
..."Jika karena rupa yang membuatmu jatuh cinta, lantas bagaimana kau mencintai Tuhanmu yang tak memiliki rupa?" ...
..._Maulana Jalaluddin Rumi...
"Minumlah." Gadis yang duduk terpaku dengan mata sembab itu mendongak ketika suara bariton itu menyita lamunannya. Aida melirik dari sudut matanya, tangan pria yang tak asing baginya menyodorkan segelas air hangat. Namun, Aida tak kunjung meraihnya. Dirinya hanya memandang dengan tatapan nanar, tetapi sorot itu sungguh sendu nan layu. Ya, ia membiarkan gelas warna biru itu mengambang di udara cukup lama.
Tangan gemetar dan berkeringat itu perlahan meraihnya. Mungkin dengan seteguk air hangat dapat mengembalikan suasana hatinya. Akan tetapi apakah bisa dengan hati suaminya?
"Kenapa Mas Bima begitu baik kepada Aida?" Hening. Gus Bima tak menatap wajah ayu istrinya walau hanya untuk sesaat. Berapa kali Aida melayangkan pertanyaan yang sama? Tak puaskah ia dengan jawaban Gus Bima sebelumnya? Sadarkah ia? Lagipula dapat keberanian dari mana hingga ia berani bertanya seperti itu? Dengan apa yang terjadi beberapa menit lalu pastinya membuat hati Gus Bima hancur berkeping-keping. Gadis yang dikira telah berhasil melabuhkan cinta kepadanya nyatanya masih tak dapat melupakan mantan pacarnya.
"Aida mau pisah saja." Telak. Kalimat itu menohok tepat di relung hati Gus Bima. Apakah gadis itu sadar dengan apa yang baru saja ia katakan? Pisah? Apakah ia sudah kehilangan akal? Lagi dan lagi Aida melakukan kesalahan. Apakah ia tak memikirkan perasaan suaminya sebelum mengatakan sesuatu?
Hai, tak semudah itu Aida. Apakah ia kira dengan memilih berpisah dapat mengembalikan guci yang pecah? Apakah dengan memilih meja hijau sebagai jalan tengah dapat menyatukan ia dengan Kenzo?
"Pisah?" tanyanya dengan lemas.
"Aida tak pantas lagi menjadi istri Mas Bima. Seharusnya Mbak Hamida yang pantas menjadi--"
"Tidak Aida, saya tidak mau pisah dengan kamu."
"Lebih baik saya tidak mendapatkan balasan cintamu daripada harus kehilangan sebongkah berlian yang berharga." Aida menatap wajah suaminya dengan binar yang memenuhi netranya. Allah, terbuat dari apakah hati suaminya? Doa apa yang selama ini ia panjatkan sehingga mampu bertahan sampai titik ini?
"Seorang perempuan yang memindah pisah kepada suaminya tanpa alasan yang syar'i. Maka surga haram untuknya, dia tidak akan pernah bisa masuk surga." Aida sebisa mungkin menahan tangis agar tidak terdengar oleh suaminya. Walau, bening itu masih terus bercucuran. Tahukah kalian bagaimana sakitnya menahan tangis?
__ADS_1
"Apakah kamu tidak ingin suatu saat kembali bersatu di jannah yang telah Allah janjikan?" Aida mengusap jejak air matanya.
"Apakah kamu tidak bahagia menikah dengan saya? Apakah saya kurang memberikan nafkah dzohir kepada kamu?" cercah Gus Bima sesaat setelah suasana mendadak hening.
"Berpisah bukanlah jalan satu-satunya. Masih ada banyak cara lain, Aida. Apakah kamu tidak percaya dengan kata-kata saya?" Aida mulai berani mendongak. Kata-kata?
"Ketika Kenzo siap menikahimu, saya akan ikhlas melepas kamu Aida ... saya berjanji." Ujung kalimat itu terdengar menggantung. Rasanya sangat berat untuk mengatakannya. Namun, mau bagaimana lagi, ini adalah janji yang telah ia ucapkan. Sebagai laki-laki, ia pantang baginya untuk menarik kembali perkataan yang sudah diucapkan bukan?
Gadis itu tak kuasa lagi menahan tangis. Aida kembali tergugu. Tangis itu terdengar begitu dalam. Oh Allah, kini ia merasa menjadi perempuan yang paling hina. Jika saja dirinya tidak mengatakan pengakuan tersebut, semuanya tak akan menjadi serumit ini.
Gus Bima mengambil alih gelas yang Aida pegang dan menaruhnya tak jauh dari posisi duduk mereka. Gus Bima kembali membawa Aida dalam dekapan hangatnya. Hatinya tersayat jika melihat istrinya bersedih seperti ini. Dengan mengelus lengan Aida, pria itu berharap dapat menenangkannya sejenak. Sudahlah. Yang ia pinta hanya satu, bisa melupakan semua kejadian hari ini. Ia sadar, membalik hati manusia tak semudah membalikkan telapak tangan. Ia percaya jika jodoh tak akan pernah tertukar. Perihal dicintai, Gus Bima menyerahkan semuanya kepada Sang Pemberi Cinta.
Bukankah janji Allah nyata di dalam Al-Quran? Pasalnya, jodoh manusia telah dijamin oleh Allah. Bahwasanya, Allah menjamin menciptakan segala sesuatu beserta pasangannya. Allah berfirman dalam Al-Quran surat Az-Zariyat ayat 49:
"Dan dari segala sesuatu kami ciptakan berpasang-pasangan agar kalian mengingat kebesaran Allah." (Q.S Az-Zariyat: 49).
Jam yang bertengger di dinding menunjukkan angka dua belas pas, pria itu berdiri tidak jauh dari ranjang yang terlihat ditiduri oleh Aida. Gadis itu terlelap setelah berhasil ditenangkan oleh Gus Bima. Air wudhu yang masih menempel di wajahnya membuat pesona pria itu bertambah. Sajadah panjang ia bentangkan. Ya, kali ini adalah jadwalnya ia untuk mengadu kepada Sang Khaliq.
Allahu akbar. Ia mulai menunaikan salat sunnah dua rakaat. Walau hanya bertemankan sinar rembulan yang masuk dari celah jendela kamarnya, Gus Bima terlihat sangat khusyuk. Suasana mencekam dan dinginnya angin malam tak menggoyahkan imannya. Setelah selesai, pria itu masih tetap berada di posisi semula. Kedua telapak tangan menengadah dan sayup-sayup doa mulai ia panjatkan.
Gadis yang masih terbaring dengan selimut yang menyelimuti tubuhnya tiba-tiba terbangun. Entah apa yang membuatnya terbangun. Ah, mungkin suara samar-samar Gus Bima mampu menggugah tidur pulasnya. Ruangan sepetak itu masih dalam keadaan gelap gulita. Netranya masih terpejam, gadis itu mulai meraba-raba samping kanannya, di mana tempat suaminya tidur. Hanya guling yang membatasi antara ia dan Gus Bima, tubuh kekar suaminya tak ada di atas ranjang. Aida membuka mata dan mencoba untuk meraih saklar. Namun, aktivitasnya terhenti ketika ia mendengar sebuah bait kalimat yang mampu membuat hatinya kembali bergetar.
"Ya Allah, ampunilah Aida atas semua dosa-dosanya, yang lampau hingga yang akan datang, yang ia lakukan secara sembunyi-sembunyi maupun secara terbuka."
__ADS_1
"Allahumma inni as'aluka min khairiha wa khairi ma jabaltaha a'laihi wa'audzubika min syarriha wa syarri ma jabaltaha a'laihi."
Jemarinya tanpa sengaja menekan saklar tersebut dan membuat lampu di kamarnya menyala. Ia mendapati seorang pria duduk bersimpu dengan kedua telapak tangan yang menengadah tepat di depan wajahnya. Air mata yang menetes menandakan ia sangat mencintai sesosok nama yang terselip di doanya. Aida hanya membeku. Mati kutu. Pria yang telah ia patahkan ternyata masih tetap mendoakannya. Bahkan, Aida tak pernah sedikitpun mendoakan atau menyebut nama suaminya dalam setiap doanya. Aida malu, benar-benar malu.
Gus Bima membuka kelopak matanya dan mengalihkan atensi itu kepada sesosok yang tengah duduk di atas ranjang. "Aida, kamu sudah bangun?"
Senyum simpul yang menjadi ciri khas Gus Bima terbit. Ah, sepertinya baik suka maupun duka menghampiri, ia tak pernah absen untuk tersenyum. Gus Bima melipat dan membereskan sajadahnya di atas nakas. Pria itu menghampiri gadis yang masih duduk terpaku dengan tatapan nanar ke arah depan.
"Kenapa Mas Bima mendoakan Aida? Kenapa Mas Bima memintakan pengampunan atas dosa yang saya lakukan?" Gus Bima hanya terdiam sambil menatap wajah Aida. Sebenarnya, gadis itu sangatlah baik. Ia tahu jika Aida tak bermaksud benar-benar ingin menyakiti hatinya. Gadis itu hanya mengungkapkan apa isi hatinya yang sebenarnya. Tidak salah bukan jika ia berkata jujur? Jujur lebih baik daripada berbohong. Aida juga tidak bisa membohongi perasaannya. Wajarkah mencintai seseorang berkedok dusta?
"Aida, apakah kamu tahu jika kamu menangis seperti ini. Wajahmu berubah seperti nenek-nenek." Jawaban Gus Bima diiringi dengan kekehan. Tidak. Pria itu hanya berusaha mengalihkan pembicaraan. Bisa saja, Gus Bima tak pandai berbohong. Buktinya, kekehan itu terdengar seperti terpaksa.
"Mas Bima ...."
"Berhentilah menangis, Aida. Dengan melihatmu meneteskan air mata, saya merasa berdosa. Saya merasa menjadi laki-laki yang paling hina karena tidak bisa membuatmu baha--"
"Saya bahagia ... sangat bahagia, tapi apakah Mas Bima sendiri juga merasa bahagia telah menikah dengan saya?" Telak. Pria itu membatu. Lidahnya mendadak kelu. Gadis itu memutar balikkan keadaan. Bagaimana ini, ia harus menjawab apa? Sejujurnya? Akan tetapi Gus Bima juga tidak mengetahui apakah ia bahagia atau tidak dengan pernikahan yang ia jalani.
"Jika kamu bahagia, saya juga ikut bahagia, Aida."
"Sekarang kamu adalah tanggung jawab saya, begitu pula dengan kebahagiaanmu. Saya tidak ingin membuat Ayah kecewa, saya tidak ingin mengingkari janji saya kepadanya."
"Jika dengan mencintaimu dapat membuat saya bahagia, maka saya rela bertahan walau cinta ini tak terbalaskan." Aida mengerjapkan mata, bening itu menetes bersama dengan luruh dan runtuhnya perasaannya. Gadis itu sontak menyalimi telapak tangan suaminya. Sungguh. Dengan mencium telapak tangan Gus Bima, surga terasa begitu dekat. Surga yang awalnya telah ia hancurkan, kini ia bangun kembali.
__ADS_1
Bersambung....
Pasuruan, 18 Maret 2023