
..."Wanita itu seperti bunga, mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik, dan penuh kasih sayang."...
..._Ali bin Abi Thalib_...
Asholatu Khairum Minannaum.
Gadis dengan kelopak yang masih tertutup rapat itu perlahan mengerjapkan mata, suara toa masjid yang tak jauh dari rumahnya membuat Aida terjaga dari tidurnya. Ia mengusap kedua kelopak matanya, menetralkan pandangan yang masih buram. Sejenak, ia teringat oleh sesuatu.
"Mas Bima." Ia beranjak, berlalu pergi dengan berlari kecil menuju kamarnya. Pintu kamar yang masih tertutup rapat dibuka dengan kasar. Atensinya menelisik, menelanjangi setiap penjuru ruangan.
Hening. Suara jangkrik dan serangga kecil menguasai ruangan sepetak itu. Apa yang ia cari tak kunjung ia dapatkan. Ya, Aida tidak menemukan pria itu. Ah, apakah Gus Bima tidak pulang semalaman? Namun, jika tidak pulang pergi ke mana pria itu?
"Mas--Mas Bima." Dengan lirih dan langkah pelan, Aida mencari Gus Bima, netranya tak henti menatap sekitar. Sedetik kemudian, Aida menggigit jemarinya. Benar, itulah yang ia lakukan ketika cemas datang melanda.
Tiba-tiba, tubuh Aida mendadak lemas. Lututnya seperti mati rasa, jantungnya berpacu cepat, dadanya terasa sesak dan napasnya mulai tidak teratur. Pikirannya mulai tak karuan, berkeliling memikirkan hal-hal yang tidak diharapkan.
"Mas Bima ...."
"Aida." Suara bariton itu?
Gadis dengan air mata yang telah menganak pinak di pipinya menoleh kasar pada sumber suara. Ia tersentak tatkala suara yang tak asing baginya memanggil asmanya. Aida membeku, membatu beberapa menit. Netranya tak kunjung mengerjap dan mulutnya sedikit ternganga. Pria dengan rambut yang masih basah serta handuk yang terletak di lengannya membuat aliran darah Aida terhenti sejenak. Pria itu? Ah tidak, ia mulai tergugu. Tak lama suara isak pilu terdengar kentara.
Aida berlari menghampiri Gus Bima yang kini jaraknya tak jauh dari ranjang tempatnya mendudukkan diri. Ia memeluk tubuh kekar Gus Bima, mendekapnya dengan erat seperti tidak ingin kehilangan pria itu walau hanya sejenak.
"Kamu dari mana saja, Mas? Semalaman Aida menunggu, tapi Mas Bima tak kunjung pulang?" Suara serak itu tak bisa ia sembunyikan lagi. Tangis Aida pecah, Gus Bima hanya bisa mematung. Kemudian, pria itu menjatuhkan handuk yang dibawa dan membalas pelukan itu.
"Ma--maaf, Aida. Semalam saya tidur di luar. Saya pulang terlalu larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, saya tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya saya tidur di depan pintu." Sontak Aida melepaskan pelukan itu. Netra mereka saling beradu pandang satu sama lain.
"Benarkah? Semalam, Aida menunggu Mas Bima di belakang pintu, karena terlalu mengantuk, Aida jadi ... ketiduran." Membeku. Mereka saling membisu. Di detik yang sama, saat Gus Bima tak mengedipkan mata memandang Aida, gadis itu kembali merona.
"Aida, Bima cepatlah kalian bersiap, hari ini kita akan--" Umi Salamah menghentikan aktivitasnya tatkala ia tidak sengaja melihat menantunya yang tengah merona. Entahlah, ia tak tahu. Akan tetapi, Umi Salamah segera membalikkan badan, memutuskan untuk menunggu di ruang tamu. Ia sedikit tersenyum melihat tingkah laku mereka berdua. Dalam setiap doa, ia berharap perjodohan ini akan bertahan lama. Bahkan, sampai maut yang memisahkan.
Aida memutuskan secara sepihak, ia membalikkan badan dengan posisi jemari yang saling menaut dan meremas. Gus Bima menepuk jidat pelan dan merapalkan istighfar. Bagaimana ia bisa lupa memberitahu istrinya jika hari ini ia dan keluarganya akan berkunjung ke ndalem Kyai Musthofa. Akankah gadis itu marah jika diberitahu mendadak seperti ini? Semoga tidak. Gus Bima menghela napas dalam, menghembuskannya secara perlahan. Dengan segala keberanian yang terkumpul, pria itu akhirnya mengatakannya.
"Ah, Aida. Saya ingin memberitahukan ... sesuatu." Ujung kalimatnya digantung. Gadis itu melirik dari ujung netranya. Ya, ia tak kunjung bergerak walau hanya membalikkan badan.
__ADS_1
"Sa--saya lupa memberitahu kamu jika hari ini ada kunjungan ke ndalem Kyai Musthofa, buyanya Hamida." Telak. Matanya membulat sempurna. Hari ini? Tidak mungkin! Gadis itu membalikkan badan dan menatap Gus Bima dengan mata yang sedikit membelalak.
"Sekarang? Sepagi ini, Mas? Aida diajak?" Gus Bima menundukkan kepala, di detik yang sama ia mengangguk lesu.
Sebelum melanjutkan perkataannya, Aida menghela napas berat. Tatapannya mendadak lesu dan layu. "Kenapa harus mendadak sekali, Mas? Aida belum siap-siap, mandi dan dandan pun--"
"Jika kamu tidak mau ikut, tinggalah di rumah. Dan jika kamu belum siap, silakan siap-siap terlebih dahulu. Jika sudah, kamu bisa menyusul kami. Kamu bukan ratu, kami tidak berhak menunggumu. Kamu di sini tamu, istri sekaligus menantu dari pemilik pondok pesantren ternama. Tidak ada kata tapi untuk merangkai seribu alasan. Kami tidak menerimanya." Gadis dengan tatapan datar, kedua tangan menyilang di dadanya memangkas secepat kilat.
"Lima menit, Hamida. Beri dia waktu lima menit untuk bersiap-siap. Ini murni kesalahan saya, saya lupa memberitahu dia." Gadis itu memutar bola mata jengah. Tak lama, tanpa sepatah kata gadis itu berlalu pergi dengan dengusan kesal dari bibir merah mudanya.
"Terlalu sering membela."
Aida menyeka air matanya ketika pria itu kembali membalikkan badan untuk menatapnya. "Tidak perlu menyembunyikan air mata ini, Aida. Cairan ini terlalu berharga untuk keluar dari pelupukmu." Pria itu mengusap jejak bening di pipinya yang menetes tanpa permisi.
"Tidak apa, Mas. Apa yang dikatakan Mbak Hamida itu benar. Saya hanya ... tamu." Aida menghapus jejaknya sembari tertawa miring.
"Aida--"
Gadis itu mundur beberapa langkah ketika Gus Bima melangkah maju untuk mendekatinya. "Saya akan bersiap, lima menit."
Hentinya hancur, ia tahu bahwa pernikahan ini hanyalah sebatas perjodohan belaka dari kedua belah pihak orang tua tanpa adanya rasa cinta. Mungkin ada, tetapi bertepuk sebelah tangan. Cinta yang tak terbalaskan.
"Di mana Aida?" bisik Umi Salamah kepada Gus Bima. Pria itu menoleh ke belakang, setelah itu menatap wajah teduh uminya dengan menggelengkan kepala.
"Coba lihat, umi takut terjadi sesuatu sama istri kamu!" Gus Bima mengangguk. Ia menuruti titah uminya. Akan tetapi ....
Seorang gadis dengan gamis panjang semata kaki, khimar senada dan bedak tipis yang membuatnya semakin cantik keluar dari ruangan sepetak yang terletak di ujung ruangan. Gus Bima terpaku, tanpa disadari bibirnya menyunggingkan senyum simpul.
"Maaf ... jadi menunggu lama." Umi Salamah menoleh pada sumber suara, pun dengan yang lain. Perempuan ketus itu kembali menyilangkan tangannya. Tatapannya seakan-akan siap untuk menerkam. Oh Allah, lindungi Aida dari terkaman harimau betina yang tengah lapar.
"Masih untung tidak ditinggal." Ia menggerutu membuat Abi Nur melirik.
"Sudahlah, mari kita berangkat. Pasti Kyai Musthofa sudah menunggu kita," ucapnya memecahkan suasana.
Gus Bima menjulurkan telapak tangan di hadapan Aida yang tak kunjung mendongakkan kepala. Gadis itu hanya menatapnya dengan nanar, membiarkan telapak tangan suaminya mengambang di udara.
__ADS_1
"Mari." Kepalanya ikut menggeleng seiring dengan berakhirnya kalimat yang keluar dari bibir manisnya.
Dengan gemetar dan ragu, Aida meraihnya. Gadis itu menggenggam erat telapak tangan suaminya. Tidak, sebenarnya Aida malu, buktinya kini pipi bulat itu merona walau tidak menggunakan blush on.
"Kamu terlihat begitu cantik, Humaira." Telak. Aida mendongak, seperti tersengat aliran listrik. Kalimat itu mampu meluluhkan hatinya. Benarkah, apakah ia begitu cantik? Ah, rasanya ia ingin sekali mengaca. Sebaliknya, beberapa detik yang lalu ia merasa bahwa dirinya sangat lusuh dan jelek.
"Tidak perlu risau Aida, Kyai Musthofa dan Bu Nyai sangatlah baik. Mereka 'lah yang mengajak kamu untuk mengikuti jamuan ini." Aida menatap binar netra suaminya. Setelah beberapa menit kemudian, ia mengangguk dan kembali memilih menunduk dalam. Digandeng pertama kali oleh Gus Bima membuat jantungnya tak karuan. Ilahi, rasanya lutut ini akan runtuh.
"Tapi Mbak Hamida ...." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya yang telah terangkai rapi.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikir. Ada saya. Apakah kamu lupa jika saya adalah perisaimu Humaira?" Aida tersenyum miring. Rasanya ia ingin menenggelamkan wajahnya kepada dada Gus Bima.
"Mas ... sudah!" Gus Bima tertawa melihat istrinya tersipu malu. Pria itu memang suka sekali melihat pipi istrinya berubah seperti kepiting rebus.
"Em ... Mas Bima," bisiknya setelah beberapa detik memutuskan membisu dengan berjalan mensejajarkan tubuh. Pria itu mengalihkan atensinya.
"Hari ini ... Mas Bima tampan sekali." Gus Bima membulatkan matanya, di detik yang sama dirinya tersedak membuat Aida khawatir.
"Mas."
"Bima."
"Bima tidak apa-apa Umi, hanya tersedak ludah." Tidak. Pria itu berbohong. Bukan ludah yang membuatnya tersedak. Namun, pujian manis dari Aida yang mampu membuat ludahnya tercekat di tenggorokan.
Mereka melanjutkan langkahnya menuju mobil. Sementara Gus Bima mencubit kecil pinggang Aida. Gadis itu meringis kesakitan, berdiri beberapa jarak darinya dan mengernyitkan dahi.
"Sakit, Mas." Pria itu tertawa renyah. Sepertinya ia sangat bahagia melihat raut wajah Aida. Gadis itu mengerucutkan bibirnya, maju dua senti dari biasanya.
Sambil meneruskan langkah, pria itu menjewer kedua telinganya, pertanda dari permintaan maaf. Ia memasang wajah memelas membuat Aida tidak bisa terlalu lama marah kepada suaminya.
"Istri saya jika amarahnya reda sangatlah cantik."
"Mas Bima tumben berlaku lembut kepada saya?" Telak. Gadis itu merutuki dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia bertanya seperti itu. Aida meremas pinggiran dari jahitan gamisnya. Malu, sungguh malu.
Menyadari perubahan pada wajah Aida, pria itu merangkul dan mengelus-elus bahunya. "Wanita itu seperti bunga, mereka harus diperlakukan dengan lembut, baik, dan penuh kasih sayang." Setelah itu Gus Bima menjatuhkan tangannya dan berjalan dengan cepat, meninggalkan Aida yang masih terpaku di tempat.
__ADS_1
Bersambung .....
Pasuruan, 20 Mei 2023