Surga Di Pelupuk Mata

Surga Di Pelupuk Mata
Sandal Jepit!


__ADS_3

..."Tutuplah auratmu wahai muslimah sebelum Allah yang akan menutupnya dengan timbunan tanah."...


..."Banyak cara untuk mencapai Tuhan, saya memilih cinta."...


...-Maulana Rumi....


"Aurat seorang perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka. Sebagai seorang perempuan kita harus bisa menjaga kehormatan, pandangan dan hati agar terhindar dari segala macam zina." Suara wanita paruh baya dengan khimar hitam itu terdengar sangat lembut membuat hatinya berdesir halus.


Maghrib ini setelah mengikuti kajian seperti biasanya, Umi Salamah mengajak Aida untuk duduk membundar bersama para pengurus santriwati. Begitu pula dengan Mbak Hamida, gadis itu turut ikut serta duduk di sebelah Umi Salamah.


Saat ini, Aida masih menyesuaikan diri dengan segala kegiatan yang berlaku di pondok pesantren abi mertuanya. Setiap maghrib, di masjid tak jauh dari rumahnya, Umi Salamah sering sekali mengadakan kajian setelah melakukan khataman Al-Quran.


"Umi, apakah dengan kita bertaaruf bisa menghindarkan dari yang namanya zina?" Mbak Hamida begitu semangat menanyakan beberapa pertanyaan kepada Umi Salamah. Binar mata itu nampak sangat kentara.


"Bisa, Nak. Seorang pria yang baik agamanya, ia akan menjunjung tinggi kehormatan seorang perempuan. Ia akan menjaga pandangan dan menjauhi zina dengan cara bertaaruf." Entah mengapa pertanyaan Mbak Hamida mengingatkan Aida kepada suaminya. Ah, mengapa tiba-tiba ia memikirkan pria itu?


"Kalau semisal perempuannya yang melakukan zina dan dijodohkan dengan seorang anak kyai bagaimana Umi?" Pertanyaan itu membuat Aida mendongak. Sebenarnya Mbak Hamida ingin bertanya atau menyindir Aida?


Umi Salamah tersenyum kecut, di detik yang sama beliau menundukkan kepala. Berharap akan mendapatkan jawaban dari Umi Salamah. Namun, nihil karena beliau seperti paham akan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mbak Hamida, Umi Salamah memilih untuk diam. Aida meremas gamisnya. Ya Allah, mengapa Mbak Hamida tega menanyakan ini di hadapan Ustazah Rika dan beberapa ustazah lainnya?


Sebelum menjawab pertanyaan, Umi Salamah tersenyum miring dan di detik yang sama beliau mendongakkan kepala pelan. "Allah adalah Maha Pemaaf lagi Maha Pengampun. Allah senantiasa menerima taubat kita. Bahkan Al-Imam An-Nawawi rahimahullah berkata, seandainya dosa itu berulang seratus kali atau seribu kali, bahkan lebih. Lantas, pelakunya selalu bertaubat setiap kali melakukan dosa, niscaya akan diterima taubatnya. Akan gugur dosa-dosanya. Seandainya ia bertaubat dari semua dosanya dengan satu kali taubat saja setelah semua dosanya, maka tetap sah taubatnya."


"Tadi kan Umi berkata kalau aurat seorang perempuan adalah seluruh tubuh kecuali telapak tangan dan muka." Wanita paruh baya itu mengangguk-anggukkan kepala tatkala ia mendengarkan setiap kata yang dikatakan Mbak Hamida.


"Bagaimana cara mengenakan hijab yang benar agar sehelai rambut tidak sampai keluar-keluar?" Aida yang paham akan pertanyaan Mbak Hamida lantas meraba bagaian pinggir mukanya. Ah, ternyata banyak helaian rambut yang keluar dari kerudung yang dikenakannya. Oh iya, Aida lupa untuk mengenakan ciput.


Gadis itu meletakkan kitab di atas pahanya dan membenarkan kerudung yang melekat di kepalanya. Melihat hal tersebut, Mbak Hamida tersenyum miring.


"Kita sebagai seorang perempuan ketika menggunakan hijab yang pertama harus kita lakukan adalah hijab tersebut harus menutup dada. Hijab tersebut harus longgar, tidak ketat, tidak tipis atau transparan. Gunakan ikat kepala atau ciput jika takut rambut tersebut akan keluar."


"Gunakan ikat kepala Aida agar rambut kamu tidak sampai keluar. Masa iya istri seorang Gus Bima masih belum paham bagaimana cara menggunakan hijab yang baik. Sekarang apa yang kamu lakukan akan ditanggung suamimu. Baik dari tidak menutup aurat dan lain sebagainya." Aida hanya mengangguk seraya meremas erat gamisnya. Gadis itu tak berani mendongak. Yang pasti semua netra tertuju kepadanya bukan? Seumur hidup, ia tak pernah merasakan malu di hadapan banyak orang, bahkan Aida tak pernah dipermalukan. Ya Rabb, mengapa disaat ia mulai ikhlas menerima takdirnya, cobaan malah datang silir berganti?


"Sudah-sudah. Tidak apa-apa, Aida juga masih belajar dari awal untuk menjadi seorang istri yang shalihah. Benar kan, Aida?" Telapak tangan itu mengelus punggung telapak tangan Aida. Wanita paruh baya itu menggenggam erat telapak tangan menantunya. Mencoba untuk menguatkan Aida dari perkataan yang diucapkan Mbak Hamida.


Aida menatap netra Umi Salamah. Setelah netra mereka saling beradu pandang, Aida merasa sedikit tenang. Setelah itu Aida merapikan semua kitab yang dibawa dan beranjak untuk berlalu pergi. "Aida pamit kembali dulu Umi, assalamualaikum."


Aida kembali bukan karena ia tidak betah dengan sikap Mbak Hamida yang kurang ramah kepadanya. Namun, sebelum berangkat ke masjid suaminya tadi berpesan agar cepat-cepat kembali sebelum azan isya' berkumandang.


Setelah mencium punggung telapak tangan Umi Salamah, Aida berlalu dan berjalan menuju kediamannya. Tak ada lagi semangat yang bergairah pada dirinya. Langkah Aida begitu berat, lututnya terasa lemas. Namun, apa yang dikatakan Mbak Hamida ada benarnya, tapi gadis itu tak seharusnya menyalahkan Aida bukan jika ia harus menikah dengan Gus Bima? Ini semua juga bukan keinginannya.

__ADS_1


"Assalamualaikum, kalau jalan jangan sambil melamun. Nanti ada batu kamu tersandung saya juga yang repot." Aida tersentak. Ah, suara itu selalu membuat Aida terkejut, terlebih lagi ketika ia sedang melamun. Siapa yang tidak terkejut jika tiba-tiba ia melihat sesosok pria berdiri mensejajarkan tubuh di sampingnya. Untung Aida tidak sampai memukulnya.


"Mas Bima." Pria itu berhenti. Menyilangkan tangan tepat di dadanya. Tatapan intimidasi pria itu layangkan kepada Aida.


"Ada apa ini, kenapa istri saya tidak seceria seperti biasanya? Bahkan salam saya pun tidak dijawab." Astaga, Aida lupa. Gadis itu menepuk pelan dahinya. Bagaimana ia bisa melewatkan untuk menjawab salam dari suami besarnya.


"Waalaikumus salam." Gadis itu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Malu rasanya ketika pria di hadapannya menggeleng-gelengkan kepala seraya terkekeh.


"Satu lagi, masalah apa yang sampai membuat istri saya tidak sadar jika ia berjalan tanpa memakai sandal?" Aida menunduk, melihat ke arah bawah. Benar, ternyata selama ia berjalan dari masjid gadis lugu itu tidak menggunakan sandal.


Aida menggigit bibir bagian bawahnya, mencoba untuk terlihat baik-baik saja. Malu, sungguh malu. Bersamaan dengan hadirnya rasa malu itu, rona merah kembali memeluk wajah bulatnya. Ah, bagaimana ia bisa lupa untuk menggunakan sandal? Aida kembali merutuki dirinya sendiri. Entahlah, Aida pun tak tahu apa yang sebenarnya terjadi kepadanya.


Kemudian, Gus Bima melepas sandal jepit yang dipakai. Pria itu membungkuk, mengambil sandalnya dan menaruhnya tepat di depan telapak kaki Aida. "Ini, pakai punya saya saja. Saya tidak mau melihat kamu meringis kesakitan karena telapak kakimu menginjak kerikil." Aida menggeleng cepat.


"Eh, tidak usah, Mas. Nanti Mas Bima pulangnya bagaimana?"


"Sudah tidak apa-apa, pakai saja." Ketika Aida hendak menyangkal titah dari suaminya, jari telunjuk Gus Bima mendarat tepat di bibir merah muda Aida sehingga membuat gadis itu tidak bisa berkutik.


"Saya akan memberikan dua pilihan, kamu memakai sandal jepit milik saya atau saya tetap memakai sandal tersebut. Namun...." Aida masih membatu, menunggu kelanjutan dari kalimat yang sengaja suaminya itu gantung. Ah, seperti jemuran saja.


"Saya tetap memakai sandal itu, tapi kamu saya gendong hingga sampai ke rumah. Bagaimana?" Aida membulatkan mata sempurna. Debaran itu membuat Aida tidak berdaya. Lutut Aida terasa lemas seketika. Ya Rabb, digendong? Jika ada orang melihatnya bagaimana? Malu itu akan menjadi dua kali lipat.


"Mau tidak?" Aida membisu. Jika ia menolak tawaran suaminya yang kedua, Aida tidak tega melihat Gus Bima yang berjalan di atas tajamnya kerikil jalan.


"Ya sudah kalau tidak mau." Gus Bima berjalan terlebih dahulu meninggalkan Aida yang membatu. Ah, gadis itu terlalu lama dalam mempertimbangkan sesuatu.


"Mas Bima. Iya, Aida mau." Gadis itu mengucapkannya dengan sekali tarikan napas. Sesekali ketika Aida berjalan ia sedikit mencincing roknya yang panjang sehingga dapat menyapu jalan.


Pria itu tersenyum dan kemudian membalikkan badan untuk kembali menghampiri istrinya yang tertinggal tidak jauh dari tempat Gus Bima berdiri. Semakin Gus Bima mendekat, Aida semakin meremas gamisnya. Kecanggungan kembali hadir, rasanya seperti pertama kali mereka bertemu. Mendadak, bibirnya menjadi kelu. Semua kamus dan rumus yang tersimpan di otaknya hilang.


Tanpa mengucapkan sepatah kata, pria itu membalikkan badan dan duduk dengan satu kaki kanan yang menjadi tumpuan. Jemari Aida perlahan digerakkan. Namun, seperti ragu-ragu. Ah, bagaimana ini? Aida malu jika ada orang yang melihat.


"Ayo cepat naik. Badanmu tidak akan dengan sendirinya naik ke punggung saya bukan?" Aida tersadar dari lamunan singkatnya. Gadis itu kembali merutuki dirinya. Ah, bodoh sekali. Jika tidak yakin, mengapa Aida mengiyakan tawaran suaminya yang jail itu?


Dengan langkah yang berat, Aida mulai menggerakkan badannya untuk naik ke punggung suaminya. Setelah itu, kedua lengannya mulai merangkul leher Gus Bima. Subhanallah, Aida membayangkan apa yang sedang ia lakukan seperti adegan di film-film Korea saja. Jika semakin ia bayangkan, dirinya jadi malu sendiri.


"Sudah siap?" Aida menatap separuh dari wajah Gus Bima. Namun, tak lama gadis itu menganggukkan kepala.


Gus Bima perlahan mulai bangkit dan berjalan dengan badan istrinya yang kini ia gendong di punggungnya. Baru kali ini Aida begitu menempel dekat dengan tubuh suaminya. Berkali-kali gadis itu mengendus-endus bau harus Gus Bima.

__ADS_1


"Mas Bima." Gadis itu menempelkan setengah wajahnya pada pundak Gus Bima.


"Hm."


"Apakah saya begitu berat sampai-sampai saya bisa mendengar napas kamu yang terpongah-pongah?" Gus Bima berulang kali membenarkan posisi tubuh istri kecilnya.


"Tidak."


"Bohong, kamu tidak pernah berkata jujur kepada saya, Mas."


"Bagi saya, ada lagi yang lebih berat dibanding dengan berat badanmu Aida." Gadis itu sedikit mendongak. Kini dagunya yang ia letakkan di pundak Gus Bima. Lama-lama, Aida merasa nyaman berada di gendongan suaminya.


"Apa itu, Mas?" Gus Bima berhenti sekejap. Menetralkan napasnya yang mulai tak beraturan.


"Melihatmu bersedih." Aida terdiam. Ada dua pilihan. Ini antara ia yang tak paham akan tutur kata suaminya dan suara cacing di perutnya yang mulai mengamuk.


"Apakah itu tadi suara perutmu Aida?" Gus Bima mulai menggoda istri kecilnya. Mendengar pertanyaan Gus Bima, Aida tersenyum malu. Gadis itu tenggelam pada punggung suaminya. Ya Rabb, malu sekali. Mengapa perut ini berbunyi begitu keras di waktu yang tidak tepat?


Pria itu terkekeh. "Saya kira itu tadi suara guntur." Aida semakin menenggelamkan wajahnya pada punggung suaminya. Sudah, hentikan! Semakin ia mengejek Aida, rona itu akan semakin kentara.


"Setelah salat isya', apakah kamu mau saya buatkan nasi goreng?" Aida sontak mendongak saat mendengar pertanyaan dari suaminya. Nasi goreng? Tentu mau, apalagi ketika yang membuatkan nasi goreng itu adalah Gus Bima. Ah, tidak. Biasa-biasa bumbu yang digunakan bukan bawang merah dan bawang putih lagi. Namun, akan diganti dengan lalaran nadzom al-fiyyah.


"Biar saya saja yang masak, Mas."


"Ah tidak mau. Nanti takutnya nasi goreng buatan kamu terasa manis." Aida tersenyum kecut dan menunduk. Wah, pria itu sepertinya meremehkan Aida.


Merasakan raut wajah Aida yang mendadak lesu, Gus Bima berhenti dan langsung menggenggam telapak tangan istrinya dengan tangan kanannya. Ya, pria itu menyesali perkataan yang beberapa detik lalu ia ucapkan. Ah, tidak seperti itu Aida. Gus Bima hanya ingin membuat senyum manis di bibir merah mudamu terbit, tak lebih.


"Maafkan saya Aida, bukan saya ingin menyakiti hatimu. Namun, saya hanya ingin melihat senyum itu terbit di bibir merah mudamu." Aida tak kunjung menjawab. Gadis itu memalingkan wajah dengan menyadarkan kepalanya di antara punggung dan pundak Gus Bima.


"Aida, apakah kamu marah kepada saya?" Aida tak kunjung menjawab pertanyaan suaminya. Posisinya masih sama seperti semula. Gadis itu menatap rembulan yang perlahan terlihat seperti menyapanya.


Kemudian, gadis itu mengubah posisi kepalanya. Setelah itu Aida mensejajarkan pipi bulatnya dengan pipi suaminya. Gus Bima bisa merasakan pipi istrinya yang lembut dan empuk itu. Ah, pria itu jadi teringat kepada bakpao. "Aida mau nasi gorengnya sedikit pedas dan dikasih toping sosis, Mas."


Gus Bima tersenyum. Ia merasa lega karena istri kecilnya itu tak lagi merajuk kepadanya. Di bawah sinar rembulan, kini bukan lagi kecanggungan yang mereka rasakan. Namun, kemesraan yang semakin kentara seiring berjalannya waktu. Begitu pula dengan Aida, gadis itu mulai melupakan Kenzo dan mulai menerima Gus Bima sebagai suaminya.


Bersambung....


Pasuruan, 05 Januari 2023

__ADS_1


__ADS_2