
..."Suatu musibah yang membawamu kembali kepada Allah itu lebih baik bagimu daripada nikmat yang membuatmu berpaling dari mengingat Allah."...
..._Ibnu Taimiyah-...
Gadis dengan gamis semata kaki masih tidak bergeming dengan gawai yang sedikit menempel di dekat daun telinga. Netranya menatap ke luar jendela seraya tangannya yang satu mengepal erat. Tatapannya penuh dengan kebencian hingga bening itu menutupi sebagian netranya membuat penglihatan Mbak Hamida buram.
"Oh, gitu. Ya sudah. Nanti aku baliknya biar diantar sopir aja, Bim." Suaranya layu. Namun, gadis itu mencetak wajah datar.
Gadis itu mematikan telepon setelah menjawab salam dari Gus Bima. Mbak Hamida mengusap wajahnya dengan kasar. Hatinya tak tenang. Apakah ini semua karena pria itu tidak bisa menjemputnya? Memang, ia tidak ikut ketika Gus Bima dan Umi Salamah membawa Aida ke rumah sakit. Ia lebih memilih untuk tinggal di rumah buyanya. Namun, mengapa ia harus marah sekarang? Bukan salah sosok itu jika ia tidak bisa menjemput. Saat ini yang harus Gus Bima utamakan adalah kesehatan istri kecilnya.
Cemburu? Mungkin itulah yang saat ini cocok mendeskripsikan perasaannya. Hatinya tidak baik-baik saja. Tubuhnya bergetar karena ia harus menahan isak pilu agar tidak sampai terdengar umma dan buyanya.
"Kenapa kamu harus sakit Aida? Kenapa?" Mbak Hamida melempar gawainya tepat mendarat di atas ranjang. Gadis itu berteriak seraya melempar vas bunga yang terletak di atas meja.
Pecahan kaca itu menyebar ke setiap sudut penjuru kamarnya. Belum puas, gadis itu mengambil kotak tisu dan melemparkannya tepat pada kaca besar yang berada di hadapannya. Bunyi itu sangat nyaring dan memekakkan telinga, membuat Kyai Musthofa membuka pintu dengan kasar.
"Suara apa itu, Nduk?" Pria paruh baya dengan wajah sedikit pucat itu membatu tepat di ambang pintu. Matanya membelalak sekaligus mulutnya sedikit terangah.
"Hamida." Pria paruh baya itu berjalan menghampiri putri semata wayangnya yang terbaring bersimba darah. Perlahan dengan memperhatikan pecahan kaca yang memenuhi sebagian lantai, Kyai Musthofa menghampiri Mbak Hamida.
Kesadaran Mbak Hamida perlahan mulai memudar, darah di pergelangan tangannya tak mau berhenti. Gadis itu mengalami pendarahan hebat. Kyai Musthofa masih mencoba memulihkan kesadaran putrinya dengan menepuk-nepuk pelan pipinya.
"Ada apa--"
"Astagfirullahalazim, Hamida." Wanita paruh baya itu tak kuasa menahan tangis tatkala melihat putrinya yang mulai kehilangan kesadaran dengan darah yang melekat di gamisnya.
"Beritahu sopir untuk segera menyiapkan mobil. Cepat!" Langkahnya terhenti ketika mendengar titah dari suaminya. Bingung. Nyai Zamzamah tidak bergeming dan hanya berdiri mematung di ambang pintu dengan waktu yang cukup lama.
"Umma, cepatlah!" Nyai Zamzamah tersentak. Pria paruh baya itu sedikit meninggikan suaranya. Tidak. Ia tak ingin membuang-buang waktu lagi, Nyai Zamzamah berlalu pergi sesuai titah Kyai Musthofa. Namun, beberapa detik kemudian tiba-tiba dadanya terasa nyeri. Kyai Musthofa pun meringis dan merintih kesakitan. Tidak. Sakit Kyai Musthofa sepertinya kambuh. Kenapa waktunya selalu tidak tepat sekali?
"Ayo Nabil, cepat angkat adikmu." Suara selembut sutera yang mampu menenangkan siapapun itu kembali bersama Mas Nabil--anak sulung Kyai Musthofa.
Wanita paruh baya itu kembali membeku ketika melihat Kyai Musthofa juga terbaring di lantai seraya memegangi dada. Kyai Musthofa meringis kesakitan dan tak henti menyebut asma Allah. Pria paruh baya itu saat ini tidak pingsan. Hanya tidak bisa menahan sakit seperti disayat ribuan silet sekaligus ditusuk pedang. Ia meringis kesakitan hingga wajahnya memerah. Tubuhnya melemas, tapi bibirnya tak henti merapalkan istigfar. Memohon kesembuhan kepada Sang Khaliq.
"Buya." Mas Nabil menghampiri buyanya disusul Nyai Zamzamah. Pria itu membawa kepala Kyai Musthofa ke atas pahanya. Mereka berdua tergugu, terutama wanita paruh baya itu. Ia memegang tangan suaminya dan menggosok pelan.
"Tahan Buya. Sebentar." Mas Nabil kembali menidurkan buyanya di atas lantai. Pria itu berlari keluar untuk mengambil obat sesaat setelah membuka kancing bagian atas kemeja Kyai Musthofa.
"Bertahan, Buya. Istigfar. Tarik napas." Nyai Zamzamah membisikkannya tepat di telinga suaminya. Tidak tanggung-tanggung. Dua orang yang sangat Nyai Zamzamah cintai tengah terkapar tak berdaya. Saat ini ia bingung, sangat bingung. Jika ia meninggalkan suaminya, ia takut hal buruk terjadi kepadanya. Namun, di sisi lain Mbak Hamida juga kehilangan banyak darah. Gadis malang itu membutuhkannya.
"Ja--jangan hiraukan aku, Umma. Ha--mi--da." Pria itu memegang erat tangan istrinya. Tetesan demi tetes luruh. Begitu pula dengan Nyai Zamzamah. Cairannya menetes tepat di pipi suaminya.
Tidak berselang lama, pria itu kembali dengan membawa obat milik Kyai Musthofa. Namun, sebelum itu Mas Nabil memindahkan buyanya di atas ranjang Mbak Hamida. Setelahnya, Kyai Musthofa meneguk perlahan air minum hingga setengah bersama dengan obat yang sebelumnya sudah berada dalam mulutnya.
"Buya biar umma yang urus. Kamu bawa adikmu ke rumah sakit. Cepat!" Pria itu menganggukkan kepala dan segera melarikan Mbak Hamida ke rumah sakit. Semoga dengan mendapat tanganan medis, hal buruk tidak terjadi kepadanya.
__ADS_1
***
Lantunan ayat suci Al-Quran mencairkan keheningan. Pria itu membuka mushaf demi mushaf Al-Quran. Tepat di samping gadis yang masih tak sadarkan diri, Gus Bima sedikit melirik memastikan keadaan istrinya. Ilahi, mengapa sampai saat ini gadis itu belum juga sadarkan diri?
Sekarang, selang oksigen juga melekat, membantu gadis itu bernapas. Dunianya semakin hancur. Menit demi menit terasa begitu berat. Gus Bima menutup mushafnya dan menghela napas panjang. Ia meletakkan Al-Qurannya di atas meja . Tangannya menggenggam tangan Aida. Apakah kamu sangat lelah hingga lupa untuk membuka kelopak mata?
“Apakah kamu tidak merindukan saya, Aida?”
“Saya sangat merindukan kamu. Saya rindu semu merah di pipimu.” Pria itu bicara sendiri dengan menatap wajah Aida. Jika dilihat dari dekat, gadis itu tambah cantik jika terpejam. Adakah dari kalian yang setuju?
Gus Bima membelai pipi istrinya dengan jari telunjuk. Qadarullah, gadis itu mengerjapkan mata. Kembali menyesuaikan dengan cahaya terang yang ada di ruangan. Jemarinya juga mulai bergerak, pun dengan mulutnya sedikit terangah seperti tengah mengucapkan sesuatu.
"Mas Bima. Jangan tinggalkan Aida." Kalimat itu terucap dengan begitu lemah. Bening yang tersimpan di balik netra yang terpejam itu luruh.
"Aida." Gus Bima membelai puncak kepala istrinya. Rasanya sedikit lega dan beban di bahunya sedikit terangkat.
"Tidak. Saya tidak akan meninggalkan kamu. Saya janji," lanjutnya seraya meneteskan air mata. Pria itu juga menangis. Ia berhambur memeluk tubuh istri kecilnya. Ya Rabb, ia sangat rindu. Memorinya kembali memutar patahan demi patahan kenangan bersama Aida. Seperti puzzle.
"Bangunlah, Aida. Saya sangat merindukanmu. Demi Allah." Ia menenggelamkan wajahnya di samping tangan Aida.
Ia berhenti terisak. Seperti ada yang membelai puncak kepalanya. Apakah itu Umi Salamah? Namun, beberapa jam yang lalu wanita paruh baya itu pamit pulang untuk mengambil beberapa baju milik Gus Bima dan juga Aida. Lantas, tangan siapa itu?
Gus Bima meraba puncak kepalanya, sampai tangan itu saling temu. Tangan hangat dengan selang infus yang melekat di punggung telapak tangan membuat Gus Bima membelalak. Aida? Gadis itu siuman?
"Mas." Gadis itu berusaha bangun. Namun, Gus Bima menghentikannya dengan memegang bahu Aida dan menggeleng pelan.
"Kamu istirahat saja." Aida kembali berbaring. Beberapa menit membisu, gadis itu merasa sakit yang sangat teramat pada perutnya. Seperti ada paku yang menancap. Itu membuatnya tersiksa, sangat tersiksa.
"Sakit? Saya panggilkan dokter, ya." Aida mengamit pergelangan tangan Gus Bima. Pria itu menatap Aida yang meringis kesakitan. Bibirnya tak kuasa mengeluarkan kata-kata. Hanya air matanya yang mewakili rasa sakit itu.
"Jangan tinggalkan Aida, Mas. Aida takut." Gus Bima kembali duduk. Pria itu menenangkan istrinya dengan membelai puncak kepalanya. Di menit yang sama, pria itu menggeleng.
"Tidak akan terjadi apa-apa selama saya masih hidup. Jangan takut." Setelah itu, Gus Bima memeluk erat istrinya. Ia terlihat begitu tenang, tapi sebenarnya ia juga sangat takut. Lebih takut dari Aida. Di balik Aida, Gus Bima terisak tanpa suara. Pernahkah kalian mengalami hal serupa? Menangis tanpa suara.
"Serahkan semua kepada Allah. Allah tidak akan menguji hambanya di luar batas kesanggupannya. Masih ingat?" Aida mengangguk. Ia sudah tidak mempunyai cukup tenaga untuk menjawab.
Sebelum melerai pelukan itu, Gus Bima mengelas jejak air matanya. "Sekarang kamu istirahat dan tidurlah. Jangan lupa baca sholawat thibbil qulub. In syaa Allah itu akan menjadi obat."
"Saya tetap berada di sini, jangan takut. Pejamkan matamu." Pria itu menepuk-nepuk pelan lengan Aida. Tanpa Aida sadari, Gus Bima melantunkan sholawat thibbil qulub. Mendengar lantunan sholawat itu, hati Aida terasa sedikit tenang. Sejenak ia melupakan rasa sakitnya. Tak berselang lama, gadis itu terlelap. Peluh di dahi dan sebagian tubuhnya menandakan bahwa Aida benar-benar menahan sakit. Padahal, AC di ruangan itu dihidupkan. Gus Bima mengusap perlahan peluh istrinya, ia tidak ingin aktivitasnya ini membuat Aida terbangun. Tidak tega melihatnya menahan sakit setiap detiknya.
Jika saya bisa. Biarlah sakit itu beralih kepadaku. Melihatmu merintih kesakitan mampu menyayat hatiku.
***
Derap langkah terdengar ganjil. Pria itu masuk pintu bertuliskan UGD dengan kemeja berlumuran darah. Mbak Hamida sampai saat ini tidak sadarkan diri. Ia semakin kehabisan banyak darah. Pendarahan itu tak mau berhenti. Ilahi, lindungi gadis malang itu. Semoga tidak terjadi apa-apa pada Mbak Hamida.
__ADS_1
Mas Nabil membaringkan tubuh adiknya di atas ranjang khas rumah sakit. Perawat mulai turun tangan, disusul dengan dokter. Pria itu mundur ke belakang, tidak ingin menghalangi tenaga medis dalam menjalankan tugasnya.
Pria itu memutuskan untuk keluar dan terduduk lemas di kursi yang telah tersedia. Telinganya berdenging, pun dengan jantungnya yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. Pria itu menggigit jemarinya, entah kenapa ia teringat masa lalu kelam yang membuat orang tuanya trauma. Di mana, awal mula buyanya mulai sakit-sakitan.
"Kenapa masa lalu itu kembali hadir? Susah payah aku melupakan masa lalu itu." Ia menggerutu seraya menyugar rambutnya.
"Nabil." Suara bariton yang tak asing di telinganya membuat Mas Nabil menoleh ke sumber suara.
Terlihat rahim kehidupan dan pria paruh baya yang duduk di kursi roda tengah menghampirinya. Mas Nabil bangkit dan berhambur ke pelukan Kyia Musthofa. Ia tergugu, terisak dalam pelukan hangat buya. Sesekali ia mengendus-endus bau khas yang membuat Mas Nabil sedikit tenang. Sudah lama ia tidak merasakan dekapan hangat buyanya.
"Bagaimana kondisi adikmu?" Mas Nabil melerai pelukan itu. Pria itu membisu seraya menundukkan pandangan.
"Buya bertanya, Nak. Kenapa kamu tidak menjawab? Bagaimana kondisi adikmu?" Ia kembali bertanya untuk memastikan. Suaranya tercekat di tenggorokan. Atensi pria paruh baya itu tertuju pada pintu ruang UGD.
"Biarkan saya melihat kondisi adikmu." Kyai Musthofa memaksakan untuk masuk ke dalam. Namun, Mas Nabil berhasil mencegahnya. Pria itu menjelaskan dengan sangat halus sehingga Kyai Musthofa sedikit tenang dan paham akan keadaan.
"In syaa Allah, Hamida baik-baik saja. Buya tahu 'kan, Hamida itu wanita kuat." Kyai Musthofa mengangguk.
"Kenapa Buya ikut, Umma?" Sekarang netranya tertuju pada rahim kehidupan yang sedari tadi berdiri, tidak kunjung bergeming. Wanita paruh baya itu mengelas jejaknya dan menetralkan suasana hatinya.
“Kamu seperti tidak tahu Buyamu saja."
"Jangan hiraukan buya. Bagaimana bisa buya hanya berdiam diri di rumah sedangkan putri kesayangan buya tengah berjuang."
Beberapa menit terdiam. Dari balik pintu ruangan UGD terlihat pria berjas putih dengan beberapa perawat yang berada di belakangnya. Mas Nabil bangkit dan berjalan mendekat.
"Dokter bagaiman keadaan adik saya?" tanyanya memastikan.
Luka di lengan pasien cukup dalam sehingga harus dijahit untuk menutup luka." Nyai Zamzamah kembali menangis. Entah apa yang terjadi pada putrinya sehingga ia nekat melukai dirinya sendiri.
"Lakukan apapun asalkan adik saya selamat." Pria berjas itu mengangguk tanpa banyak bicara. Dokter berlalu pergi setelah mendapat persetujuan dari keluarga pasien.
Pria itu menguatkan dirinya sendiri. Ia tak boleh terlihat rapuh di depan kedua orang tuanya. Mas Nabil kembali berhambur pada pelukan buyanya. Siapa lagi jika bukan dirinya yang menenangkan buya dan ummanya. Mas Nabil mengelus-elus punggung Kyai Musthofa seraya memeluknya.
"Buya Musthofa, Nyai Zamzamah." Suara tegas dari belakang membuat isak pilu itu terhenti. Semua orang mengusap kasar jejak beningnya. Kemudian mereka menoleh ke belakang.
"Nak Bima." Gus Bima mencium punggung telapak tangan Kyai Musthofa dan Nyai Zamzamah.
"Maaf, Nyai ... Kyai. Kalian ada di sini. Memangnya siapa yang ... sakit?" Jedanya sedikit ragu dan canggung mengatakannya.
"Hamida." Mas Nabil mengatakannya secepat kilat, hanya dengan satu tarikan napas. Kyai Musthofa sebenarnya akan menjawab, tapi lebih didahului oleh putranya. Nada bicara dan tatapan pria itu seperti tidak suka melihat wajah Gus Bima berada di sini.
"Hamida?"
Bersambung ....
__ADS_1