang menggeleng cepat. Ia merengek dengan sedikit mengguncangkan lengan Araya.


"Apakah Mbak sudah menghubungi Mas Kenzo?" Aida terdiam, gadis itu masih terisak-isak. Ya, yang dikatakan Araya ada benarnya juga. Namun, untuk apa ia menghubungi Kenzo sedangkan Aida akan menikah dengan Gus Bima bukan?


Gadis itu meraba-raba sekitar kasur, mencari gawai yang sempat ia lempar tak jauh dari tempat ia duduk. Setelah gawainya ditemukan, Aida bergegas mencari nama kontak seseorang yang selama ini sangat ia rindukan. Ah, tidak. Mungkin terdengar berlebihan. Namun, dua hari tidak bertemu dengan Kenzo, jantung Aida rasanya seperti berhenti berdetak.


Setelah didapati nomor Kenzo, di detik yang sama ketika ia akan menekan tombol telepon, terdengar suara seseorang yang menggerakkan gagang pintu. Aida tersentak dan mengurungkan niatnya. Gadis itu menyembunyikan gawai tersebut tepat di bawah selimut. Debar aneh itu muncul kembali, begitu pula dengan keringat dingin yang mulai bercucuran.


Dari balik pintu, terlihat wanita paruh baya yang sudah membesarkannya itu tersenyum manis kepada Aida. Polesan bedak tipis membuat Bunda Aisyah terlihat sangat cantik, wajahnya berseri-seri. Aida hanya bisa tersenyum kecut tatkala sang bunda berjalan untuk menghampirinya.


"Seorang pengantin tidak boleh menangis sebelum ijab diucapkan, Aida." Telapak tangan yang halus itu mengelas jejak bening yang dengan seenaknya bersarang di pipi bulat Aida. Rasanya Aida tidak sanggup menahan tangisan ini, tenggorokannya tercekat. Sakit.


"Bunda, Aida--"


"Sudah siap? Acara akan segera dimulai." Di menit yang sama, sesosok pria paruh baya dengan jas hitam masuk ke kamar Aida tanpa mengucap salam. Suara tersebut selalu memecahkan keheningan.


Bunda Aisyah yang menoleh tanpa mengubah posisi tubuh langsung mengangguk, mengindahkan perkataan suaminya. Tangan itu menggamit lengan Aida dan membawanya untuk memulai awal baru dalam lembar hidupnya. Hari ini sejarah akan tercatat dalam hidup Aida. Masa depan yang ia dambakan dipenuhi dengan tawa dan canda, nyatanya berujung dengan air mata. Seumur hidup, Aida tidak pernah membayangkan akan menikah dengan pria yang tak sedikitpun ia cintai. Sampai akhirnya, jodoh menyatukan mereka berdua dalam ikatan benang merah. Hanya dengan hitungan detik, semua akan berubah.


*Kenzo, apakah kamu tidak mau datang di acara pernikahanku untuk terakhir kalinya saja? Aku sangat merindukanmu.

__ADS_1


Aku mengharapkan kehadiranmu, Kenzo*.


***


Aida menghembuskan napasnya dalam-dalam. Ditatap lekat manik mata wanita yang berada di sampingnya. Sang rahim kehidupan yang menemaninya selama dua puluh satu tahun. Bundanya menggenggam telapak tangan Aida dengan sangat erat yang mulai dingin dan gemetar. Rasa gugup dan gelisah menyelinap ke lubuk hatinya. Sebentar lagi semua akan berubah, terutama statusnya. Tak lama statusnya akan berubah menjadi istri seorang gus.


"Hamasah, Sayang. Serahkan semuanya kepada Allah." Bunda membisikkan kalimat yang membuatnya terdiam seketika. Benar, mau tidak mau ia harus siap dengan semua ini.


Keputusan ini sudah bulat, tidak dapat diganggu gugat. Aida menerima perjodohan yang tidak sedikitpun ia inginkan. Di masjid yang tidak kecil maupun besar itu, masjid yang tidak jauh dari rumah Aida, pernikahan sederhana telah dilaksanakan. Dadanya terasa sesak. Sesekali Aida menoleh ke arah belakang, berharap pangeran yang selama ini ia impikan akan datang menggantikan peran pria yang duduk berhadapan dengan ayahnya. Sungguh, Aida benar-benar tidak tahu akan melakukan apa lagi.


Egois? Mungkin julukan itulah yang cocok untuk dirinya. Namun, Aida hanya menuruti keinginan orang tuanya. Anak mana yang tidak ingin mendapatkan ridho dari kedua orang tuanya?


Aida menunduk. Ah, seolah-olah ia yang terluka, padahal ada sesosok lagi yang lebih terluka daripada dirinya. Di depannya, Aida melihat sesosok pria yang sudah siap mengucapkan ijab qabul. Kemeja putih yang terbalut dengan jas hitam lengkap pula bersama peci hitam membuat Gus Bima tampak berwibawa. Pernikahan itu hanya dihadiri keluarga kecil dari Aida dan calon suaminya.


Gadis itu nampak begitu cantik dengan gaun putih berbordir. Kecantikannya semakin komplit ketika polesan tipis yang menghiasi wajahnya. Ah, walaupun tidak memakai make up Aida tetap cantik alami.


"Silakan untuk mempelai pria memberikan maharnya." Suara dari balik microfon itu membuatnya menatap ke arah depan yang jaraknya saat ini hanya beberapa meter dari tempat Aida duduk.


Maharnya adalah seperangkat alat salat, emas dan lantunan azan. Ah, sebenarnya ketika Gus Bima bertanya tentang mahar apa yang Aida inginkan, gadis itu hanya menjawab seperangkat alat salat dan lantunan azan. Sedangkan emas adalah usulan dari ibu mertuanya, ummi Gus Bima.


Mungkin mahar lantunan azan terdengar sangat aneh. Namun, itulah kenyataannya. Tak terpikir jauh mengenai mahar yang Gus Bima tanyakan. Bukankah mahar terbaik adalah yang mudah dilakukan? Bukankah wanita yang disenangi Sayyidah Fatimah adalah ia yang mudah maharnya?


Allahu akbar, Allahu akbar.


Gelenyar aneh mulai Aida rasakan. Jantungnya bergemuruh, desiran halus menyapa setiap inci urat nadinya sehingga air mata jatuh meluruh. Aida terpaku. Bukan hanya keterpukauannya akan indah kalam Ilahi. Namun, suara itu? Suara yang pertama kali berhasil membuat hatinya tersentuh. Indah, setiap bait dari lantunan azan mengingatkannya pada kejadian di mana Gus Bima dipukul oleh Raka tanpa melawan.


Ya Allah, mengapa Engkau hadirkan sesosok malaikat sebaik Mas Bima untuk Aida? Pantaskah Aida menjadi istri seorang santri sesabar dan sebaik Mas Bima? Rasanya tak pantas.


Aida semakin mempererat pegangannya pada kebaya yang ia pakai. Tangisnya tidak dapat dibendung lagi. Sesak itu semakin kentara, di antara ribuan tanya. Apakah ini adalah jawaban dari Allah atas semua permintaannya?

__ADS_1


Namun, dalam sujud panjangnya, Aida tak pernah meminta sesosok pria yang seshalih ini. Bahkan jika diberikan kesempatan untuk mengacak, rasanya tak pantas seorang anak kyai bersanding dengannya yang merupakan wanita berlumuran dosa. Bahkan, tak pernah ia bayangkan jikalau statusnya akan berubah menjadi seorang ning dan dihormati oleh para santri di pondok pesantren. Namun, setelah apa yang semua terjadi, masih pantaskah Aida menjadi istri Gus Bima?


Ya Allah, bukan niat hati ingin melampaui batas garis Takdir-Mu. Namun, bukankah takdir ini lebih banyak memakan luka daripada bahagia? Di hari yang bahagia ini, tak satu hati yang tersakiti, tak hanya sepasang mata yang berlinang air mata.


Aida seakan tersadar dari lamunan singkatnya ketika pembawa acara memberitahukan bahwa sebentar lagi ijab qabul akan segera berlangsung. Benar, hanya tinggal beberapa menit lagi ia akan terikat benang merah yang Allah gariskan. Ya, sebentar lagi.


"Bismillahirrahmanirrahim."Aliran darah seakan berhenti tatkala mendengar Ayah Fatih yang tak lain adalah ayahanda Aida mengucap basmalah seraya memegang microfon di tangan sebelah kanannya.


Dengan percaya diri, Gus Bima menjabatkan tangan, netra keduanya saling beradu pandang. Tak sedikitpun Aida melihat raut wajah gelisah dari Gus Bima. Ah, kenapa pria itu terlihat santai? Apakah hanya ia yang terlalu berlebihan?


"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan putri saya Aida Btari Lestari binti Fatih Abdullah dengan seperangkat alat salat dan emas 60 gram dibayar tunai." Ayah Fatih mengucapkannya dengan tegas.


"Saya terima nikah dan kawinnya Aida Btari Lestari binti Fatih Abdullah dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."Pria itu mengucapkan dengan sekali tarikan napas serta tak kala tegasnya seperti sang ayah.


"Bagaimana para saksi? Sah?"


"Sah."Kalimat itu terdengar begitu menggema sehingga membuat Aida membuka matanya. Tunggu. Apakah benar kini dia sudah sah menjadi istri dari Gus Bima? Di detik yang sama, semuanya telah berubah dalam kurun waktu yang sangat singkat. Aida meremas kebayanya sembari meneteskan air mata. Rasa sesak bercampur dengan haru yang menyeruak di dada.


Setelah berdoa dan mengusap telapak tangannya ke wajah, Gus Bima membuka mushaf Al-Quran dan memenuhi permintaan dari sang istri. Di menit yang sama ketika surat Ar-rahman dibacakan, tengkuk Aida mendadak merinding. Suara itu sangat menyentuh. Cairan bening di pelupuk Aida menganak pinak sehingga dengan sekali kedipan rasanya air mata itu akan terjatuh.


Aida memilih memejamkan mata, meresapi setiap bait Al-Quran yang dibacakan oleh suaminya. Sungguh, momen tersebut tak akan pernah Aida lupakan dalam hidupnya. Sampai ayat terakhir selesai dibacakan, Gus Bima mencium kitab sucinya. Di detik yang sama, pria itu bangkit dan menghampiri Aida. Debar aneh itu kembali hadir ketika Gus Bima menjulurkan tangan tepat di depannya. Namun, gadis itu membiarkan tangan tersebut mengambang di udara tanpa menyentuhnya.


Melihat Aida yang tidak ada respon, Bunda Aisyah mencolek paha putri semata wayangnya sehingga lamunan itu buyar. Dari ujung netranya, Aida melirik Bunda Aisyah dengan tatapan sendu. Namun, bersamaan dengan cairan bening yang menetes, Aida meraih telapak tangan Gus Bima dan menciumnya. Tangan yang gemetar menyentuh kening Aida dan pria itu mulai membaca doa. Terlihat sakral dan mengharukan bukan?


Sekarang, ada tanggung jawab besar yang harus Aida emban dan kewajiban yang harus dijalankan. Terpenting lagi ada hati yang harus Aida jaga, walaupun ia tidak mencintainya. Namun, sekarang surga tidak lagi terletak pada orang tuanya, melainkan suaminya. Lantas, apakah Aida mampu menjalani ini semua dan patuh pada setiap perintah Gus Bima?


Kenzo, apakah kamu benar-benar sudah melupakanku? Sepanjang acara pernikahan, aku tidak melihatmu.


Bersambung....

__ADS_1


Pasuruan, 2 Februari 2023


__ADS_2