
..."Kamu tetap cantik Aida. Tepung itu tidak berpengaruh, saya tetap mencintaimu walau segudang tepung menutupi wajahmu. Sebab mencintai seseorang bukanlah perkara mudah, berhati-hatilah agar cinta itu tidak mudah patah." ...
..._Gus Bima. ...
Kali ini, seperti biasa Aida dan Umi Salamah pulang dari pasar untuk berbelanja sedikit sayur dan lauk untuk menu makan santri. Aida keluar dari taksi yang ia tumpangi disusul dengan ibu mertuanya setelah memberikan beberapa lembar uang kertas. Beberapa kantung plastik besar terlihat tengah dibawa di tangan kiri dan kanannya Aida.
"Kamu langsung ke rumah saja." Suara itu memecah suasana di antara peluh yang berkali-kali mengucur di dahi Aida. Netranya teralihkan, menatap sejenak wajah Umi Salamah.
"Ah tidak Umi, jika Aida pulang yang membantu Umi untuk memasak semua ini siapa?" Umi Salamah mengelus puncak kepala Aida. Ya, mungkin beliau menyadari lelah yang terpancar dari raut wajah Aida.
"Ada Ustazah Rika yang siap membantu umi." Aida membisu. Gadis itu mencoba untuk merenungkan perkataan Umi Salamah. Ada sedikit ketakutan yang menyelinap dalam hatinya. Tahukah kalian?
"Sudah, pulang dan istirahatlah." Gadis itu mendongak cepat. Aida tak bisa lagi menyangkal titah Umi Salamah. Dengan sedikit keraguan, gadis itu menaruh semua barang yang sebelumnya ia bawa di tas meja dapur.
Sesekali gadis itu sedikit memijat pelan lengan tangannya. Ah, bagaimana tidak merasa lelah jika barang yang harus ia bawa sampai dua kantung plastik besar, sedangkan tidak ada laki-laki yang membantu Aida untuk membawakan barang belanjaannya dan Umi Salamah.
Gadis itu berulang kali harus tersenyum ketika santriwati menyapanya. Canggung? Ya, mungkin ungkapan itu yang saat ini dapat Aida rasakan. Tak pernah ada satu pun orang yang membungkukkan diri ketika lewat di depannya. Mengingat, umur mereka bisa dibilang terpaut tidak terlalu jauh. Aida melanjutkan perjalanannya seraya menundukkan kepala. Tidak. Inilah adab seorang santri. Bukankah sekarang statusnya sudah menjadi istri seorang gus?
Perlahan Aida membuka pintu. Ditatapnya seluruh penjuru. Sepi. Tidak ada satu orang pun di dalam rumah, semua orang termasuk suaminya kini tengah berada di pondok pesantren. Ya, kini Gus Bima sedang sibuk membantu abinya mengurus pondok pesantren. Tak heran jika Gus Bima harus sering pulang malam. Bahkan, terkadang pria itu harus tidur di pondok pesantren bersama abinya. Jadi pria itu sekarang jarang menghabiskan waktu bersama dengan istri kecilnya. Hanya beberapa kali saja jika memang betul-betul ada waktu senggang, Gus Bima akan selalu memanfaatkan waktu tersebut dengan sangat baik. Ya, ia tidak ingin menyia-nyiakannya.
Aida menghembuskan napas berat seraya menjatuhkan tangannya dari atas gagang pintu. Ah, mengapa ia harus bersedih? Dirinya tidak bisa menuntut ini dan itu karena itu semua sudah menjadi tanggung jawab Gus Bima, mengingat bahwa Abi Nur dan Umi Salamah hanya mempunyai satu orang putra, yaitu suaminya.
Lantas, apakah ia berharap akan disambut oleh Gus Bima seperti dulu disaat pertama kali mereka baru menikah? Mustahil. Setelah selesai berbelanja di pasar dan berdesak-desakan membelah lautan manusia, ia benar-benar lelah. Ia harus mengistirahatkan tubuhnya.
"Sudah pulang Aida?" Baru selangkah kakinya yang mungil itu menginjak tangga, suara bariton Gus Bima menghentikannya. Membuat Aida terperanjat sedikit terkejut. Dengan cepat Aida menoleh ke sumber suara dan menelisik ke seluruh penjuru ruangan.
"Mas Bima." Pria itu berjalan menghampiri istri kecilnya yang terdiam di anak tangga. Binar mata Aida terpancar begitu kentara. Entah mengapa, rindu itu membuat debaran di dadanya menjadi sangat kencang.
"Sudah selesai belanjanya di pasar? Bagaimana, apakah menyenangkan?" Aida mengangguk lemah. Lengan itu rasanya tidak sabar untuk memeluk erat tubuh suaminya. Ditambah Aida sangat merindukan ketika ia menghirup bau khas dari tubuh Gus Bima.
"Sepertinya istri kecil saya kelelahan. Bagaimana kalau saya buatkan teh hangat, apakah mau?" Aida tersenyum. Setiap tingkah laku Gus Bima mampu membuat lengkungan di bibir merah mudanya itu terbit. Bahkan, rasa lelah tak lagi ia rasakan ketika menatap wajah tampan suaminya.
__ADS_1
Gus Bima menggenggam telapak tangan Aida dan menyeret pelan istrinya dengan berlari kecil hingga menuju ke dapur. Pria itu mendudukkan istrinya di kursi empuk meja makan yang telah tersedia. Kedua telapak tangan Aida ia gunakan untuk menyangga dagunya. Ah, sudah lama ia tidak dimanjakan oleh suaminya.
"Mas Bima tumben jam segini sudah pulang?" Pria itu membalikkan badan dengan membawa segelas teh hangat dengan pisang goreng yang beberapa jam lalu telah ia siapkan khusus untuk Aida.
"Karena dari tadi saya tidak berhenti memikirkan istri kecil saya. Saya khawatir Umi akan kuwalahan ketika mengajak kamu ke pasar." Aida memicingkan sebelah matanya.
"Kenapa?" tanyanya. Namun, pria itu tak kunjung memberikan penjelasan kepada Aida. Ia malah terkekeh puas tatkala ia melihat wajah istrinya.
"Mas Bima." Aida merengek seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya. Bibirnya mengerucut ke depan dua centi lebih maju dari biasanya. Sesekali Aida mendengus kesal
"Sudah, minumlah!"Aida tidak bisa mendiamkan suaminya terlalu lama, hanya beberapa menit saja suasana hati gadis itu akan kembali mencair. Setelah mengucap basmalah, gadis itu menyeruput sedikit demi sedikit teh buatan Gus Bima.
Pria itu fokus menatap wajah polos istri kecilnya yang tengah menyesap teh buatannya. Namun, bibir merah muda Aida berubah manyun saat ia menyesap untuk yang kedua kalinya
"Gulanya mahal ya, Mas?" Gus Bima memicingkan matanya. Mencerna kata demi kata yang diucapkan Aida. Pertanyaan itu sungguh ambigu.
"Maksudnya?" Aida meletakkan gelas tersebut di atas meja dan menyilangkan kedua tangannya seraya tersenyum manis kepada suami besarnya.
"Memang sengaja." Kini raut wajah Aida berubah. Sengaja? Maksud akan jawaban itu, adakah yang tahu?
Aida memilih untuk diam. Ia tak paham akan jawaban suaminya. Bagaimana ia bisa paham, jawaban itu tidak utuh. Ya, pria itu menjawab pertanyaan istri kecilnya dengan sangat padat, singkat dan jelas. Tidak. Bukan jelas, lebih tepatnya misterius. Sangat menggantung.
"Saya sengaja membuatkan kamu teh hangat sedikit hambar karena saya ingin ketika istri kecilnya saya meminum teh tersebut dengan menatap wajah tampan suaminya ini." Aida yang meneguk teh hangat itu tertahan di tenggorokan, seperti ingin keluar. Melihat ekspresi wajah Aida, Gus Bima terkekeh. Gadis itu tersipu malu, momen seperti inilah yang selalu dirindukan oleh Aida. Begitu pula dengan perhatian kecil suaminya.
"Saya ingin, dengan menatap wajah saya, teh itu akan berubah manis." Aida menebalkan wajahnya. Ya, ia tidak ingin menampakkan rona merah itu lagi di hadapan suaminya. Namun, rasanya tak sanggup. Semakin lama ia berada di dekat Gus Bima, pria itu akan semakin menggodanya.
Tidak tahan, gadis itu menutup seluruh wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Wajahnya memanas disertai tawa yang tak bersuara. Rasanya ia ingin terbang. Aida beranjak dan berlalu pergi meninggalkan suaminya.
"Saya mencintaimu Aida." Aida semakin tersipu malu. Debaran aneh berdesir halus di dadanya. Aida menutup telinganya dengan kedua telapak tangan. Cukup, lama-lama suara itu bisa membuat Aida gila.
"Mau kemana, Aida? Jangan tinggalkan saya." Aida menutup telinganya dengan sangat erat. Kini bukan wajahnya saja yang memanas. Namun, begitu pula dengan seluruh tubuhnya.
__ADS_1
"Terlalu lama di dekat Mas Bima membuat saja terkena serangan jantung." Pria itu tertawa puas. Terlebih lagi ketika melihat wajah istrinya yang memerah melebihi batas normalnya.
***
Baskara semakin menampakkan sinarnya. Terik. Ungkapan itulah yang cocok untuk mendeskripsikan suasana siang ini yang cukup membuat ubun-ubunnya terbakar. Sesekali ia mengibas-ngibaskan telapak tangannya guna mengurangi sedikit gerah di badan.
Aida masih bergulat di dapur. Setelah lama ia merenung di dalam kamar dan menetralkan rona merah itu, akhirnya Aida mulai berani untuk menunjukkan diri lagi. Sedangkan pria yang selalu membuat Aida tersipu, kemana Gus Bima? Beberapa menit yang lalu katanya ia ingin ke luar sebentar. Siang ini, entah tersambar petir di mana, Aida ingin sekali membuat brownis. Sudah lama sekali ia tidak memakan brownis, terakhir ia makan brownis ketika di hari ulang tahunnya.
Ah, mungkin ia tengah merindukan bundanya. Mengingat bahwa bundanya dulu sering kali membuatkan brownis untuk Aida. Walau ia sadar brownis buatannya tak senikmat buatan bundanya. Kini ia jadi merindukan bundanya. Apakah wanita paruh baya itu baik-baik saja?
"Astagfirullah." Aida terkejut dan menoleh dengan cepat ke belakang ketika ia mendapati telapak tangan yang menepuk pundaknya. Bahkan, tepung serta cokelat bubuk yang ia genggam berhambur mengotori gamis serta wajahnya. Untung saja tepung tersebut tidak jatuh ke nampan berisikan brownis buatannya.
"Afwan, Aida. Saya tidak sengaja. Saya tidak berniat membuatmu terkejut." Aida menghela napas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Sedetik kemudian, gadis itu mengangguk pelan seraya menepuk-nepuk sebagian gamisnya yang kini telah berubah menjadi putih. Karena kecerobohannya, Aida harus mandi lagi.
"Sini, biar saya saja yang membersihkannya." Tubuhnya membeku. Bukan karena kalimat yang baru saja pria itu katakan. Namun, perlakuannya. Sesuatu di dalam sana tengah berdetak dua kali lebih kencang dari biasanya. Semakin pria itu mendekat, debaran itu semakin bertalu-talu dan tak karuan ketika Gus Bima mengusap wajah serta meniupnya pelan. Semilir angin yang berhembus dari bibir manis suaminya itu membuat wajah Aida semakin panas. Ah, mengapa ia harus gugup, seperti baru pertama kalinya saja.
"Sudah, Aida." Gadis itu mendongak dan menatap wajah Gus Bima. Pria itu tersenyum membuat jantungnya berdetak melebihi batas normal.
"Ah iya--Aida harus ke kamar untuk membersihkan ini." Ketika Aida hendak membalikkan badan, pria itu menggamit pelan telapak tangan Aida. Jantungnya seperti berhenti berdetak, aliran darahnya seperti berhenti mengalir. Pun dengan denyut nadinya. Gadis itu membulatkan mata. Ah, entah mengapa hatinya tak bisa ditebak. Gugup itu selalu saja menyelimuti dirinya. Bukankah seharusnya Aida sudah mulai terbiasa, terlebih lagi ketika perhatian kecil Gus Bima selalu membuatnya tersipu malu.
"Apakah brownisnya sudah jadi? Saya sudah tidak sabar ingin mencicipinya." Gus Bima masih mengusap noda tepung yang bersarang di pipi Aida. Bagaimana ini, apakah ia harus mengindahkan pertanyaan suaminya dengan menganggukkan kepala?
"Tapi Aida harus ganti--"
"Kamu tetap cantik Aida. Tepung itu tidak berpengaruh, saya tetap mencintaimu walau segudang tepung menutupi wajahmu. Sebab mencintai seseorang bukanlah perkara mudah, berhati-hatilah agar cinta itu tidak mudah patah." Aida menepis tangan Gus Bima dan lari terbirit-birit. Berada terlalu lama di sini bisa membuat Aida terkena serangan jantung mendadak.
Pria itu tersenyum geli melihat istrinya yang lari terbirit-birit. Seperti dikejar hantu saja. Benar-benar sangat lucu. Hanya dengan mengusap pipinya mampu membuat Aida memerah. Gus Bima menggeleng pelan, diambilnya brownis yang masih mengepul itu. Beberapa menit langsung memakannya.
Rasanya manis seperti gadis itu. Wajahnya sungguh manis seperti brownis apalagi ketika merona, seperti ditaburi cream cokelat. Ah, ia tidak menyangka bahwa Aida memiliki bakat terpendam dalam membuat brownis. Rasanya sungguh enak tidak seperti teh manis yang pertama kali ia suguhkan kepadanya. Aida, gadis polos yang sangat menggemaskan.
Bersambung....
__ADS_1
Pasuruan, 12 Februari 2023