
..."Apapun yang terjadi di kehidupan kita, itu adalah suatu pembelajaran. Ketika Allah memberikan yjian, tandanya Allah ingin memberikan ilmu baru untuk kita."...
..._Gus Bima...
"Fatimah." Suara serak dari seorang pria paruh baya samar-samar terdengar di antara sambaran petir yang memekakkan telinga. Gemuruh petir dan gelapnya langit membuat gadis kecil dengan luka di pelipis meringkuk ketakutan. Telapak tangannya menutup kedua daun telinga.
Gadis itu tergugu, tepat di depan ruko tak berpenghuni, ia terisak memanggil nama seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya. Malam semakin terjaga, tetapi badai itu tidak kunjung reda. Banyak pohon yang terporak-poranda. Air sungai mulai naik ke permukaan, gadis itu kini terjebak. Ilahi, apa yang harus dia lakukan? Ia terpisah dari kedua orang tuanya.
"Abah. Fatimah takut." Bibirnya membiru karena terlalu lama berada di bawah guyuran air hujan. Seluruh tubuhnya menggigil kedinginan. Kini, posisinya, gadis kecil itu tengah memeluk tubuhnya berharap dapat memberi kehangatan pada tubuh kecilnya.
Bersamaan dengan sambaran kilat yang membuatnya terperanjat dan terkejut bukan main, kesadarannya perlahan mulai memudar. Tubuhnya terjatuh ke lantai yang kotor, penglihatannya buram. Ia hanya fokus pada satu cahaya terang yang berada di tengah. Terakhir yang ia dengar hanyalah teriakan dari sang abah serta gemuruh petir yang saling bersahutan satu sama lain. Setelah itu, entah apa yang terjadi.
***
"Abah ...."
"Aida." Gadis itu mengerjapkan mata, menyesuaikan dengan cahaya di sekitarnya. Ruangan putih dengan bau khas obat-obatan serta selang infus yang melekat di punggung tangannya membuat Aida bertanya-tanya. Bagaimana ia bisa berada di sini? Bukannya ia berada di rumah Kyai Musthofa?
Netranya menelisik ke setiap sudut ruangan. Tidak jauh dari tempatnya berbaring, terlihat sesosok pria dengan wajah sendu dan layu memegang tangan Aida. Netranya terpejam dan bibirnya tak henti merapalkan doa. Sesekali ia melihat pria itu mencium telapak tangannya berulang kali. Ilahi, pria itu sangat tulus mencintainya. Aida merasa menjadi wanita paling jahat. Tanpa ia sadari, air matanya menetes membasahi sarung bantal yang ia tiduri.
"Aida, kamu sudah siuman?" Menyadari istri kecilnya yang telah sadarkan diri. Gus Bima reflek membelai puncak kepalanya. Di menit yang sama, gadis itu beranjak dan pergi untuk memanggil dokter.
__ADS_1
Tangan Aida yang lemas terangkat untuk mengelas jejak beningnya. Mengetahui keadaan Aida, Umi Salamah membuka pintu ruangan tempat Aida dirawat dan berlari menghampirinya.
"Alhamdulillah, syukurlah kamu sudah siuman, Nak. Umi sangat khawatir, umi takut terjadi sesuatu kepadamu." Wanita paruh baya itu tidak berhenti merapalkan hamdalah dan mencium kening Aida. Gadis itu merasa tersentuh. Ia jadi teringat pada bundanya. Ah, iya. Sejak tadi ia tidak melihat keberadaan bundanya. Apakah sumber kebahagiannya itu tidak diberitahu tentang kondisinya?
"Kamu kenapa sampai bisa pingsan seperti itu tadi, Aida?" Aida hanya tersenyum lemas. Gadis itu masih terlihat pucat pasi.
Pusing kembali mendera, rasanya saat ini kepala Aida seperti naik wahana putar. Gadis itu kembali memejamkan mata. Keningnya mengernyit, membuat kedua alisnya yang tebal menyatu sempurna. Aida menelan ludah kasar. Perutnya terasa sakit dan perih. Aida meremas perutnya. Tubuhnya meringkuk dan di detik kemudian, gadis itu merintih kesakitan. Perutnya seperti ada yang melilit dengan sangat kencang. Sakit sekali. Ilahi, apa yang sebenarnya terjadi kepadanya? Rasanya Aida tidak sanggup menahan sakit ini.
"Apanya yang sakit, Nak?" Wanita itu sadar dengan raut wajah yang dicetak oleh Aida. Umi Salamah segera menggosok-gosok telapak tangan Aida. Gadis itu tak kunjung menjawab, bibirnya terasa berat untuk bersuara. Rasa sakit ini membuatnya tersiksa. Gus Bima, di mana dia. Aida saat ini membutuhkan keberadaannya. Setelah sekian lama menahan sakit dengan menggigit bagian bawah bibirnya, tangisan itu akhirnya pecah. Aida tidak bisa menahannya lagi.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi dokter akan sampai. Bima sedang memanggilnya." Umi Salamah tidak tega melihat menantunya tergugu dengan posisi tangan meremas perutnya. Wanita paruh baya itu tidak bisa berbuat banyak selain berdoa. Bukankah kata orang, tidak ada yang bisa menandingi kekuatan doa?
Wanita paruh baya dengan jas putih itu mulai memeriksa kondisi Aida. Namun, malangnya gadis itu masih kesakitan sehingga tak kuat untuk membuka kelopak matanya. Perawat yang berada di belakang dokter dengan cekatan menuruti instruksi dan perintah yang diucapkan dokter. Gus Bima memalingkan wajah tatkala Aida mendapat suntikan dan salah satu dari perawat mengambil sampel darahnya.
Pria itu mengusap sebagian wajahnya dan merapalkan istigfar dalam hati banyak-banyak. Dirinya ikut sakit ketika melihat istri kecilnya itu meringis dan menjerit kesakitan. Tidak tega melihat Aida terbaring lemah tak berdaya seperti itu. Umi Salamah mengelus-elus punggung putra semata wayangnya, menguatkan Gus Bima.
"Bima. Dokter sudah selesai memeriksa Aida." Umi Salamah berbisik di telinga Gus Bima ketika ia berhambur ke pelukan uminya.
"Bagaimana kondisi istri saya, Dokter?" tanyanya harap-harap cemas.
"Untuk saat ini saya belum bisa memberikan diagnosa pasti kepada pasien. Saya akan melakukan cek laboratorium dengan sampel darah pasien." Seperti dihantam ombak besar. Dunia Gus Bima seolah-olah runtuh. Apa ini? Sebuah ketidakpastian yang membuatnya semakin cemas.
__ADS_1
"Apakah parah Dokter?" Kini Umi Salamah yang bersuara.
"Dari pemeriksaan yang telah saya lakukan. Kemungkinan pasien menderita ... hepatitis akut." Telak. Seperti dihantam batuan-batuan besar. Seperti tersambar petir di siang bolong. Penjelasan wanita paruh baya itu membuat lututnya lemas. Atensinya langsung tertuju kepada gadis yang tengah terbaring lemah itu.
Tidak. Semua ini hanya mimpi buruk. Siapapun tolong bangunkan Gus Bima. Pria itu tak sanggup mendengar kenyataan pahit ini. Apakah benar apa yang dikatakan dokter tadi? Aida terkena hepatitis akut? Sejak kapan dan kenapa ia baru mengetahuinya?
"Saya akan resepkan obat untuk pasien, dan ketika hasil laboratorium keluar, saya baru bisa mendiagnosa pasien." Atensi Gus Bima kini tertuju kepada dokter. Bening di pelupuknya melesat tanpa izin pada sang empu.
"Lakukan yang terbaik, Dok. Asalkan istri saya sembuh." Pria itu akhirnya bersuara setelah beberapa menit bungkam. Suaranya sedikit bergetar dan tercekat di tenggorokan.
"Ini hanya diagnosa sementara. Berdoalah agar hasil laboratorium menunjukkan kondisi pasien baik-baik saja. Jika diperlukan, kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut." Pria itu mengangguk cepat. Kemudian dokter berlalu pergi sesaat setelah berpamitan.
Gus Bima menghampiri Aida, duduk di kursi yang telah tersedia. Pria itu menatap lekat wajah istrinya. Gadis itu tidak bergerak sedikitpun, mengerjapkan mata pun tidak. Mungkin karena pengaruh obat. Tidak apa. Setidaknya saat ini gadis itu tidak merasakan sakit yang berlebihan lagi.
Perasaannya hancur. Ia merasa telah gagal menjadi seorang suami. Namun, memang gadis itu tidak pernah mengeluh sakit. Gus Bima mengelus kening istrinya. Saat ini atensinya tidak ingin teralihkan pada yang lain. Ia hanya ingin menatap Aida selama yang ia bisa, sampai gadis itu kembali siuman. Pria itu merindukan senyum manis di bibirnya.
"Hamasah, Nak. Aida akan baik-baik saja. Serahkan semuanya kepada Allah." Gus Bima menganggukkan kepala. Pria itu segera mengelas jejak beningnya. Tidak ingin sampai sang umi melihat dirinya menangis, walau wanita paruh baya itu sudah menangkap basah aksinya.
"Sebaiknya kamu tebus obat untuk Aida dulu. Biar umi yang jaga Aida." Tanpa menjawab, Gus Bima beranjak dan pergi menuruti titah sang rahim kehidupan.
Bersambung ....
__ADS_1