Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Sebuah Ujian


__ADS_3

..."Siapa yang tidak mendekat kepada Allah, padahal sudah dihadiahi berbagai kenikmatan, maka akan diseret (agar mendekat) kepada-Nya dengan rantai cobaan." ...


..._Ibnu Athaillah_...


Pria itu menyempatkan diri untuk melihat keadaan Mbak Hamida, teman masa kecilnya. Walaupun niat baiknya sempat terhalang oleh Mas Nabil. Pria itu awalnya melarang keras Gus Bima untuk melihat kondisi adiknya. Bahkan, pria itu tidak segan mendaratkan genggaman telapak tangan di pipinya. Pria itu sudah kuda-kuda dengan meremas kerah kemejanya. Namun, aksinya dihentikan oleh Nyai Zamzamah.


Atas izin wanita paruh baya itu, Gus Bima kini bisa melihat wajah Mbak Hamida dengan dekat. Mas Nabil? Pria itu memilih untuk pergi, entah kenapa. Ia terlanjur naik pitam, Mas Nabil tidak mau dengan melihat wajah Gus Bima, ia semakin naik darah. Namun, apa salahnya? Mengapa Mas Nabil begitu membencinya? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Mbak Hamida? Karena tidak ada api kalau tidak ada asap bukan?


"Astagfirullahalazim, kamu kenapa bisa seperti ini Hamida? Padahal beberapa jam yang lalu saya masih mendengar suaramu, tapi sekarang ...." Pria itu menghela napas dalam-dalam. Kalimatnya tidak ia selesaikan. Pria itu tidak duduk di kursi yang tersedia, melainkan hanya berdiri beberapa meter dari ranjang tempat Mbak Hamida terbaring.


Gadis itu sudah dipindahkan ke ruangan. Namun, ia tak kunjung membuka mata. Sebenarnya apa yang terjadi sampai ia nekat melukai dirinya? Melihat kondisi sahabatnya itu, Gus Bima jadi teringat pada sesuatu. Suatu hal yang membuatnya menjadi pria yang paling hina dan jahat.


"Nak Bima. Kenapa tidak duduk?" Pria paruh baya itu tersenyum ramah kepadanya. Selalu seperti itu, Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah sangatlah baik. Bahkan, dirinya sudah dianggap seperti anak sendiri.


"Tidak, Kyai." Pria itu sedikit jongkok, ujung kaki dan lututnya menjadi tumpuan badannya. Gus Bima kini berada di samping Kyai Musthofa yang duduk di kursi roda. Sebenarnya Gus Bima ingin menanyakan kenapa pria paruh baya itu berada di atas kursi roda lagi? Namun, ia segan dan canggung.


“Bagaimana keadaan, Aida?" Ah, iya. Aida. Ia hampir lupa. Gus Bima meninggalkan gadis itu sendirian di ruangan. Terakhir kali ia melihat sebelum keluar untuk membeli air mineral, Aida masih terpejam dengan murottal ayat suci Al-Quran yang menyala di sampingnya.


"Dia sakit apa? Apakah keadaannya baik-baik saja?" Lamunannya pecah. Gus Bima tersenyum canggung. Sebaiknya ia segera kembali, takut jika sewaktu-waktu istrinya akan bangun dan dirinya tidak ada di sana. Mengingat, Umi Kultsum belum juga kembali.


"Hasil laboratoriumnya belum keluar, Kyai. Saya masih menunggu hasilnya." Ia selalu sedih jika itu menyangkut keadaan Aida saat ini. Gus Bima masih mengingat jelas suara dokter yang menjelaskan kondisi Aida kala itu.


"Semoga Aida baik-baik saja ya, Nak. Jangan bersedih." Kyia Musthofa memegang erat tangan Gus Bima. Disaat itu, ia tidak bisa lagi menyembunyikan kesedihannya. Tangisnya pecah, ia tergugu. Melihat Gus Bima yang rapuh dan seperti putus asa, Kyai Musthofa membawa tubuh pria itu dalam dekapannya.


"Menangislah. Mungkin dengan menangis dapat mengurangi sedikit beban di dada maupun di pundakmu." Sudah. Gus Bima tidak bisa terus-menerus menangis. Ia tidak ingin mengganggu istirahat Mbak Hamida. Ia juga tidak bisa menumpahkan kesedihan itu kepada Kyai Musthofa. Beliau juga tengah diuji. Namun, pria itu tidak terlihat sedikitpun sedih. Karena apa? Karena ia ikhlas dengan ujian yang diberikan oleh Allah.


Mengapa Gus Bima harus bersedih jika Allah memberikan ujian kepadanya? Sepatutnya ia memperbanyak syukur, karena dari ujian yang diberikan Ilahi, banyak pelajaran yang dapat dipetik. Terselip hikmah. Dengan itu, Allah ingin mengetahui kesabarannya sampai mana. Dalam kehidupan, ujian terlebih dahulu baru pelajaran. Namun, dalam sekolah, pelajaran terlebih dahulu baru ujian. Sedangkan ujian yang Allah beri dapat melatih untuk lebih bersabar dan menjadikannya hamba yang memiliki keteguhan hati yang kuat. Gus Bima percaya itu.


Ketika nikmat yang Allah berikan, apakah derai tangis menyertai? Tidak bukan. Tawa bahagia, bahkan terkadang bibir ini tak pernah mengucap syukur atas nikmat yang Allah beri. Lantas, ketika Allah berikan sepercik ujian, mengapa ia harus menangis dan bersedih? Kata orang, sakit dapat menggugurkan dosa-dosa yang telah ia perbuat?


"Hamasah, in syaa Allah Aida akan baik-baik saja. Dia anak yang baik. Kamu beruntung memiliki istri seperti dia." Ia membelai puncak kepala Gus Bima. Wanita paruh baya itu? Semenjak ia berkunjung, Nyai Zamzamah tidak juga bergeming. Ia memilih diam. Apakah wanita paruh baya itu juga sama seperti Mas Nabil? Ah sepertinya tidak. Nyai Zamzamah adalah orang yang baik, selama ini hubungannya dengan umma Mbak Hamida baik-baik saja.


"Iya, Kyai." Gus Bima mengelas jejak beningnya.


"Saya izin kembali dulu, Kyai. Aida tidak ada yang jaga. Umi pulang untuk mengambil beberapa baju. Saya takut dia terbangun." Pria itu beranjak setelah mencium telapak tangan Kyai Musthofa.


Hal serupa ia lakukan kepada Nyai Zamzamah. Wanita paruh baya itu menyunggingkan senyum simpul masih sama seperti dulu. Senyum itu tidak akan pernah berubah. Nyai Zamzamah tidak banyak bicara, ia hanya mengelus punggung Gus Bima.


Langkahnya membawa Gus Bima keluar ruangan. Pria itu berjalan menyusuri koridor rumah sakit. Sekantung plastik berisikan air mineral, dua roti, dan juga sebungkus nasi ia bawa dengan sesekali melihat barang apa lagi yang dirasa kurang. Kantin rumah sakit tidak jauh dari ruangan Mbak Hamida dirawat. Sedangkan kamar inap Aida sangat jauh dari kantin, tapi dekat dengan musholla.


Tidak terasa, langkah itu terhenti di ambang pintu tempat istrinya dirawat. Gus Bima menghela napas panjang. Sebelum masuk, pria itu terlebih dahulu memasang seulas senyum sabit di wajahnya. Berulang kali ia meyakinkan hatinya untuk kuat, tapi ia tidak bisa bohong pada dirinya sendiri. Setiap melihat wajah Aida, ia ingin menangis, menumpahkan seluruh keluhnya di atas paha Aida.


"Assalamualaikum--" Kalimatnya terhenti ketika atensinya tidak melihat sosok itu terbaring di atas ranjang. Hanya ada selimut dan juga selang oksigen yang sebelumnya melekat pada Aida. Lantas, gadis itu pergi ke mana?


"Aida ... Aida. Kamu di mana?" Pria itu panik. Jantungnya mulai berdebar-debar. Seharusnya ia tidak meninggalkan Aida tadi. Ia sangat bodoh, sungguh bodoh. Jika terjadi sesuatu kepada Aida bagaimana? Ah, tidak. Sebaiknya ia berprasangka baik saja. Tidak baik jika ia terus-menerus berprasangka buruk. Kata orang, jika kita menanamkan prasangka buruk, maka akan mendapatkan keburukan. Benarkah?


"Aida--"


"Mas Bima." Suara selembut kapas itu membuat jantungnya kembali berdetak. Seperti tersambar petir berulang kali di siang bolong. Tubuhnya terasa begitu lemas. Gus Bima membalikkan badan. Ia melihat Aida dengan infus yang dipegang sedikit tinggi itu berdiri di belakangnya.

__ADS_1


Gus Bima berhambur ke pelukan Aida. Pria itu menangis tersedu-sedu. Melihatnya kesakitan saja Gus Bima tergugu, mendapati Aida tidak ada di atas ranjang cukup membuat jantungnya seperti ditusuk ribuan pedang.


"Aida baik-baik saja. Saya habis dari toilet." Gus Bima melerai pelukannya. Wajahnya memerah, sebagian pipinya basah karena cairan transparan itu. Gus Bima menatap Aida seperti siap akan menelanjanginya dari atas hingga bawah. Lalu, pria itu mengambil alih infus di tangan Aida, kemudian membawa istrinya untuk kembali berbaring di atas ranjang.


Gus Bima menarik kain tebal yang hangat untuk menyelimuti setengah dari tubuh istrinya. Atensi Aida tidak luput dari wajah pria itu. Anehnya, manik indah itu seolah-olah tengah berpaling darinya. Pria itu tidak berani menatap lekat manik istrinya.


"Kamu kenapa?" Gus Bima menggeleng.


Gadis itu bangun. Hening. Suasana tiba-tiba menjadi canggung. Tangan Aida membawa wajah Gus Bima untuk menatap lekat maniknya, tapi netranya menolak.


"Aida baik-baik saja. Percayalah." Aida memeluk Gus Bima. Setidaknya cara ini mampu membuat tubuhnya tidak gemetar.


"Maaf, seharusnya saya tidak meninggalkan kamu sendirian." Akhirnya pria itu buka suara. Aida mencium kening suaminya, lalu meletakkan pipi bagian samping ke atas kepala suaminya. Ya, jangan heran karena posisi Gus Bima saat ini duduk di kursi yang tersedia, sedangkan Aida berada di atas ranjang.


"Kenapa harus minta maaf? Tadi bangun tidur Aida kebelet, waktu saya lihat Mas Bima tidak ada. Saya hanya buang air kecil, Mas." Ia kembali seperti posisi semula, bukan tidur, melainkan duduk. Aida yang gemas sontak mencubit pipi suaminya.


"Mas Bima dari mana?" Belum mendapat jawaban dari Gus Bima. Maniknya menangkap sekantung plastik berisikan air mineral, roti, dan juga sebungkus nasi. Astagfirullah, suaminya belum makan? Sudah jam berapa ini?


"Kamu belum makan, Mas?"


"Jangan khawatirkan saya. Saya tidak makan tiga hari juga bisa. Saya 'kan pria kuat." Aida menepuk pelan bahu Gus Bima. Suaminya itu selalu saja melantur jika ditanya. Kadang-kadang saja, tidak sering.


"Maaf ya, Mas. Aida selalu merepotkan dan membuat Mas Bima cemas." Wajahnya berubah sendu. Gadis itu memasang wajah memelas.


"Tidak Aida. Kenapa kamu harus minta maaf? Saya suami kamu, sudah tugas saya menjaga kamu disaat kamu sakit." Pria itu membawa tubuh Aida untuk kembali berbaring. Kali ini, perutnya tidak terasa sakit. Mungkin karena efek obat yang disuntikkan di selang infusnya dan juga resep obat dari dokter. Alhamdulillah. Setidaknya gadis itu dapat kembali tersenyum.


"Kenapa kamu tadi lama sekali?" tanyanya setelah beberapa menit diam.


"Habis apa Mas?" tanyanya dengan menaik turunkan alisnya.


"Habis itu ... apa namanya ...." Aida terdiam, menunggu jawaban Gus Bima. Manik pria itu terlihat kentara seperti tengah mencari jawaban. Ah, ia tidak jago berbohong. Dua menit kemudian, reflek tangannya menggaruk tengkuk yang tidak gatal.


"Ah, habis ketemu temannya mas, Aida. Kebetulan saudaranya ada yang dirawat di sini juga. Keasikan ngobrol, mas jadi lupa buat kembali." Gus Bima tersenyum canggung. Gadis itu menatap suaminya dengan tatapan intimidasi, tatapan siap untuk menelanjangi.


"Kamu tidak sedang berbohong 'kan, Mas?" Gus Bima menggelengkan kepala kaku. Tatapan horor itu mampu membuatnya bergidik ngilu. Gus Bima menelan ludah kasar. Apakah perawat salah menyuntikkan obat? Seperti ada yang berbeda dengan istrinya. Ah, mungkin hanya perasaannya saja.


Maaf ya Rabb, hamba berbohong. Ini semua demi Aida. Semoga istri kecil tidak mengetahuinya.


***


"Fabiayyi alaa irabbikuma tukadziba." Pria paruh baya itu tidak hentinya membacakan lantunan ayat suci Al-Quran. Tangannya tidak lepas dari genggaman tangan Mbak Hamida.


"Buya. Mari pulang, Buya istirahat di rumah saja." Membisu. Pria paruh baya itu tidak menghiraukan perkataan putranya. Ia meneruskan untuk melantunkan kalam indah Sang Ilahi.


Sudah tiga kali Mas Nabil membujuk buyanya untuk pulang. Harap-harap mendapatkan respon baik, pria paruh baya itu tidak menjawab sedikitpun. Melirik Mas Nabil saja tidak. Tangannya terus menggenggam tangan Mbak Hamida, tidak mau lepas. Lengket seperti lem.


Wanita paruh baya itu mencium kening putrinya yang masih terpejam. Desir perih membuat cairan bening luruh. Sudah lebih dari satu jam, tapi Mbak Hamida tak kunjung membuka matanya. Ketika Nyai Zamzamah memejamkan mata sejenak, gadis itu sedikit menggerakkan tubuhnya. Ia meringis kesakitan dan tidak lama netranya mengerjap beberapa kali. Cahaya terang dari bola lampu ruangan membuat atensinya menyipit. Gadis itu menyesuaikan dengan keadaan sekitar.


Tidak ada yang ia katakan. Mbak Hamida hanya meringis kesakitan. Tangannya meraba pergelangan tangan kirinya yang kini dibalut kasa sebagai perban. Menyadari hal tersebut, Mas Nabil menghentikan aksi gadis itu.

__ADS_1


"Jangan disentuh, biarkan!" Mereka berdua jarang berbicara, hampir tidak pernah semenjak pertunangannya dengan Gus Bima gagal. Mbak Hamida memilih acuh kepada Mas Nabil, pun sebaliknya. Inilah kali pertama Mas Nabil kembali membangkitkan jiwanya sebagai seorang kakak.


"Hamida ada di mana Buya?" Gadis itu mengalihkan maniknya menatap lekat wajah cinta pertamanya.


"Hamida ada di rumah sakit." Gadis itu menelisik setiap penjuru ruangan. Selang infus di tangannya? Pergelangan tangannya terasa sakit. Kenapa sampai dibalut kasa? Sebenarnya apa yang terjadi? Terakhir yang ia ingat, pecahan kaca dari cerminnya ia goreskan di pergelangan tangannya. Hanya itu. Setelah itu, telinganya berdengung kencang hingga memekakkan gendang telinganya. Pandangannya pun buram bersama pusing yang mendera.


"Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa kamu melukai dirnmu sendiri?" Pria itu kini bersuara. Walau sedikit canggung, tapi rasanya gatal ingin mengutarakannya.


Gadis itu membisu. Maniknya seakan enggan melirik wajah Mas Nabil, walau hanya sedetik. Seperti tidak sudi.


Sebelum kembali melontarkan sebuah pertanyaan, Mas Nabil menghela napas berat. Sabar. Ini hanya pemanasan, lagipula mereka berdua sudah lama tidak saling mengobrol. Apakah gadis itu lupa caranya berbincang dengan Mas Nabil?


"Apakah ini karena Bima lagi?" Atensinya sontak menatap lekat Mas Nabil. Kenapa ia menyebut nama pria itu? Apakah Mas Nabil mengetahui perasaannya yang masih tetap sama seperti dahulu kala? Jangan-jangan, buya dan ummanya juga mengetahui akar permasalahan yang menyebabkan ia nekat melukai pergelangan tangannya?


"Kenapa diam? Kalau kamu diam berarti--"


"Kenapa Mas Nabil menyebut nama pria itu lagi? Bukannya kamu gak sudi? Bertatap muka saja tidak mau, apalagi menyebut namanya. Sudahlah, Mas gak usah ikut campur. Ini bukan urusanmu."


"Bukan urusanku? Kamu adik aku."


"Adik? Ke mana aja kamu selama ini baru ngakuin Hamida sebagai adik kamu, Mas?" Ia memutar bola matanya jengah.


"Cukup ya, Hamida. Mas seperti ini karena mas sayang sama kamu. Tidak hanya sekali kamu mencoba untuk bunuh diri. Dua kali." Kalimatnya kembali terjeda.


"Pertama kamu meneguk empat sekaligus obat sakit kepala. Untungnya Allah masih memberimu kesempatan untuk memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik. Bukannya sadar, kamu malah menjadi-jadi." Ia memberi wejangan walau Mbak Hamida acuh.


"Sudahlah. Jangan menasehati aku. Hamida sudah besar, bukan bocah ingusan lagi." Kesabaran pria itu mulai habis. Ia hanya diam melihat perlakuan adiknya yang tidak sopan kepadanya.


"Iya, kamu sudah besar, tapi kamu mau sampai kapan mengejar pria yang benar-benar mencampakkan kamu? Dia sudah beristri Hamida."


"Sudah. Kenapa kalian jadi bertengkar? Buya tidak suka melihat anak-anak buya bertengkar." Pria paruh baya itu melerai di antara kedua anaknya. Suaranya begitu tegas dan sedikit ditinggikan. Inilah yang Kyai Musthofa takutkan, kedua anaknya tidak akan pernah bisa akur. Mbak Hamida memiliki sifat egois dan angkuh, sedangkan Mas Nabil sifatnya penyayang dan selalu mengalah. Namun, ada masanya ia lelah dengan sifat adiknya.


"Setelah ini, kamu keluar dari rumah Ustaz Nur. Sudah, jangan tinggal di sana lagi." Telak. Tangan Mbak Hamida mengepal. Pria itu selalu saja membuatnya bersedih. Salah? Ya, dia tahu. Salah karena dirinya jatuh cinta pada pria yang sudah beristri. Ia sudah berusaha menghapus rasanya itu, akan tetapi rasanya begitu sulit. Semua itu hanya membuatnya tersiksa. Ia bisa gila jika seperti ini terus.


"Tapi Mas--"


"Sebaiknya kamu rawat Buya. Beliau sakit-sakitan semua ini gara-gara kamu Hamida. Setiap malam Buya tidak bisa tidur karena memikirkan kamu. Jantung Buya sering kambuh itu semua karena Hamida." Pria itu meluapkan semua amarah dan sesak yang ada di dadanya. Cairan bening itu luruh, ia tidak bisa membendungnya lagi.


Benarkah? Mbak Hamida menatap wajah Kyai Musthofa. Pria paruh baya itu hanya diam seraya tergugu. Tunggu. Ia baru sadar jika buyanya duduk di kursi roda. Sebenarnya apa yang terjadi?


"Buya." Kyai Musthofa menggeleng dan segera mengamit telapak tangan Mbak Hamida.


"Sudah cukup Nabil. Jangan membuat adikmu terbebani. Buya sakit itu semua karena buya sudah tua." Bukan membela Mas Nabil, pria paruh baya itu balik memarahinya. Sebegitu sayangnya Kyai Musthofa terhadap Mbak Hamida. Sampai-sampai Kyai Musthofa rela membentak Mas Nabil.


"Tidurlah, Nak. Kamu habis kehilangan darah begitu banyak. Kamu baru saja selesai transfusi darah. Pasti sangat melelahkan." Nyai Zamzamah mencairkan suasana yang menegang. Sembari memeluk Mbak Hamida. Wanita paruh baya itu menggelengkan kepala kepada kedua pria yang berarti dalam hidupnya. Mas Nabil yang paham akan isyarat ummanya langsung menghela napas kasar. Pria itu memilih untuk keluar. Ia ingin mencari suasana baru. Setidaknya dirinya bisa menghirup udara segar.


"Nabil, Nak." Wanita paruh baya itu sempat ingin menyusul putranya. Ia merasa kasihan melihatmya dibentak oleh Kyai Musthofa. Namun ....


"Sudah jangan dikejar Umma. Biarkan saja. Kasih dia waktu untuk menenangkan diri. Biar dia muhasabah terlebih dahulu." Nyai Zamzamah tidak bisa berkutik lagi. Mau tidak mau ia harus menuruti titah suaminya. Tidak mau dianggap sebagai istri yang durhaka.

__ADS_1


Di sini aku anak kandung kalian, tapi kenapa Hamida yang sangat kalian sayang?


Bersambung ....


__ADS_2