
..."Jangan biarkan surga yang sudah susah payah kita bangun bersama berpindah pada pelupuk matamu, Aida ... hanya karena disebabkan setetes air mata."...
Mata Aida berkaca-kaca, gelas yang dipegang tiba-tiba lepas dari genggaman sehingga menimbulkan bunyi yang sangat nyaring. Ia tak kuasa menahan air mata. Apakah semua yang baru saja ia lihat itu benar? Rasanya seperti mimpi buruk. Relung hatinya seperti ditusuk sebilah pisau tajam. Sakit.
"Aida." Gus Bima berlari kecil untuk menghampiri istrinya. Namun, tangan itu kembali menggamitnya dengan cepat.
"Lepaskan Hamida!" Pria itu kembali mengejar istri kecilnya.
"Sudahlah, Bima. Jangan mengejar sesuatu yang tidak pasti. Aida tidak mencintai kamu, Bima." Urat leher Mbak Hamida terlihat begitu kentara. Ia duduk seraya memukul-mukul kepalanya. Entah setan apa yang merasuki Mbak Hamida, tapi tangis itu terdengar begitu histeris tidak seperti biasanya.
***
"Aida, apa yang kamu lihat tidaklah seperti apa yang kamu pikirkan." Gus Bima terus mengejar istri kecilnya, mencoba untuk meraih lengan Aida. Namun, langkahnya begitu cepat sehingga Gus Bima tidak bisa mengejarnya.
Aida menutup pintu kamarnya dengan kasar. Gadis itu bersandar di belakang pintu dengan derai air mata yang masih menetes. Entah sampai kapan air mata itu akan keluar, Aida pun tidak tahu.
Pria dengan kaos hitam itu terus mengetuk pintu dengan keras. Cemas dan gelisah menyelimuti hatinya. "Maafkan saya, Aida."
"Maaf saja tidak cukup untuk mengembalikan hati saya yang terlanjur hancur, Mas."
"Dengarkan penjelasan saya dulu, Aida--"
"Apa lagi yang mau dijelaskan?" Gadis itu seperti tidak ingin memberikan kesempatan Gus Bima untuk menjelaskan atas semua yang telah terjadi.
"Semuanya sudah jelas ... Aida kecewa sama Mas Bima." Suara itu terdengar begitu berat. Cukup. Aida sudah tidak bisa menahan tangis ini. Ya Rabb, kenapa disaat benih-benih cinta mulai tumbuh pria yang perlahan menggantikan Kenzo kini mengkhianatinya?
"Kenapa ketika cinta ini mulai tumbuh, Mas Bima merusaknya?" Suara itu terdengar tidak begitu jelas. Aida menenggelamkan wajahnya di antara kedua lengan yang menyilang dan memeluk erat tubuh mungilnya.
Pria itu ikut terisak. Tak terpikir olehnya bahwa kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya. Namun, percayalah bahwa apa yang Aida lihat tidak seperti yang kejadian yang sebenarnya. Bagaimana Gus Bima bisa menjelaskannya kepada Aida? Apakah ia harus menunggu suasana hati Aida lebih membaik?
"Apakah Mas Bima malu mempunyai istri seperti saya sampai Mas rela melakukan keji itu di depan mata Aida?" Entah dari mana keberanian itu terkumpul. Namun, Aida tidak bisa menyembunyikan amarahnya lagi. Aida begitu kecewa, sangat kecewa.
"Tidak Aida," ketukan pintu itu kembali terdengar diiringi suara parau dari Gus Bima. Setiap suara itu terdengar olehnya, rasa sakit itu semakin terasa. Luka sayatan yang diberikan oleh suaminya semakin melebar. Dadanya terasa sesak. Aida terus istighfar seraya meremas erat dadanya.
"Saya mencintaimu, Mas," lirih itu terdengar Gus Bima. Pria itu menyugar rambutnya seraya mengacak-acaknya dengan kasar. Terlebih lagi ketika ia berulang kali mendengar Aida yang mengucapkan bahwa istri kecilnya itu sangat mencintai dirinya.
"Aida ... Aida...."
__ADS_1
"Aida...."
"Jangan tinggalkan saya, Mas Bima." Suara terakhir itu membuat Aida bangun dari tidurnya dengan napas terpongah-pongah. Ya, napasnya tidak beraturan dengan keringat dingin yang terus bercucuran. Di depannya telah terpampang seorang pria dengan tangan yang terus menggenggam telapak tangan istrinya.
Aida menatap setiap penjuru ruangan. Sejenak, Aida mencoba untuk menetralkan napas dan detak jantungnya. Gadis itu bersyukur karena semua ini hanyalah mimpi. Namun, mengapa mimpi itu seperti sangat nyata?
"Saya di sini, Aida." Gadis itu menatap wajah suaminya. Syukurlah kini ia bisa meraba dengan jelas wajah tampan Gus Bima. Ya Rabb, apa maksud sebenarnya dari mimpi itu? Saking nyatanya, sampai-sampai Aida dapat mengingat jelas setiap sudut tempat terjadinya mimpi buruk itu. Ah, tidak. Lebih baik ia melupakannya.
"Aida, kamu baik-baik--"
"Mas Bima." Aida memeluk erat tubuh suaminya. Ia berhambur ke pelukan hangat Gus Bima. Gadis itu menenggelamkan wajahnya pada pundak Gus Bima. Cairan bening terus menetes sehingga membuat kaos suaminya sedikit basah. Ah, ada apa ini? Mengapa tiba-tiba Aida menangis?
Gus Bima menepuk-nepuk pelan dan sesekali mengelus punggung Aida. Ya, berharap dengan semua ini istri kecilnya bisa sedikit tenang.
"Saya tidak akan pernah meninggalkan kamu, Aida. Saya berjanji." Aida mengangguk. Hanya itu yang saat ini Aida lakukan. Tenaganya seperti terkuras habis saat ia tengah berjalan-jalan dalam dunia mimpinya terasa seperti sangat nyata. Ah, seperti mengalami mimpi tersebut Aida jadi takut untuk kembali tidur. Setiap saat ia memejamkan mata, reka adegan yang telah tersimpan rapi dalam memorinya terputar kembali.
"Aida takut Mas Bima akan meninggalkan Aida dan menikah dengan gadis lain." Gus Bima melepaskan pelukan tersebut dan menatap lekat manik indah istrinya. Di detik yang sama, pria itu menggeleng cepat seraya mengelas jejak bening Aida. Binar itu seolah-olah tengah memberi isyarat. Sebenarnya apa yang telah terjadi? Mimpi apa yang dialami istrinya sehingga ia begitu takut?
"Mimpi apa yang sampai membuat kamu setakut ini? Saya tadi mendengar isak pilu, saya pikir siapa. Ternyata isak pilu itu berasal dari suara kamu yang tengah terisak dengan mata terpejam." Aida tak kunjung memberikan jawaban. Apakah jika ia menjawab, pria itu akan mempercayai setiap kata yang dikatakannya? Belum tentu bukan?
"Saya hanya takut kehilangan Mas Bima." Gus Bima tersentuh dengan kata-kata itu. Apakah benar? Seperti ada kupu-kupu yang terbang menggelitiki perutnya. Wajahnya perlahan kembali memanas. Tunggu. Saat ini dirinya tidak sedang bermimpi seperti Aida bukan?
"Kalau semisal Allah memanggil saya terlebih--" Telapak tangan itu mendarat tepat pada mulut Gus Bima. Ya, gadis itu membungkam mulut suaminya sehingga kalimat yang dikatakan tidak sampai tuntas.
"Tidak. Jangan berkata seperti itu, Mas." Aida menggeleng kuat. Badannya mulai panas dingin, detak jantungnya mulai tidak terkontrol. Melihat istrinya yang terus saja menangis membuat Gus Bima ikut meneteskan air mata. Bukan karena bersedih, melainkan pria itu sangat bersyukur karena Allah telah membukakan mata hati Aida untuk mencintainya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam kesedihan, pria itu mengusap cairan beningnya. "Kita salat tahajjud dulu, mau?" Aida menganggukkan kepala. Gus Bima bangkit dan mengambilkan sandal milik Aida agar gadis itu segera mengenakannya.
***
Hawa dingin menyelusup kulit Aida, di antara sepertiga malam yang semakin membuat lengkungan bibirnya melebar. Aida memakai mukena berwarna putih polos dengan bordir motif bunga itu. Rona merah masih sangat kentara menghiasi wajahnya.
Sekali lagi ia memegang dadanya yang sejak tadi tak berhenti berdetak kencang. Debar aneh itu tak kunjung sirna, begitu pula dengan Gus Bima. Kali pertama ia menjadi imam salat tahajjud dengan bidadari surganya. Ribuan syukur Aida langitkan kepada Sang Ilahi, Dzat yang dapat membolak-balikkan hati insani. Gus Bima telah menunggu waktu ini cukup lama. Bahkan, sebelum ia mengenal Aida. Gus Bima percaya bahwa akan selalu ada hikmah di balik ujian. Seperti saat ini.
Gadis itu kini telah benar-benar menerima Gus Bima seutuhnya sebagai suaminya. Sekarang tidak ada lagi ungkapan pernikahan di atas kertas ataupun pernikahan tanpa ikatan cinta. Nyatanya, cinta itu perlahan hadir seiring berjalannya waktu.
Perlahan Gus Bima bangkit, begitu pula dengan Aida. Gadis itu terlalu sibuk dengan mukenanya. Gus Bima melirik jam yang bertengger di dinding kamar tidurnya. Namun, rasa ini tidak boleh sampai membuat Gus Bima lalai. Bukanlah ini semua adalah pemberian dari-Nya?
__ADS_1
Pria itu menggelar sajadah di depan Aida. Tanpa kata ataupun suara, pria itu menyapanya hanya dengan seluas senyum simpul saja. Namun, mampu membuat hatinya bergemuruh hebat. Setelah menghembuskan napas berat, Gus Bima mengangkat kedua tangannya dan mengucap takbir. Semuanya berjalan dengan khitmad. Sebagai makmum, Aida mengikutinya dengan haru yang melebur menjadi satu. Jadi seperti inikah rasanya? Selama ini, Aida tidak pernah merasakan salat jamaah, gadis itu lebih senang salat munfarid.
Di antara keheningan, tetesan itu menetes dengan sendirinya tanpa menyapa sang empu. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya bahwa ia akan berdiri di depan menjadi imam dari tahajjudnya, sedangkan gadis yang tengah berdiri di belakangnya menjadi pelengkap dari salat sunahnya itu, makmum halalnya.
Dalam dua rakaat yang dapat mendekatkan dirinya kepada-Nya, menyingkap tabir yang membentang. Bersama dengannya surga terasa begitu dekat.
Setelah selesai, Aida mencium telapak tangan suaminya. Tak terasa cairan itu kembali menetes terlebih lagi disaat Gus Bima mengecup kening Aida. Tangan itu mengusap punggung kepala Aida cukup lama hingga netra itu kembali bertemu. Namun, kali ini tidak ada yang saling memutuskan sepihak. Yang ada hanyalah senyuman, senyuman, dan senyuman. Sampai akhirnya pria itu kembali membawa tubuh kecil Aida ke dalam dekapannya. Ya Rabb, ia ingin agar malam ini waktu bergulir sedikit lambat dari biasanya. Gus Bina ingin menghabiskan setiap detiknya dengan memeluk tubuh Aida.
"Terima kasih karena sudah bersabar menunggu, Mas. Walau Aida tahu semua itu sulit." Jantung Gus Bima berdetak di atas rata-rata. Ah, selalu saja sama. Mengapa sampai saat ini Aida masih merasakan hal yang sama? Ia tak bisa mengendalikan kegugupan yang melanda dirinya.
"Aida." Aida mendongak dengan posisi kepala yang disandarkan pada dada Gus Bima. Ya, gadis itu tengah bermanja-manja dengan suaminya.
"Apakah saya boleh meminta sesuatu?" Aida mengangguk dengan masih memeluk erat tubuh Gus Bima. Sesekali gadis itu menghirup bau khas dari tubuh suaminya. Aroma wangi yang selalu membuatnya sedikit lebih tenang.
"Apa itu, Mas?"
"Berjanjilah kepada saya bahwa kamu tidak akan pernah menangis lagi." Aida membisu. Gadis itu sedikit tidak paham akan perkataan yang diucapkan suaminya. Mengapa sampai detik ini Aida selalu gagal paham atas setiap kata yang keluar dari bibir manis suaminya?
"Saya tidak ingin surga yang sudah susah payah kita bangun bersama berpindah pada pelupuk matamu, Aida ... hanya karena disebabkan setetes air mata." Aida memejamkan mata, haru bercampur menjadi satu dengan bahagia. Entah kata apa lagi yang harus Aida ucapkan. Namun, segelintir kata tak cukup mengungkapkan betapa dirinya sangat bahagia malam ini.
Hati yang selama ini diisi oleh nama seseorang, kini telah digantikan dengan cinta yang sesungguhnya oleh pria halalnya. Bahkan, apa yang selama ini ia dapat dalam berpacaran tak seindah apa yang Gus Bima berikan.
"Mas Bima." Pria itu mengindahkan panggilan istrinya dengan menaik turunkan alisnya. Ah, mulai. Pria ini mulai menggodanya lagi.
"Mari kita bermain sesuatu yang seru." Gus Bima mengernyitkan dahinya, membuat kedua alis itu menyatu. Bermain yang seru? Selarut ini pemain apa yang akan Aida mainkan?
"Peraturannya, Mas Bima tidak boleh percaya kepada setiap perkataan yang saya ucapkan. Bisa?" Dengan sedikit keraguan, pria itu menganggukkan kepala. Berat memang, mengingat bahwa sebenarnya ia belum paham akan permainan tersebut. Bahkan, permainan itu sangat asing di telinganya.
Gadis itu perlahan mendekat hingga pria itu dapat merasakan napas Aida. "Ana uhibhuka Fillah, imam surgaku."
Telak. Gus Bima membulatkan mata sempurna setelah mendengarkan bisikan tersebut. Lirih. Namun, dapat menohok relung hatinya. Desir halus luruh bersamaan dengan air mata yang kini kembali membasahi pipinya. Ah, mengapa sekarang giliran Gus Bima yang mendadak cengeng?
Ya Rabb, pengakuan cinta itu begitu manis mengalun di telinganya. Cinta yang menjadikan Sang Pemilik hati sebagai saksi atas cinta suci mereka berdua. Ya, pria itu juga hanya bisa membalasnya dengan hati.
"Ana uhibbuki Fillah, Aida."
Bersambung....
__ADS_1
Pasuruan, 08 Februari 2023